
Pria itu turun dari mobil nya, melihat dan mencari seseorang yang ingin ia jemput.
"Daddy!"
Panggilan yang langsung membuat nya menoleh dan mencari ke segala suara.
"Axel?" gumam nya langsung mengernyit melihat makanan di tangan putra nya.
Ia pun langsung menangkap tubuh mungil itu saat datang ke pelukan nya, tangan kecil yang masih memasukkan permen kapas ke dalam mulut nya dan memakan nya dengan lahap.
"Dapat dari mana ini?" tanya pria itu mengernyit.
"Tadi ada pam- Eh? Lahasia!" jawab nya tertawa yang hampir mengatakan paman baik yang membeli nya.
Richard langsung merubah raut nya, ia mengambil permen kapas di tangan putra nya lalu segera membuang nya.
"Kau sakit perut? Kenapa mengambil yang di berikan orang lain? Daddy pernah ajari seperti itu?!" ucap nya dengan suara meninggi membuat bocah tersebut tersentak.
Richard bukan ingin memarahi putra nya, namun ia takut salah satu musuh nya lah yang memberikan nya atau mungkin memberi racun untuk anak tunggal nya itu.
Ia sangat takut jika kejadian beberapa tahun lalu ketika putra nya masih bayi kembali terulang.
"A..Axel kan mau pelmen kapas..."
"Huhu..."
Tangis nya lirih menatap sang ayah yang memarahi nya.
Richard menghapus air mata putra nya dengan perlahan, "Kalau Axel mau kan bisa tunggu Daddy."
"Tapi nanti penjual nya pelgi, sekalang aja udah gak ada!" jawab nya tersendat-sendat karna tangis.
Anak yang tak pernah di marahi dan selalu di perlakukan layak nya pangeran membuat nya sangat terkejut saat di marahi.
"Jangan terima apapun yang di berikan orang asing lagi, mengerti?" ucap pria itu kembali mengingatkan putra nya.
"Tapi kan tadi paman nya baik, Dad." jawab Axel dengan wajah polos nya dan mata yang memerah karna menangis.
Richard mengernyit, bukan nya menjawab 'Iya' putra nya malah berdalih dengan alasan lain.
"Axel!" bentak pria itu yang semakin membuat putra nya terkejut.
"Hua! Huhu..."
"Daddy jahat!" ucap nya menangis kencang.
Richard tak mengatakan apapun, namun setelah itu ia langsung membawa putra nya ke Liam lalu meminta bawahan nya itu untuk langsung melakukan cek darah karna ia takut seseorang meracuni putra nya dari permen kapas yang tak tau dari siapa.
......................
Mansion Zinchanko
"Mommy!"
Teriakan yang langsung menggema memasuki mansion megah itu mencari keberadaan sang ibu.
Ainsley tersentak mendengar putra nya yang berkeliling mencari dirinya dengan suara serak karna tangis yang semakin menjadi.
Hup!
Satu pelukan langsung melayang ke kaki wanita itu karna ia tak sempat menurunkan tubuh nya pada putra nya yang masih pendek.
"Axel kenapa nangis? Anak Mommy kenapa? Hm?" tanya nya dengan lembut sembari menghapus air mata di wajah putra nya.
Sedangkan Richard menyusul di balik putra nya dan melihat anak kesayangan nya itu mengadu pada ibu nya.
"Daddy marahi Axel! Huhu..."
"Te..terus tangan Axel juga suntik! Dalah nya keluar! Huhu..."
Axel langsung mengadu sembari menunjukkan bekas suntikan di tangan di mana darah nya di ambil.
Ainsley mengernyit, ia menatap suami nya namun masih tak ada balasan dari pria tampan itu yang sedang bungkam.
"Daddy jahat Mom, huhu..." adu nya lagi pada sang ibu.
Ainsley tak mengatakan apapun selain memeluk dan mengusap punggung putra nya yang sedang menangis gemetar.
"Daddy tadi malah-malah Mom, telus bentak Axel juga huhu..." adu nya lagi pada sang ibu.
Ainsley pun melepaskan pelukan nya melihat wajah merah yang sedang menangis itu.
"Daddy marah karna apa? Axel nakal?" tanya nya dengan lembut.
Axel menggeleng perlahan, ia mulai menceritakan kenapa sang ayah marah pada nya di mulai dari membuang permen kapas yang sedang ia makan.
Ainsley hanya tersenyum sembari mengusap kepala putra nya, "Daddy bener kok, Axel gak boleh sembarangan ambil yang di kasih orang asing, kalau orang nya jahat terus Axel kenapa-kenapa Mommy sama Daddy kan sedih,"
Axel masih belum berhenti menangis dan menatap sang ibu, "Tapi Daddy malahin Axel, Axel telkejut..."
"Suala Daddy besal, telus Axel jadi di suntik..." tangis nya lagi.
__ADS_1
"Iya, nanti Mommy bilangin Daddy yah? Sini sama Mommy..." ucap nya dengan lembut sembari menggendong putra nya dan melihat ke arah suami nya sejenak.
Richard hanya membuang napas nya dengan pelan, putra nya memang sangat lengket dengan ibu nya karna hampir seluruh waktu anak lelaki itu di habiskan dengan sang ibu.
Berbeda dengan nya yang sering keluar dan terkadang pergi beberapa hari membuat ia tak menghabiskan waktu bersama putra nya sebanyak dengan istri nya.
...
Ainsley melepaskan satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh bidang pria itu, bukan lagi sesuatu yang asing karna Richard sudah dalam beberapa tahun terakhir selalu meminta wanita itu untuk membantu nya berpakaian ataupun membuka pakaian nya.
Apa lagi jika bukan karna ia suka wanita itu memperhatikan nya sentuhan yang terasa saat istrinya berada di dekat nya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Richard saat menatap mata hijau yang melepaskan kemeja nya.
"Axel jangan di bentak begitu kalau kau marah, dia masih kecil..." jawab Aianley lirih.
Lebih tepat nya ia ingin putra nya mendapatkan semua kasih sayang yang dulu nya tak pernah ia dapatkan sedikit pun dari kedua orang tua nya.
"Dia memakan sesuatu dari orang asing yang kita sendiri saja tidak tau kalau mungkin orang itu punya niat jahat," ucap Richard pada wanita itu.
"Iya, aku tau..."
"Tapi dia masih anak-anak, dia bisa ingat sampai besar, kasih tau kesalahan nya, beri peringatan, jangan langsung di marahi." sambung nya lagi.
Richard membuang napas nya lagi, ia mendekat dan menunduk lalu menjatuhkan kepala nya ke pundak wanita di depan nya.
"Aku khawatir, aku takut sesuatu terjadi dengan nya..." ucap nya lirih sembari membuang napas nya saat menjatuhkan kepala nya.
Richard tak berbohong sama sekali, ia masih ingat bagaimana perasaan nya saat melihat putra nya yang masih bayi di tutup selotip dan dehidrasi, bahkan saat tubuh bayi mungil itu kejang karna panas masih terukir jelas di kepala nya.
Dan ia tak mau hal itu kembali terulang lagi pada putra nya.
Ainsley dapat mendengar suara yang penuh kegelisahan tersebut.
"Pekerjaan yang kau lakukan bukan nya terlalu berbahaya? Aku tidak tau apa itu tapi apa kau bisa berhenti saja?" tanya Ainsley lirih.
Richard mengangkat wajah nya, jika ia berhenti dari pekerjaan ilegal itu tentu nya tak akan membuat nya jatuh miskin.
Perusahaan yang berdiri atas nama nya, restoran, pusat pembelanjaan serta saham dan aset properti lain nya masih bisa ia jadikan tempat untuk hidup.
Tapi ia tak bisa berhenti total secara tiba-tiba karna musuh yang ia miliki sudah terlalu banyak dan tentu nya jika ia mengambil tindakan gegabah akan membuat orang-orang yang sudah ia hancurkan langsung membalas dendam pada nya.
"Nanti aku akan berhenti kalau sudah bisa ku pastikan semua membaik dan aman? Kau bisa percaya pada ku kan?" tanya pria itu sembari menyentuh pipi wanita itu dan menatap iris hijau di depan nya.
"Kapan itu?" tanya Ainsley lagi.
"Entahlah? Setelah aku menghabisi mereka semua?" tanya pria itu berpikir, "Atau setelah mereka menghabisi ku?" sambung nya lagi.
"Richard!" panggil Ainsley saat mendengar ucapan pria itu, walaupun berat baginya untuk menyatakan ia mencintai suami nya itu.
"Kau khawatir?" tanya Richard tersenyum saat melihat raut wajah istri nya.
"Jangan bicarakan hal seperti itu!" jawab Ainsley pada pria yang tengah tersenyum memandang nya.
Pria itu perlahan memeluk, aroma mint yang tercium dengan jelas membuat nya kini sudah ingat dengan benar bagaimana aroma dari tubuh suami nya.
"Baik, kalau kau tidak suka aku tidak akan bilang." jawab Richard sembari merengkuh tubuh istri nya.
"Kalau begitu kau mau ikuti apa yang ku bilang lagi malam ini?" tanya Ainsley melepaskan pelukan suami nya perlahan.
"Kau mau yang berkuasa malam ini?" bisik pria itu menggoda saat pikiran nya mengarah ke arah lain.
Ainsley menggeleng mendengar nya, "Bujuk Axel!" jawab nya tersenyum.
"Cara nya?" tanya Richard lagi.
"Dia mau buat bajak laut di kamar, kita temani dia main yah? Pasti dia suka." ucap Ainsley sembari mengambilkan piyama tidur suami nya dan memakaikan nya.
Pria itu tersenyum, ia mengecup lembut sekilas bibir merah muda di depan nya, "As you wish..."
...
Mata yang mengernyit kesal dan bibir cemberut serta tak beranjak dari pangkuan ibu nya membuat anak lelaki itu hanya terdiam merajuk.
"Daddy kan malah sama Axel kenapa di sini?" tanya nya dengan nada sebal.
"Daddy sayang sama Axel bukan marah, Maaf yah Daddy tadi bentak Axel tapi kalau Axel janji gak sembarangan lagi Daddy gak akan marah lagi." ucap pria itu membujuk.
Axel masih tak menggubris dan tetap berada dalam pangkuan ibu nya.
"Axel? Kok diam aja? Daddy lagi bicara loh sama Axel," ucap wanita itu dengan lembut sembari mengelus putra nya.
"Lihat! Daddy bawa mainan baru buat Axel," ucap Richard sembari memberikan satu kotak yang berisi hadiah mainan teropong.
Mata bulat itu bersinar melihat nya dan membuka nya, wajah nya langsung tersenyum, Richard sebelum nya hanya mengikuti perkataan istrinya yang meminta nya memberikan hadiah tersebut.
"Daddy janji yah gak bakal malahin Axel lagi, jangan bentak kayak tadi..." jawab nya sembari mengacungkan jari kelingking nya.
"Iya, Daddy janji." jawab Richard sembari menautkan kelingking nya kelingking putra nya.
Ainsley tersenyum, Axel pun langsung bangkit dari pangkuan ibu nya dan naik ke atas kursi kecil yang sudah ia susun diatas buku-buku yang memang ia tumpuk agar mirip dengan ia ingin kan.
__ADS_1
"Yeeyyy! Ada bajak laut datang!" ucap nya dengan riang.
"Bajak laut? Aku?" tanya Richard saat melihat teropong putra nya mengarah ke arah nya.
"Serang!" ucap Axel sembari mengambil pedang mainan dan mengarahkan nya pada sang ayah.
Richard yang langsung tau situasi nya langsung ikut mengambil pedang mainan putra nya, mengahalau tangkisan dari putra nya ya g bersemangat.
"Ada bajak laut kok malah senang sih nak?" gumam Ainsley yang tersenyum dan menggeleng melihat putra nya yang bersemangat bermain dengan sang ayah.
Tak berselang lama kemudian, Richard pun pura-pura terjatuh dan kalah, "Sudah, bajak laut sudah kalah."
"Yeeyyy! Axel menang!" ucap nya dengan riang hingga membuat pria itu tertawa.
"Axel menang..." ucap nya dengan begitu senang sembari meletakkan satu buku diatas kepala nya dan kembali duduk.
"Anak Daddy kan kuat!" ucap Richard sembari mengangkat tubuh putra nya.
Axel hanya tertawa, ia bermain hingga malam dan lelah saat mulai merasa kantuk dan tertidur.
"Kita pindah ke kamar?" tanya Richard yang masih mengelus rambut putra nya yang tidur di tengah mereka.
Ainsley melihat wajah lelap dari putra nya, karna pangeran kecil yang sangat di sayangi itu ingin tidur dengan kedua orang tua nya membuat kedua orang itu menidurkan putra nya lebih dulu.
"Iya," jawab Ainsley yang perlahan bangun lebih dulu dengan pelan.
Richard pun perlahan ikut bangun dan datang ke arah istri nya, "Kau kan sudah main dengan Axel berarti setelah ini main dengan ku, kan?" bisik pria itu.
"Sudah malam! Besok saja!" jawab Ainsley seketika.
"Tapi aku mau nya sekarang," ucap pria itu di telinga istri nya.
Ainsley hanya membuang napas nya dengan pelan, tentu nya permainan pria itu dengan putra nya itu sangat berbeda.
"Daddy nya manja yah? Padahal anak nya aja udah tidur," ucap Ainsley saat pria itu mulai menggendong tubuh nya dan membawa ke kamar mereka.
"Daddy nya kan juga mau main," jawab pria itu tersenyum.
"Main apa?" tanya Aisnsly sembari mengalungkan tangan ke pundak saat pria itu menggendong nya.
"Permainan buat proyek anak kedua," ucap pria itu dengan gemas sembari mengecup bibir wanita itu.
......................
Mansion Sean
"Kenapa anda dari tadi tersenyum?" tanya sekertaris Jhon pada pria itu.
"Kau tidak pulang? Sudah larut sekali?" tanya Sean yang mengalihkan pertanyaan dengan wajah tak bersalah karna ia adalah penyebab utama sekertaris nya tak bisa pulang.
Sekertaris Jhon hanya menatap tajam, karna siapa ia tak bisa pulang dan malah bekerja dengan lembur saat ini.
"Saya sangat ingin memberikan surat pengunduran diri," jawab nya dengan wajah kesal namun tetap dengan nada yang sopan.
"Aku tidak akan menerima nya," jawab Sean tertawa.
"Anda terlihat senang hari ini? Apa sesuatu yang baik terjadi?" tanya sekertaris Jhon pada pria itu.
"Tadi aku bertemu dengan anak Ainsley, kau tau? Dia sudah besar, yang dia sukai juga sama dengan Ainsley," jawab pria itu tersenyum.
Namun tidak dengan sekertaris Jhon yang tak menunjukkan raut senang.
"Bukankah sekarang anda harus berpikir untuk menikah juga?" tanya sekertaris Jhon yang langsung membuat senyuman pria itu jatuh.
"Itu urusan ku," jawab Sean dengan nada ketus pada pria di depan nya.
"Lagi pula bukankah Anda harus nya membenci anak itu? Karna anak itu anda tidak bisa bersama dengan nona Ainsley kan?" tanya sekertaris Jhon tak habis pikir.
"Aku melihat nya sebagai anak Ainsley, bukan anak pria itu." jawab nya lirih.
"Tapi wanita tidak akan bisa membuat anak nya sendiri," ucap sekertaris Jhon.
"Benar, tapi anak itu membuat nya lebih banyak tersenyum dan lagi ia lebih mirip dengan Ainsley," ucap Sean lirih.
Ia memang tidak menyukai Richard bahkan membenci nya sejak awal namun alasan utama ia tak ikut membenci putra pria itu karna ia selalu merasa jika anak itu hanya anak dari mantan kekasih nya.
Wanita yang pernah ia cintai dan bahkan sekarang masih sama.
"Sampai kapan Anda akan seperti ini? Sation membutuhkan pewaris," ucap sekertaris Jhon.
"Seperti nya kau butuh libur? Mau ku beri libur satu hari?" tanya Sean mengalihkan pertanyaan sekertaris nya.
Sekertaris Jhon membuang napas, pertanyaan ini bagaikan kesempatan dalam kesempitan.
"Saya akan berterimakasih jika anda memberikan libur," jawab nya yang langsung tak menolak.
"Baik, kau bisa libur besok." ucap Sean lagi dan kemudian menyuruh pria itu keluar.
__ADS_1
Ia mengandarkan wajah nya ke kursi di mana ia duduk.
"Sampai kapan yah? Aku ingin bertemu dengan nya lagi," gumam nya sembari memejamkan mata nya.