
Spanyol.
Gadis itu kini diam, perjalanan nya kembali terasa hambar walau ia masih dengan pria itu yang tadi bersama nya.
"Mau ku antar?" tanya Sean menawari gadis itu.
"Tidak, sebentar lagi supir nya bakal jemput." jawab gadis itu tersenyum dengan mata letih nya.
Sean mengangguk ia pun berlalu meninggalkan gadis itu saat tiba di bandara.
Ia hanya berdiri di tempat yang tak terlihat hingga menunggu supir gadis itu datang menjemput dan ia pun bisa kembali dengan tenang.
.....................
Mansion Zinchanko.
Gadis itu datang, pria yang melihat nya dengan tajam karna merasa kesal pada nya pun dapat ia rasakan.
"Axel mana?" tanya Ainsley sembari menarik napas nya.
"Kau lupa harus melakukan apa yang ku inginkan dulu baru bisa bertemu dengan nya?" tanya Richard pada gadis itu.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Ainsley pada pria itu.
"Kau akan lakukan semua?" tanya pria itu dengan tajam.
Ia sudah tau jika gadis itu tinggal bersama dengan mantan kekasih nya di Kanada dalam beberapa waktu terakhir dan tentu nya semu pikiran kotor dan negatif di kepala nya berputar.
"Apa? Aku mau bertemu dengan nya hari ini, jadwal keberangkatan ku pukul 5 sore ini," ucap Ainsley pada pria itu karna hari ini ia akan kembali ke Prancis.
Richard diam sejenak, hati dan pikiran nya sedang sangat marah membayangkan apa yang di lakukan gadis itu selama dua Minggu tinggal bersama pria.
"Buka semua pakaian mu," ucap nya dengan satu kalimat yang membuat mata Ainsley membulat.
"Apa yang kau katakan?!" ucap gadis itu bertanya dan tentu nya tak menyetujui permintaan kali ini.
"Mau aku yang buka kan?" tanya Richard sembari mendekat.
"Aku mau ketemu Axel! Kenapa pam- kau begitu?!" tanya Ainsley yang langsung memundurkan langkah nya.
Auch!
Pria itu meraih tangan kecil gadis di depan nya, mencengkram nya erat hingga membuat gadis itu meringis.
"Sa-sakit..." ringis nya sembari berusaha melepaskan cengkraman nya.
HUA...
Ainsley dan Richard tersentak saat mendengar tangisan bayi mungil yang berada di balik ruangan tempat mereka berada.
"Wanita itu di sini?" tanya Ainsley mengernyit dengan perasaan gusar.
Cengkraman tangan yang melonggar pun langsung membuat nya berusaha lari menuju ruangan putra nya.
Langkah nya terhenti sejenak melihat putra kecil nya menangis sendiri tanpa ada yang menggangu.
"Axel sayang? Kenapa nangis?" tanya nya mendekat dan mulai menggendong bayi kecil yang mungil itu.
"Haus? Hm?" tanya nya sembari mengusap mencium pipi bulat putra nya.
Ia pun duduk di salah satu sofa yang berada di kamar bayi itu lalu mulai membuka dua kancing gaun nya.
"Anak Mommy haus rupa nya," ucap nya tersenyum sembari melihat putra nya yang diam saat di beri asi.
Richard mengikuti langkah gadis itu, ia masih kesal bahkan sangat kesal karna gadis itu tinggal dengan pria lain selama beberapa waktu terakhir.
"Memang nya aku sudah beri izin?" tanya pria itu dengan dingin.
"Dia haus," ucap Ainsley sembari bangun dan membawa putra nya ke sisi yang menjauh.
Langkah Richard berhenti sejenak menatap ke arah putra nya yang baru saja diam saat di berikan ASI.
"Kau tau kan, aku tak akan membiarkan mu melihat nya lagi kalau sudah menikah." ucap pria itu agar merasa gadis itu tersudutkan.
Ainsley menoleh, "Kalau kau mau menikah, aku tidak masalah tapi kau tidak pikirkan Axel?"
"Lalu kau sendiri memikirkan nya? Kau yang meninggalkan nya kan? Sekarang mau berperan jadi ibu yang baik?" tanya Richard menyindir.
"Diantara kita, yang jadi orang tua egois itu dirimu sendiri!" sambung nya dengan nada penuh penekanan.
Ainsley terdiam atas perkataan pria itu, ia harus bagaimana? Kalau saja ia bisa memilih dengan siapa ia bisa suka pasti semua nya bisa berjalan dengan lancar.
"Apa..."
"Apa tawaran itu masih berlaku?" tanya nya sembari menutup mata nya dan menahan napas untuk satu kalimat tanya itu.
Richard mengernyit, yang ada di pikiran nya adalah tawaran ia yang akan melepaskan gadis itu dan ia pikir hari ini adalah gadis itu melihat putra nya.
Dada nya penuh dengan amarah dan kecemburuan, ia mendekat dengan langkah yang tergesa.
Ukh!
Ainsley meringis sembari semakin memeluk putra nya saat rahang nya tiba-tiba di cengkram.
__ADS_1
"Kau tidak mau bertemu dengan anak mu lagi? Kau sudah memilih pilihan mu?" tanya nya yang masih terbakar dengan rasa cemburu.
"Bu-bukan nya kalau kita menikah aku bisa merawat Axel?" tanya gadis itu terbata karna pria itu mencengkram rahang nya dengan erat hingga membuat nya tak bisa bernapas.
Richard tersentak dan mulai melepaskan cengkraman nya, ia menatap ke arah gadis itu yang terbatuk.
"Kau bilang apa tadi?" tanya nya yang ingin mendengar lagi.
"Sekarang kau tidak mau menikah dengan ku lagi?" tanya nya sembari menyentuh leher nya yang memerah karna cengkraman pria itu.
Axel yang tak mengerti apapun dan menghisap asi yang di berikan ibu nya pun mulai kenyang dan tertidur kembali.
Ainsley melihat putra nya yang sudah selsai meminum asi yang ia berikan, ia pun menurunkan dan membawa putra pertama nya itu kembali ke keranjang bayi.
"Tawaran itu masih berlaku kan? Setelah itu aku bisa merawat nya kan?" tanya Ainsley sembari menatap pria itu.
"Apa bukti nya?" tanya pria yang menatap nya tajam.
"Bukti? Buk- Auch!" ucap nya meringis tanpa bisa melanjutkan kalimat nya saat tangan nya di tarik ke kamar pria itu.
Bruk!
Tubuh kecil itu terhempas di atas ranjang yang empuk dan berukuran besar tersebut.
"Kenapa tiba-tiba setuju untuk menikah? Hm?" tanya pria itu sembari menindih tubuh gadis yang masih berusaha bangun itu.
Ainsley mengernyit, entah kenapa pria yang tengah bersama nya saat ini terlihat marah pada nya.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya nya mengernyit.
"Kau bersenang-senang selama beberapa hari ini?" tanya Richard dengan senyum simpul yang menahan amarah.
"Maksud nya? Kau tau?" tanya nya yang menyadari di mana arah pembicaraan pria itu.
Srek!
Mata Ainsley membulat saat pria itu menarik gaun selutut yang memiliki kancing hidup hingga ke bawah serta mulai menarik ikat pita di pinggang nya.
"Tunggu! Aku tidak lakukan apapun!" ucap Ainsley yang langsung mencegah nya.
"Oh ya? Kalian tinggal bersama selama itu tapi tidak melakukan apapun? Untuk pasangan yang saling mencintai?" tanya Richard menarik kasar pakaian gadis itu.
"Aku tak bohong! Sungguh!" ucap Ainsley membela diri karna ia memang tak melakukan apapun.
Richard hanya tersenyum miring mendengar nya, ia benar-benar tak mempercayai ucapan yang di katakan oleh gadis itu.
"Oh ya? Tapi tadi kau menemui Axel tanpa persetujuan ku kan?" tanya pria itu dengan tatapan tajam.
Tangan nya kembali bergerak dan mulai meraih seluruh pakaian yang di kenakan gadis itu, melucuti nya hingga polos.
Tangan pria itu terhenti sejenak menatap tubuh polos tanpa sehelai benang pun di depan nya, kulit putih bersih yang hanya menampilkan bekas luka dari operasi namun tak ada bekas perc*ntaan apapun.
"Kalau kau benar tidak melakukan nya, anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan yang kau berikan untuk ku," ucap pria itu sembari mengukung kedua tangan nya ke atas kepala.
Bukan nya ia yang ingin menuntut sesuatu namun ia sangat cemburu saat tau gadis itu tinggal dengan pria lain sedangkan ia memang tak punya hak untuk memarahi gadis itu
Dan ia yang tak bisa membuktikan apakah ucapan gadis itu jujur atau tidak tentu nya membuat nya semakin panas.
Walau tak ada bekas apapun yang tersisa namun bisa saja ada kemungkinan jika gadis cantik itu melakukan nya saat baru tiba di sana sehingga semua bekas nya sudah memudar dan tak ada lagi.
Humph!
Ainsley tersentak, tangan pria itu menjalar ke d*da nya lalu mulai mer*mas nya hingga, ia merasakan sakit namun tak bisa mengatakan apapun saat bibir nya di bungkam dengan lum*tan agresif.
Tangan pria itu mulai turun bersamaan dengan ciuman nya yang turun dari leher hingga menyentuh bagian yang baru saja di mainkan oleh tangan nya.
Ia memang sudah lama tak berhubungan kembali dengan gadis itu, terakhir kali ia berhubungan dengan alasan ingin mencium anak yang berada dalam kandungan gadis itu.
Setelah nya ia tak melakukan nya lagi hingga gadis itu melahirkan dan usia anak mereka yang mulai menginjak 3 bulan.
Manis...
Batin nya yang kini sudah seperti putra nya beberapa waktu lalu, sedangkan tangan nya memaksa memasuki gadis yang terus berusaha memberontak di bawah kungkungan nya.
Ugh!
"Sa-sakit..." ringis Ainsley yang terkejut pada tangan pria itu.
Bagian inti nya terasa perih dan ngilu saat tiba-tiba jemari pria itu masuk tanpa aba-aba dan pemanasan yang cukup.
"Paman, berhenti..." ringis nya yang alam bawah sadar nya tetap mengingat panggilan awal pria itu.
Deg!
Mata nya kembali membulat, bukan nya terlepas ia merasakan pria itu menambah jemari nya.
"Sakit..." ringis nya semakin bergerak tak menentu agar terlepas.
"Aku menyuruh mu memanggil apa? Hm?" tanya pria itu setelah mengecup hingga memerah diatas kulit putih susu tersebut.
"Pe-perih..."
"Berhenti..." ringis nya menahan sakit.
__ADS_1
Richard tak menjawab namun tangan nya bergerak berlawanan dari apa yang di minta oleh gadis itu.
Ainsley memejam merasakannya, mata nya berair sedangkan ia terkejut saat tangan pria membuat nya bagian inti nya merasa sangat ngilu sekaligus sakit.
Setelah melihat wajah meringis yang cukup lama dan tangisan lirih pria itu pun mulai bangun dari tubuh gadis itu dan melepaskan jemari nya serta kungkungan tangan nya.
Ainsley bernapas lega, ia masih tak bangun dan meringkuk sembari ingin menghilangkan sejenak rasa sakit di bagian inti nya sebelum ia berangkat ke Prancis sore nanti.
Ia tak menyadari jika Richard yang sudah membuka seluruh pakaian nya lalu mulai menarik tubuh gadis itu.
Ungh!
Mata gadis itu mendelik seketika, sesuatu yang besar kini datang pada nya.
"Pam- Richard berhenti dulu, a-aku belum siap..." ringis nya sembari menahan sakit di setiap gerakan pinggul pria itu.
Humph!
Pria itu tak memberikan waktu agar gadis itu bisa mengoceh atau mengeluh atas tindakan nya, ia membungkam dengan ciuman nya yang membelit.
Gadis itu tak bisa mendorong tubuh bidang yang tengah menjamah semua bagian sensitif yang ia miliki.
....
Pria itu memandang wajah yang tak sadarkan diri di samping nya, entah karna tak sanggup menahan sakit atau kelelahan pun ia tak bisa tau namun yang jelas gadis itu sudah ketinggalan pesawat sekarang.
Ia pun bangun dan mencari ponsel gadis itu membuka sandi yang sudah ia ketahui dan membawa nya ke kamar mandi untuk ia priksa.
Rambut nya masih acak sembari melihat isi ponsel gadis itu terutama percakapan nya.
"Tak ada yang lain," gumam nya saat melihat ponsel gadis itu dan percakapan yang tak menunjukkan romantisme pada mantan kekasih nya.
Setelah ia memeriksa, ia pun memilih untuk membersihkan diri nya, punggung nya penuh akan cakaran kuku gadis itu yang tadi meringis serta menangis menahan sakit karna berc*nta dengan nya.
...
Keesokkan hari nya.
Ainsley bangun dan merasakan semua rasa sakit, pegal dan perih serta ngilu di bagian inti nya, ia meringis.
"Mau mandi baru sarapan? Atau mau ku bawakan langsung sarapan mu?" tanya pria itu yang datang sembari mengusap rambut panjang gadis itu.
Tak!
Ainsley menepis nya, ia memilih untuk menolak tawaran pria itu, padahal jika ia meminta untuk di gendong pria itu pasti akan segera melakukan nya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, gadis itu tak mengatakan apapun, ia hanya diam bahkan tak merespon pembicaraan pria yang terus memanggil nya.
"Kau mau tetap diam seperti ini?" tanya Richard yang mulai hilang kesabaran.
Ainsley menoleh ke arah pria itu, "Memang nya aku harus bilang apa? Semua yang ku katakan juga tidak akan di percayai kan?"
Tanya dengan wajah datar yang menatap lurus pada pria di depan nya.
"Kau pikir akan ada yang percaya kalau kau bilang hanya tinggal bersama tanpa melalukan apapun? Apa lagi dengan orang yang kau suka! Bukan! Kalian saling menyukai kan?!" tanya Richard geram.
Ainsley memilih tak berdebat lagi namun ia beranjak pergi, "Tiket ku, tolong pesan kan untuk hari ini, aku harus kembali ke Prancis."
Ucap nya tanpa melihat wajah pria itu dan berjalan ke arah kamar putra kecil nya, sekarang hanya bayi mungil itu yang bisa menjadi ketenangan nya.
"Pulas sekali tidur anak kesayangan Mommy..." ucap nya sembari melihat bayi kecil menggemaskan itu yang tertidur dengan pakaian rajut berwarna putih itu.
"Sekarang Mommy tinggal sama kamu..."
"Mommy gak tinggalin Axel sendiri lagi," sambung nya dengan suara parau yang entah kenapa dada nya terasa sesak.
Tes...
Satu cairan bening meleleh jatuh ke pipi nya, ia mengusap nya dan melihat nya.
"Kenapa dengan ku?" tanya sembari mengusap air mata nya dengan tanpa sadar tersenyum untuk mentertawakan diri nya sendiri yang terasa aneh.
Bahkan sehari setelah ia pria yang ia cintai melepaskan nya ia sudah di tiduri dengan pria lain.
Bahkan waktu untuk menenangkan diri nya saja belum selesai.
Bukan nya semua nya sudah sesuai jalur?
Aku menikah dengan pria yang mencintai ku dan bersama anak ku...
Tapi kenapa aku terus menangis?
Berhenti...
Jangan terus menangis!
Mungkin ada yang salah dengan ku!
__ADS_1
Aku hanya perlu menyesuaikan diri lagi!
Ini yang terbaik untuk ku...