
Apart Venelue'ca
Ainsley melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 12 malam membuat nya semakin gusar.
Putra nya sama sekali tak mengangkat telpon nya, sebagai orang tua tentu nya ia khawatir karna ia tau walaupun ia memiliki anak laki-laki namun putra bukan seperti anak berandalan yang sering pulang larut.
Malah sebalik nya, lingkup putra nya hanya pada diri nya dan juga kedua teman nya yang sering berkunjung ke rumah mereka.
"Axel..." gumam Ainsley lirih dengan perasaan gusar.
Hingga satu telpon menuju ke ponsel nya dan secepat kilat ia mengangkat nya.
Wajah nya mulai lega begitu pula dengan napas nya ketika ia sudah mengetahui di mana putra nya.
Pelayan di mansion nya yang menelpon karna tuan muda mereka mungkin lupa mengabari karna mereka tau remaja itu tak keluar sama sekali di ruang kerja sang ayah sejak siang.
"Astaga, anak ini..." ucap Ainsley lirih dan mulai mengambil mobil nya untuk menyusul putra nya.
......................
Mansion Zinchanko
Sementara itu asal masih melihat layar di depannya ia tak menyangka jika kebenaran yang selama ini ya ketahui belum semuanya.
Jujur saja perasaannya hancur ia tak bisa bohong Jika ia mengatakan dirinya tak terluka sama sekali melihat semua adegan yang berada di depannya. Wajah melas sang ibu dan juga sang ayah yang terus memukulnya secara membabi buta.
Iya bisa mendengar semua percakapan yang berada di sana, hari dimana ia berada di rumah sakit setelah hari penculikannya sang ibu sama sekali tidak pergi melainkan tetap berada di mansion megah mereka.
Hanya saja sikap keras sang ayah membuat ibunya tak dapat menjenguknya sama sekali. Dia bahkan bisa melihat wanita yang sangat dihormati itu berlutut dengan wajah yang begitu putus asa.
Memar di tubuh, pandangan yang kosong, harapan yang seakan telah hilang hal itu terlihat jelas dari sudut kamera yang memantaunya.
Bahkan kini ia tahu kecelakaan apa yang menimpa ibunya sampai memerlukan donor jantung iya tak pernah berfikir wanita yang selalu ia anggap kuat malah memilih untuk menusuk dada nya dengan pisau yang tajam.
Remaja pria itu tak berhenti dan terus mencari bahkan sampai menemukan video pertama kedua orang tua.
Video yang menunjukkan ancaman pelecehan dan sang ayah yang bahkan masih mengenakan topeng yang menutup mata nya.
Axel bahkan tak sanggup melihat nya dan kembali mematikan nya.
"Daddy bukan seperti itu..." gumam nya lirih sembari mengetuk pelan kepala nya di atas meja.
Ia ingat jika kedua orang tua nya pernah bertengkar dan sang ayah membuat memar di leher ibu nya, namun semua itu berlalu hingga ia hampir melupakan nya.
Namun ia tidak hanya melihat pertengkaran kedua orang tua nya melainkan ia juga melihat saat-saat kedua orang yang sangat ia sayangi di dunia itu saling memberikan kasih sayang.
Sekarang ia bisa mengerti mengapa ibu nya terus menanamkan jika ia nanti menyukai seorang wanita apapun yang terjadi ia tak boleh bersikap kasar secara fisik sama sekali.
Jika ingin bertahan lanjutkan dan jika tidak bisa lagi bertahan maka hentikan.
"You seem to love her a lot but why make her suffer? Dad?" gumam nya sembari melihat semua video yang tersimpan itu hingga ia lupa jika belum makan sama sekali ataupun menghubungi ibu nya.
Tatapan yang hanya tertuju pada sang ibu dan tidak terlepas sama sekali, senyuman dan sikap yang terlihat lunak dan hangat pada wanita yang menjadi pasangan nya.
Tatapan amarah yang membara saat tak bisa mengontrol semua emosi nya, tatapan yang merasa begitu takut di tinggalkan hingga membuat nya berusaha untuk menjadi lebih kuat dan menunjukkan kekuatan nya agar seseorang bisa tunduk.
Ia pun mematikan apa yang ada di depan nya, menutup laptop itu dan beranjak keluar.
"Axel? Kenapa gak kasih tau Mommy kamu di sini? Mommy khawatir!" ucap Ainsley yang baru saja sampai dan melihat putra yang tampak lesu.
Axel melihat ke arah sang ibu, ia tau ibu nya tak pernah membentak nya dan selalu berbicara dengan suara yang lembut.
__ADS_1
Namun ia juga ingat suara lembut itu pernah memelas meminta ampun pada seseorang.
"Mom? Are you okey?" tanya nya lirih sembari memegang kedua tangan ibu nya.
Ia memilih diam tak mengatakan apapun jika ia sudah mengetahui nya.
"Kenapa? Kamu tanya nya yang aneh?" Ainsley yang heran melihat putra nya.
"Aku mau tidur di pangku Mommy, terakhir kali waktu aku SD kan?" tanya nya yang memaksa senyum nya.
Kini ia tau jika sang ibu tak pernah meninggalkan nya sama sekali, bahkan terus mengkhawatirkan nya setiap saat.
Ainsley membuang napas nya lirih dan tentu saja ia menyetujui permintaan putra nya.
...
Kamar yang dulu nya selalu menjadi tempat yang paling di sukai remaja itu ketika kecil, bahkan pedang yang selalu ia mainkan bersama sang ayah masih ada di sana.
Aroma parfum sang ibu yang membuat nya tenang, ia menyandarkan kepala nya ke atas pangkuan sang ibu yang duduk di tepi ranjang nya.
Usapan tangan kecil yang hangat membekas setiap helaian rambut nya dengan lembut.
"Mom?" panggil nya lirih.
"Hm?"
"Do you love him?" tanya nya lirih.
Ketika mendengar semua nya dan melihat semua video yang terekam itu membuat nya dapat mengambil kesimpulan jika sang ayah sangat membenci paman yang dulu ia anggap baik karna merasa jika sang ibu menyukai pria itu.
Ia bahkan tau mengapa sang ibu memilih meninggalkan pria yang di cintai nya dan memiliki bersama dengan ayah nya hanya karna diri nya.
"Your Dad?" tanya Ainsley pada putra nya sembari melihat ke bawah.
Ainsley diam sejenak, "Hm, I love him." ucap nya sembari melanjutkan elusan nya di kepala putra nya.
"Kalau Mommy sama Daddy gak suka gimana kami bisa punya Axel? Iya kan?" tanya nya sembari mencubit sekilas pipi putra nya.
Axel hanya diam mendengar nya, ia tau jika ibu saat ini tengah memberikan kebohongan pada nya.
"Mom?" panggil nya lagi.
"Hm?"
"Kenapa sih bisa ada orang yang mau mikir bunuh diri? Axel gak ngerti, kadang dari mereka kan ada yang semua nya cukup kayak Axel." tanya nya lirih.
Deg!
Ainsley tersentak sejenak mendengar pertanyaan putra nya, "Kenapa Axel tanya begitu nak?"
"Axel penasaran Mom, tadi Axel lihat ada artis papan atas yang bunuh diri. Ja-jadi Axel penasaran." ucap nya pada sang ibu.
"Mereka mau bunuh diri bukan karna mau mati, mereka itu sebenarnya mau hidup." ucap nya sembari melanjutkan mengusap rambut putra nya.
"Mau hidup? Tapi kenapa mereka..." tanya nya tak mengerti.
"Mungkin mereka ngerasa gak bisa napas, padahal oksigen ada di mana-mana tapi rasa nya benar-benar tercekik."
"Dari pada menunggu di selamatkan mereka mungkin lebih merasa harus menyelamatkan diri nya sendiri, rasa nya seperti mimpi buruk."
"Dan ingin terbangun saat semua nya sudah selesai," ucap nya pada putra nya.
__ADS_1
"Mom? Maaf..." ucap nya lirih pada sang ibu.
"Maaf kenapa?" tanya Ainsley dengan bingung.
"Karna Axel nyakitin perasaan Mommy," ucap nya lirih.
"Mommy gak apa-apa kok," jawab Ainsley dengan lembut pada sang ibu.
"Mom? Daddy itu orang yang kayak apa sih menurut Mommy?" tanya Axel lagi.
"Menurut Mommy?" Ainsley yang berpikir begitu mendengar pertanyaan putra nya.
"Daddy itu dewasa kadang juga nyebelin tapi kalau lagi marah dia jadi kayak anak-anak jadi sensitif,"
"Terus cemburuan banget sampai Mommy mungkin mau pelihara kelinci jantan aja gak boleh," sambung nya lirih.
"Kalau menurut ku, Daddy itu ayah yang terbaik di dunia, gak ada yang bisa gantiin dia." sambung nya lirih.
"Tentu," jawab Ainsley yang tau putra nya sangat menyayangi sang ayah.
"Tapi kadang ayah yang baik bukan suami yang baik," ucap nya lirih.
"Kenapa Axel bilang begitu?" tanya Ainsley mengernyit mendengar putra nya.
"Menurut Mommy Daddy itu suami yang baik untuk Mommy?" tanya nya lagi.
"Iya, kalau dia bisa jadi ayah yang baik buat Axel berarti bisa jadi suami yang baik untuk Mommy," ucap nya pada putra nya.
"Mommy itu kadang pernah mikir mau kabur dari Daddy kamu, tapi kalau Mommy kabur nanti gak bisa ketemu kamu lagi,"
"Dan gak selama nya juga Mommy mikir nya mau pergi, kadang Mommy pikir ini yang terbaik untuk Mommy, punya anak yang baik, yang tampan..."
"Punya suami yang cinta sama Mommy," sambung nya lirih pada putra nya.
"Mom? Kalau cinta nyakitin itu cinta juga?" tanya nya lagi.
"Mungkin obsesi? Karna kalau kamu benar-benar cinta sama seseorang tanpa obsesi sama sekali kamu tau cara nya menerima dan melepaskan."
"Mungkin bakal berat banget rasa nya, tapi itu bisa bikin kamu lebih lega." jawab Ainsley pada putra nya.
"Yang gak Mommy suka dari Daddy apa?" tanya nya lagi.
"Daddy itu cemburuan, sampai kadang buat Mommy takut. Dia juga bukan orang yang bisa percaya sama apapun..." jawab nya jujur pada putra nya.
Karna semua kekangan yang terjadi adalah akibat dari kecemburuan suami nya dan tidak pernah mempercayai nya sama sekali.
"Mom?" panggil nya lirih.
"Hm?"
"Axel sayang banget sama Mommy, sama Daddy juga..."
"Jadi, Axel harap Mommy juga begitu."
"Daddy..."
"Itu kenangan yang gak bisa di hapus dari kita, memori tentang apapun itu, dia keluarga kita kan?"
ucap nya lirih pada sang ibu dan mulai tertidur ketika usapan di kepala nya semakin menguasai nya.
Walaupun ia mengetahui semua nya namun ia tak bisa memberi sang ayah yang telah tiada namun bukan berarti ia tak memiliki perasaan marah sama sekali.
__ADS_1
Dan begitu pun perasaan apapun itu, marah, kecewa, rindu semua itu hanya membuat hati nya seperti di sayat oleh pisau tajam.
Tak bisa berkomentar ataupun beratnya sana sekali dan hanya terus menyimpan nya dalam kalbu.