Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Calesta Queta


__ADS_3

Gadis itu masih berlutut, punggung nya memar dan mulai mengalirkan darah segar yang menembus corak pakaian yang ia kenakan.


Air mata nya nya luruh, dan terus meminta berhenti, wajah nya sembab dan bekas kemerahan masih terlihat di ujung bibir nya.


"Sean, cukup...


Sakit..." tangis nya memohon pada pria yang sedang menghukum nya.


"Sudah ku katakan bukan? Aku tak suka di langgar! Kau tak mematuhi ku dan harus di hukum!" jawab Sean dengan amarah pada gadis nya.


Ia menarik tangan gadis itu yang menangis tersedu, langkah gadis malang itu terseret dan tertatih mengikuti langkah jenjang pria yang menjadi kekasih nya.


"Maaf...


Aku salah! Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi!" tangis nya tersedu yang hanya bisa memohon ampun.


...


Deg!


Pria itu terbangun, ia kembali mimpi buruk, mimpi dimana ia tengah menghukum dan membuat tubuh kecil yang rapuh itu hampir hancur.


"Ainsley...


Maaf, aku yang salah...


Maafkan aku..." gumam nya sembari memegang rambut nya dengan frustasi.


Ia tak menemukan apapun semenjak ia bangun sudah dua tahun lebih ia mencari keberadaan gadis itu.


Lagi dan lagi namun tak ada kabar sama sekali, pria itu juga mengalami insomnia parah dan selalu memakai obat tidur agar bisa beristirahat.


"Aku salah...


Maaf, aku tidak bisa melindungi mu...


Aku menyakiti mu...


Ku mohon, kembalilah..." gumam nya sembari meringkuk kan tubuh nya, ia selalu merasa bersalah.


Perasaan bersalah itu hukuman yang sudah ia berikan, perasaan bersalah karna merasa tidak bisa melindungi gadis nya.


"Kau dimana?


Aku merindukan mu..." sambung nya sembari menatap layar ponsel nya yang berisi gadis cantik yang tengah tersenyum tersebut.


Rasa yang paling ia jelaskan saat ini adalah perasaan rindu, di bandingkan rasa bersalah rasa rindu nya juga lebih besar.


Ia merasa seperti kehilangan segala nya, dan terus berusaha membangun harapan tentang kehidupan yang bahkan tak tau entah di mana atau bahkan kehidupan itu kini sudah tak ada lagi.


Pria itu menjadi lebih dingin dan pendiam, memberikan aura yang dapat menekan siapa saja hingga membuat nya sangat sulit untuk di dekati.


......................


Mansion Zinchanko.


Prang!


Sebuah vas yang terjatuh dengan manik mutiara yang berisikan bunga juliet rose.


Mata tajam pria itu memicing ke arah pelayan yang menjatuhkan vas berisi bunga tersebut.


"Ma-maafkan saya tuan..." ucap nya takut dan begitu gemetar, suasana mansion yang dari dulu sudah mencekam kini dalam beberapa tahun terakhir semakin mengerikan seperti sarang iblis.


"Bawa dia ke ruang bawah tanah dan potong tangan nya!" perintah Richard dengan dingin pada Liam.

__ADS_1


"Tuan bukankah lebih baik meringankan nya lagi?" tanya Liam dengan ragu membujuk tuan nya.


"Menurut mu ini kesalahan ringan?!" jawab Richard dengan menggertak kan gigi nya.


"Dia...


Menyukai bunga itu, dia juga suka vas nya dan pernah melihat beberapa menit! Kalau dia kembali dan vas nya sudah hancur, apa menurut mu dia tak akan sedih?" sambung Richard sembari menatap Liam.


"Bawa dia," perintah Liam yang tau jika apapun yang berhubungan dengan 'Dia' adalah hal mutlak.


Ia bahkan tak berani mengatakan jika mungkin saja tuan nya berharap pada cangkang kosong, karna tak ada kabar sama sekali tentang gadis itu.


Sikap yang semakin dingin dan kejam, bahkan hanya kesalahan sedikit saja akan memantik amarah pria tampan itu hingga bisa berlaku sangat kejam.


......................


Sementara itu.


Palacio Real de Madrid.


Gadis itu menautkan jemari nya, istana tetaplah istana yang bagaikan negri dongeng bahkan lebih mengesankan dari apa yang terbayang di pikiran nya.


"Jangan gugup, kau kan punya Mamah." ucap seorang wanita menenangkan gadis itu.


Ia mengangguk, walaupun ia tak ingin kesana namun wanita yang dulu nya ia anggap sebagai ibu nya meminta nya untuk datang.


Dan hal itu pasti untuk pengakuan nya dan ingin melakukan penghapusan identitas. Tentu saja dengan kekuatan yang masih di miliki ibu angkat nya yang merupakan salah satu bangsawan di tempat tersebut.


"Mah...


Aku mau pulang..." ucap nya lirih sembari menarik gaun sang ibu.


Wanita tersebut menghela napas nya, namun ia menuruti permintaan gadis itu.


...


Ia terbangun satu tahun yang lalu dengan kondisi limbung dan tak mengenal apapun, nama, umur dan semua identitas nya.


Lalu ia di beritau jika berada dalam kondisi kritis dan koma selama dua tahun, sejak ia membuka mata nya seorang wanita yang berparas lembut dan cantik itu menyapa nya.


Merawat nya dan mengaku sebagai ibu nya, namun 7 bukan setelah perawatan nya dan kondisi nya kembali normal wanita itu mengaku atas apa yang di lakukan nya dan terjadi dua tahun yang lalu.


Sebuah mobil truk yang baru saja menabrak mobil lain dan untuk menghindar ia pun melaju ugal-ugalan hingga di mana wanita yang merawat nya mengendarai mobil dan berusaha menghindar hingga tanpa sengaja menabrak nya.


Awal nya ia terkejut namun perlahan mulai menerima nya, wanita yang memiliki nama lengkap Clarinda Dulsinia yang awal nya ia pikir benar-benar ibunya mulai memberi tau nya.


Semua nya bahkan identitas nya dan juga bagaimana keadaan nya yang terakhir yang harus nya berada di pesawat.


Ia juga di beri tau jika dirinya adalah pemain piano yang terkenal namun entah mengapa saat ini ia malah tak bisa mendengar suara tersebut, setiap kali musik klasik di mainkan dengan alat piano ia akan mulai panik dan gelisah.


Perasaan takut yang menghantui nya dan membuat nya mengalami serangan panik.


Tentu saja ia merasakan hal tersebut, karna piano bukanlah hobi ataupun kegemaran nya, itu adalah keharusan dan bakat yang di ciptakan Fanny untuk nya, jika ia menolak ataupun bermain tidak sesuai yang diinginkan ia akan mendapat hukuman.


Rasa takut dan trauma yang tertinggal tak hilang meski ingatan nya terhapus.


Bahkan tentang kehamilan nya yang sama sekali tak ingat.


"Mah? Kalau dulu aku malah permasalahin gimana? Bukan nya bakal jadi masalah besar yah?" tanya nya yang masih bingung karna wanita itu memberi tau jika ia lah yang menabrak diri nya dan menyebabkan kecelakaan fatal.


"Karna aku tidak mau merasa bersalah, lagi pula sekarang kan aku juga punya satu anak lagi?" ucap Clarinda dengan tersenyum.


Saat ia menabrak gadis itu ia memang masih sibuk dan sangat dalam kondisi tak baik.


Suami dan putra nya yang meninggal secara bersamaan dalam kecelakaan kapal, tentu nya membuat dirinya terpukul.

__ADS_1


Semenjak ia menikah ia tak lagi memegang pekerjaan apapun, karna menikahi pria yang begitu mencintai dan memanjakan nya, memiliki satu putra yang sayang padanya namun juga nakal. Kebahagian yang tiba-tiba sirna.


Dan saat gadis yang ia tabrak tak ingat apapun, ia berencana untuk mengurus nya hingga pulih dan mengatakan nya, namun karna ia yang merindukan suasana keluarga setelah suami dan putra nya meninggal secara mendadak ia menipu dengan mengatakan jika ia adalah ibu gadis itu.


Namun perasaan bersalah terus menghantui nya dan membuat nya mengatakan yang sebenarnya. Apapun resiko nya bagi nya itu lebih baik dari pada gadis itu tau sendiri nantinya.


"Kau rindu dengan keluarga mu?" tanya Clarinda dengan hati-hati.


"Rindu? Aku juga tidak tau..." jawab gadis itu lirih.


Saat pertama kali Clarinda memberikan foto orang tua aslinya, ia merasakan sesak di dada nya, gelisah dan khawatir, lalu...


Perasaan yang sangat ingin menghindar dan takut!


Itu lah yang ia rasakan, hingga membuat nya tetap ingin berada di ibu angkat nya. Namun Clarinda juga mengatakan jika orang tua kandung gadis itu masih belum mendaftarkan kematian nya setelah hilang selama tiga tahun.


"Kalau aku tetap hidup sebagai Calesta Queta bukan sebagai Ainsley Setya Belen bisa kan? Mamah masih mau menerima ku, kan?" tanya nya lagi.


"Tentu saja, kalau kau mau kembali jadi Ainsley kau bisa mendapatkan nya, atau kalau kau mau Ainsley menghilang dan tetap menjadi Calesta kau juga bisa," ucap wanita itu dengan lembut.


Gadis itu diam, ia mulai bergelayut dan memeluk wanita tersebut, pelukan yang terasa hangat dan membuat nya nyaman.


"Manja sekali, apa aku harus menjadikan mu Princess Calesta?" tanya wanita itu tersenyum sembari mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


......................


Mansion Zinchanko.


"Dia tikus yang lari itu??" tanya Richard pada Liam saat melihat foto seseorang yang harus nya ia bunuh.


"Benar tuan," jawab Liam sembari menunjukkan orang yang berhasil kabur tersebut.


Deg!


Detak nya ingin terhenti, mata nya membulat menatap foto yang berada jauh dari orang yang ia incar.


Ainsley?


Batin nya menatap ke arah perempuan yang terlihat tengah tersenyum itu.


"Ini di Spanyol kan tadi?" tanya nya lagi.


"Benar tuan," jawab Liam segera.


"Besarkan foto ini, dan buat dalam kualitas yang baik!" perintah nya segera sembari menunjuk gambar gadis tersenyum tersebut yang tak sengaja terikut potret dari jauh.


......................


Aeropuerto de Barcelona-El Prat


Sean baru saja turun dari pesawat yang ia gunakan dan tiba di bandara internasional Spanyol.


Sebenarnya ia tak ingin pergi jauh, namun sekertaris Jhon membujuk nya untuk melakukan perjalanan bisnis tersebut.


Ia tersenyum getir melihat suasana tersebut.


Kau dulu mau ke sini kan?


Tiga tahun lalu kau mau kabur ke sini...


Dulu kita juga pernah buat janji mau ke istana Alhambra untuk jalan-jalan bulan madu...


Pikiran ku kacau lagi...


Sean menarik napas berat, semua yang ia lakukan dan ia lihat hanya membuat nya teringat dengan gadis yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2