
Ruangan yang terasa gelap dan mencekik, tubuh kecil yang tengah gemetar karna tangis nya, serta tangan yang memerah dengan bekas kayu rotan yang di pukul.
"Ampun Mah..."
"Maaf..."
Tangis nya memohon pada wanita yang berada di depan nya, tubuh kecil nya tak mampu melawan ataupun mempertahankan diri nya.
"Dasar anak pembawa sial! Bodoh!" hanya makian dan kutukan yang keluar dari mulut wanita itu untuk anak malang di depan nya.
Plak!
Pukulan yang terasa panas dan pedih secara bersamaan, tarikan rambut yang seakan ingin mencabut semua helai rambut panjang itu seketika.
Tubuh nya tak bisa bergerak, wanita yang ia panggil sebagai Mama meninggalkan nya di tempat gelap itu hingga semua kegelapan datang dan menelan nya.
Rasa sakit di tubuh nya perlahan hilang saat kegelapan itu masuk dan mengantarkan nya ke tempat lain.
Kaki nya berdiri di atas sepatu cantik, gaun yang cantik seperti putri negeri dongeng dan gadis kecil itu melihat tangan mungil nya yang tak memiliki bekas pukulan sama sekali.
"Papah!" panggil nya saat melihat sang ayah dari jauh.
Kaki kecil nya langsung berlari secepat kilat menghampiri pria itu dan tersenyum ke arah nya.
"Papah? Papa mau kemana? Ainsley ikut juga!" ucap nya yang merasa sang ayah akan membawa nya dan memberikan nya perlindungan, namun.
Tak!
Tangan kecil nya di tepis dengan kasar hingga tubuh mungil bak boneka cantik itu langsung terjatuh.
"Kau tidak aku sedang sibuk? Menggangu saja!" ucap pria itu dengan kesal menatap gadis kecil yang terjatuh itu.
Ia membalikkan punggung nya meninggalkan gadis kecil yang penuh dengan sejuta harapan nya untuk nya.
Gadis kecil itu pun perlahan bangun, ia bangkit lagi dan kaki kecil nya mengejar sang ayah yang semakin menjauh dari nya.
Punggung bidang yang ia lihat semakin jauh hingga membuat nya tak sanggup mengejar dengan kaki-kaki mungil nya.
Air mata nya jatuh, ia menatap sang ayah yang meninggalkan nya menjauh.
Mamah...
Papah...
Jangan pergi, Ainsley jadi anak baik...
Ainsley cuma mau disayang Mamah Papah...
Tangisan yang semakin jatuh dari mata nya hingga mengenai sepatu cantik berwarna putih yang memiliki pita merah muda di atas nya itu.
Tangisan yang mulai menenggelamkan nya hingga ia seakan tenggelam dalam lautan yang membuat nya tak bisa bernapas.
Mata nya terbuka, napas nya terasa hampir habis, ia merasa berbeda. Tubuh nya tak lagi kecil namun terlihat sudah dewasa.
"Hey? Kau terbangun?" tanya seorang pria yang menyambut nya ketika ia membuka mata nya.
Ia melihat pria yang tengah memangku kepala nya di paha sembari mengelus rambut nya dengan lembut.
"Mimpi buruk? Mau ku buatkan coklat panas?" suara yang lembut dan senyuman yang penuh akan perhatian ke arah nya.
Sean?
Ia merasa nyaman, tubuh nya dapat beristirahat dan pria yang menyapa nya memperlakukan nya begitu manja seperti ratu dari kerajaan, namun.
"Apa aku pernah mengizinkan untuk kau bersikap sejauh itu?"
Suara yang sedari tadi berbicara dengan lembut pada nya kini mulai berubah menjadi dingin, tatapan penuh cinta dan perhatian itu pun kini berubah menjadi tatapan penuh amarah.
Tangan yang ia rasakan terikat dengan rantai ke atas kepala nya.
Ctass!
"Akh!" ia langsung meringis ketika tali besar yang terasa tajam menghantam di tubuh nya.
Satu cambukan membuat nya bungkam, ia kembali merasakan sakit di tubuh nya, namun ia merasa suka rela dengan apa yang di lakukan pria itu.
"I Love you..." ucap pria itu berbisik setelah melayangkan cambukan ke tubuh nya.
Apa cinta memang harus merasakan sakit? Apa ini cinta?
"Aku sudah memberi tau mu untuk jadi gadis baik kan?" tanya pria itu sembari menyentuh dagu nya.
Ia tersenyum menjawab nya, "Tentu, aku gadis yang baik..." jawab nya dengan asa yang telah hilang di mata nya.
Pria itu tersenyum dan meninggalkan nya, berbalik pergi tanpa menjawab nya lagi.
"Tidak! Jangan pergi! Aku tidak mau sendiri!" teriak nya penuh dengan tangisan dan memohon saat pria itu meninggalkan nya.
Namun pria yang tadi nya memperlakukan nya seperti ratu itu pun menghilang di balik pintu, sekeras apapun ia memanggil tetap saja tak ada jawaban sama sekali.
Air mata nya kembali luruh ketika pria itu pergi dari sisi nya.
"Kenapa menangis? Kau mau aku melepaskan. tangan mu?"
Air mata nya berhenti sejenak, ia merasakan seseorang yang memeluk nya dari belakang, dan mengendus serta mencium kecil leher nya.
__ADS_1
Paman?
Ia mengenali suara yang berbicara pada nya, melepaskan rantai nya dengan perlahan dan menatap nya mata nya.
Tubuh kecil nya di peluk hingga ia kembali merasa tenang, perasaan yang selama ini di abaikan oleh sang ayah seperti terpenuhi ketika bersama pria itu.
"Paman, aku ma- Ukh!" seketika napas nya tersendat tak bisa keluar.
Tangan besar yang tadi nya mengusap dan mengelus nya hingga merasa nyaman mulai melingkar di leher nya.
Tubuh nya memberontak namun pria itu seperti tak mendengarkan dan terus mencekik nya, tempat yang ia gunakan seperti terasa lunak hingga menenggelamkan nya ke tempat lain lagi.
Ia seakan tersadar di atas tempat tidur empuk, pakaian nya tak lengkap dan ia yang tengah bersama pria saat ini.
"Paman! Jangan! Aku tidak mau!" ucap nya memberontak namun pria itu kembali mencekik nya.
"Kau lupa? Kau itu milik ku! Kau tidak punya hak untuk menolak!" ucap pria itu yang terus mencekik nya hingga membuat napas nya terasa habis dan pandangan nya menjadi gelap.
Calesta? Calesta!
Suara yang kembali membangunkan nya, tempat yang memiliki gaya kuno dan klasik membuat kembali melihat nya dengan senyuman.
Semua luka di tubuh nya kembali menghilang setiap kali ia melangkah dan mendekat pada wanita yang memanggil nya.
"Mamah?" ucap nya yang kembali tersenyum seperti semua rasa sakit yang ia alami tak pernah ada.
Tangan yang terbuka memberi nya pelukan hangat yang ia rindukan.
Mungkin bukan di rindukan namun ia pelukan yang ia impikan, pelukan yang hanya untuk nya tanpa mengharapkan nya untuk mengorbankan sesuatu juga.
Tangan hangat yang menggenggam nya hingga membuat nya berjalan kembali ke titik yang sama, melihat orang-orang yang pernah memberi nya luka dan kenangan.
Lalu kembali meraih tangan yang datang pada nya tanpa mengingat semua luka yang pernah ia alami.
Seperti kembali ke awal, tawa, tangis, rasa takut kembali datang pada nya.
Kehidupan yang ia sukai perlahan menghilang dan kembali mengurung nya.
Prang!
Tubuh nya kembali merasakan sakit, ia tak tau kenapa kini ia berada di tempat yang memiliki penuh akan serpihan kaca yang melukai nya.
"Tidak! Aku tidak bohong! Kau harus percaya!" ucap nya pada pria yang berada di depan nya.
Tangan yang mulai mengeluarkan cairan merah kental, tubuh yang terasa begitu perih dan sakit hingga ia yang tak bisa bernapas.
"Ku mohon..."
"Aku tidak bohong..." ucap nya lirih yang ingin memejam saat semua rasa sakit nya membuat ia tak sanggup.
Apa cinta seperti ini yang aku inginkan?
Ia merasa lelah hingga membuat nya ingin melepaskan segala nya, namun...
"Mommy?"
"Mommy!"
Suara itu kembali membangunkan nya, ia terasa hampir hancur namun kembali bangun dan mencari suara yang memanggil nya.
Seperti energi yang kembali terisi, seperti harapan yang datang saat ia sudah mencapai batas nya.
Ia bangun dan kembali meninggalkan luka nya lalu memeluk harapan terakhir nya.
Tawa dan senyuman yang membuat nya tenang, tangan mungil yang menggandeng nya.
"He's our child," bisik pria itu di telinga nya.
Rasa sakit di tubuh nya terasa menghilang, ia tak membenci pria itu dan bahkan kini tertawa lepas bersama putra nya.
Namun perlahan suara tawa kecil menggemaskan itu memudar.
Potret keluarga yang tampak bahagia itu seperti hilang seketika.
Suami yang begitu mencintai nya walau terkadang melukai karna sikap posesif nya dan putra nya yang begitu manja serta menyayangi nya.
Semua nya bagai hilang dan hancur secara bersamaan.
Ia bersimpuh di atas lutut nya, "Aku ingin anak ku, aku mau menemui nya..."
Ucap nya memohon seperti kehilangan akal sehat nya lagi dan sanggup melakukan apapun.
"Dia baik-baik saja tanpa mu," suara dingin yang membuat jantung nya bergetar membuat nya terluka.
"Tidak! Aku tidak percaya! Aku ingin menemu-"
"I don't need you anymore Mom," tatapan yang terlihat datar dan tak memperdulikan nya.
Tubuh kecil yang perlahan berbalik dari nya dan pergi bersama sang ayah menjauhi nya.
Seketika senyuman cerah yang dulu menguatkan nya hilang dan menghancurkan nya.
"Jangan..."
"Kenapa semua pergi? Aku tidak mau sendiri..."
__ADS_1
Tangis nya yang kini menghancurkan semua harapan nya untuk tetap ada.
Hanya hal kecil yang ia inginkan, tidak sulit namun begitu sulit ketika menjalani nya.
Kasih sayang...
Hal yang ingin ia dapatkan sejak dulu, bukan kasih sayang melakukan sistem menerima dan memberi.
Bukan kasih sayang otoritas ketika ia kehilangan hak nya hanya karna ia sudah memiliki seseorang yang mencintai nya.
"Apa aku akan tetap seperti ini?"
"Aku mau pergi,"
Kaki nya berlari tanpa tujuan, pijakan yang membuat nya sampai di titik tak ada satupun yang ia lihat.
Ruangan putih tak berujung, tak berdasar, dan memiliki batas.
Hanya kesendirian, bahkan bayangan pun tak menemani nya sama sekali.
Ia terluka, dan merasa sakit walau kini tubuh nya telah bersih tanpa bekas apapun.
Perasaan nya begitu tertekan hingga membuat nya tak mampu memikirkan apapun lagi, Ia ingin seseorang memeluk nya dan membuat nya tak lagi merasa kesepian.
Namun ia sudah terlalu lama berada di ruangan tak berujung itu hingga sangat sulit untuk siapapun menembus nya.
"Apa harus aku yang sakit?"
"Apa tidak akan ada yang menyayangi ku kalau aku tidak memberikan apa mereka mau?"
"Bukan cinta seperti itu yang aku inginkan, aku hanya ingin cinta yang tidak menyakiti ku..."
"Tapi setelah ku pikir lagi aku sudah terlalu banyak terluka, jadi aku bisa menahan nya."
"Aku tau kalau hidup ku mungkin bukan sesuatu yang di inginkan..."
"Lalu apa itu alasan nya aku layak di perlakukan seperti ini?"
"Apa ingin di cintai adalah hal yang egois?"
"Atau memang semua cinta memang seperti itu?"
"Apa aku yang terlalu bodoh?"
"Atau aku yang memang sejak awal tidak layak untuk di cintai?
"Aku juga bisa terluka, aku juga bisa marah, aku berhenti di perlakukan seperti benda..."
"Aku hidup, dan aku memiliki perasaan..."
"Jangan buang aku,"
"Aku takut sendiri,"
"Tapi keinginan ku terlalu berlebihan, aku sadar itu..."
Iris indah yang menjatuhkan air mata ketika ia berada di titik di mana ia merasa kehilangan segala nya.
Tak ada suara yang berada di sekeliling nya, tak ada bayangan yang menemani nya dan tak sesuatu yang mampu menghibur nya.
Hanya perasaan lelah, kesepian, hilang asa, dan keinginan untuk di cintai yang menemani nya berada di ruang hampa tak berujung itu.
...🌼🌼🌼...
Suara monitor yang terdengar membuat pria itu menatap gelisah.
Para dokter yang datang pun segera sibuk melakukan perawatan guna menangani situasi di mana wanita itu terus menerus berjuang setiap detik nya.
"Kondisi nya semakin memburuk, saya tidak tau apakah mungkin dia bisa bertahan dalam dua Minggu atau tidak," ucap dr. Terry saat kini semua nya mulai tenang.
"Dia akan bertahan, aku yakin." jawab Richard sembari menatap ke arah wanita yang terlihat begitu lemah tersebut.
Ruangan yang tadi nya begitu berisik kini kembali sunyi tak memberikan suara apapun.
Tenang namun hal itu yang semakin membaut nya khawatir.
Wajah cantik yang pucat itu masih tertidur, dan setiap detik nya mengkhawatirkan detak yang bisa saja berhenti setiap saat.
Tes...
Pria itu terdiam, wanita yang bahkan tak membuka mata nya dan tak bisa mendengar apapun itu mengeluarkan sesuatu dari ujung mata nya.
"Ada apa? Kau menangis?" tanya pria itu sembari mengusap air mata yang terasa begitu dingin dari wanita itu.
"Kau dengar kata-kata nya tadi?" tanya Richard sembari melihat wajah istri nya.
"Tidak apa-apa, aku akan membuat mu tetap hidup apapun yang terjadi, aku kan sudah pernah bilang tidak akan membiarkan mu mati lebih dulu."
Wanita yang bahkan tetap menangis ketika ia tak sadar sama sekali.
Air mata yang terus keluar hingga membuat pria itu terus mengusap nya dengan pelan, ia tak tau bagaimana cara menghentikan nya karna sang istri yang tak bisa menjawab setiap pertanyaan nya.
"Atau kau menangis karna sakit? Seharusnya kau menusuk jantung ku kalau kau mau membalas ku, bukan jantung mu..." ucap nya lirih menatap wanita itu.
"Tapi tidak apa-apa, aku akan segera mengobati ku agar kau tidak sakit lagi." ucap nya sembari mengecup kening wanita itu.
__ADS_1
"I love you..." bisik nya lirih di telinga wanita itu.