Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Drugs)


__ADS_3

Mansion Evans.


"Kak,"


"Kakak!" sentak gadis itu ketika membangunkan pria yang masih tidur dengan nyenyak tersebut.


Steve tersentak, ia tidak tau jika gadis kesayangan nya itu datang tiba-tiba di tengah malam.


"Kakak nih! Tidur aja! Kita keluar, ayo..." ucap nya mengajak sembari membangunkan seseorang tepat di pukul satu malam.


"Mau kemana? Kan sudah malam?" tanya Steve yang ia ingin kembali tidur.


"Ih! Kakak lupa? Atau kakak gak dengerin aku tadi siang?" tanya nya dengan wajah kesal menatap sang kakak.


Ia bercerita tentang tempat yang ingin ia datangi sebelum nya, dan di tengah pembicaraan tersebut Steve menerima telpon.


Gadis yang senang berceloteh itu pun meminta sang kakak untuk pergi menemani nya dan hal itu lah yang membuat Steve langsung mengiyakan karna tak begitu mendengar saat ia juga sedang bertelpon dan di mana gadis kecil nya itu ingin pergi.


"Tempat mana yang masih buka jam segini? Udah malam, besok kakak temani yah?" tanya Steve yang ingin memejam lagi.


"Ke Paradise holy," ucap Celine yang langsung membuat Steve langsung tersentak.


"Ke mana?" tanya Steve mengulang dan langsung bangun.


"Paradise holy," jawab Celine dengan wajah lugu nya yang bahkan tak tau tempat apa yang ingin ia datangi.


"Tau dari mana kamu tempat begitu," tanya Steve langsung sembari mengusap wajah nya agar dapat lebih tersadar.


"Dari temen aku kak, kata nya di sana itu seru! Celine kan mau tau juga!" jawab nya dengan senyum semangat sembari menatap sang kakak dengan mata berbinar.


"Tau itu tempat apa?" tanya pria itu mengernyit.


Club' night terbesar yang menjadi sarang pertukaran obat terlarang, tempat pelac*ran serta porstitusi pria dan wanita yang bertebaran di sana.


Sudah dapat di pastikan jika tempat tersebut bukan lah tempat yang cocok untuk gadis yang bahkan tak mengerti akan berdiri di mana.


"Kata temen aku di sana seru, tempat main kan? Kayak di cafe," ucap nya dengan senyuman yang memancarkan ketidaktahuan nya.


"Kamu ke sana juga gak akan di kasih masuk, kecuali..." ucap nya menggantung yang tak ingin mengatakan nya.


Gadis muda yang bahkan belum mendapat usia dewasa hanya bisa masuk dengan cara dua hal, yang pertama menjadi salah satu pel*cur yang bekerja di tempat itu dan yang kedua membawa kartu identitas palsu untuk menipu penjaga dengan umur yang lebih tua.


"Jangan ke sana, Celine masih kecil." ucap Steve pada gadis itu.


Mata berbinar itu langsung turun, gadis itu lesu seketika karna sang kakak tidak menyetujui sedangkan tadi siang ia dengar jelas jika pria itu mengiyakan apa yang ia katakan.


"Yauda! Celine pergi sendiri aja! Kakak nyebelin! Celine marah!" ucap nya dengan cemberut dan kesal pada sang kakak.


Ia pun beranjak, dan bangun dari tepi ranjang pria itu.


Steve langsung meraih tangan gadis itu lalu menarik nya ke atas ranjang, ia pun langsung mengukung tubuh kecil dengan wajah cemberut pada nya.


"Mau kemana kamu?" tanya pria itu dengan tatapan tajam ke gadis yang sangat ingin pergi itu.


"Gak tau!" jawab Celine dengan kesal.


"Kamu tuh masih kecil, jangan bantah." ucap Steve pada gadis itu.


"Temen aku yang lain berarti juga masih kecil kan? Tapi mereka ke sana tuh!" jawab Celine langsung pada sang kakak.


"Celine tuh di sekolah cuma denger mereka aja, kalau mereka lagi cerita Celine cuma bisa diem karna gak tau! Celine kan penasaran juga kak. Semua nya gak boleh!" ucap nya yang mengeluarkan isi hati nya pada sang kakak.


"Celine kan anak baik, mereka itu bukan anak baik." ucap Steve pada gadis yang mulai menangis itu.


"Kata nya kakak sayang sama Celine, tapi kakak bohong! Tadi siang padahal udah bilang iya..." ucap nya lirih dengan hampir menangis.


Gadis yang selalu di manja itu merasa sedih ketika sang kakak tak memenuhi janji padahal ia sudah sangat berharap untuk ke tempat tersebut.


"Celine aja bisa kasih apa yang kakak mau, masa kakak engga? Padahal kan cuma temenin Celine aja..." sambung nya lirih sembari membuang muka karna tak mau air mata nya terlihat.


Steve menarik napas nya, bukan nya tak mau memberikan apa yang di inginkan gadis nya namun ia tak mau gadis polos kesayangan nya terluka ataupun di lukai oleh seseorang sat ke tempat yang bagi nya akan membahayakan nya.


Ia pun bangun dan gadis itu langsung membuang wajah nya sembari mengusap air mata nya yang merasa kecewa.


"Kamu nanti sama kakak aja, jangan pergi jauh-jauh. Kakak siapan dulu." ucap nya yang tak bisa melihat gadis nya menangis.


Mata gadis itu langsung membulat, ia menoleh dan semangat nya kembali terisi penuh, "Beneran?"


Pluk!


Gadis itu beranjak dan langsung memeluk pria bertubuh tegap itu dari belakang dengan erat.


"Love kakak," ucap nya dengan senang.


Pria itu berbalik melihat gadis memiliki iris indah itu dengan rambut panjang kecoklatan, padahal yang ia ingat dulu gadis itu berambut hitam. Namun seiring berjalan nya waktu warna asli rambut gadis itu pun terlihat.


Cup!


"Kalau sayang sama kakak, kamu harus nurut. Jangan nakal." ucap nya setelah mengecup bibir gadis itu.


Celine mengangguk semangat dengan senyum cerah dan mata binar nya.


......................


Paradise Holy


Steve tak begitu menyukai tempat seperti itu namun bukan berarti ia tak pernah kesana, ia bahkan mengenal pemilik tempat itu karna pernah bekerja sama.


Kemampuan nya dalam hal komputer membuat nya banyak di kenal sebagai broker yang dapat meng-hack banyak data ataupun meretas akun sandi yang sangat rumit.


Pria itu sudah tau jika sang adik tak akan bisa masuk, bahkan jika menipu umur pun tetap akan ketahuan karna gadis itu masih terlihat begitu imut dan kekanakan dari umur nya sama seperti sikap nya.


Namun ia tau bagaimana cara untuk masuk ke sana membawa gadis itu, apa lagi jika bukan karna koneksi yang sudah ia bangun.


"Bukan nya di sini tempat yang menjual jus apel biru?" tanya Steve pada para penjaga sebelum di mintai kartu identitas.


Sedangkan Celine dengan tatapan binar dan polos nya begitu bersemangat menggandeng tangan sang kakak.


Para penjaga itu memandang satu sama lain, pertanyaan itu bagaikan sandi yang hanya di ketahui oleh orang dalam ataupun tamu VVIP di club' tersebut.


Mereka pun mempersilahkan masuk, namun tetap saja mencegah gadis itu.


Greb!


"Berani sekali kau menyentuh nya, dia dengan ku!" ucap Steve dengan tajam dan menghunus ke arah penjaga yang memegang tangan sang adik.


Melihat raut marah dari pria yang mengetahui sandi tertinggi itu dan tentu nya bukan orang biasa membuat pada penjaga itu pun akhirnya membiarkan gadis yang terlihat sangat kecil itu untuk masuk.


"Kak? Penjaga nya kenapa di marahin tadi? Kan kasihan..." ucap nya pada sang kakak.

__ADS_1


"Dia kan narik tangan kamu, kalau gak di marahin nanti dia gak izinin kamu masuk sama kakak." ucap pria itu dengan nada yang lembut pada gadis yang mudah merasa iba tersebut.


Celine diam tak menjawab lagi, sang kakak selalu menatap dingin pada orang lain bahkan sampai membuat nya takut namun ketika berbicara pada nya mata pria itu kembali menghangat dan sangat berbeda sebelum nya.


"Jus apel biru memang ada yah kak?" tanya nya polos pada sang kakak.


"Ada," jawab Steve tersenyum mengganggu gadis itu.


"Mana?" Celine bingung karna ia belum pernah melihat apel berwarna biru.


"Kamu, kamu kan manis seperti apel." ucap pria itu menggoda gadis nya.


"Ih kakak!" sahut Celine langsung.


Musik yang berdegup kencang, aroma serta alkohol yang sudah bertabur di tempat yang terlihat menyenangkan untuk sebagian orang tersebut serta banyak nya orang-orang yang menari.


"Kak? Dia kenapa diem aja kak di pegang-pegang sama banyak orang begitu?" tanya gadis itu polos ketika melihat seorang wanita yang memakai pakaian terbuka dan di kelilingi oleh beberapa pria.


Steve pun langsung menoleh, ia tersentak dan langsung menutup mata adik nya. Ia tak mau gadis lugu itu tau tentang kehidupan dunia malam.


"Anak kecil gak boleh lihat," ucap nya pada adik kesayangan nya itu.


Celine pun langsung menatap sang kakak, "Iya deh iya..."


Steve tersenyum melihat wajah adik nya yang tampak menggemaskan, ia tak memesan privat room karna ia tau gadis itu ingin melihat lebih banyak lagi.


"Celine suka di sini?" tanya pria itu sembari memesankan minuman bersoda karna tau adik nya masih belum bisa meminum minuman keras.


Gadis itu mengangguk, banyak hal baru yang tak pernah ia lihat sebelum nya berada di tempat tersebut, "Tapi kak banyak banget yang di sini, Celine sampai pusing."


"Celine mau pulang?" tanya nya pada gadis itu.


"Sebentar lagi kak, minuman Celine aja belum habis." jawab nya pada sang kakak.


Steve tak mengatakan apapun lagi, ia melihat beberapa wanita yang ingin ke arah nya namun ia langsung menatap tajam sehingga membuat para wanita itu memundur dengan sendiri nya.


Tak hanya ia, gadis nya yang polos itu pun banyak yang ingin mendekat bagaikan buaya yang di berikan daging, ia menatap tajam dengan aura suram pada para pria itu.


Deg!


Mata nya tersentak, ia melihat pemimpin gangster yang pernah meminta nya untuk meretas beberapa sistem lalu meminta nya untuk bergabung namun ia menolak nya.


Ia menatap ke arah adik nya yang masih melihat sekeliling club', ia takut jika gangster tersebut malah menggunakan adik nya untuk membuat nya menurut pada yang di katakan.


"Celine di sini aja yah dulu, kakak mau beli sesuatu dulu." ucap nya pada gadis itu.


Ia hanya ingin membeli sesuatu yang bisa menutupi wajah adik nya agar tak di kenali bahkan saat ia bertemu seseorang yang bagi nya bisa menjadi ancaman untuk gadis kecil kesayangan nya itu.


Celine mengangguk, sang kakak dengan cepat pergi. Ia pun kembali melihat dan masih duduk diam hingga membuat nya melihat seseorang yang mirip dengan teman nya.


"Fiony kan itu?" ucap nya yang tanpa sadar beranjak dari duduk nya.


Gadis itu lupa akan pesan sang kakak yang menyuruh nya tetap diam tak kemanapun.


Bruk!


Di tengah lalu lalang ramai orang-orang gadis itu berselisih dan ditabrak sekumpulan pria yang membawa alkohol di tangan nya.


"Haish! Sialan!" ucap pria itu dengan kesal.


Celine mengernyit, bukan ia yang salah namun ia yang dimarahi, ia pun ingin pergi namun.


Greb!


"Kenapa aku yang salah? Kan kamu yang tabrak duluan!" ucap nya yang tau jika diri nya benar.


Pria yang setengah mabuk itu pun menatap kesal, namun ketika ia melihat wajah yang cukup cantik dengan tubuh kecil itu membuat amarah nya turun dan tersenyum simpul sembari melirik teman-teman nya yang lain.


Para pria itu bermain mata memberikan kode untuk membawa gadis yang terlihat bagaikan santapan empuk itu.


"Kau harus ganti! Kalau tidak punya uang setidaknya temani kami minum!" ucap nya yang terus memegang tangan Celine.


"Harusnya aku yang minta ganti! Kan bukan aku yang salah!" jawab gadis itu yang bahkan tak tau bahaya apa yang sedang menanti.


para pria itu bermain mata sembari salah satu nya memasukkan bubuk esktasi ke dalam botol minuman keras yang di pegang.


"Minum ini, abis itu kami anggap impas!" ucap nya memerintah.


Celine jelas menolak karna tau sang kakak akan sangat marah jika ia minum minuman beralkohol, "Gak mau! Aku kan gak salah!" ucap nya sembari meronta berusaha melepaskan diri.


Pria itu mengambil satu botol minuman keras berisi narkotika itu mulai mencekoki gadis kecil di depan nya.


Uhuk!


Celine tak bisa bernapas, rahang nya di tahan dan ia di paksa meminum minuman keras yang berada di botol itu hingga habis.


Pakaian nya mulai basah karna minuman yang tumpah ruah tak terminum oleh nya.


Sementara itu Steve kembali, ia sudah membeli topi yang cocok untuk adik nya namun tak melihat gadis itu di tempat yang ia tinggalkan.


Pria itu pun langsung panik takut ada seseorang yang menarik gadis nya pergi tanpa tau jika gadis itu sendiri yang pergi dari nya.


Celine terduduk di lantai saat itu terjatuh, kepala nya terasa berputar, serta suara tawa yang bertautan terdengar di telinga nya ketika para pria itu mentertawai nya saat melihat nya mulai mabuk bahkan dengan waktu yang singkat.


"Ka..Kakak..." gumam nya lirih yang mencari sang kakak, ia merasa sangat takut bahkan sampai membuat tubuh nya gemetar hebat.


Sedangkan pria yang berlari menelusuri club' besar itu terlihat begitu khawatir dan takut karna gadis nya hilang di tempat yang tak seharusnya.


Deg!


Ia mengenali gadis yang tengah terduduk itu dan mulai di tarik dengan perlawanan yang melemah karna kesadaran nya yang mulai hilang.


Prang!


Botol minuman keras itu langsung ia pecahkan ke arah kepala pria yang ingin menarik tangan adik nya.


"Celine? Hey? Kenapa?" tanya Steve melihat wajah sayu sang adik.


"Gak apa-apa, kakak di sini." ucap nya sembari menutup wajah adik nya dengan memasangkan topi hitam yang ia beli, "Jangan lihat," ucap nya sekilas.


Para pria itu tentu nya merasa marah, "Sialan! Kalau mau juga kan bisa gantian!" ucap pria itu dengan kesal.


Darah Steve mendidih mendengar nya. Ia mengepalkan tangan nya dan kembali memukul pria itu.


Gantian? Itu berarti gadis kesayangan nya harus di gilir dengan para pria bajingan itu secara bergantian?


Ia merasa benar-benar marah, sekelompok pria yang menyerang nya secara bersamaan dan juga ia yang membalas nya dengan tangan kosong ataupun botol kaca yang sudah pecah.


Akh!

__ADS_1


Cairan merah kental itu mengalir ke tangan nya ketika menikam menggunakan pecahan botol tersebut.


Ia tak memberikan ekspresi panik ataupun terkejut, hanya ekspresi kosong yang masih merasa belum cukup.


"Masih kurang," ucap nya lirih yang ingin terus menghabisi orang-orang mencekoki adik nya dengan barang terlarang itu.


Sampai penjaga club' pun datang dan memisahkan mereka sebelum ada nyawa yang melayang.


"Belum cukup..." gumam nya dengan wajah kosong yang hanya terlihat hasrat itu ingin menyerang dan membunuh pada para pria yang sudah jatuh tumbang itu walau lawan mereka hanya anak yang baru beranjak dewasa.


...


"Kau membuat kekacauan di tempat ku!" ucap si pemilik club' dengan kesal pada pria itu.


Steve tak mendengarkan, ia hanya fokus ke adik nya, "Kalau begitu harus nya kau biarkan aku membunuh mereka, bukan nya sama saja cara membereskan nya dengan mu?" ucap nya sembari menatap tajam pada si pemilik club'.


"Siapa yang mau kau bunuh? Dua orang sudah mati! Sudah ku duga kau akan jadi seperti ini!" ucap nya pada pria yang tak pernah menunjukkan emosi nya itu.


Steve tak merasa bersalah sama sekali lebih tepat nya ia yang memang tak bisa merasakan emosi sedikitpun kecuali yang berhubungan dengan gadis nya.


"Aku bisa bunuh dua kali sekaligus arwah nya," jawab nya dengan datar sembari menggendong adik nya yang semakin terlihat tak baik-baik saja.


"Urus mereka, aku akan membantu mu meretas akun bank." ucap nya sembari membawa Celine dalam gendongan nya.


Ia tau masalah yang buat kali ini akan sangat rumit karna sampai menghilangkan nyawa, namun entah mengapa ia masih tak bis merasakan emosi apapun setelah melakukan nya kecuali perasaan khawatir melihat gadis nya.


...


Rumah sakit.


Mata nya mengernyit, tak hanya minuman keras namun para pria itu juga memberi adik nya narkotika.


Ia berdecak sembari memegang kertas yang memberikan hasil pemeriksaan gadis kesayangannya.


"Kalian bisa menghilangkan narkotika nya? Dia masih kecil." ucap nya pada para dokter yang merawat adik nya.


"Kami sudah berusaha melakukan nya, karna dia baru pertama kali lebih mudah di hilang kan." ucap salah satu dokter pada pria itu.


Steve mengangguk, ia pun ke kamar rawat gadis nya, mentari mulai keluar saat mulai dini hari, pria itu merasa menyesal menuruti keinginan gadis nya.


Jika saja ia tak menuruti nya mungkin gadis itu akan baik-baik saja sekarang.


......................


Mansion Evans.


Mike merasa begitu kesal saat tau anak-anak nya keluar malam tanpa sepengetahuan nya, yang lebih membuat nya kesal lagi karna putra nya membawa putri sambung nya yang masih kecil itu untuk keluar bersama.


Steve dan Celine pun mulai kembali ketika Celine telah sadar.


Steve bahkan sudah menyuruh gadis itu untuk diam jika di tanya, ia sudah tau sang ayah memiliki didikan yang cukup keras walaupun sangat menyayangi ia adik tiri nya itu.


"Dari mana kalian?" tanya Mike dengan tatapan marah pada putra nya yang masih memegang tangan adik tiri nya itu.


Freya menarik napas nya, saat suami nya marah pria itu akan berubah seperti akan dapat melukai seseorang.


"Kami sudah dewasa," ucap Steve singkat sembari membawa gadis itu.


"Kamu yang sudah dewasa! Adik mu itu masih kecil!" ucap Mike dengan mata amarah mendengar nya.


Steve tak menjawab, ia hanya melihat dengan wajah nya yang datar, "Sana masuk kamar." ucap nya pada Celine dengan suara berbisik.


Celine terkejut, ia takut dengan ayah nya yang mulai marah pada diri nya dan sang kakak.


"Kak..." panggil nya lirih yang merasa bersalah.


Gadis itu gugup sampai menarik tangan tangan kakak, "Pa..papa, itu..."


"Kamu di kamar aja," ucap Steve memotong karna tak mau gadis itu dimarahi.


Celine yang tak mau pergi itu terus menempel pada sang kakak dengan takut sampai menjatuhkan kertas pemeriksaan nya di rumah sakit sebelum nya.


Mike mengambil nya, mata nya membulat melihat hasil yang menunjukkan ada nya kandungan narkotika, ia ingin membaca lagi untuk melihat nama siapa yang berada di hasil itu namun Steve dengan cepat mengambil nya.


Sreg!


Steve menyobek nya hingga potongan terkecil yang tak bisa di satukan lagi, ia takut sang ayah tau nama siapa di dalam nya.


"Siapa itu?!" ucap Mike murka.


Steve mengernyit sejenak, ia tau sang ayah belum membaca nama di dalam nya, "Milik ku." ucap nya singkat.


Plak!


Mike mendidih mendengar nya, putra nya mengaku memakai narkotika namun terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.


Celine terkejut melihat ayah nya dengan sangat marah menampar sang kakak padahal dirinya yang membuat masalah.


"Papa, maaf Celine salah..." ucap nya menangis pada sang ayah.


Steve langsung menarik gadis itu, kalau di biarkan maka Celine akan mengakui semua kejadian sebenarnya dari awal sampai akhir.


"Mau kamu ajari apa adik mu?! Kamu bawa keluar malam-malam?! Kau juga pakai-"


"Mengecewakan!" ucap Mike dengan emosi amarah memuncak melihat putranya yang kini malah mendekat putri sambungnya yang menangis itu.


"Pah, udah semua nya takut..." ucap Freya yang menyenangkan suami nya.


Melihat putri sambungnya yang terus menangis takut melihatnya Mike pun berusaha meredam amarahnya sedangkan putra masih terlihat seperti tak melakukan apapun dengan wajah yang masih datar.


...****************...


Karna banyak yang minta lanjut othor lanjutin, jadi othor kasih visual nya walaupun gak begitu panjang episode nya seperti novel utama yah.


Kalau menurut kalian gak cocok di bayangin sama yang kalian mau aja😉





Steve George Evans




__ADS_1


Celandine Amaranth


__ADS_2