Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Don't Cry


__ADS_3

Sation Company.


Tatapan mata tajam yang menuju ke arah pria itu sedangkan ia terlihat menunjukkan smirk nya tanpa ragu membuat mata yang sedang menatap tajam tersebut semakin jengkel.


"Kau! Berani sekali!" ucap pria itu marah dan langsung menarik kera kemeja pria di depan nya begitu ruangan rapat tersebut kosong.


"Jangan terlalu mudah marah, kau bisa keriput." Sean yang mengatakan dengan nada mengejek pada pria di depan nya.


"Ck! Apa yang bisa di pelajari putra dari ibu jal*ng seperti mu!" decak nya dengan kesal.


"Karna kau menyinggung ibu ku, aku ingat waktu itu kau menemui nya sehari sebelum dia meninggal kan? Atau jangan-jangan..." Ucap Sean yang menahan amarah nya sebisa mungkin saat ibu nya di singgung oleh saudara tiri nya.


"Kau menuduh aku membunuh nya?!" Histon yang merupakan putra pertama dari Daniel sang ayah biologis pria itu.


"Aku hanya tanya, kenapa sangat panik?" ucap Sean sembari memberikan tatapan tajam ke arah pria di depan nya.


"Ka-kau!" Histon tak dapat membalas tatapan yang begitu mengintimidasi di depan nya.


Sean hanya menampilkan smirk nya dan mendekati kakak pertama nya, "Bodoh! Kau pikir ini sudah berakhir? Kalian semua akan masuk ke neraka yang kalian buat sendiri." bisik nya sembari melewati pria itu.


"Kau! Kau mengancam ku?!" teriak Histon yang membuat langkah nya terhenti.


Sean tak membalas ia hanya menoleh sesaat dan memberikan senyum menghina pada pria yang tengah frustasi tersebut.


Brak!!!


Histon memukul meja nya dengan keras dan berdecak kesal karna hasil dari keputusan rapat hari ini adalah memindahkan nya untuk mengurus perusahaan cabang yang berada di Thailand dan itu semua karna saudara tiri nya yang selalu ia anggap anak buangan.


....


Sean menekan tombol lift guna mencapai lantai yang ia tuju.


"Tunggu!" suara seorang wanita yang ingin masuk ke dalam lift juga, "Sudah lama." ucap wanita tersebut sembari memandang ke arah pria di samping nya.


"Hm," jawab Sean tak acuh dan tak mempedulikan wanita cantik di samping nya.


Ping...


Suara notifikasi dari sekertaris pria itu hingga membuat Sean membuka ponsel nya.


Saya sudah selidiki cctv di rumah nyonya Irine dan memulihkan sebagain rekaman nya.


Pesan sekertaris Jhon yang memberikan informasi tentang cctv yang dulu nya sempat hilang dan mengambil di sekitar rumah yang dulu di tinggali ibu pria itu.


"Irine? Histon dulu seperti nya pernah menyebut nya." ucap Mandy yang merasa tak asing dengan nama tersebut.


"Kapan? Kenapa dia menyebut nya?" tanya Sean langsung.


"Wine, dia juga seperti nya masih menyimpan nya..." ucap Mandy pada pria di samping nya.


"Kau bisa dapatkan wine yang dia bilang?" tanya Sean pada wanita berparas cantik dan bertubuh molek tersebut.


"Kalau aku dapatkan kita kembali pacaran?" tawar Mandy sembari menyentuh rahang pria di depan.


Sean tertawa kecil dan menangkap tangan mungil tersebut, "Memang nya kita dulu pernah pacaran?"


"Dulu bukan nya kita punya hubungan seperti itu?" ucap Mandy dengan tatapan menggoda nya.


"Pacar diatas ranjang? Jangan bicarakan masa lalu, dapatkan saja yang ku minta tadi. Aku akan beri imbalan nya." ucap Sean pada wanita di depan nya.


"Kau belum bosan dengan pacar mu? Apa dia sangat lihai?" ucap Mandy berdecak kesal, karna ia tau pria yang dulu nya selalu mengganti wanita nya setiap dua bulan sekali kini menetap di satu gadis.


"Bukan urusan mu, dan lagi jangan bicarakan dia seperti itu, kau bisa membuat ku kesal." ucap Sean yang menatap tajam ke arah wanita di depan nya.

__ADS_1


"Dia bukan tipe mu, kan? Tapi benar juga biasa nya wanita yang sok polos seperti yang sangat pand- Ukh!" ucap nya terpotong nya saat tangan pria itu melingkar leher nya tiba-tiba.


Sean menjadi lebih sensitif saat gadis nya terdengar seperti wanita penggoda setelah malam dimana ia menemukan gadis itu.


Darah nya mendidih walau ia mendengar kalimat hinaan tak langsung pada gadis itu.


"Kau suka uang kan? Kalau kau mendapatkan botol wine nya dari Histon aku akan memberi mu uang, dan jangan bicara apapun lagi tentang pacar ku! Dia terlalu bagus untuk kau bicarakan!" ucap nya dengan nada mengancam, mata tajam dan terus mencekik wanita di depan nya.


"Uhuk! I-iya...


Le-lepas Sean..." ucap Mandy tersendat karna ia tak bisa bernafas.


"Bagus kalau kau mengerti, kabari aku secepatnya." ucap Sean tersenyum simpul dan melepaskan cekikan nya.


Setelah pintu terbuka ia pun segera keluar dari lift tersebut.


Sedikit lagi, setelah ini aku bisa membawa nya...


Rencana pria itu mulai semakin jelas dan alasan kematian ibu nya juga semakin terlihat jika sang ibu tidak bunuh diri dan meninggalkan nya sendirian.


......................


Rumah Sakit.


"Dia belum sadar? Bukan nya luka nya tak ada masalah?" tanya Sean pada dokter yang merawat kekasih nya.


"Mungkin karna masalah psikologis nya? Bukankah nona Ainsley melakukan percobaan bunuh diri sebelum nya? Kami akan menambahkan dosis obat nya dan menyadarkan nya secepat mungkin." ucap dr. Charlie pada Sean dan keluar dari ruangan tersebut.


Sean menatap ke arah gadis di depan nya sembari menggenggam jemari tangan gadis itu dengan erat.


"Tangan mu kecil sekali tapi hangat..." ucap nya lirih sembari mengecup tangan gadis itu, "Cepat bangun yah, ada yang ingin ku tunjukkan pada mu, kau pasti akan suka." sambung lagi dengan senyuman di bibir nya dan menatap sendu gadis di depan nya.


Semenjak ia tau tentang video pembantaian dan penculikan yang sudah membuat gadis itu ternoda dengan pria lain membuat nya semakin mempercepat urusan nya dan membawa kabur gadis itu.


Bertahanlah sampai hari itu datang .." ucap nya sembari meletakan tangan kecil yang pucat tersebut ke pipi nya.


....


Pagi yang mulai datang dengan mentari fajar yang terasa hangat, gadis itu mulai terbangun tangan nya terasa hangat dan nyaman ia menoleh ke arah pria yang menunggu nya dan terus menggenggam tangan nya.


Deg...


Ainsley tersentak ia tiba-tiba mengingat saat pria lain yang pernah meniduri nya.


"Akh! Pergi!" ucap nya menepis tangan yang terasa hangat dan nyaman tersebut yang di kalahkan dengan ilusi di kepala nya.


"Ainsley? Kau sudah sadar?" ucap Sean yang ikut terbangun dan menatap gadis yang sangat ketakutan tersebut.


"Ja-jangan...


Jangan sentuh..." gumam Ainsley dengan gemetar hebat.


"Ini aku, lihat!" ucap Sean sembari terus membuat gadis itu melihat nya.


Ainsley semakin panik, ia pun dengan sekuat tenaga langsung mendorong pria di depan nya dan dengan cepat turun dari ranjang pasien nya.


Lari...


Hanya itu yang ada di pikiran nya saat ini.


Prang!


Semua barang-barang yang berada di dekat nya langsung ia lemparkan sekuat tenaga tanpa berusaha mengenali kekasih nya.

__ADS_1


"Pergi! Pergi ku mohon..." ucap nya gemetar dan mulai menangis, dalam khayalan nya ia masih terjebak di tempat pria bertopeng yang menculik nya.


Tes...tes...tes...


Satu gelas mug keramik yang terlempar tepat mengenai kepala pria itu hingga membuat nya terluka.


Ainsley semakin panik saat kepala pria di depan nya terluka, ia semakin gemetar ketakutan dan mencari sesuatu untuk melindungi diri nya.


Mata nya langsung tertuju pada pisau buah yang tak jauh dari nya dan mengambil secepat kilat.


"Apa yang pegang itu?! Lepas!" ucap Sean panik karna takut gadis nya berbuat nekat lagi.


"Pergi! Aku salah apa? Pergi..." ucap Ainsley yang terus mengayunkan pisau nya pada pria di depan nya.


Air mata nya luruh dengan tangisan dan wajah sembab yang membuat nya terlihat sendu.


Tap!


Satu tangkapan yang membuat tangan kecil itu berhenti mengayunkan pisau nya.


"Ja-jangan...


A-aku tidak mau..." ucap nya menggeleng dengan tangis nya menatap pria di depan nya yang terlihat seperti memakai topeng yang siap memainkan tubuh nya lagi.


"Ini aku...


Sean mu..." ucap pria itu dengan tetesan darah yang terus mengalir di dahi nya.


Pisau itu terjatuh dari genggaman tangan kecil gadis cantik itu, Sean pun langsung berusaha memeluk gadis itu.


Crass!!!


Merasa tangan pria itu melepas tangan nya membuat nya mengambil kembali pisau yang terjatuh dan langsung mengayunkan tanpa ragu ke pria di depan nya.


Tes..tes...tes...


Cipratan darah yang mengenai wajah cantik gadis itu ketika luka memanjang dari sabetan pisau di tubuh bidang kekasih nya yang membuat kemeja pria itu mengganti warna nya.


Ukh!


Kali ini Sean mulai sedikit meringis saat gadis di depan nya semakin melukai nya tanpa sadar, sayatan pisau yang melewati dan menembus kulit nya di sepanjang dada hingga perut nya membuat darah nya terus mengalir.


"Sekarang sudah tenang? Hm? Lihat...


Aku Sean...


Aku milik mu? Kau lupa?" ucap nya dengan lembut setelah melempar pisau gadis itu menjauh.


"Sean?" Ainsley yang mulai mengandah menatap pria di depan nya.


HUA....


Tangis nya pecah seketika, ia menatap kedua tangan kecil nya yang berlumuran darah ketika ia sudah keluar dari ilusi nya.


"Maaf...


Ma-maaf..." ucap nya dengan buliran bening yang semakin jatuh dari mata bening nya.


Pria itu menarik gadis nya dalam pelukan nya, menepuk punggung gadis itu dengan lembut dan menenangkan tangis nya.


"Don't cry...


It's okey so don't cry anymore..." ucap nya dengan nada lembut di telinga gadis itu tanpa memperdulikan luka di tubuh nya.

__ADS_1


__ADS_2