
Mansion Evans.
Gadis itu mengikuti sang ayah yang membawa nya ke ruang kerja.
"Nah, sekarang coba Celine lihat ini." ucap Mike sembari memberikan satu berkas pada gadis itu.
Celine menoleh, ia membuka nya dan melihat perencanaan proyek perusahaan yang di tunjukkan pada diri nya.
"Kenapa kasih ini ke Celine Pa?" tanya nya sembari menatap ayah sambung nya itu.
"Kamu kan juga anak Papa, masa kamu gak mau masuk perusahaan juga?" tanya Mike pada gadis itu.
Ia sudah sepakat dengan Freya untuk tak memiliki anak di hubungan mereka dan hanya memiliki anak dari hubungan sebelum nya.
Hal itu di karnakan ia takut anak-anak nya akan berebut untuk posisi yang akan ia tinggalkan dan jalan termudah nya adalah menentukan sejak awal siapa yang akan menggantikan nya tanpa memiliki saingan yang kuat.
Walaupun gadis itu tak memiliki ikatan darah sama sekali dengan diri nya, namun ia juga tetap akan membagikan saham yang ia miliki walau tak sebanyak putra kandung nya.
"Tapi kan Celine bukan anak Papa..." ucap nya lirih.
Walaupun ia sudah melupakan namun tetap saja terkadang ia mengingat ucapan yang masuk ke dalam hati nya itu.
"Kata siapa? Kamu itu anak Papa juga," ucap Mike langsung.
Celine diam namun membuang pandangan nya, "Tapi kan aku bukan anak kandung Papa," jawab nya lirih.
Mike membuang napas nya, ia tau gadis itu tak akan mengatakan demikian juga bukan di dengar dari orang lain.
"Terus? Kalau kamu jadi anak Papa memang nya harus anak kandung Papa juga? Kalau Mama kamu dengar ini dia pasti sedih, Celine mau Mama Celine sedih?" tanya Mike pada gadis itu.
Celine pun menggeleng mendengar nya, pria itu tersenyum "Celine itu punya Papa, punya Mama, punya kak Steve..."
"Kita itu keluarga, Celine harus ingat itu yah..." ucap nya pada putri nya.
"Celine sama kak Steve keluarga juga kan?" tanya nya pada sang ayah.
"Tentu saja, Celine kan adik nya kak Steve." ucap Mike dengan senyuman sebab ia tak tau sama sekali hubungan putri sambung nya dengan putra nya yang sudah terlampau jauh.
"Pa? Kak Steve jadi nikah sama kak Rosie?" tanya gadis itu yang memikirkan sesuatu.
Mike langsung berhenti dari langkah nya saat akan mengambil berkas lain nya, ia sudah tau tentang skandal kehidupan asmara yang kacau dari calon menantu yang ia kira baik itu.
"Tidak! Siapa yang mau menikahkan anak nya dengan wanita seperti itu," ucap Mike langsung yang menyesal hampir merusak hidup putra nya.
Senyuman mengambang di wajah cantik itu, "Berarti kak Steve gak akan nikah sama yang lain lagi kan?" tanya Celine pada sang ayah.
Mike mengernyit mendengar nya, ia mendekat dan duduk di samping gadis itu.
"Kak Steve bakalan nikah nanti nya, Celine juga bakalan nikah, nanti Papa cari kan pria yang paling baik buat Celine." ucap nya pada gadis itu.
Ia menganggap jika putri nya masih ingin bermanja dengan sang kakak seperti anak kecil yang tak mau memiliki adik.
"Kak Steve nikah sama orang lain?" tanya Celine lirih.
"Iya, masa kak Steve sendiri terus." jawab Mike pada gadis itu, "Celine juga nanti bakalan nikah sama yang lain juga." sambung nya pada putri nya.
"Tapi Celine mau nya sama kak Steve aja, gak mau sama yang lain." jawab nya seketika.
"Gak boleh dong, Celine kan adik nya kak Steve masa mau terus sama kakak nya aja, nanti kan kalian punya hidup masing-masing juga..." ucap Mike pada gadis itu.
"Kan Celine adik nya masa gak boleh sama kak Steve terus." ucap nya yang seakan merengek pada sang ayah.
"Kalau kak Steve nikah atau Celine yang nikah kan bukan berarti Celine gak jadi adik nya kak Steve lagi." ucap nya pada gadis itu.
"Kalau kak Steve nikah nya sama Celine aja gak bisa?" tanya gadis itu lirih tanpa sadar saat ia tak rela jika nanti nya membayangkan sang kakak akan menyayangi perempuan lain selain diri nya.
Mike mengernyit sejenak, ia menyayangi gadis itu sebagai putri nya maka dari itu ia tak mau kedua anak nya memiliki hubungan lebih jauh lagi dari pada saudara.
Bagi nya jika hubungan antara pria dan wanita bisa terputus ataupun pisah seperti perceraian namun hubungan seperti saudara itu tidak akan terputus dan karna itu ia tak mau hubungan yang lebih lanjut.
"Gak bisa nak, Celine kan adik nya kak Steve. Mana boleh begitu. Kalian itu keluarga, kakak adik, harus ingat yah..." ucap Mike menekankan kata-kata nya.
Celine diam mendengar nya, ia bingung namun ia merasa tak rela jika membayangkan sang kakak tidak akan bersama dengan nya lagi.
"Berarti kalau kak Steve nanti nikah dia bakalan cinta sama calon nya juga?" tanya nya lagi.
Mike bingung mendengar nya, juga? Jika ada kata juga maka ada dua hal yang sama.
"Iya, kak Steve nanti bakalan cinta banget sama istri nya, terus Celine punya satu kakak perempuan." jawab nya yang tak ambil pusing pada pertanyaan putri nya.
"Kak Steve kan cinta nya sama aku..." gumam nya lirih.
"Celine bilang apa tadi?" tanya Mike yang tak mendengar ucapan lirih dari gadis itu.
"Gak ada apa-apa Pah," jawab nya pada sang ayah.
Mike tersenyum melihat putri nya yang bahkan lebih cocok menjadi anak kandung nya di bandingkan putra nya yang dingin.
Tangan nya beranjak ke kepala gadis itu da mengusap nya, "Nanti Celine bisa kerja di perusahaan Papa, kamu bisa magang di sana aja dulu. Kalau kamu nanti punya pasangan Papa yang bakal bawa tangan kamu di pernikahan nanti, terus kalau dia jahat sama kamu Papa bakal belain kamu." ucap nya yang benar-benar berharap kebahagian datang pada putri manis nya.
Celine tersenyum, ia dapat merasakan kasih sayang seperti sang ibu ketika mengelus kepala nya, "Iya Pa, makasih yah uda jadi Papa nya Celine, Celine seneng banget..." ucap nya sembari menunjukkan rasa bahagia dan senang nya.
Mike tertawa mendengar ucapan tulus gadis itu, ia pun mencubit pipi putri sambung nya dengan gemas, "Coba aja kakak kamu itu 30 % seperti mu, mungkin dia tidak akan jadi kulkas berjalan." ucap Mike tertawa karna tau sikap putra nya sangat dingin.
Celine menatap bingung pada ucapan sang ayah yang melihat nya dengan gemas. Ia ingat jika dirinya masih kecil dulu, di saat seperti ini sang ayah akan menggendong nya dan mencium pipi nya dengan gemas.
Namun ketika ia beranjak dewasa ia sudah tak mendapatkan perlakuan sama seperti saat ia masih kanak-kanak karna sang ayah juga harus menjaga batasan pada putri sambung yang sangat ia sayangi itu.
...
Pluk!
Steve tersentak, ia baru saja turun dari mobil namun tiba-tiba sesuatu yang begitu lekat dan erat memeluk nya dari belakang.
"Kak..." panggil gadis itu lirih.
Pria itu melepaskan tangan kecil yang memeluk nya dari belakang dan membalik tubuh nya melihat ke arah gadis itu.
"Celine? Kamu kenapa?" tanya nya sembari melihat wajah lesu gadis nya.
"Kakak cinta nya sama Celine kan? Bukan sama yang lain?" tanya nya dengan wajah polos pada sang kakak.
"Iya, sama kamu. Masa sama yang lain?" jawab Steve sembari mengusap pipi gadis itu.
"Walaupun kakak nanti nikah cinta nya masih sama aku kan?" tanya nya lagi.
"Kakak kan nikah nya sama kamu, yah sama kamu juga cinta nya." jawab Steve pada adik gemas nya itu.
"Kata Papa kita gak akan bisa nikah, karna aku itu adik kakak, kita keluarga." jawab nya lirih.
__ADS_1
"Kakak kan udah bilang bakalan bawa kabur kamu kalau Papa gak izinin nanti..." ucap Steve pada gadis itu.
Celine tak menjawab ia kembali memeluk pria itu dengan erat, "Celine gak mau kakak nikah sama yang lain, mau nya sama Celine aja." ucap nya dari dalam pelukan sang kakak.
"Kamu cemburu? Kalau kakak sama yang lain?" tanya Steve pada adik nya dan merasa akan sangat senang jika gadis itu benar-benar cemburu.
"Di sini tuh kayak gak rela kak, rasa nya sakit..." ucap nya sembari melepaskan pelukan nya dan memegang dada nya, "Celine gak bisa bayangin nanti kalau kakak udah gak sama Celine lagi..." sambung nya lirih.
Pria itu tersenyum, ia menangkup pipi gadis itu dan mulai mel*mat bibir merah muda adik nya.
"Berarti kamu cemburu." ucap nya dengan gemas.
"Tapi kakak tetep cinta Celine kan?" tanya nya lagi mengulang.
"Celine?" panggil pria itu dengan gemas.
Mata biru itu menatap sang kakak dari dekat dan erat.
"Mau pergi tidak? Bareng kakak?" tanya nya pada gadis itu karna ia baru saja di beri tau akan dinas di luar kota selama satu Minggu.
Dan ia masih sangat mempertimbangkan nya karna tak bisa jauh dari gadis kecil kesayangan nya itu.
"Sekolah Celine gimana nanti kak?" tanya nya pada sang kakak.
"Kakak nanti bantuin kamu belajar waktu ujian, kamu juga kalau di kelas kan tidur aja." ucap Steve yang mengatakan kebiasaan buruk sang adik.
"Ih! Kakak! Nyebelin!" decak Celine dengan kesal.
Steve hanya tertawa mendengar nya, melihat raut gemas dari wajah sang adik.
......................
3 Hari kemudian.
Hotel.
Gadis itu jatuh lemas tak bertenaga di atas dada bidang pria yang bahkan belum terlihat lelah sama sekali.
"Kenapa berhenti? Kakak belum loh," ucap pria itu tersenyum sembari mengelus rambut gadis yang terkulai lemas di atas dada bidang nya.
"Lelah yah kak kalau aku yang gerak, kakak aja deh yang gerak Celine di bawah..." ucap nya pada sang kakak sembari mengatur napas nya.
Pria itu hanya tersenyum, ia membalik tubuh kecil itu hingga berada di bawah kungkungan nya, "Sini cium kakak..." ucap nya sembari membuka mulut gadis itu.
"Kak? Celine udah lelah, udah yah kak..." ucap nya lirih yang ingin pria itu menghentikan permainan nya.
Humph!
Steve tak menjawab, ia hanya kembali mel*mat bibir gadis itu hingga membuat nya bungkam.
Steve benar-benar membawa gadis itu dalam pekerjaan nya keluar kota, beribu alasan ia ucapkan pada sang ayah agar membiarkan nya untuk mengikutsertakan gadis kesayangan nya.
Jika ia nanti nya sedang bekerja gadis itu akan berada di hotel dan saat kembali ia akan melakukan olahraga panas nya lalu membawa gadis itu keluar berjalan-jalan agar tak bosan.
Ugh!
Steve menekankan tubuh nya dengan dalam, suara napas panjang juga ikut keluar.
Ia pun melepaskan penyatuan nya dan berbaring sejenak di samping gadis itu.
"Celine mau mandi? Habis itu mau makan malam di luar?" tanya nya melihat ke arah adik cantik nya yang sudah kehabisan tenaga itu.
"Gimana mau makan di luar? Celine aja udah pegel semua gini!" ucap gadis itu cemberut pada sang kakak karna tadi tak mendengar nya.
"Kok Celine yang di salahin?" tanya gadis itu dengan cemberut.
"Celine nya bikin kakak ketagihan," jawab Steve tertawa pada gadis itu.
Celine hanya menatap kesal pada godaan sang kakak, "Kakak yang gak berhenti goyang!" ucap nya dengan kesal pada sang kakak.
Gadis cantik itu pun langsung membalik tubuh nya membelakangi sang kakak.
Steve tertawa mendengarnya, sejak kapan sang adik bisa berkata demikian?
Namun ia malah menganggap nya begitu lucu, begitu gemas hingga ia ingin memakan habis sang adik sekali lagi.
"Celine? Sekali lagi, mau?" ajak nya sembari memeluk tubuh mungil itu dari belakang.
"Kakak! Perih tau! Kalau terus di masukin!" ucap nya dengan kesal pada sang kakak.
"Sakit?" tanya Steve mengernyit, berbeda dengan gadis itu, ia tak pernah merasakan sakit namun malah sebalik nya.
"Iya! Masa kakak tega sih lihat Celine kesakitan?" jawab gadis itu yang tetap membelakangi sang kakak.
Steve merengkuh tubuh kecil itu dan menciumi puncak kepala gadis nya dari belakang.
"Iya, kakak berhenti..." ucap nya pada gadis itu, "Jadi kita makan malam nya di hotel aja?" tanya pria itu lagi membujuk adik cantik nya yang tengah kesal karna harus terus melayani n*fsu nya yang tidak ada habis nya.
"Mau makan di luar, tapi bukan di resto hotel..." jawab Celine ketika pria itu memeluk nya erat dari belakang.
Steve tersenyum, "As you wish babe..." ucap nya pada gadis itu.
"Pil kamu jangan lupa di minum nanti yah," ucap Steve yang kembali mengingatkan tentang pil kontrasepsi gadis itu.
...
"Kak, Celine udah yah makan nya." ucap nya setelah memakan setengah dari potongan nya.
"Kenapa? Nanti kamu sakit kalau makan nya sedikit," ucap Steve dan mulai mengusap bibir gadis itu dengan tisu.
"Udah kenyang kak," jawab Celine pada sang kakak sembari memperhatikan raut wajah pria itu.
"Kenapa?" tanya nya pada gadis yang melihat terus ke arah nya.
"Kakak kalau pakai kaca mata makin ganteng deh." jawab gadis itu sembari melihat ke arah sang kakak dengan senyuman.
Pria itu mulai tersenyum mendengar ucapan polos adik nya yang menggemaskan.
"Kamu kan yang beliin kaca mata nya?" tanya Steve tersenyum pada gadis itu.
Celine tertawa kecil, ia suka memberikan aksesoris pada sang kakak dan pria itu pun selalu menuruti nya.
"Mau balik?" tanya Steve pada gadis itu.
Satu anggukan menjadi jawaban, "Tapi Celine mau jalan-jalan lewat toko dulu kak..." ucap nya pada sang kakak.
Banyak tempat untuk pejalan kaki dan juga yang menampilkan toko dengan jendela kaca yang besar agar memamerkan barang dagangan nya.
__ADS_1
Pria itu tak menjawab namun mencubit gemas pipi gadis itu.
...
Mata yang berbinar melihat makhluk gemuk dan berbulu lebat itu membuat langkah gadis itu terhenti.
"Kak?" panggil nya lirih dengan suara manja sembari memegang tangan sang kakak.
"Celine pelihara itu boleh?" tanya nya dengan hati-hati pada sang kakak sembari bersikap dengan manja dan menggemakan.
"Kucing? Ini gak kebesaran sama kamu?" tanya Steve mengernyit.
"Gak mau yang lain kak, mau nya yang ini!" ucap Celine dengan kukuh pada pria itu.
"Kalau kamu di cakar gimana? Kalau di gigit?" tanya Steve lagi yang masih ingin berpikir dua kali membiarkan adik nya memelihara hewan.
"Kakak aja sering gigit Celine," ucap gadis itu lesu saat merasa sang kakak tak akan membelikan nya.
"Gigitan kakak enak kan tapi?" tanya Steve pada gadis itu.
"Ih! Kakak nyebelin!" ucap Celine kesal karna ucapan tersebut memang benar apa ada nya.
"Iya, kita beli?" tanya Steve pada gadis itu.
Satu anggukan semangat terlihat di wajah cantik itu.
......................
Dua Minggu kemudian.
Mansion Evans
Pria itu mulai memanas melihat gadis yang dulu nya selalu menempel pada nya kini mulai teralihkan dengan kesenangan yang lain.
"Daisy coba sini," ucap Celine dengan senang ketika memanggil kucing gembul nya itu yang berdiri di atas meja.
Kucing dengan bulu putih kecoklatan itu melihat ke arah majikan yang begitu menyayangi nya itu.
Saat baru pertama kali memelihara nya gadis itu begitu tak mau melepaskan kucing imut itu hingga membuat nya terus menerus menarik ekor panjang hewan menggemaskan itu.
Hingga akhirnya membuat tangan nya penuh akan luka cakaran, dan untung nya ia bisa menutupi dari sang kakak karna memang dalam seminggu terakhir ini ia tak membuka pakaian nya sama sekali di hadapan pria itu.
Dan tentu nya karna tamu jauh yang datang pada nya di setiap bulan hingga sering membuat pria itu frustasi.
"Ih, masa uda di kasih kalung aku masih di cuekin?" tanya Celine dengan cemberut sembari mulai menggendong kucing imut itu.
"Eh?"
Gadis itu terperanjat, kucing gembul nya kini berpindah tangan ke sang kakak.
"Anak kecil gak boleh main kucing kelamaan," ucap pria itu yang merasa cemburu waktu gadis itu tersita oleh peliharaan baru yang menggemaskan tersebut.
"Kakak?" tanya Celine yang ingin mengambil kucing nya lagi namun tak berani saat melihat sang kakak menatap nya tajam.
Ia pun dengan lesu akhirnya membiarkan sang kakak membawa kucing kesayangan nya itu.
Pukul 09.35 pm
Gadis itu melihat dari sudut tangga yang lain sembari memangku dagu nya dan menatap ke arah sang kakak.
Wajah nya cemberut dengan kesal menatap pria yang mengambil peliharaan nya.
"Kak?" panggil Celine dengan wajah kesal nya.
Steve melirik ke arah gadis itu, "Tangan kamu kenapa?" tanya pria itu saat memperhatikan adik nya yang terus menerus memakai pakaian lengan panjang.
"Gak apa-apa," jawab Celine sembari mengelak.
"Kucing aku kapan datang nya kak? Aku kan mau main sama kucing ku?" tanya Celine dengan mengernyit kesal.
"Kamu main sama kucing saja! Cari permainan yang lain," ucap Steve dengan kesal.
Gadis itu mengernyit, ia masih muda dan belum pernah melihat banyak hal karna sang kakak seolah menutup mata nya pada dunia luas.
Rasa senang dan tertarik nya dalam memelihara hewan juga baru pertama kali ia rasakan.
"Celine mau nya main sama Daisy kak!" ucap gadis itu pada sang kakak.
"Kamu lebih suka kakak atau kucing mu itu?" tanya Steve dengan kesal.
"Lebih suka Daisy," jawab Celine tanpa ragu.
Pria itu tersentak, ia memandang tajam pada gadis yang berbicara asal karna kesal tersebut.
"Oh ya? Lebih suka hewan menyebalkan itu dari pada kakak?" tanya Steve mendekat sembari memegang dagu gadis yang duduk di anak tangga itu.
Celine diam sejenak, entah mengapa tatapan sang kakak terlihat begitu tajam pada nya dan menekankan hawa yang membuat nya harus tunduk.
"I..iya, lebih suka Daisy dari kakak..." jawab nya lirih dengan nyali yang mulai menciut namun ia tetap keras kepala mempertahankan jawaban nya.
Steve tak lagi membalas ucapan nya, ia hanya berbalik pergi meninggalkan gadis itu tanpa sepatah kata pun.
Mau itu manusia, hewan, atau pun benda ia tak suka jika perhatian gadis nya tertuju ke arah lain dan mengabaikan nya.
Ia ingin gadis itu hanya untuk nya dan bahkan memonopoli semua kehidupan dan mengontrol nya dalam genggaman tangan nya.
...
MEAAOOWWW....
AOWWW !!!!
MEAAWW!!!
Hewan menggemaskan itu meronta dan mulai berisik serta berusaha mencakar tangan yang seakan ingin mematahkan nya.
Krek!
Meaaaww...
Suara retak seperti sesuatu yang terputus dan terdengar bersamaan dengan suara yang semakin menghilang dan tak terdengar.
Hewan menggemaskan itu terkulai dengan kepala yang berputar dari seharusnya.
"Lebih suka hewan dari aku? Padahal dia milik ku..."
__ADS_1
"Apa dia lupa?"
Ucap nya lirih dengan wajah datar dan tanpa ekspresi melihat ke arah hewan menggemaskan yang tak lagi bergerak itu.