
Calesta POV.
Aku semakin mendengar suara rintihan dan teriakan yang membuat ku merinding, anak tangga yang semakin gelap menuju kabin bawah namun aku juga tidak bisa menghentikan langkah ku.
Aroma yang terasa menyengat tercium jelas, amis dan anyir beradu satu, hingga mata ku melihat nya.
Aku ingin mencegah, memanggil nya dan membuat punggung itu berbalik melihat ku.
Tapi tak ada suara yang keluar sama sekali dari tenggorokan ku.
Tubuh ku gemetar, aku ingin menutup mata namun aneh nya aku terus melihat dan bahkan seakan tak berkedip.
Kepala ku mulai sakit, aku mulai mendengar suara aneh, suara yang datang dari diriku.
Mirip seperti suara ku yang sedang memohon, suara pria dan wanita yang mengatakan aku harus tunduk pada mereka.
Sakit!
Tidak hanya kepala ku, tubuh ku juga sakit, sangat sakit sampai rasanya lebih baik aku mati saja saat ini.
Aku mulai memejamkan mata ku, menutup semua pemandangan mengerikan tersebut, tapi...
Aku melihat hal lain di balik kelopak mata ku!
Putaran memori yang seperti sebuah film tayang di balik gelap nya kelopak mata yang ku tutup.
Tayang dengan begitu cepat dan membangun suatu ingatan yang bahkan sangat ingin ku lupakan.
Berhenti!
Sakit sekali!
Aku tidak sanggup!
Kata-kata yang tidak bisa ku keluarkan dan membuat ku semakin menderita.
Orang-orang yang mengenal ku, berbicara dan menatap ku semua nya muncul bagaikan jamur yang tubuh menyebar seperti virus merangkai satu persatu dan memenuhi ku.
Dan sekarang semua nya sudah mulai tersusun lebih baik, aku sempat bingung.
Siapa aku?
Calesta?
Ainsley?
Tapi aku mulai paham, aku adalah aku! Aku tidak perlu bersikap untuk memuaskan hidup orang lain.
Sekarang aku ingat.
Aku ingat semua nya.
Semua yang sudah terjadi pada ku...
Calesta POV end.
......................
Richard melihat gadis itu, ia langsung membalik haluan ke daratan agar dapat langsung di periksa di tempat yang memiliki fasilitas lebih baik.
Setelah di periksa sebelum nya di kapal ia tetap menuju ke rumah sakit dan sang dokter mengatakan sesuatu yang membuat nya cukup terkejut sekaligus senang.
"Hamil?" tanya nya mengulang.
__ADS_1
"Benar, Anda suami nya?" tanya dokter tersebut.
Richard tersenyum, "Saya kekasih nya," jawab nya.
Dokter tersebut pun mengangguk ia pun mulai berbicara tentang kesehatan gadis itu sekal'gus kesehatan kandungan nya.
"Berapa usia kandungan nya?" tanya Richard semangat.
"Sekitar dua Minggu tuan, anda bisa membawa nya setelah infus nya habis, saat ini dia hanya terkejut saja, walaupun sebelumnya sempat mimisan tetapi tak ada masalah lain." jawab sang dokter.
"Tapi sebelumnya dia mimisan cukup banyak, apa sama sekali tak ada masalah?" tanya Richard yang masih di selimuti rasa khawatir.
"Dari tes darah dan MRI tak ada masalah tapi sebaiknya kembali di cek kembali 3 atau 5 hari kemudian," jawab nya pada Richard.
Richard mengangguk, ia pun kembali menjaga gadis itu dan menggenggam erat jemari mungil itu setelah sang dokter pergi.
ia senang karna akhirnya gadis itu memiliki benih yang ia tanam namun masih sangat marah saat ingat ada seseorang yang menginginkan nyawa gadis itu.
......................
Mansion Zinchanko.
2 Hari kemudian.
Dalang dari yang mencoba mengincar gadis itu belum di ketahui namun Liam sudah mencoba mencari tau dan menafsirkan jika salah satu musuh tuan nya lah yang mengincar gadis cantik itu karna beberapa hari terakhir nya gadis itu selalu bersama dengan Richard
Dan yang paling utama adalah karna gadis itu lemah, semua musuh pria tampan itu tentu nya akan memburu sesuatu yang menjadi kelemahan Richard untuk balas dendam ataupun mengalahkan nya.
"Hancurkan mereka, siapapun yang menjadi tersangka bunuh saja, ini adalah peringatan karna menyentuh yang harus nya tak bisa boleh di sentuh!" ucap Richard pada Liam.
"Baik, tuan!" jawab pria itu patuh.
"Sekarang kau sudah panggilkan dokter? Apa hanya terkejut saja sampai pingsan dua hari?" tanya nya lagi saat gadis nya tak kunjung bangun.
"Tuan!" potong seorang pelayan lain yang mengetuk dan memberitahu pria tampan itu.
"Ada apa?" tanya Richard dengan wajah nya yang dingin.
"Nona sudah sadar!" ucap nya dan membuat Richard langsung beranjak mendatangi gadis kesayangan nya.
...
Gadis itu sama sekali tak berbicara apapun semenjak bangun, tatapan nya kosong, semua yang terjadi padanya dulu maupun sekarang sudah kembali datang di kepala kecil nya.
Kesedihan, ceria, kepolosan dan emosi yang menyelip membesar di salah satu nya, Amarah.
"Kau sudah bangun?" tanya Richard sembari mencoba mengelus kepala gadis itu.
Tak!
Calesta langsung menepis kasar tangan yang mencoba menyentuh nya.
Richard mengernyit namun ia berpikir jika hal ini dikarenakan gadis itu melihat sendiri pembunuhan yang ia lakukan.
"Jangan merasa kasihan padanya dia mencoba membunuh mu," ucap Richard yang seakan tak akan ada masalah dari yang ia lakukan.
"Bukan nya yang mau di bunuh itu aku, bukan kau. Jadi kenapa kau yang marah?" tanya Calesta sembari menatap dengan pandangan takut sekaligus marah.
Deg!
Richard sedikit terkejut, cara bicara gadis itu sangat berbeda dari biasanya.
"Aku tau kau marah tapi aku sama sekali tak menyesal," sambung nya lagi.
__ADS_1
"Seperti nya waktu itu aku pernah bilang kan? Aku ingin kita berhenti, dan setelah itu ku mohon jangan mengganggu ku lagi!" ucap gadis itu sembari berusaha bangun.
Greb!
Richard menahan nya ia tak mau gadis itu pergi, "Mau ke mana kau?"
"Karna hubungan kita sudah berakhir sebaiknya aku pergi! Jangan mengganggu ku lagi!" ulang Calesta sekali lagi.
Ia yang sudah mengingat semua nya entah kenapa merasa marah, perasaan amarah dan tak senang yang merasa jika dirinya seperti keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama.
Kembali terjebak dengan orang-orang yang sama.
"Kau tidak bisa pergi! Kalaupun ingin pergi kau juga tidak bisa mengakhiri hubungan kita begitu saja!" ucap pria itu sembari menahan pergelangan tangan yang kecil itu dengan erat.
"Lepas! Brengsek! Kau mau apa sekarang? Hm? Karna aku melihat mu membunuh seseorang kau takut terbongkar?!" tanya Calesta dengan penuh amarah.
Ia dulu juga di ganggu karna tak sengaja melihat pembantaian yang di lakukan di hutan oleh pria tampan tersebut.
"Kau belajar dari mana kata-kata seperti itu?" tanya Richard dengan menampilkan smirk nya karna dari ia mengenal hingga sekarang baru kali ini mendengar kata umpatan yang keluar dari mulut gadis itu.
"Kenapa? Aku tak boleh mengumpat?" tanya Calesta lagi.
Ia tak ingin mengatakan jika dirinya sudah mengingat semua nya, mengingat apa yang terjadi tiga tahun lalu.
"Lepaskan tangan ku," sambung nya lagi sembari mengalihkan mata nya pada pergelangan tangan nya yang di cengkram erat.
Richard tak bergeming ia tetap mencengkram erat tangan gadis itu walaupun mulai membuat kulit putih tersebut memerah.
Bukan nya dia dulu bilang akan melepaskan ku?
Batin gadis itu, ingatan Ainsley dan Calesta yang menyatu dengan sikap yang berbeda di antara dua nama itu tentu nya juga memberikan nya emosi baru.
"Kau hamil," ucap Richard pada gadis itu.
Mata Calesta membulat sempurna mendengar nya, ia tak menyangka jika hal yang baru di katakan padanya adalah sungguhan.
"Tidak mungkin! Aku selalu pakai-"
Deg!
Ucapan nya terputus, jika ia bisa hamil walau dengan kemungkinan kecil maka hanya ada dua alasan nya pertama ada yang salah dengan obat nya dan yang kedua ia berhubungan saat tak sadar.
Dan karna ia yang sama sekali tak pernah merasa aneh saat bangun dari tidur membuat nya sadar jika yang bermasalah adalah obat KB nya walau hanya dugaan sementara.
"Obat ku! Paman apakan obat ku?!" tanya nya sembari menatap ke arah pria itu.
"Tak ada, kenapa kau langsung menuduh ku?" jawab Richard yang berbohong pada gadis cantik itu.
"Richard!" ucap Calesta sekali lagi yang kali ini benar-benar tak suka.
Pria itu tak merasakan apapun namun ia malah merasa senang.
"Kau akhirnya memanggil nama ku tanpa ku minta," ucap nya sembari mengelus wajah yang menatap nya dengan penuh amarah.
Plak!
Satu tamparan kuat melayang di pipi pria tampan itu.
Richard terkejut sejenak namun ia kembali menatap dengan penuh akan smirk nya.
"Munafik! Kau benar-benar munafik!" ucap Calesta geram.
Pria yang dulu bermain dua peran pada nya dan kini membuat nya memiliki sesuatu yang tidak ia inginkan.
__ADS_1