
Mansion Zinchanko
Aroma lembut yang keluar dari botol cantik dan mendarat sempurna di tangan serta leher wanita itu.
"Ih! Mommy cantik deh!" ucap Axel yang duduk sembari melihat ibu nya yang sedang berias untuk keluar bersama nya.
"Cantik kan? Kan Mommy Axel," jawab Ainsley sembari tersenyum dan menoleh ke arah anak menggemaskan itu.
"Hari ini Mommy gak sakit?" tanya nya dengan polos sembari memainkan kubik di tangan nya.
Ainsley diam sejenak, ia selalu mendengar jika ibu nya sakit dari sang ayah yang membuat wanita itu tak bisa keluar sama sekali dari mansion megah tersebut.
Ainsley merapikan rambut nya yang tergerai dan melihat ke arah putra nya yang menggemaskan.
"Mommy sehat kok, sekarang Mommy bisa temani Axel ke sekolah." ucap nya sembari menatap mata putra nya.
"Kata Daddy Mommy sakit? Makanya ga bisa datang, sekalang uda sehat?" tanya anak kecil itu pada putra nya.
"Iya, sekarang udah sehat! Ayo, kita pergi sekarang." jawab Ainsley sembari mengulurkan tangan nya.
"Mau di gendong Mommy!" jawab nya sembari membuka tangan nya dengan luas lalu ingin segera menangkup sang ibu.
Ainsley tersenyum, ia mendekat dan perlahan menggendong putra nya.
......................
Internasional Primary School
Percakapan yang saling mengandalkan kekayaan dan pembicaraan tentang tempat les serta prestasi menjadi bahan utama di ruangan yang memiliki meja panjang bundar dengan ujung bundar tersebut.
Wanita itu hanya diam mendengarkan, ia tak pernah mengikuti perkumpulan seperti ini sebelumnya dan sekarang ia tau kenapa ibu nya dulu memaksa nya untuk unggul di segala mata pelajaran.
"Aku baru melihat mu di sini?" tanya seorang wanita yang duduk di samping Ainsley.
"Saya baru pertama kali ikut di sini," jawab Ainsley tersenyum pada wanita itu.
Beberapa mata melihat ke arah nya, jam tangan terbaru serta tas yang hanya di buat dalam beberapa keluaran namun sudah di miliki oleh wanita itu.
"Anak mu kelas berapa?" tanya seorang wanita yang tadi menyapa nya, "Oh ya, Jessi." ucap nya sembari mengulurkan tangan nya.
"Ainsley," jawab nya tersenyum sembari membalas uluran tangan wanita itu, "Masih tahun pertama."
"Kau harus lebih memperhatikan nya, aku punya saran tempat les yang bagus, kau mau daftarkan anak mu?" tawar Jessi dengan semangat.
"Dia masih dalam usia bermain, terimakasih saran nya." jawab Ainsley dengan menolak halus.
Ia tak mau memaksa putra nya melakukan sesuatu yang tidak di sukai, karna wanita itu tak ingin situasi nya dulu kembali terulang pada anak nya.
Jessi hanya tertawa kecil dengan mata yang melirik sedikit sinis saat mendengar ucapan wanita di samping nya.
"Anak pertama?" tanya nya lagi.
"Benar," jawab nya singkat.
"Karna anak pertama harus nya kau lebih perhatikan, dia kan awal mu." ucap Jessi sembari menggelengkan kelapa nya.
Ainsley hanya tersenyum mendengar nya, ia tau wanita di samping nya mengkritik nya namun baginya anak nya adalah milik nya dan ia lah yang akan membentuk putra nya bukan orang lain.
Pertemuan yang diadakan pun mulai usai, perbincangan tentang liburan, akomodasi dan tempat les tambahan di bahas di sana.
__ADS_1
"Mommy!" ucap Axel yang langsung berlari ke arah wanita itu dengan semangat.
"Jangan lari-lari kalau di luar! Bahaya!" ucap Ainsley menegur putra nya namun masih dalam nada yang rendah.
Axel hanya mengerucutkan bibir nya mantap sang ibu, "Axel kan mau cepet-cepet ketemu Mommy."
Mendengar jawaban yang menggemaskan itu membuat Ainsley tersenyum dan mencubut gemas pipi putra nya.
"Mommy juga mau cepet-cepet ketemu Axel," jawab nya tersenyum.
"Axel pulang sama Mommy kan nanti? Mommy yang jemput kan?" tanya nya yang penuh dengan tuntutan.
"Iya, nanti Mommy yang jemput Axel yah." jawab Ainsley tertawa gemas melihat putra nya.
"Mom? Nanti Axel pulang nya agak lama," ucap nya setelah berfikir sejenak.
"Kenapa lama pulang?" tanya Ainsley seraya menatap mata yang terlihat bingung mencari alasan itu.
"Iya! Axel nanti mau main temen yang lain, Mommy jemput nya lama sedikit yah." jawab anak menggemaskan itu pada ibu nya.
"Terus, Mommy jemput nya jam berapa nanti?" tanya wanita itu lagi.
"Jam 5 sole!" jawab Axel dengan cepat.
"Lama sekali? Axel main apa?" tanya wanita itu mengernyit.
"Sama temen Mom! Ih! Mommy nih?" jawab nya lagi dengan spontan.
Wanita itu tertawa kecil melihat ekspresi wajah putra nya yang kesal dan semakin terlihat gemas.
"Iya, nanti Mommy jemput yah. Axel jangan nakal," ucap Ainsley sembari bangun dan mengusap kepala putra nya.
Dalam beberapa hari terakhir ia bertemu dengan paman yang memberi nya permen kapas, walaupun ia sudah di marahi namun ia tak bisa langsung menjauh begitu saja.
Dengan adanya godaan makanan manis serta perasaan yang tidak membahayakan membuat nya merasa aman saja saat bermain dengan pria itu.
Sifat keras kepala yang sangat mirip dengan ibu nya, terlihat penurut di depan dan memberontak saat di belakang.
...
Setelah jam sekolah usai, Axel memilih menunggu di luar di bandingkan di ruangan tunggu anak-anak lain karna ia ingin kembali bertemu dengan paman yang sering membelikan nya makanan manis.
"Yah, Paman gak datang lagi..." gumam nya saat melihat halaman depan sekolah nya yang kosong tak ada orang yang ia kenal.
Ia mengetukkan kaki nya ke ujung tanah dengan wajah cemberut, padahal pria itu sudah janji ingin akan membawakan nya lagi coklat serta jajanan yang ia sukai.
Walaupun ia bisa mendapatkan nya namun sang ibu membatasi nya, bukan tak membolehkan namun membatasi karna Ainsley tak ingin putra nya terlalu banyak makan makanan tak sehat.
"Paman!" panggil nya tersenyum saat melihat pria itu yang datang pada nya.
"Ini apa?" tanya nya saat melihat makanan yang di bawa oleh pria itu.
"Cumi bakar, yang ini es nya." jawab Sean tersenyum sembari mengusap kepala anak menggemaskan tersebut.
Axel mengambil nya lalu melihat nya, "Kok sedikit?"
"Kan itu banyak?" tanya Sean mengernyit.
"Bukan cumi nya, jajan yang ini." tanya nya sembari menunjukkan salah satu makanan ringan.
__ADS_1
"Kan Axel gak boleh banyak makan-makanan begitu, nanti mudah sakit." jawab pria itu.
"Ih! Paman kayak Daddy Mommy..." jawab nya dengan mengerucutkan bibir nya.
Sean tertawa sembari mencubit pipi lembut itu, alasan ia terus menemui anak dari mantan kekasih nya karna selalu membuat nya ingat dengan wanita itu.
Sifat, wajah, kebiasaan, serta kesukaan nya pun lebih menonjol dan mengarah pada wanita itu dari pada sang ayah.
"Paman? Beliin itu!" ucap nya sembari menunjuk balon yang mengapung di depan nya.wwe
"Axel mau balon?" tanya Sean mengulang sembari memegang tangan mungil anak lelaki itu.
Axel mengangguk semangat atas pertanyaan itu.
...
Pukul 04.45 pm
Wanita itu sudah berada di sekolah guna menjemput putra nya, ia datang lebih cepat karna tak ingin membuat putra nya menunggu.
Walaupun sangat sulit bagi nya untuk keluar dari mansion dan menjemput putra nya namun ia sudah membayar bayaran nya di malam hari.
"Mereka sudah pulang tiga jam yang lalu?" tanya Ainsley yang heran saat melihat ruang tunggu anak dan tempat bermain anak-anak tidak ada.
"Benar nyonya, mereka sudah kembali tiga jam yang lalu." jawab salah satu penjaga di tempat itu.
Raut wajah panik mulai terlihat jelas di mata cantik itu, ia pun langsung menelpon ponsel putra nya.
"Dimana nak?" tanya nya dengan panik saat panggilan nya tersambung.
"Di lual Mom," jawab Axel dengan polos nya dari telpon.
"Mommy udah di sekolah, Axel di mana?" tanya Ainsley lagi terkejut.
"Iya, Mom! Axel balik!" jawab nya segara dan mematikan ponsel karna takut sang ibu memarahi nya.
...
Sean melihat anak lelaki di depan nya yang berkutat dengan ponsel nya. Ia juga mendengar kata panggilan 'Mom' di sela pembicaraan anak menggemaskan itu.
"Paman antar sampai mana?" tanya nya karna ia tau ayah anak itu tak mau putra nya bertemu dengan orang asing.
Axel sendiri yang mengatakan jika sang ayah memarahi nya saat mereka bertemu kedua kaki nya.
"Mommy baik kok! Gak bakal malah! Selius!" ucap nya tanpa rasa takut.
Sean terdiam mendengar nya, ia hanya mengikuti langkah kecil dari anak itu hingga langkah nya terhenti.
"Mommy!"
Deg!
Tak hanya iris mata nya yang bergetar namun iris mata wanita itu pun terlihat goyah.
Berbeda dengan dirinya yang mencari tau dan berusaha berpapasan dengan wanita itu walau sejenak.
Namun tidak dengan Ainsley yang sama sekali tidak mencari tau dan bahkan sangat di batasi untuk keluar ataupun bersosialisasi sehingga membuat nya bertemu dengan cinta pertama nya setelah lima tahun dan pertemuan terakhir bagi wanita itu adalah jumpa sekilas di galeri seni.
Duk!
__ADS_1
Axel langsung memeluk kaki sang ibu dengan erat, "Mommy kok melamun aja?" tanya nya dengan wajah bingung melihat sang ibu yang terdiam dan terpaku dengan pria di depan nya.