Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Overdose


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Ruang NICU.


Bayi kecil itu mulai menggeliat, mata nya terbuka kembali menampilkan iris yang mirip dengan ibu nya.


Namun pria itu masih tak dapat menyentuh ataupun menggendong nya karna masih berada dalam kotak kaca yang penuh akan pengawasan dokter.


"Masih sakit? Daddy sudah hukum mereka semua," ucap nya sembari menatap dari luar kotak kaca tersebut.


Ia ingin menyentuh dan mengendong nya namun masih belum bisa karna putra nya yang memerlukan beberapa penanganan lagi hingga di nyatakan kembali sehat seperti sebelum nya.


"Nanti kita pulang sama Mommy mu, kalau kau sudah keluar dari sini Daddy akan kurangi dosis nya jadi kau bisa main lagi dengan nya," ucap nya yang tersenyum.


Hanya tinggal sedikit lagi putra nya bisa di bawa kembali pulang, dan ia yang merahasiakan hal ini tentu nya terus menerus memberikan pil yang penuh akan campuran obat-obatan ilegal itu pada istrinya agar perhatian wanita itu teralihkan.


"Dia juga ingin bermain dengan mu," ucap Richard sembari memberikan senyum tipis nya.


"Daddy kembali dulu, besok kesini lagi." ucap nya pada bayi mungil yang menggeliat dan menatap nya dengan mata bulat yang sudah kembali terlihat cerah tersebut.


Baby Axel mulai merubah raut nya, mata binar nya mulai mengkerut saat ia tak lagi melihat orang-orang yang ia kenali di depan nya.


"Huhu..."


"Hua..."


Tangis nya kembali terdengar, bayi kecil yang rapuh dengan tak ada satupun yang tau apa yang berada dalam pikiran nya.


Banyak alasan yang membuat bayi kecil menggemaskan itu menangis namun yang pasti nya air mata nya langsung keluar begitu sang ayah kembali pergi.


......................


Giethoorn, Overijssel.


Penjagaan kembali ketat jika ia meninggalkan rumah itu dan kembali melonggar saat ia pulang.


"Sudah kembali? Tadi dari mana?" tanya Ainsley mendekat.


"Kau sudah bangun? Kepala nya masih sakit?" tanya pria itu sembari mengelus dan mengusap lembut kepala istri nya.


Ia tau jika diri nya lah yang membuat wanita itu terus menerus merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya, namun ia bertindak dan bersikap seperti tak mengetahui apapun, dan bersikap manis seperti suami yang perhatian.


"Masih, tapi aku mau menyambut mu." ucap nya lirih yang terkadang mendesis saat denyutan di kepala nya tiba-tiba menyerang.


"Benarkah? Menggemaskan sekali," ucap Richard tersenyum sembari mengelus kepala gadis itu.


"Sudah makan malam?" tanya Richard lagi saat menatap mata yang terlihat lelah dan gelisah tersebut.


Berbeda dengan mata wanita itu dulu nya yang bersinar dan berbinar, kini cahaya di iris hijau itu meredup saat ia mulai memberikan obat-obatan terlarang tersebut.


Ainsley menggeleng pelan, "Belum kan aku menunggu mu."


Richard tersenyum, seutas rasa senang datang pada nya, ia pun membawa tangan yang mungil ke meja makan dan makan malam bersama.


"Aku kangen Axel," ucap Ainsley lirih.


Setiap sakit kepala nya mereda, ia akan kembali teringat dengan putra pertama nya yang di anggap masih di mansion yang berada di Prancis.


"Makan lagi beef nya," ucap Richard yang pura-pura tak mendengar perkataan istri nya sembari memberikan daging tumis itu ke dalam suapan wanita itu.

__ADS_1


"Kita kapan pulang?" tanya nya lirih.


"Kau bilang kau suka di sini," jawab pria itu mengalihkan pembicaraan.


"Aku memang suka tapi aku lebih suka kalau ada Axel, lagi pula aku juga lebih banyak di kurung kan?" tanya Ainsley pada pria itu.


"Diluar bahaya, kau boleh keluar kalau dengan ku saja." ucap Richard tegas.


"Kalau begitu aku harus nya boleh ikut keluar dengan mu kan? Tapi kenapa tidak boleh? Kenapa semua nya bahaya? Ini bahaya, itu bahaya?" Ainsley yang tak bisa mengerti dengan semua pergerakan yang begitu di batasi untuk nya.


"Nanti malam mau keluar dengan ku?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


"Kepala ku masih sakit, jadi aku tidak ingin keluar," jawab Ainsley lirih.


"Kita di sini saja? Hm?" tanya Richard sembari mencubit pipi lembut yang terlihat pucat tersebut.


"Iya, kalau ada Axel nya juga lebih bagus." jawab Ainsley sekali lagi mengungkit tentang anak nya.


Tak ada jawaban hanya senyuman tipis yang di berikan itu, "Sebentar lagi," ucap nya lirih.


......................


Prancis.


Mata yang menatap kesal dan jengah kebawah wanita berbalut gaun bewarna biru muda itu terlihat jelas.


"Bukan nya kau tak mau ke sini? Kau sendiri yang bilang tidak kan?" tanya Sean mengernyit.


Wanita itu hanya diam sejenak, tak mengatakan apapun dan hanya mengangkat garpu nya dengan elegan dan memotong steik nya dengan lembut.


"Aku mau karna makan malam nya," ucap nya yang seakan tak peduli.


Sean meletakkan garpu nya dengan kesal dan beranjak pergi, ia kira dengan kencan pertama sebelum nya wanita itu sudah sadar dan menjauh.


Marilyn melihat dengan tajam saat pria itu pergi, telpon nya berdering, ekor mata nya melirik sekilas dan ia pun mulai mengangkat nya.


"Sudah ku bilang jangan hubungi dulu kan?" ucap nya terdengar kesal dari telpon.


"Berhenti ikut kencan seperti itu, kebutuhan mu tetap akan ku penuhi wal-"


Wanita itu menutup telpon nya dengan kesal, ia memang menyukai kekasih nya, walau pria itu termasuk dalam golongan orang teratas namun rasa tamak nya membuat nya ingin memiliki posisi yang lebih tinggi lagi.


"Nyonya Sation grup, aku harus mendapatkan nya." ucap nya dengan mata tajam.


Ia sudah mencari tau bagaimana kehidupan pewaris perusahaan ternama itu sebelum nya, dan tebakan nya adalah pria itu yang masih belum bisa melupakan mantan kekasih nya.


"Apa bagus nya dari j*lang kecil itu?" gumam nya sembari berpikir bagaimana cara untuk memikat pria yang tadi nya meninggalkan meja barusan.


......................


Dua Minggu kemudian.


Richard tersenyum, ia mulai bisa membawa bayi mungil itu keluar dari kotak kaca yang penuh dengan alat yang tak ia mengerti tersebut.


Nyah...


Baby Axel menggeliat, mata binar nya yang menatap wajah di depan nya sembari tangan mungil nya meraih rahang kekar sang ayah.


"Hey? Kau tertawa? Hari ini mau pulang dengan Daddy? Mau bertemu dengan Mommy? Hm?" tanya nya yang penuh dengan senyuman senang.

__ADS_1


Karna hari ini bayi kecil kesayangan nya itu sudah bisa pulang saat tak ada lagi masalah yang di temukan, dan untung nya tak terjadi kerusakan syaraf walaupun sempat demam tinggi dan kejang sebelum nya.


Ia menggendong bayi mungil itu dalam pelukan nya dan mulai membawa nya kembali untuk menemui istri kesayangan nya.


......................


Prang!!!


Ainsley menggeliat, pandangan nya mengabur dan rasa sakit di kepala nya semakin menjadi, ia bahkan tanpa sadar menjatuhkan vas yang berada di samping tempat tidur nya.


"Nyonya ada apa?" tanya seorang pengawal yang langsung masuk ke dalam kamar wanita itu.


"Ambilkan obat ku," jawab Ainsley merintih sembari memegang kepala nya.


Pengawal tersebut pun dengan cepat langsung mengambil obat yang sudah di siapkan tuan nya dan memberikan satu butir.


Tanpa menaruh curiga Ainsley langsung mengambil dan menelan nya segera menggunakan air yang di berikan pengawal tersebut.


"Apa masih ada yang di perlukan nyonya?" tanya pengawal tersebut.


Aianley menggeleng pelan, ia pun segera menyuruh pria itu untuk keluar dari kamar nya.


Wanita itu mulai kembali merebahkan tubuh nya sembari terus menerus mengganti posisi nya tak nyaman.


Biasa nya ia akan sedikit lebih baik setelah meminum obat yang di berikan suami nya, namun entah mengapa saat ini ia tak membaik sama sekali.


Rasa yang seperti di ikat dan di tusuk oleh jarum membuat nya tak tahan.


Mata nya menoleh ke arah botol pil yang di tinggalkan pengawal yang tadi nya memberikan nya obat tersebut namun meninggalkan di nakas samping ranjang wanita itu.


"Apa aku minum obat lagi saja?" gumam nya yang ingin lagi dan lagi meminum pil yang tadi di berikan pada nya.


Ia pun berusaha bangun dan meraih botol berwarna putih tersebut dan membuka tutup nya.


Ainsley pun mulai menuangkan pil yang bahkan tak tau berapa jumlah nya ke tangan nya, namun yang pasti segenggam penuh obat terlarang itu berada di telapak tangan nya.


Tanpa basa basi Ainsley pun langsung menegak nya sekaligus, ia bahkan tak tau apa yang ia minum dan ia telan, yang ada di pikiran nya hanya bagaimana cara nya agar rasa sakit terhenti.


Saat semua obat tersebut mulai masuk, ia mulai merasakan kantuk, penglihatan nya mengabur dan rasa nya seluruh tenaga nya lenyap.


Ia terjatuh di lantai yang dingin tersebut, beberapa pil yang masih tersisa di dalam botol ikut jatuh bersama nya.


Obat-obatan terlarang itu mulai masuk ke dalam tubuh nya dan di proses menyebar, rasa sakit nya seketika mulai hilang, perlahan obat memasuki bagian otak nya yaitu nucleus accumbens sebagai tempat dimana hormon dopamin nya di produksi.


Hal tersebut mulai membuat nya tenang dan memberikan perasaan bahagia yang meluap sebagai efek samping dari narkotika yang ia minum.


Bibir tersenyum, genggaman kosong nya terasa seakan tengah bermain dengan bayi mungil yang tertawa dengan nya, Axel kesayangan nya yang sangat ingin ia temui.


Senyuman pria yang ia cintai seperti dulu terlintas di balik mata nya, yang seakan membuka tangan untuk menangkap nya.


Ingatan tentang sosok 'Paman' yang dulu ia kagumi sampai membantah kekasih nya pun terputar kembali, pelukan hangat dari wanita asing yang ia panggil dengan 'Mamah' terasa hangat di tubuh nya walau pun ia saat ini tengah gemetar seperti menggigil.


Semua kenangan manis yang membuat nya bahagia sedang kembali ia rasakan, perasaan yang seakan 'Fly' dengan semua jumlah obat terlarang itu sudah menyebar ke seluruh tubuh nya.


Ia mulai merasa sesak setelah nya, napas nya mulai terdengar melambat dan menarik udara dengan sulit.


Axel sayang...


Anak pintar nya Mommy, sini Mommy peluk...

__ADS_1


Bibir nya tak bisa mengucapkan sepatah kata lagi, tangan nya meraih lantai kosong dengan obat-obatan yang ikut berserakan di atas nya yang terasa seperti tengah memeluk erat putra mungil nya yang menggemaskan.


__ADS_2