
Gadis itu duduk berhadapan dengan pria yang tadi nya ia peluk, ia tak sadar dan saat ini rasanya mulai canggung.
Meja yang terisi dengan teh dan juga beberapa cake di depan nya tak membuat perhatian nya teralihkan.
"Maaf," ucap nya lirih pada pria tampan itu.
Sean masih memperhatikan wajah yang terus menerus menunduk tersebut.
"Terjadi sesuatu?" tanya Sean menebak.
Ainsley diam, ia bahkan belum memberitahu ibunya jika ia sudah ingat dengan semua masa lalu nya.
"Calesta?" panggil Sean lagi.
"Aku sudah ingat, semuanya..." ucap gadis itu lirih sembari menundukkan kepala nya.
Deg!
Sean terdiam sejenak, ia tak menyangka akan mendengar panggilan seperti itu, ia terkejut bahkan sangat terkejut.
"Cales- bukan! Ainsley?" Sean yang memanggil nama gadis itu dengan nada tanya.
"Panggil yang membuat mu nyaman saja," jawab Ainsley sembari melempar senyum tipis nya.
Sean diam, ia memperhatikan mata cantik yang terpasang jelas di wajah gadis itu.
"Maaf..." ucap Sean saat melihat wajah gadis itu.
"Untuk?" tanya Ainsley karna merasa pria itu tak perlu meminta maaf pada nya.
"Untuk semua nya, untuk yang pernah terjadi dan apa yang ku lakukan pada mu...
Aku membuat hubungan kita tidak bisa bertahan..." ucap Sean pada gadis itu.
Ainsley diam sejenak, ia memejamkan mata nya mengingat beberapa kenangan buruk yang di ciptakan pria itu.
Namun semua kenangan manis juga terukir di dalam nya.
"Kau tidak sepenuh nya salah, ada beberapa hal yang buat kita berakhir dan itu bukan dari dirimu," jawab gadis itu.
"Aku dulu juga terlalu bergantung pada mu, aku juga kekanakan dan tidak mau mendengar mu, dan..." ucap Ainsley terpotong.
Sean menatap menunggu jawaban selanjutnya, wajah yang terlihat menyimpan kata-kata di balik mata nya.
"Aku tidur dengan orang lain waktu kita masih punya hubungan, terlepas dari hal itu ku inginkan atau tidak, tapi sebagian besar terjadi karna aku tidak mau mendengar mu..." jawab Ainsley lirih.
Ia dulu sudah mendengar semua peringatan untuk menjauhi paman si dosen baru yang mengajar di kampus nya, namun dengan sifat keras kepala dan naif nya ia tak menghiraukan semua ucapan tersebut.
"Kau juga tidak bisa menghindari nya dulu, jadi-"
"Bukan Sean, dulu-" potong Ainsley tercekat.
Ia tak mungkin mengatakan jika tubuh nya menikmati hal dewasa itu walau hati dan perasaan nya menolak.
__ADS_1
"Aku seperti berkhianat..." sambung nya lirih.
Dan karna itu lah membuat semua rasa bersalah nya mencuat hingga tak bisa tetap menjalin hubungan dengan kekasih nya.
"Kalau begitu kita anggap seri saja? Untuk masa lalu kita?" ucap Sean yang mengalihkan pembicaraan untuk pelec*han yang di alami mantan kekasih nya dulu, "Tapi kesalahan ku lebih besar jadi jangan merasa bersalah."
"Aku dulu sering memukul mu atau memberikan hukuman fisik, ku pikir kalau membuat mu takut kau tidak akan berani pergi dari ku." sambung nya tersenyum pahit.
"Tapi dulu juga cuma kau yang baik pada ku, aku punya seseorang yang berdiri pihak ku dan punya sandaran, kalau dulu kita tidak pernah bertemu mungkin aku sudah mati lebih cepat." ujar Ainsley.
Tangan nya bertaut satu sama lain, perasaan nya campur aduk hingga membuat nya tak nyaman.
"Karna aku tidak punya harapan," sambung nya lirih.
Harapan untuk dapat bertahan...
"Setidaknya setelah memukul atau menghukum ku, kau memberi perhatian, atau punya seseorang saat takut atau menangis, setidaknya aku tidak merasa sendirian..." ucap gadis itu lirih.
"Maaf..." tak ada kata lain yang bisa di ucapkan pria itu selain permintaan maaf atas semua sikap posesif nya yang sangat keterlaluan dulu.
"Dulu, aku bisa bertahan karna dengan mu, jadi aku tidak membenci mu dan karna kau juga aku bisa punya kenangan yang manis." ucap gadis itu.
"Apa kita masih bisa..." tanya Sean lirih, ia masih berharap dan terus melihat ke arah gadis itu.
"Dulu sebelum putus aku pernah bilang kau harus cari wanita yang lebih baik dari ku kan?" tanya Ainsley mengingat kencan terakhir mereka.
"Dan aku tidak menemukan nya," jawab pria itu langsung.
Ia menarik napas nya sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya, "Aku hamil."
Deg!
Bagaikan tersambar petir, jantung pria itu terasa ingin berhenti mendengar nya.
"Lalu? Kau akan menikah dengan nya?" tanya Sean dengan suara bergetar.
"Hamil bukan berarti menikah kan?" jawab gadis itu dengan pertanyaan lain.
"Lalu kau sudah menyukai nya sekarang?" tanya Sean lagi.
Ainsley menggeleng pelan pada pertanyaan itu, "Tidak, aku memberitahu mu karna ingin kau berhenti berharap pada ku."
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Karna aku mau kau tidak terikat dengan apapun, aku mau melihat mu bahagia dengan hidup mu." jawab Ainsley dengan tulus, ia tak marah apapun dendam atas perlakukan yang ia terima dulu.
"Tapi aku bahagia nya dengan mu! Bukan wanita lain!" sanggah pria tampan itu segera.
Ainsley tak bisa menjawab nya, ia hanya tersenyum tipis. Ia tau tak akan mudah untuk pria itu melepaskan nya, maka dari itu ia juga tak akan memaksa nya.
......................
4 Minggu kemudian.
__ADS_1
Richard membawa gadis cantik itu ke rumah sakit, ia bisa saja mengugurkan nya langsung namun ia ingin menunjukkan sesuatu.
"Aku mau menyapa nya," ucap pria itu saat Ainsley menghindar ketika ia ingin menunduk.
Ainsley diam, ia pun tak lagi menghindar, ia pikir pria itu ingin memberikan salam terakhir pada calon anak nya.
"Kau mendengar ku? Aku ingin bertemu dengan mu..." ucap nya sembari mengelus sekilas perut rata itu lalu membuka seat belt di tubuh gadis itu.
Mereka pun masuk dan mulai berbicara pada dokter.
"Aku mau mendengar detak nya dulu, sudah bisa kan?" tanya Richard sebelum prosedur aborsi di lakukan.
Ainsley menatap nya, dengan mata bingung.
"Kenapa? Lagi pula kau mau dia tidak ada kan? Apa aku tidak boleh mendengar detak anak ku?" tanya Richard segera hingga tak ada alasan bagi Ainsley untuk menolak.
Gadis itu di baringkan, dan mulai di pergunakan alat untuk mendengar nya.
Suara degupan mulai terdengar, walau masih tak begitu jelas karna usia kandungan yang masih sangat muda namun jantung kecil itu sudah mulai terdengar.
Ainsley tersentak, ia mendengar nya dan mulai membuat nya ragu, apakah harus benar-benar mengakhiri nyawa anak nya atau tidak.
Air mata nya mulai jatuh, ia tak ingin mendengar nya, mendengar apapun tentang makhluk bernyawa yang bersemayam di perut nya.
"A-aku tidak mau dengar lagi, lakukan saja prosedur nya." ucap gadis itu sembari menghapus air mata nya.
Richard membuang napas nya, ini adalah cara terakhir untuk mengubah pemikiran gadis itu.
"Baik, lakukan prosedur nya." ucap Richard menghela napas nya dengan kasar.
Para dokter dan perawat pun mulai bergegas, menyiapkan segala prosedur untuk aborsi gadis itu.
Ainsley masih memutar ingatan nya tentang anak yang ia kandung, ia berusaha sebaik mungkin melupakan detak yang baru ia dengar.
Anak ku...
Dia hidup, bagaimana aku membunuh nya?
Batin gadis itu yang mulai goyah dengan pendirian nya.
Greb!
Tangan nya meraih tangan pria yang berdiri di samping nya.
"Ada apa?" tanya Richard saat melihat gadis itu meraih tangan nya.
"A...aku tidak mau..." ucap gadis itu lirih, mata nya menjatuhkan bulir bening nya karna merasa bersalah.
Sudut bibir pria itu langsung naik, rencana nya berhasil menggoyahkan gadis dan mempertahankan anak nya.
Richard pun langsung meminta berhenti sebelum prosedur nya di lakukan, ia kembali membawa gadis itu.
"Nice choice, babe..." ucap nya sembari mengecup dahi gadis itu.
__ADS_1