
dr. Canly melihat gadis di depan nya yang terlihat begitu gelisah dan takut, Ainsley terus menunduk dan menautkan jemari nya satu sama lain.
"Ainsley? Tenanglah..." ucap dr. Canly membuka suara namun tak di hiraukan oleh gadis itu.
"A...aku di rantai...
Aku anak baik..." gumam nya lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Iya...
Ainsley anak baik...
Tidak apa-apa..." ucap dr. Canly menenangkan gadis itu sembari meraih tangan nya.
"Bukan...
Aku bukan anak baik...
Aku nakal..." ucap nya gelisah.
dr. Canly hanya dapat menenangkan nya, ia sangat memahami kondisi riskan gadis itu, walaupun tak mendapat perlakuan kasar namun dengan mengurung kaki nya dan merantai nya bagai hewan membuat pikiran gadis itu terjebak dan menjadikan nya depresi.
Wanita paruh baya berkacamata itu pun tak tau lagi bagaimana menenangkan gadis yang saat ini tengah sangat riskan.
...
Konsultasi yang di jalankan hari ini tak berjalan begitu lancar, Ainsley hanya diam tak menjawab dan terus bergumam sembari melihat ke arah rantai yang menjerat kaki nya.
"Sebaik nya melepaskan nya saja, dia mulai kembali berhalusinasi, hal itu sangat tak baik untuk nya," ucap dr. Canly menatap pria berwajah datar di depan nya.
"Tidak, dia akan kabur kalau ku lepaskan! Aku tak mau dia pergi!" jawab Sean tegas sembari meninggalkan dr. Canly dan memasuki kamar Ainsley.
...
Gadis cantik itu hanya diam tak bergeming, ekspresi nya kosong tak memperlihatkan ia menatap kemanapun walaupun mata nya sedang terbuka.
"Ainsley?" panggil seorang pria yang membuat gadis itu menoleh ke sumber suara.
"Sudah makan?" tanya Sean sembari berdiri di atas lutut dan memegang tangan gadis itu.
Ainsley hanya diam tak menjawab, mata nya menampilkan sorot kesedihan, dan hampir menangis.
Ia memang tak lagi di hukum ataupun di pukul namun dengan mengurung dan merantai kaki nya juga bukan lah tindakan yang bagus karna membuat nya kembali depresi.
"Sean...
Aku janji gak nakal lagi..." ucap nya lirih menatap pria di depan nya.
Ia bahkan seakan lupa alasan ia di kurung dan di rantai. dr. Canly sudah menegaskan jika gangguan kepribadian ambang gadis itu semakin parah dan membuat nya kembali berhalusinasi.
Ainsley yang kembali mengingat hubungan tak sehat nya seperti dulu.
"Ainsley anak baik...
Tidak nakal..." ucap Sean dengan lembut sembari menggenggam tangan gadis itu.
"Tapi kenapa kaki ku di rantai?" tanya nya lirih dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Di luar bahaya, kau aman hanya di sini." ucap Sean beralasan.
Minta dia melepaskan mu, setelah itu akan ku bantu kau bebas...
Suara yang terdengar di telinga gadis itu, bisikan yang sama saat ia kembali berhalusinasi karna gangguan mental nya yang kembali memburuk.
"Aku disini Sean...
Rantai! Hanya rantai nya saja..." ucap gadis itu membujuk pria di depan nya.
"Rantai?" tanya Sean mengulang pada gadis itu.
Terbesit di pikiran pria itu ingin membuka rantai yang membelenggu kaki gadis nya, namun ia takut gadis itu mencoba kabur.
"Aku kan tidak bisa kemana-kemana...
Kau mengurung ku..." ucap Ainsley lagi menatap dalam mata pria itu.
Sean berfikir ulang, mungkin gadis nya akan membaik jika ia membuka rantai itu dan tinggal memperketat penjagaan di kamar Ainsley.
......................
Mansion Zinchanko.
Dua minggu berlalu, keadaan mulai tenang walau masih belum kembali normal seperti sebelumnya.
"Kenapa tak ada kabar dari nya?" gumam Richard yang mulai menyadari jika tak ada kabar dari Ainsley.
Gadis itu seperti hilang di telan bumi tak ada kabar apapun yang datang pada nya, entah kuliah ataupun hal kecil lain nya.
"Nona Ainsley tak kuliah dalam beberapa minggu terakhir," ucap Liam setelah Richard memerintahkan nya mencari tau.
"Dia izin sakit," jawab Liam sesuai dengan informasi yang di dapat nya.
Richard mengangguk dan mengisyaratkan agar pria itu keluar dari ruangan nya.
Wajah nya menengadah menatap ke langit-langit ruangan dimana ia berada, ia menghela nafas nya dengan berat.
Suara, wajah, aroma, dan tubuh gadis itu berbaur di ingatan nya membuat nya rindu akan gadis yang membuat bisa membuat nya candu dan mabuk di saat bersamaan.
"Aroma yang tertinggal masih disini..." ucap nya lirih sembari menarik laci dan melihat ke arah sapu tangan yang terakhir kali ia gunakan untuk mengusap cairan gadis itu saat di ruang kosong unversitas.
"Sial! Kenapa aku sampai seperti ini..." decak nya kesal saat ia merasa dirinya sudah semakin berjalan tak seperti biasanya.
Pria itu mulai bangun dan berjalan mendekat ke arah jendela, dan menatap ke luar.
"Dia...
Aku harus mendapatkan nya..." gumam nya dengan mata yang menggebu.
Ia tak pernah seingin ini memiliki sesuatu, entah itu perasaan menggebu pada mainan atau perasaan yang meluap dan membuat hati nya terasa menggelitik ketika ia menyukai seseorang.
......................
Mansion Sean.
"Sekarang sudah kan? Kau senang?" tanya Sean saat ia melepaskan rantai di kaki gadis itu.
__ADS_1
Ainsley mengangguk menatap kaki nya yang bebas dengan mata berbinar, lalu tersenyum ke arah pria yang masih berlutut di depan nya karna melepaskan kaki nya.
Sean pun bangun dan berdiri di depan gadis cantik itu, lalu sedetik kemudian ia hampir terhuyung namun dengan cepat mengatur keseimbangan tubuh nya.
Ainsley yang langsung menghamburkan pelukan nya dan menatap pria nya sembari menengadah ke wajah pria itu.
Sean tersenyum dan mengelus wajah yang tengah memberikan raut senang hingga membuat hati nya menghangat.
....
3 Hari kemudian.
Ranjang yang empuk dan tangan kekar yang ia jadikan sebagai ganti bantal di kepala gadis itu, selimut tebal dan pelukan hangat yang saat ini tengah mendekap gadis itu.
"Sean..." panggil Ainsley lirih dari balik dekapan yang membuat wajah nya tenggelam.
"Hm? Kenapa?" jawab Sean sembari menundukkan wajah nya guna melihat gadis yang tengah ia peluk.
"Yang aku temui kemarin bukan ibu kandung Sean?" tanya Ainsley tanpa melihat wajah pria itu dan tetap menenggelamkan wajah nya ke dalam dada bidang Sean.
Sean diam sejenak dan menarik nafas berat sebelum ia menjawab, "Iya, dia bukan. Ibu kandung dia wanita yang baik..."
"Lalu sekarang dia di mana?" tanya Ainsley lagi.
"Sudah tak ada, dia sudah meninggal." jawab pria itu.
"Maaf..." ucap Ainsley lirih.
"Kau tak suka aku karna aku anak haram?" tanya Sean lagi saat ia merasa gadis itu menyinggung tentang ibu kandung nya.
"Bukan begitu," jawab Ainsley lirih, "Aku kan hanya ingin tau tentang Sean saja..."
Sean diam dan kembali mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
"Kenapa dia meninggal?" tanya Ainsley lagi.
Sean lagi-lagi diam tak bisa langsung menjawab pertanyaan gadis itu, ia pun kembali menarik nafas nya dan menjawab pertanyaan Ainsley, "Aku percaya dia tak bunuh diri, makanya aku juga ingin tau alasan dia meninggal."
"Bunuh diri?" tanya Ainsley lirih dan sekelebat tentang mata yang penuh ketakutan di wajah pria itu saat dulu ia menyakiti diri nya sendiri mulai berputar.
"Dengan cara apa?" tanya Ainsley lagi.
Sean mengernyitkan dahi nya menatap kembali ke arah gadis nya, sikap Ainsley berubah menjadi tak tertebak, terkadang tertawa lepas dan terkadang sangat mudah marah ataupun menangis.
Dan kali ini gadis itu bertanya yang tak biasanya.
"Gantung diri," ucap Sean yang tetap menjawab pertanyaan gadis itu.
Ainsley menganggguk pelan dan kembali memeluk pria itu, ujung bibir nya terangkat sedikit tak ada yang tau apa yang ada di kepala kecil nya saat ini.
......................
Sementara itu.
dr. Canly melihat ulang hasil konsultasi dan terapi nya, beberapa hari terakhir saat Sean sudah membuka rantai di kaki gadis itu Ainsley mulai berubah.
Dan gadis itu terlihat sangat baik-baik saja hingga membuat dr. Canly merasa khawatir. Perubahan mood drastis karna BPD dan tak bisa di pungkiri jika gadis itu tak sedang mengalami halusinasi namun tak mengatakan nya.
__ADS_1
"Dia tidak sedang..." gumam dr. Canly sembari melepas kaca mata yang ia kenakan.