
Richard kembali begitu mentari mulai menampakkan sinar nya dan menemani sejenak putra nya bermain dan melakukan pemeriksaan hingga sinar yang tadi nya terbit pun mulai kembali tenggelam.
"Daddy mau kemana?" tanya Axel sembari meraih tangan pria itu lalu menatap nya dengan mata yang mengharap sang ayah tak akan pergi.
"Daddy ada urusan, nanti Daddy bakal datang lagi," ucap nya tersenyum menatap putra nya.
"Tapi kan Axel mau nya sama Daddy," ucap nya lesu karna kini ia mulai hanya bergantung dengan sang ayah.
Richard hanya tersenyum, ia mengelus puncak kepala putra nya dan mengecup nya.
"Anak Daddy kan kuat, berani. Masa Daddy pergi sebentar aja sudah mau nangis?" ucap nya pada putra kesayangan nya.
"Nanti Daddy gak balik kayak Mommy yang udah lupa Axel..." ucap nya lirih dengan menunduk tak menatap wajah sang ayah.
"Axel tau kan? Kenapa Daddy bilang paman Axel jahat? Sekarang dia malah buat Axel gak bisa ketemu Mommy." ucap nya pada sang putra.
Axel mengangguk mendengar nya, ia pun tersenyum dan beranjak meninggalkan putra nya.
"Paman Sean jahat..."
"Mommy juga gak sayang Axel lagi..."
Ucap nya lirih saat melihat sang ayah, selain kerinduan ia juga mulai marah pada sang ibu karna merasa seperti di abaikan dan tak di perdulikan.
......................
Mansion Zinchanko
Pria itu membuka pintu kamar nya, sejak ia masuk ia sudah mendengar aduan para pelayan tentang nyonya mereka yang mengusir mereka saat ingin masuk ke kamar untuk mengantarkan makanan ataupun membersihkan tempat tersebut.
Wajah nya mengernyit, di tempat yang sama, posisi yang sama dan masih berada dalam kondisi yang sama.
Wanita itu berlutut dan menunduk ke lantai dengan selimut tebal yang mengelilingi tubuh nya, kaki nya terasa kebas namun ia seperti mati rasa dan hanya ingin suami nya mengabulkan permintaan nya untuk bertemu dengan putra nya.
"Kau sudah gila? Kau tetap seperti ini selama aku pergi?!" tanya nya pada wanita itu dengan nada tinggi sembari mendekat dan menarik tangan istri nya.
Auch!
Ainsley tentu saja langsung terjatuh karna kaki nya untuk sementara sulit di gerakan akibat kebas karna berlutut satu hari satu malam dan tak beranjak sedikit pun.
Tubuh nya kembali terjatuh ke lantai, ia menatap ke arah suami nya.
"Apa sekarang aku boleh bertemu Axel?" tanya nya lirih dengan tatapan sayu pada pria itu.
Tak makan, tak minum dan tidak tidur satu harian tentu saja membuat tubuh nya kehilangan tenaga dan energi.
Richard membuang wajah nya, ia merasa jika menggunakan Axel sebagai alat untuk membuat wanita itu berada di sisi nya.
Ia tak bisa melihat wajah wanita yang seakan telah kehilangan segala nya dari nya.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya menunduk dan mulai menggendong istri nya, membawa nya ke dalam bath up dan setelah melepaskan selimut tebal yang menutupi tubuh wanita cantik itu.
Dan menyiramnya dengan dengan shower yang tekanan dan suhu air yang sudah ia atur lalu menyalakan air dan mengisi bathup.
Ainsley diam saja membiarkan pria itu menyiram tubuh nya dengan shower serta mengisi bath up nya, aroma sabun yang di campurkan begitu air yang mengelilingi nya sudah penuh.
Ia tak mengatakan apapun, begitu juga dengan suami nya yang tak mengatakan apapun pada nya, iris nya hanya melihat pria yang sedang membuka pakaian nya satu persatu dan mulai memasuki bathup yang sama dengan nya.
Pria itu mengusap punggung wanita itu yang masih terlihat luka nya, mungkin untuk luka yang masih belum kering sepenuh nya akan terasa perih saat terendam dengan air namun wanita itu mengatakan apapun.
Ia menjatuhkan wajah nya di pundak istri nya sembari memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
Tak ada yang mengucap satu kata pun namun masing-masing bungkam.
Tak hanya sampai di situ, setelah mandi pria itu pun membawa nya mengganti pakaian dan memakaikan nya satu persatu pakaian nya.
"Richard? Aku bisa bertemu dengan Axel kan?" tanya nya lagi saat pria itu tengah membantu nya berpakaian.
Richard tak mengatakan apapun, ia hanya melirik sekilas dan kembali mengikat simpul pita di pakaian sang istri hingga wanita itu terlihat seperti boneka menggemaskan.
Pria itu tak membalas nya, ia hanya melihat dan menyelipkan anak rambut ke telinga istri nya.
Love you...
Bisikan yang hampir tak terdengar oleh wanita itu saat ia merasakan suami nya bergumam.
"Apa yang baru kau katakan?" tanya Ainsley sembari mendorong pelan dada bidang suami nya.
"Setelah kau makan makanan mu," jawab nya sekilas sembari mulai melepas mantel mandi nya dan memakai pakaian nya sendiri.
Ainsley kembali diam, tak beranjak dan masih di tempat yang sama hingga suami nya membawa nya makan malam.
Tak ada selera sama sekali, namun wanita itu tetap memaksa menghabiskan makanan di depan nya karna ia merasa suami nya mungkin akan membiarkan nya bertemu dengan putra nya.
"Aku bisa bertemu dengan nya kan?" tanya Ainsley lagi setelah ia selesai minum.
"Tidak, kau tidak bisa." jawab pria itu yang membuat nya langsung tersentak.
"Kenapa? Aku sudah lakukan yang kau katakan, tapi kenapa?" tanya nya lagi tak mengerti sembari meraih tangan suami nya.
Richard tak mengatakan apapun, ia hanya melihat tangan kecil yang terasa dingin namun bisa membuat seluruh tubuh dan hati nya menjadi hangat.
"That's my fault, let me see him..." ucap Ainsley lagi yang kembali memohon.
"Kau, hiduplah dengan baik di sini dan mungkin aku akan mengizinkan mu." ucap nya sembari melepaskan tangan yang sangat ia sukai itu dan beranjak pergi.
Ainsley terdiam, mendengar nya. Ia tak lagi mengejar karna tau jika ujung nya akan tetap sama.
Hidup dengan baik?
__ADS_1
Entah mengapa kata-kata itu terdengar lucu bagi nya, "Bagaimana kau bisa menyuruh mu hidup dengan baik? Kalau kau juga memisahkan ku dengan Axel?" gumam nya lirih sembari menjatuhkan bulir bening nya.
...
Liam memberikan berkas yang berisi tentang jantung yang akan di beli oleh si pemesan di organisasi gelap nya.
"Anda yakin ingin menjual nya saja?" tanya Liam setelah tiga bulan mencari donor yang sama seperti yang di minta.
"Bukan nya kita mencari ini untuk di jual?" tanya Richard enteng.
"Kita hanya seperti beruntung bisa menemukan nya secepat ini, tapi kalau kita tidak beruntung mungkin sekitar 6 bulan," jawab Liam pada pria itu.
"Lalu?" tanya Richard mengernyit.
"Tuan tidak mau menyimpan nya untuk tuan saja? Atau mungkin nyonya Ainsley." ucap nya pada pria itu.
"Aku baik-baik saja, Axel akan mulai pendidikan rumah dan Ainsley tidak akan keluar mansion lagi jadi ku rasa itu masih baik-baik saja." ucap nya sekali lagi.
Tak ada yang pernah tau masa depan, sama seperti ucapan yang akan ia sesali nanti nya.
"Baik, tapi kalau kita naikkan harga nya ti-"
"Kalau soal harga tentu saja harus yang tertinggi," ucap pria itu tersenyum simpul.
Liam mengangguk seraya mengerti apa yang di inginkan tuan nya.
"Bagaimana perkembangan tentang dia?" tanya nya lagi dengan wajah kesal.
Tentu Liam pun tau siapa yang di maksud oleh pria itu.
"Sama seperti tuan muda Axel, dia sulit untuk di dapatkan info nya." jawab Liam berterus terang.
"Siapkan pemindahan perusahan CF dan hubungi sekertaris nya untuk meminta bertemu," ucap nya pada bawahan nya.
Liam tak mengerti namun, ia hanya menuruti tuan nya.
......................
2 Minggu kemudian.
Sean mulai memulihkan tubuh nya perlahan di dampingi dengan sekertaris nya yang entah kenapa sekarang semakin cerewet.
"Ada apa?" tanya nya saat melihat pria itu yang semakin sering mengomel hingga membuat nya lupa dengan pria yang dulu nya terlihat kaku dan dingin.
"Si anj*ng si*lan itu meminta bertemu dengan anda," jawab nya sembari mengumpat.
"Maksud mu dia?" tanya nya lagi.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban nya, "Kalau begitu terima saja, dia tak akan membunuh ku kalau meminta bertemu secara resmi." jawab nya.
Sekertaris Jhon langsung terlihat kesal mendengar nya.
"Presdir!" ucap sekertaris Jhon kesal.
"Anda tidak sadar selama ini apa yang sudah anda lakukan?" tanya nya dengan tatapan yang merasa frustasi.
"Apa memang nya?" tanya Sean dengan enteng.
"Bekerja dengan anda memberi saya banyak tekanan," jawab nya dengan kesal.
"Jangan lupakan sesuatu yang tertinggal, aku juga memberi mu banyak gaji." sambung Sean tertawa walaupun perut nya masih terasa sakit.
Sedangkan pria itu hanya membuang mata nya dengan kesal sembari menatap kesal.
...
5 Hari kemudian.
"Apa-apaan ini?" tanya sekertaris Jhon dengan tatapan kesal melihat kiriman bunga berkabung yang di kirim pada nya.
"Kau tidak lihat ini apa? Mata mu sudah rusak?" tanya Liam dengan tatapan yang sama-sama tak suka.
Sementara dengan perkelahian para bawahan itu, Richard datang masuk ke ruangan Sean dan hanya menatap tajam sedang pria itu juga memberi tatapan yang sama untuk nya.
Ia memberikan map yang berisi kertas dokumentasi beserta softfile nya pada pria itu.
"Apa ini?" tanya Sean sembari memegang map tersebut.
"Aku tidak suka berhutang Budi pada seseorang, jadi kurasa itu cukup untuk mu." ucap nya yang memberikan satu perusahaan untuk pria yang duduk di ranjang pasien itu.
"Bukan kah kau harusnya mengatakan satu kata sebelum mengucapkan terimakasih?" tanya Sean sembari menunjukkan map yang baru di beri pada nya.
Tak ada kata maaf dari pria itu setelah menembak nya dan tentu saja ia tak akan mengatakan nya
"Aku tidak menyesal menembak mu, aku hanya tidak mau anak ku berhutang Budi dengan orang lain." jawab Richard dengan tatapan sinis nya.
"Kalau begitu seharusnya Axel yang memberikan nya, bukan kau." ucap nya lagi yang meletakkan map tersebut di samping nakas seperti mengembalikan nya.
"Jangan dekati Axel ataupun Ainsley lagi, aku tidak mengerti apa tujuan mu kembali mendekati putra ku." ucap nya dengan penuh curiga.
"Tidak ada, aku mau dekat dengan nya karna dia imut saja." jawab Sean yang memang semakin menyayangi pria kecil itu walau kini ia tak tau jika Axel sudah sangat membenci nya.
Richard tertawa mendengar nya, "Apapun tujuan mu aku tidak akan membiarkan nya."
"Terserah kau mau percaya atau tidak," ucap nya sembari melihat map yang di berikan pria itu.
"Ambil kembali, aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau tanpa bantuan mu." ucap nya sembari menatap pria itu.
"Aku juga tidak akan mengambil apa yang sudah ku beri," jawab Richard dengan tatapan yang sama.
__ADS_1
Sean mengangguk, ia mengambil nya lalu mulai menyobek nya menjadi dua bagian yang membuat dokumen di dalam nya ikut tersobek.
"Keluar dari sini, kalau pun ada yang berhutang pada ku itu Axel bukan kau." ucap nya mulai mengusir Richard.
Richard geram, bukan karna pria itu menyia-nyiakan perusahaan yang sudah ia beri namun karna pria itu menyebut nama putra nya dengan akrab.
Ia menahan nya dan mengeluarkan smirk nya, "Kau tau kabar Ainsley saat ini? Mau dengar?" tanya nya lagi.
Sean tak menjawab namun tatapan serta sorot nya tak di ragukan lagi jika ia ingin tau kondisi wanita itu sekarang.
"Aku menyiksa nya, aku terus menyiksa nya sampai dia bahkan tidak bisa menangis lagi. Aku juga membuat nya berlutut, membuat bantal nya penuh dengan air, aku hampir membunuh nya berulang kali." ucap pria itu tersenyum.
Mata Sean membulat, darah nya seakan mendidih mendengar nya, ia memang dulu pernah melakukan hal yang sama namun ia juga berhenti dan rela melepaskan wanita itu agar tak mengalami semua masa sulit nya lagi.
Untuk kebahagian wanita itu, namun?
Bugh!
Infus nya langsung tercabut, tenaga yang entah terkumpul dari mana membuat nya langsung menuju dan memukul pria di depan nya.
"Apa yang kau katakan si*lan!" tanya nya dengan tatapan emosi, luka seketika kembali terbuka karna ia yang bergerak tiba-tiba.
"Kau sudah dengar kan?" tanya Richard tersenyum saya Sean mencengkram erat kera pakaian nya.
"Kau tidak sadar? Selama kau masih ada, selama kau masih berusaha mendekati nya, dia tidak akan bahagia." sambung nya lagi sembari menggembung pipi kiri nya ketika ia merasakan darah akibat pukulan pria itu.
"Aku tidak berniat mengambil nya dari mu," ucap pria itu mengernyit.
Richard tersenyum kesal mendengar nya, ia kembali menarik kera pakaian pasien pria itu dan memukul nya.
Bugh!
"Kalau begitu jangan dekati dia! Jangan bicara atau bertemu dengan istri dan anak ku lagi! Kau itu hanya pengganggu!" ucap nya dengan tatapan amarah.
Sean tersentak saat pria itu memukul nya balik namun begitu mendengar perkataan pria itu membuat nya ingin tertawa.
Pengganggu?
Kata-kata yang sungguh menggelikan untuk nya.
"Kenapa kau sekarang takut? Tentu saja takut kau mencuri apa yang bukan milik mu jadi kau juga takut milik mu di curi." ucap Sean pada pria itu.
Richard hanya melihat nya saja sembari menahan rasa kesal nya.
"Pengganggu? Aku? Kau tidak sadar selama ini? Kau lah yang menjadi pengganggu." ucap nya yang terlihat dengan tatapan yang begitu kesal dan marah.
Richard hanya mengepal mendengar nya.
"Karna sekarang kau sudah menikah, pasti kau lupa kan? Kalau wanita yang kau nikahi itu dulu nya siapa untuk ku?" tanya nya sembari menahan semua rasa amarah nya agar tak meluap.
"Kalian bahkan belum menikah, tapi sekarang berbeda, dia istri ku dan aku memiliki anak dengan nya." ucap Richard pada nya.
Sena tertawa getir mendengar nya, "Belum menikah? Karna kami belum menikah kau pikir aku tidak berniat menikahi nya?"
"Waktu kami masih punya hubungan kau meniduri nya, kau juga pasti tau kan seperti apa sifat nya dulu? Apa yang akan dia rasakan kalau kau meniduri nya sementara dia masih punya hubungan dengan ku?" tanya Sean dengan rasa yang selama ini menyiksa nya.
Ia memang belum sampai menikah, namun rencana yang ia bangun untuk memenuhi impian wanita itu tak pernah ia lupakan.
Karna dulu tujuan memang ingin membawa wanita pergi, meninggalkan status nya sebagai pewaris Sation dan membebaskan wanita itu dari keluarga nya.
Memulai semua nya dari awal dan kehidupan yang selama ini menjadi impian dan angan gadis yang dulu nya ceria polos dan mudah terpengaruh seperti air jernih yang mudah di beri warna.
"Kau pikir aku dulu tidak merasakan hal yang sekarang kau rasakan?" tanya Sean lagi.
"It turns out that karma exists," (Ternyata karma memang ada)
"That's really f*cking funny!" sambung pria itu tertawa pahit.
Richard masih diam, tentu nya ia tidak menerima ucapan pria itu.
"Kau hanya perlu pergi saja, atau lebih baik kata mati!" ucap nya pada Sean.
"Kau takut setiap hari? Kau takut dia akan meninggalkan mu? Seharusnya sejak awal bukan aku yang pergi tapi kau!" jawab Sean sembari menunjuk pria itu.
"Kau yang merusak hubungan orang lain! Kau yang memaksa mengambil milik orang lain dan menjadikan nya milik mu!" ucap nya sembari menahan rasa kekesalan nya.
"They're mine," ucap nya lagi.
"But before she became yours she was mine," ucap Sean sembari menatap pria itu.
"Dulu kau membuat nya kotor sampai dia meninggalkan ku, lalu saat bertemu dengan nya lagi kau menggunakan anak mu untuk mengikat nya," sambung nya menatap pria itu.
Richard diam mendengar nya, namun tetap saja ia merasa marah.
"That's true? You know that right?" tanya nya lagi.
Richard pun kembali mengatur ekspresi nya, "Apa pun yang kau katakan dia sudah jadi milik ku, dan aku tidak akan melepaskan nya!"
"So if you wanna see her happy, don't bother her anymore," (Jadi jika mau lihat dia bahagia, jangan ganggu dia lagi!)
ucap nya dan berbalik pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sean mengepalkan tangan nya, ia tak tau apa yang di katakan pria itu benar atau tidak. Namun ia tak ingin wanita itu terluka lagi.
*Apa melihat nya saja juga tidak boleh?
Apa aku membuat mu sangat menderita?
Aku hanya mau melihat mu tersenyum, seperti kelinci polos yang menggemaskan...
__ADS_1
Kelinci kesayangan ku*...