
Gadis itu semakin menangis sembari mulai menatap ibunya.
"Kenapa yang udah lama di bangkit lagi sih?! Gak ada hubungan nya juga sama sekarang!" ucap Fanny marah.
"Ada! Dulu Mamah juga sama kayak sekarang! Nyalahin Ainsley padahal Ainsley gak salah! Mamah suruh Ainsley untuk minta maaf sama yang udah jahat sama Ainsley!" jawab gadis itu lagi, ia tak tau datang nya dari mana keberanian sampai bisa mengungkap kan kata-kata seperti itu.
"Dasar bodoh! Kau mau keluarga kita kena imbas nya? Tau kalau putri tunggal Belen jadi korban kekerasan? Mamah itu sudah lalukan yang terbaik! Gak usah sok dewasa mau ngatur orang tua!" ucap Fanny marah.
"Terbaik? Mamah malu kalau anak Ainsley yang jadi korban? Mamah tau gak? Dulu tuh setiap istirahat mereka mukulin Ainsley Mah...
Coret meja sama bangku Ainsley...
Setiap makan siang mereka tuang air ke makanan Ainsley....
Setiap pelajaran olahraga pasti seragam Ainsley dirusak..." ucap gadis itu dengan penuh sesak pada ibunya.
"Tapi...
Tapi kenapa harus Ainsley yang minta maaf sama mereka? Ainsley gak pernah gangguin mereka...
Kenapa Mamah tetep bilang Ainsley yang salah?" sambung gadis itu saat ia mengingat kembali ibunya yang tak membelanya saat ia menjadi korban buli di sekolah menengahnya dulu.
"Kau mendorong anak itu sampai tertimpa lemari! Kalau bukan kau yang minta maaf lalu kau punya catatan sekolah yang buruk kan bisa membuat malu! Yah itu salah mu!" jawab Fanny yang masih tak memikirkan kesedihan putrinya.
"Memang nya apa hubungan nya yang dulu sama sekarang? Hm?" sambung Fanny lagi sembari menatap tajam ke arah putri nya.
"Dulu Mamah gak tanya kenapa Ainsley dorong dia, kan? Sama seperti sekarang Mamah juga gak pernah tanya sama Ainsley kenapa Ainsley jadi begini kan?" tanya gadis itu sembari menjatuhkan lelehan air mata nya menatap sendu sang ibu.
"Dulu? Kau tahan waktu mereka memukuli mu satu semester tapi berulah di semester berikut nya! Memang nya kau mau alasan apa lagi? Ha?!" jawab Fanny yang masih mengeraskan hati nya pada putrinya.
Gadis itu menggeleng pelan, sembari menghapus air mata nya.
"Bukan! Dulu mereka bukan mau mukulin Ainsley lagi...
Tapi mau gunting rambut sama seragam Ainsley terus di masukkan ke web sekolah...
Makanya Ainsley dorong..." jawab gadis itu sembari menatap ibunya, terlalu terlambat memang mengatakan nya.
Namun walaupun ia dulu mengatakan nya pasti sang ibu tetap tak akan mendengarkan semua yang ia katakan.
Fanny terdiam beberapa saat mendengar ucapan putrinya.
"Mamah pernah bilang kalau Mamah suka sama rambut panjang Ainsley ...
Ainsley makanya gak mau di potong pendek..." sambung gadis itu lagi sembari menatap ibunya dengan penuh sendu.
Fanny terdiam dan mencoba mengingat kapan ia pernah mengatakan jika ia menyukai rambut panjang gadis itu hingga.
Mah pita Ainsley bagus mah...
Rambut mu di panjangkan saja...
Biar mudah di kasih pita nya.
Sampai ingat mengingat jika dirinya yang dulu pernah menyuruh gadis itu memanjangkan rambut, ia tak pernah bilang "suka" namun gadis itu membangun harapan kosong karna sangat ingin mendapat pengakuan dari sang ibu.
"Tetap saja itu salah mu! Kau hidup saja itu sudah salah!" jawab Fanny yang masih tak mau mengaku jika ia yang sebenarnya salah sejak awal.
Ainsley terdiam, rasanya benar-benar sesak mendengar perkataan tajam ibunya yang selalu ia dengar selama 22 tahun.
Namun kali ini mental nya masih belum cukup kuat untuk di hancurkan kembali.
__ADS_1
"Mah...
Maaf yah Mah...
Maaf karna Ainsley masih hidup...
Untuk kali ini aja Mah...
Ainsley mau ngelakuin yang Ainsley sukai..." ucap gadis itu lirih di tengah tangis nya, baginya memiliki pahit dan asam manis cinta yang di berikan kekasihnya adalah alasan ia ingin bertahan.
Fanny tak menjawab gadis cantik yang sedang menangis itu.
"Mah kalau nanti misal nya Ainsley beneran pergi mamah peluk Ainsley sekali aja yah Mah..." sambung gadis itu sekali lagi pada ibunya.
"Ainsley gak tau kenapa bisa Mamah benci sama Ainsley...
Tapi Ainsley minta maaf yah Mah...
Udah buat Mamah hidup mamah berantakan..." ucap Ainsley sembari mulai memaksakan senyum nya di tengah lelehan air mata nya.
"Yaudah! Kalau mau mati jangan nyusahin orang!" jawab Fanny ketus walaupun hati tersentak iba namun ego nya begitu besar.
"Janji yah Mah...
Kalau nanti Ainsley yang pergi duluan suatu saat nanti Mamah bakal peluk Ainsley sekali aja..." pinta gadis itu dengan harapan yang tinggi, ia berbicara dengan sulit karna nafasnya yang tertahan tangis kesedihan hati lembutnya.
"Iya! Kalau kau nanti beneran mati, aku peluk! Dasar pencari perhatian!" ucap Fanny pada putrinya.
"Mamah udah janji kan? Jangan ingkar yah Mah..." ucap gadis itu mulai tersenyum, walaupun ucapan ibunya seperti kutukan agar ia cepat tiada, namun gadis itu tetap senang saat mendengar ia akan mendapat pelukan ibu yang belum pernah ia rasakan sekali pun.
Tak heran jika gadis cantik itu mudah ditindas, dan memilki mental yang lemah. Semua tekanan dan lingkungan gadis itu yang membentuk nya menjadi seperti itu, psikis setiap orang yang tak sama seperti gadis itu yang menjadi begitu lemah.
Tak ada yang tau jika pembicaraan yang menyedihkan itu terdengar samar dari luar oleh pria yang bisa di katakan menjadi dalang dari semua kemalangan yang terjadi.
Seperti takdir yang tak bisa di ubah dan di hentikan, aturan waktu yang membuat pria itu datang saat kekasih gadis itu pergi dan saat ibu kejam dari gadis itu datang.
"Ckk, Berani sekali dia mengambil peran ku!" decak Richard dan berlalu pergi tak jadi mengunjungi gadis itu.
Baginya yang boleh menyiksa dan mengancam gadis hanya dirinya sampai ia merasa bosan, ia tak suka ada yang merusak mainan menggemaskan yang sudah ia akui miliknya itu.
......................
Pukul 09.35 Pm
Gadis cantik itu terus melihat pintu ruangan nya melihat apakah kekasihnya sudah kembali atau belum, terkadang terbesit ia ingin menelpon namun tangan nya langsung terhenti karna masih takut memegang benda pipih layar sentuh itu.
Klik...
"Sean!" panggil gadis itu semangat dan langsung menghampiri pria tampan yang baru masuk keruangan nya.
"Belum tidur?" tanya Sean sembari mengelus kepala pacar cantik nya.
"Belum! Masih nunggu kamu!" jawab gadis itu dengan mata berbinar.
"Tidur yah...
Sudah malam..." ucap pria itu dengan lembut sembari membawa lagi gadis nya ke ranjang pasien.
"Sean...
Tidur disini...
__ADS_1
Sama aku..." ajak Ainsley sembari menggeser tubuhnya agar pria itu bisa ikut naik ke atas.
"Sempit...
Nanti gak luas tidur nya..." jawab Sean pada Ainsley.
"Makin sempit kan makin enak...
Biar bisa peluk terus!" jawab gadis itu polos dengan mata berbinar.
Sean pun tertawa melihat gadis di hadapan nya yang tak merasa terancam sama sekali saat bersama nya.
Ia pun mulai naik ke atas ranjang pasien dan mendekap gadis cantik itu, mengelus punggung gadis itu dengan lembut untuk menidurkan nya.
"Sean...
Tau gak? Tadi aku tuh berantem sama Mamah..." adu gadis cantik saat berada dalam pelukan kekasihnya.
Gadis cantik itu mulai bercerita semuanya pada pria yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat, Sean yang hanya mendengarkan saja menjadi sangat geram dengan Fanny, ia benar-benar bingung kenapa gadis itu malah terlihat ceria saat ia kembali.
"Terus kenapa kau terlihat senang malam ini? Hm?" tanya Sean pada Ainsley saat melihat gadis itu begitu ceria saat ia kembali.
"Tadi Mamah udah janji nanti mau peluk aku! Padahal Mamah biasanya gak pernah janji!" jawab gadis itu dengan ceria, seburuk apapun yang di lakukan ibunya ia tak pernah membenci sedikitpun malah terus berharap akan kasih sayang palsu.
"Oh iya? Tadi janji nya gimana?" tanya Sean lagi.
"Aku bilang kalau nanti aku yang gak ada duluan, aku mau di peluk Mamah sekali, terus sama Mamah di Iya in." jawab Ainsley dengan polos.
Deg...
Saat mendengar hal itu, Sean tiba-tiba teringat dengan perkataan dokter psikiater yang merawat kekasihnya, jika tak mungkin gadis itu tak akan mengulangi percobaan bunuh dirinya lagi di lain hari.
Gadis itu sudah sudah membentengi dirinya sendiri dengan bersikap baik, dan selalu berpura-pura baik-baik saja membuatnya cepat mengalami depresi dan akan semakin sering melukai diri nya sebagai bentuk dari penyaluran rasa sakit yang menumpuk.
"Ainsley...
Kau tidak berpikir mau bunuh diri lagi kan?" tanya Sean pada gadisnya.
"Sekarang kan udah gak sendiri lagi. Udah ada Sean..." jawab Ainsley sembari semakin memeluk pria yang sedang bersama nya saat ini.
Ia sangat suka aroma parfum yang sudah menyatu dengan aroma tubuh pria itu yang membuat nya semakin menenggelamkan wajah nya ke dada bidang pria yang memeluknya.
Sean pun tak menjawab dan membiarkan gadis itu memeluk nya dengan erat, tangan nya terus menyapu dengan lembut punggung gadis itu.
"Ainsley...
Kau tidak boleh mati sebelum aku mengizinkan mu...
Sekarang hidup mu milik ku!
Kau sudah dengar dengan baik?" bisik Sean pada gadis itu dengan penuh nada penekanan sembari mulai beranjak memainkan rambut panjang kekasihnya.
Ainsley hanya mengangguk kecil mengindahkan ucapan dari Sean di dalam pelukan pria tampan itu.
"Bagus kalau mengerti, aku tak mau ada kejadian seperti ini dua kali." ucap Sean sekali lagi dengan menekan kan setiap kata dari ucapan nya.
...****************...
Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️
Happy Reading❤️❤️
__ADS_1