Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Awal atau Akhir?


__ADS_3

Aliran darah yang mengalir dari tangan pria itu menetes melewati pistol yang ia pegang, tak ada satupun yang masih bernyawa di ruangan penuh cairan merah kenyal itu selain dirinya.


"Tuan," panggil bawahan nya setelah menyelesaikan yang lain nya di ruangan berbeda.


"Mereka bukan dari O'Prey kan?" tanya Richard sembari mengambil sapu tangan yang di berikan Liam pada nya.


"Bukan tuan, mereka dari organisasi lain." jawab Liam pada tuan nya.


"Kenapa sekarang banyak sekali yang bertingkah," decak pria itu kesal dan melangkahkan kaki nya keluar.


Kemeja hitam yang ia pakai masih di penuhi dengan darah, walaupun tak begitu terlihat namun aroma darah begitu kuat menempel di tubuh pria itu.


"Aku rindu dengan nya," gumam nya menghela napas dengan kasar, entah sejak kapan ia berperan sebagai lem prangko yang ingin sellau lengket dengan gadis cantik yang mempu membuat nya tertarik.


"Tuan ingin menemui nona Ainsley lebih dulu?" tanya Liam saat mendengar suara kecil tuan nya.


"Tidak perlu," jawab nya cepat "Tapi apa dia sudah mati?" sambung nya saat pikiran nya teralihkan dengan Sean.


"Belum tuan, kami sudah mencari riwayat perjalanan nya dan akan segera melakukan rencana awal." jawab Liam tanpa emosi dan hanya mengikuti apa yang di inginkan atasan nya.


Richard tak menjawab ia menatap keluar jendela, dan menutup mata nya. Bayangan gadis yang selalu tersenyum ataupun menangis itu terukir dengan jelas.


Apa seperti ini rasanya suka pada seseorang?


Batin nya yang masih merasa asing dengan perasaan meluap serta menggelitik yang dapat membuat nyaman sekaligus gelisah di saat yang bersamaan.


"Apa yang Ainsley lakukan sekarang?" tanya Richard lagi pada Liam.


"Dia akan berangkat ke Spanyol besok pukul 10 pagi," jawab Liam pada tuan nya.


"Spanyol? Dia langsung kabur saat aku melepaskan nya," ucap Richard tertawa kecil membayangkan wajah gadis itu.


Hanya dengan mengingat wajah cantik dan menyejukkan itu saja sudah mampu membuat nya tersenyum.


"Apa perlu saya hentikan?" tanya Liam pada tuan nya.


"Tak perlu, biarkan saja dia dulu." ucap Richard yang bahkan tak ia sadari akan membuat nya menyesal di kemudian hari.


.....................


Kediaman utama Xavier.


Pria itu kembali ke rumah yang ia enggan untuk datangi, langkah nya terhenti saat ibu tiri nya datang tergesa, dan...


PLAK!


Satu tamparan keras melayang bahkan sebelum pria itu sempat mengelak.


"Kau! Berani sekali mengirim putra ku ke tempat seperti itu!" ucap Selena tersulut amarah.


Histon putra nya yang pertama di kirim ke wilayah Libya untuk membangun hotel sedangkan wilayah tersebut sedang ada kontroversi dengan penduduk lokal akibat proyek yang di inginkan Sation Company.


Sean menyeringai, bagi nya pembalasan dendam yang ia inginkan adalah mengambil orang tersayang musuh nya seperti yang terjadi pada nya.


Ia tak lagi bisa membuka kasus pembunuhan ibu karna masa banding yang telah habis, namun ia juga tak bisa melupakan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Bukan kah ini yang di namakan 'Menuai apa yang sudah di tanam'?" tanya Sean dengan senyuman nya yang semakin membuat Selena naik darah.


"Dasar anak haram! Kau dan ibu sama saja rendah nya!" maki wanita tersebut.


"Lalu anda punya martabat yang tinggi?" tanya Sean seakan mengejek wanita tersebut.


"Kau pikir aku punya darah manusia rendahan seperti mu?" tanya Selena dengan wajah angkuh nya, karna ia memang berasal dari keluarga ternama.


"Apa yang anda lakukan pada ibu saya, akan saya balas berkali-kali lipat!" ucap Sena dengan suara rendah namun penuh penekanan serta mata tajam yang menghunus ke ibu tiri nya.


Selena tersentak, tubuh nya membatu mendengar ucapan tersebut, ia menatap ke arah mata anak yang selalu ia anggap rendah karna lahir dari selingkuhan suami nya.


"Kalau saja anda membiarkan kami pergis Aat itu mungkin, hidup anda tak akan menjadi ancaman saat ini, sekarang anda bisa menunggu kabar dari putra kesayangan anda." ucap Sean yang seakan mengisyaratkan maksud lain.


Ia pun kembali melangkahkan kaki nya menuju ruangan sang ayah, karna alasan ia kembali ke rumah itu karna Daniel ingin berbicara pada nya.


......................


Thursday 08.16 am.


Gadis cantik itu berdiri di samping makam yang yang sudah terlihat cukup lama, ia membawakan sebuket bunga dan tersenyum dengan sorot mata yang sedih.


"Bibi, maaf aku tidak pernah datang, tapi aku mau bilang kalau bibi itu orang yang paling baik yang pernah ku temui," ucap gadis itu dengan suara serak.


Makam bibi pengasuh yang dulu nya menyayangi nya dan mengurusnya dengan sangat baik.


Namun orang yang bagi nya sangat baik itu harus di pecat oleh sang ibu dan kehilangan pekerjaan nya karna membawakan makanan untuk nya saat ia di kurung di gudang tanpa makanan dan minuman.


Fanny yang mengetahui hal itu begitu murka dan langsung memecat bibi pengasuh putri nya karna menganggap jika wanita paruh baya itu tak mematuhi perintah nya.


Dan sekarang bibi pengasuh baik hati itu telah tiada, cukup lama Ainsley berbicara sendiri tanpa adanya sahutan.


Satu-satu orang yang pernah bersikap layak nya seorang ibu untuk nya.


...


Bandara Charles de Gaulle.


Gadis itu sudah sampai di bandara internasional Prancis, ia sudah menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.


Ia sudah mengunjungi makam bibi pengasuh nya di pagi hari dan segera ke bandara setelah nya.


Gadis itu melihat tiket nya sejenak dan membuang napas nya dengan berat, gadis itu menutup mata nya sekilas dan melanjutkan langkah nya ke guna memasuki pesawat yang akan ia tumpangi.


"Sekarang aku bisa memiliki hidup ku sendiri kan?" gumam nya saat menatap ke jendela pesawat yang belum berjalan ataupun mengudara tersebut.


"Sekarang kita cuma berdua, jangan rewel yah sayang..." ucap nya lagi sembari mengelus perut nya yang masih rata.


Ia tak tau apakah bisa menjadi orang tua yang baik atau tidak, namun setidak nya ia ingin mencoba dan tak akan menjadi orang tua Ayah dan Ibu nya.


......................


Sementara itu.


Mata Sean membulat mendengar penuturan sekertaris nya.

__ADS_1


Sekertaris Jhon belum memberikan informasi tentang gadis itu yang ke rumah sakit dan berniat mengugurkan kandungan nya.


"Astaga!" ucap Sean memijat pelipis nya, ia pun beranjak bangun dan mencoba menghubungi Ainsley.


Tak ada jawaban sama sekali karna gadis itu sudah mematikan ponsel nya sejak ia dari makam bibi pengasuh nya.


Sean pun bergegas dan mengambil kunci mobil nya, ia berencana untuk segera menyusul gadis itu sebelum sempat pergi dan meminta penjelasan.


Ia mengendari mobil mewah nya menuju bandara tanpa tau seseorang sudah mengintai nya dan menunggu saat yang tepat.


Sean masih mengalihkan fokus nya ke jalanan hingga ia merasakan benturan yang teramat keras dan suara yang memekakkan telinga nya.


BRAK!!!


CKIT!!!


Suara benturan keras yang terdengar hingga seretan yang membuat mobil mewah tersebut menggelinding dan melayang di udara.


Truk yang bukan nya berhenti dan mendekat namun semakin memundurkan kemudi nya lalu kembali menabrak serta menyeret mobil tersebut.


Airbag mobil mewah tersebut langsung menyala namun bukan berarti pengemudi nya baik-baik saja saat mobil nya terguling dan bahkan di seret hingga hampir tak berbentuk.


Pandangan nya menggelap tubuh nya tenggelam dalam bantalan airbag namun tetap merasakan terpelanting dan luka akibat seretan yang bahkan hampir menghabiskan bentuk mobil mewah tersebut.


Pikiran nya kosong, seluruh tubuh nya merasakan sakit yang luar biasa, namun bayangan tentang gadis cantik yang tersenyum hangat padanya dan serta kenangan manis bersama gadis itu terputar di kepala nya sejenak.


Ainsley?


Jangan pergi, tetap disana aku yang akan datang...


Aku tidak mengantuk, tapi kenapa rasa nya mata ku ingin terpejam?


......................


Sementara itu.


Pesawat yang terguncang akibat terkena cuaca buruk yang bahkan tak disangka karna datang tiba-tiba.


Getaran dan guncangan yang semakin hebat hingga membuat kendaraan terbang tersebut mulai menungkik ke bawah saat salah satu panel nya terlepas.


Semua penumpang begitu takut namun para pramugari dan pramugara berusaha tetap tenang sembari memberi perintah memakai alat penyelamat dan menghirup tabung oksigen yang di keluarkan.


Rasa panas dan tanpa udara semakin di rasakan, pesawat tang terus terguncang dan menekankan oksigen hingga semburat cahaya terang panas berwarna merah itu datang bergemuruh menyapu seisi nya.


DUAR!!!


Ledakan besar di udara tanpa sempat mendarat darurat dan menjatuhkan puing-puing nya ke lautan biru dan dalam di bawah nya.


...


Tubuh dingin berselimut cairan merah kental dan tak lagi bergerak itu terlihat tak akan selamat sama sekali.


Corak merah yang terus memberi warna keluar tanpa memandang ia akan habis atau tidak.


~

__ADS_1


Kalau aku punya kesempatan aku ingin melupakan segala nya....


__ADS_2