Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Maaf...


__ADS_3

Suasana hening pun terjadi beberapa saat di ruangan guru itu, Axel tetap memeluk sang ibu yang menggendong nya.


"Mom? Daddy masih di lual negeli kan? Gak ke langit kayak Daddy Axel?" ucap Emily dengan polos membuka suara di ruangan yang sempat senyap itu.


"Hush! Udah diam aja, Daddy kamu dua hari lagi juga balik." ucap wanita itu pada putri nya.


"Saya juga akan minta maaf atas putra saya karna berbicara yang tidak sopan," ucap ibu Mack pada Ainsley.


Ainsley pun mengangguk pelan atas permintaan maaf ibu dari teman putra nya. Para guru pun mulai memberi tau sanksi yang berlaku dan juga penyelesaian atas perkelahian anak-anak menggemaskan itu.


"Axel? Minta maaf sama temen nya, lain kali gak boleh pukul sembarangan yah sayang..." ucap Ainsley pada putra nya yang seperti lem di tubuh nya.


Axel menggeleng di dalam dekapan sang ibu, "Kan Mack duluan yang salah? Kenapa Axel yang minta maaf?" ucap nya dengan suara serak karna tangis nya.


"Mack, juga minta maaf gak boleh bicara kasar sama teman nya." ucap ibu Mack pada putra nya.


"Mack gak salah kok! Kan Axel memang gak punya Daddy!" elak Mack yang juga tak ingi berbicara secara damai.


"Axel punya!" teriak Axel yang langsung terlepas dari gendongan sang ibu dan menatap tajam teman nya.


"Yauda Axel Daddy nya bagi dua aja sama Daddy nya Lily? Boleh kan Mom?" ucap gadis kecil itu dengan polos nya.


Ibu gadis kecil itu hanya tertawa kesal dan ingin menjitak dahi putri nya yang mengatakan ingin membagi ayah nya yang sama saja mau ayah nya untuk menikah lagi.


"Emily? Diam nak, nanti Mommy cubit bibir kamu yah?" ucap nya sembari tersenyum namun dengan mata kesal pada putri nya.


"Huh! Mommy!" ucap Emily yang kesal. Ia tak tau apa maksud perkataan nya dan hanya asal bunyi saja.


"Gak mau, Daddy Axel cuma satu! Gak mau yang lain..." ucap Axel pada teman nya yang menggemaskan itu.


"Lily? Minta maaf sama Mack karna tadi uda narik rambut nya duluan." ucap ibu gadis kecil itu pada putri nya.


"Mack juga talik lambut Lily kok," ucap Emily membela diri.


Ainsley pun membuang napas nya, mau sampai lusa pun tidak akan selesai karna putra nya dan teman nya yang lain sama-sama tak ada yang mau mengakui kesalahan.


Ia pun mendekat ke arah Mack berjongkok dan menyamai tinggi nya dengan tubuh pria kecil itu.


"Mack? Lain kali gak boleh bicara begitu sama teman nya, kalau Mack punya sesuatu tapi temen Mack tidak percaya terus bilang Mack pembohong Mack marah tidak?" tanya Ainsley dengan lembut pada teman sekelas nya itu.


"Malah, tapi kan Mack bener! Bukti nya Axel yang gak bisa bawa Daddy nya nanti!" ucap Mack membela diri.


"Karna Axel punya tapi gak bisa bawa Daddy nya makanya Axel sedih, terus Mack bilang begitu Axel kan jadi marah." ucap Ainsley lagi.


"Tapi Axel yang dolong Mack sampai jatuh!" ucap nya yang tetap tidak ingin meminta maaf.


"Iya, nanti Tante marahi, sini tangan nya." ucap Ainsley sembari membalut bekas gigitan putra nya yang membekas dengan sapu tangan di balik blazer nya.


Mack yang mulai merasa enggan karna wanita itu memperlakukan nya dengan baik sama seperti ibu nya.


"Ya-yaudah deh, Mack minta maaf yah Axel!" ucap nya sembari mengecurutkan bibir nya dan membuat pipi nya semakin bulat.


Axel membuang wajah nya namun sang ibu langsung menegur nya, "Axel? Kalau Axel begitu terus Mommy marah yah sama Axel?" ucap nya pada putra nya.

__ADS_1


"Iya, deh Axel juga minta maaf!" ucap Axel dengan wajah cemberut nya yang tidak sungguh-sungguh.


"Tangan nya mana?" tanya salah satu guru yang menyuruh kedua anak lelaki itu berjabat tangan sebagai simbol pertemanan.


Ibu Mack pun langsung mengangkat tangan kecil putra nya begitu juga dengan Ainsley agar masalah ini cepat berlalu.


"Nah sekarang giliran Lily," ucap ibu gadis kecil itu.


"Loh? Lily juga?" tanya Emily dengan bingung.


"Iya, kan Lily juga ikutan nak?" tanya ibu gadis kecil itu.


"Huh! Yaudah deh Lily juga minta maaf sama Mack!" ucap nya dengan nada kesal sama seperti kedua nya barusan.


Ia pun menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan, Mack pun yang ingin meraih nya namun,


Greb!


"Gak boleh pegang-pegang Lily! Jabat tangan nya sama Axel aja!" ucap nya yang tidak ingin tangan teman nya berjabat tangan dengan yang lain.


"Axel?" panggil Ainsley pada putra nya yang menyerobot jabat tangan orang lain.


"Saya harap masalah ini hanya sampai di sini saja, sekali lagi saya mohon maaf." ucap Ainsley dan keluar membawa putra nya.


......................


Apart Venelue'ca


Walau hanya luka sepele namun ia tetap saja khawatir pada putra kesayangan nya.


"Axel? Lain kali gak boleh mukul teman nya, kalau dia bilang nya pakai perkataan Axel juga balas perkataan yah?" ucap wanita itu ketika menemani putra nya sebelum tidur.


"Jadi kalau dia pukul Axel, Axel baru boleh pikul?" tanya Axel.


"Kalau ada yang mukul Axel duluan, Axel juga gak boleh diam aja. Tapi kalau ada situasi yang Axel kira Axel gak akan menang Axel lari aja." ucap nya pada putra nya.


"Kenapa?" tanya Axel dengan polos.


"Karna anak kesayangan Mommy gak boleh luka," ucap nya pada pria kecil itu.


Axel pun beringsur memeluk sang ibu dengan erat.


"Mommy?"


"Iya sayang?" ucap Ainsley sembari mengelus kepala putra nya yang memeluk nya begitu erat.


"Kangen Daddy..." ucap nya lirih.


"Kita jemput Daddy yuk Mom? Nanti Axel buat sayap supaya kita bisa telbang jemput Daddy..." ucap nya pada sang ibu.


Ainsley diam sejenak namun ia tak ingin mematahkan apa yang di katakan putra nya, "Hebat anak Mommy! Nanti Kita jemput Daddy yang waktu Axel udah bisa buat sayap nya."


Tuan muda Zinchanko itu mengangguk pelan di dalam dekapan sang ibu, "Axel mau lajin belajal bial bisa buat sayap yang besal."

__ADS_1


Ucap nya pada sang ibu yang berharap bisa menjemput sang ayah kembali.


Ainsley tak mengatakan apapun, ia hanya terus mengelus putra nya hingga tertidur.


......................


Dua hari kemudian.


Suara tawa dan derap kaki kecil yang berlari di dalam gedung apart mewah itu terlihat dengan bebas hingga membuat sang ibu kesulitan mengejar nya.


Bruk!


Dan benar saja ia baru berhenti ketika tersandung tali sepatu nya yang terlepas.


"Hey? Kau baik-baik saja?"


Axel yang langsung tau siapa yang membantu nya berdiri.


"Axel?" ucap Sean yang baru sadar jika pria kecil itu lah yang terjatuh.


Tak!


Axel langsung menepis nya dengan kasar dan menatap dengan penuh kebencian pada pria itu hingga membuat Sean bingung kenapa pria kecil itu bisa terlihat sangat marah pada nya.


"Gak usah pegang-pegang!" ucap nya dengan tatapan tak bersahabat sama sekali.


"Axel? Kenapa sayang?" tanya Ainsley yang kini sudah mengejar putra nya yang begitu lincah.


"Dia Mom! Pegang Axel! Padahal Axel tuh gak mau di pegang-pegang sama dia!" ucap nya dengan nada tak sopan karna membenci pria yang baru saja membantu nya bangun.


Sean masih terlihat bingung, sepeti nya mereka tak pernah bertemu setelah hari penculikan dan kini pria kecil itu sungguh membenci nya.


"Ini," ucap Sean sembari memberikan mainan yang ia ambil saat Axel terjatuh tadi pada Ainsley.


Brak!


Axel pun merebut nya dan membuang nya seketika, "Apaan sih?! Gak usah pegang mainan Axel juga! Paman mau bawa Mommy lagi?!" ucap nya yang bahkan tak ingin mainan nya di sentuh.


"Axel!" ucap Ainsley saat melihat putra nya bertindak tidak sopan.


Bukan karna ia yang berhadapan dengan mantan kekasih nya namun ia yang memang akan marah jika putra nya seperti itu. Tidak hanya dengan Sean namun dengan yang lain nya.


Karna ia tak pernah mengajari putra nya untuk bertindak semena-mena.


"Kan? Mommy gak sayang Axel lagi kalna ada paman Sean..." ucap nya lirih dengan mulai menangis takut sang ibu pergi dari nya seperti ketika ia sakit sebelum nya.


"Axel? Gak sopan sayang..." ucap nya pada putra nya.


"Axel mau pulang! Axel gak mau ada paman Sean!" ucap nya dengan mata yang mulai berkaca.


"Tidak apa-apa, bawa dia pulang saja." ucap Sean pada wanita itu.


Ainsley membuang napas nya dengan pelan dan menggendong putra nya, "Maaf..." ucap nya lirih sebelum berbalik dari pria itu.

__ADS_1


__ADS_2