
Pandangan nya mengabur menatap sekitar, perut memiliki kontraksi rasa sakit yang membuat nya berkeringat.
Ia tidak tau apakah rasa sakit seorang ibu memang seperti ini, namun yang jelas ia tau adalah rasa sakit nya yang nyata.
Sementara itu.
Dokter yang sudah memeriksa kondisi gadis itu melihat adanya beberapa alasan gadis itu tak bisa melahirkan normal.
Ia pun keluar menemui pria yang tadi nya membawa ibu hamil tersebut.
"Pak seperti ada yang perlu di bicarakan, istri anda saat ini mengalami kondisi CPD, jadi kami menyarankan untuk melakukan operasi agar persalinan nya dapat lebih aman." ucap dr. Grace.
Ia mengira jika pria itu adalah suami dari pasien nya karna pasien nya selalu datang berkonsultasi pada nya selalu bersama pria tampan itu.
"Panggul nya sempit maksud anda?" tanya Richard mengulang.
"Benar pak, jadi jalan yang paling aman untuk ibu dan calon bayi yang akan di lahirkan dengan operasi," jawab dr. Grace
NB KET : Cephalopelvic disproportion atau CPD adalah panggul sempit, yang dapat diartikan sebagai suatu kondisi di saat kepala atau tubuh janin terlalu besar dan tidak muat untuk melewati panggul.
"Saya bisa berada di dalam?" tanya pria itu lagi.
Ia memang sudah menyewa semua dokter dan perawat wanita untuk mengurus kelahiran gadis itu nanti nya.
Ia tak mau jika ada pria yang berada dalam lingkup operasi gadis itu kecuali dirinya.
dr. Grace diam sejenak pria itu memang seperti pasien pelayanan VVIP di rumah sakit besar tersebut.
"Anda dapat mengganti pakaian lebih dulu," ucap dr. Grace pada pria itu.
Ia memang berencana menggunakan anestesi regional sehingga gadis itu sadar saat menjalani persalinan.
NB KET : Anestesi regional dilakukan dengan memblokir rasa sakit di sebagian anggota tubuh. Pasien akan tetap tersadar selama operasi berlangsung, namun tidak dapat merasakan sebagian anggota tubuhnya.
Setelah mengganti menggunakan pakaian yang steril pria tampan itu pun memasuki ruangan operasi.
Deg!
Ia melihat wajah yang pucat pasi dengan keringat yang jatuh sembari melirik ke arah nya.
Greb!
Tangan nya langsung meraih tangan kecil gadis itu, mengusap keringat yang jatuh ke dahi pucat itu dan berdiri di samping nya.
"Sa-sakit..." rintih nya mengeluh pada pria yang membawa anak di rahim nya itu.
"Iya, sebentar lagi hilang yah..." jawab Richard berbisik dengan lembut yang sesekali mengecupi dahi gadis itu.
Anestesi pun mulai di suntikan di dekat sumsum tulang belakang, perlahan rasa sakit yang mendera nya mulai terasa kebas dan dingin.
Genggaman tangan nya pun perlahan mengendur pada pria itu saat mulai tenang.
__ADS_1
"Jangan pergi, di sini saja..." ucap nya lirih yang masih meraih tangan pria itu.
Ia takut dan tak mau di tinggal di ruangan operasi yang memiliki semua orang asing di dalam nya, sedangkan bagian perut nya di tutup oleh kain penghalang yang membuat nya dan melihat proses operasi agar meminimalisir rasa takut atau trauma.
"Iya, aku disini..." ucap nya dengan lembut sembari terus menggenggam tangan mungil gadis itu.
Suara mesin yang melakukan pembukaan pada kulit nya lalu pembedahan pun mulai terdengar, Richard melihat ke arah gadis nya sesekali.
"Sakit?" tanya nya saat mendengar suara dari opersi yang tengah di lakukan.
Ainsley menggeleng pelan dan menatap pria itu, "Tidak." jawab nya singkat.
Pria itu tersenyum tipis ia mengusap dan mengecup dahi gadis itu walau tengah memakai masker.
Beberapa jam kemudian.
Suara tangisan terdengar memenuhi rungan tersebut.
"Selamat, bayi laki-laki yang anda lahirkan sehat," ucap dr. Grace tersenyum sembari membawa bayi yang masih penuh dengan lumuran darah itu dan mulai membersihkan nya lebih dulu.
Richard menoleh melihat makhluk kecil yang rapuh dengan kulit yang masih memerah itu menggeliat sembari mengeluarkan tangisan yang kencang.
Sudut bibir nya naik tanpa ia sadari melihat makhluk kecil yang masih polos tanpa noda kehidupan itu.
"Anda mau menggendong nya pak?" tanya dr. Grace pada pria itu.
"Tidak, berikan pada ibu nya lebih dulu." jawab Richard saat melihat sorot gadis itu yang ingin melihat bayi yang ia lahirkan.
dr. Grace pun tersenyum dan membawa anak yang lahir dengan sehat itu ke pelukan ibu nya.
"Dia..." ucap Ainsley tak mengerti apa perasaan nya.
Rasa nya senang, bahagia, terharu, bangga, takut, gugup dan perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
Bibir nya tersenyum namun tanpa sadar menjatuhkan bulir bening nya walau ia sedang tak merasa sedih sama sekali.
Bayi kecil yang rapuh yang dulu nya ingin ia gugurkan sebelum melihat dunia.
"Love you son..." bisik nya pada putra kecil nya yang tengah menangis.
Jemari kecil nan mungil yang menepuk nya dan menggeliat di samping tubuh nya membuat nya merasa rasa sakit yang sempat ia rasakan sebelum nya hilang dan terbayar begitu saja.
"Daddy Love you too," ucap pria itu pelan sembari mengusap pipi putra nya yang tengah menangis tersebut.
...
Setelah proses melahirkan yang cukup memakan waktu akhirnya Ainsley di bawa kembali ke kamar biasa, Clarinda yang mendengar kabar putri nya melahirkan langsung datang bergegas melihat nya.
"Calesta?" panggil nya yang terdengar panik dan khawatir.
Richard memang memberi tau kan tentang kelahiran putra nya pada Clarinda setelah semua proses selesai.
__ADS_1
"Mah? Anak ku udah lahir Mah..." jawab Ainsley tersenyum pada ibu nya.
Clarinda tersenyum membelai kepala putri nya, "Sekarang cucu Mamah mana?" tanya nya sembari menelisik.
"Sebentar lagi di bawa," ucap Richard yang menjawab pertanyaan wanita yang menjadi ibu angkat gadis nya.
Clarinda tersenyum sembari menoleh ke wajah pria itu lalu menatap kembali ke putri nya.
"Mamah dengar kamu CPD?" tanya Clarinda putri nya.
"Iya Mah," jawab Ainsley mengangguk karna ia juga di jelaskan setelah melahirkan.
"Tidak wajah nya saja yang seperti anak-anak ukuran tubuh nya ternyata juga," ucap pria itu sembari menatap menggoda ibu yang baru saja melahirkan tersebut.
Pasalnya kasus panggul sempit tak banyak di temukan pada wanita dewasa apalagi dengan usia kandungan yang lebih muda sehingga murni gadis itu menghalangi panggul sempit dan bukan nya kepala bayi yang lebih besar dari panggul nya.
Ainsley hanya menatap sebal dengan godaan tersebut, wajah dan tubuh nya memang mungil menggemaskan yang membuat siapapun ingin menjadikan nya sasaran empuk.
Tak lama kemudian perawat dan dokter yang membawa putra nya setelah beberapa proses pun datang mendorong tempat tidur bayi.
Clarinda mendekat melihat wajah dari cucu pertama nya walaupun bukan cucu kandung nya.
"Kalian sudah siapkan nama?" tanya Clarinda sembari menatap wajah gemas makhluk kecil yang tengah tertidur tersebut.
Wajah yang menggemaskan dan tenang di balut dengan pakaian sweater serta di pakaikan topi untuk di kepala nya membuat Clarinda begitu gemas.
Ainsley diam, selama ini ia memang tak menyiapkan nama apapun untuk calon putra nya, ujung mata nya pun melirik pada ayah dari anak yang ia lahirkan.
Richard tersenyum saat menyadari gadis itu melirik nya.
"Sudah," jawab Richard pada Clarinda.
"Benarkah? Siapa nama nya?" tanya wanita itu dengan semangat ingin mengetahui nama cucu nya.
"Axel Miller Zinchanko," jawab nya pada pertanyaan tersebut.
Ia memang sudah mencari dan menyiapkan jauh-jauh hari nama yang akan di gunakan putra nya, walau ia berharap gadis itu yang memberikan nama namun jika tidak ia sudah menentukan sendiri nama untuk putra nya.
Clarinda tersenyum, "Nama yang bagus."
Ia pun kembali melihat ke arah cucunya.
"Mah, Calesta mau gendong." ucap nya meminta untuk diambilkan putra nya.
Clarinda pun menuruti nya, ia perlahan mengambil bayi mungil itu dan membawa ke putri nya.
Ainsley tersenyum, ia masih merasakan sedikit sakit setelah operasi namun ia merasa baik-baik saja saat melihat anak pertama nya tersebut.
Richard melihat senyuman gadis itu, memperhatikan wajah yang terlhat letih namun puas dan bahagia di saat yang sama.
__ADS_1
Tatapan nya berubah menjadi sesuatu yang lain, bibir nya menampilkan smirk yang menyimpan rencana lain di pikiran nya.
Sekarang kau punya kelemahan lain...