
Kediaman utama keluarga Sean.
Brak!
"Kau tak punya hati?! Pertama kau membawa anak haram ini! Dan sekarang putra mu baru saja meninggal kau mau memberi posisi resmi?!" teriak Selena menggema di ruangan suami nya.
"Aku memang ingin melakukan nya, tak ada yang salah dia kan memang putra ku." ucap Daniel pada wanita di depan nya.
"Histon dan Danny juga putra mu, tapi mereka berbeda karna bukan si jal*ng itu kan yang melahirkan nya?!" tanya Selena dengan penuh penekanan.
"Keluar, kalau sudah selesai bicara." jawab Daniel dingin pada wanita di depan nya.
Selena berdecak kesal dan keluar dari ruangan kerja suami nya.
"Irine, dia punya nama." ucap Daniel sebelum sang istri keluar dari ruangan nya.
Langkah wanita ia terhenti sejenak, hal yang membuat nya sangat membenci Irine adalah wanita itu tidak perlu melakukan segala cara untuk menarik perhatian Daniel sedangkan ia harus menggunakan cara.
Perbedaan diri nya dan Irene yang merupakan ibu Sean membuat nya iri, ia tau wanita itu sangat ingin pergi dan terlepas dari status simpanan serta membawa putra nya pergi namun ia tau Daniel tak akan pernah melepaskan wanita itu.
"Kau tau kenapa dia mati? Dia mati karna mu!" ucap Selena sebelum pergi keluar.
Ia dulu memang mencintai pria itu secara sepihak dan menggunakan segala cara untuk menikah dengan Daniel namun kini rasa cinta sudah berubah menjadi benci saat rasa kesepian nya terus bertambah.
Daniel diam sejenak, ia tau jika Irene tak mungkin meninggal bunuh diri karna sangat menyayangi putra nya, dan mungkin saja istri nya terlibat dalam kematian wanita yang ia cintai namun ia tetap menutup hal itu karna tak ingin Sation terkena dampak nya.
Sean yang malam itu kembali ke kediaman utama nya karna sang ayah memanggil nya pun berpapasan dengan Selena.
"Jangan merasa menang," decak Selena pada pria itu.
"Aku tak merasa begitu karna aku memang pemenang nya sejak awal," ucap Sean pada ibu tiri nya.
Sean pun melewati wanita itu begitu saja, ia tak ambil pusing karna masalah nya saat ini adalah mencari tau kematian ibu nya dan membuat gadis nya tetap berada di sisi nya.
......................
Sean menelpon Ainsley dan meminta untuk bertemu dengan nya lagi, dan gadis itu pun menyetujui nya dan bersepakat bertemu di salah satu restoran.
Hening...
Belum ada satupun yang memulai percakapan diantara kedua nya, hingga Sean mulai membuka suara.
"Maaf..." ucap nya sembari menatap lekat ke arah mata gadis di depan nya.
"Bukan, aku yang harus nya minta maaf, aku tak bisa Sean...
Aku butuh waktu sendiri..." jawab Ainsley lirih.
__ADS_1
"Aku minta maaf untuk apa yang sudah ku lakukan dan yang akan ku lakukan, aku benar-benar bersungguh-sungguh." ucap Sean pada gadis itu.
Ainsley mengerutkan dahi nya ia tak mengerti namun pria itu menatap nya dengan begitu erat dan tulus walaupun tersimpan rencana tersembunyi dari balik mata pria itu.
"Aku mencintai mu, aku janji tak akan menyakiti mu seperti dulu lagi," sambung Sean pada gadis itu.
"Seperti dulu? Berarti kau tau aku terluka kan? Kenapa masih melakukan nya?" tanya Ainsley pada pria itu.
"Karna aku tak bisa kehilangan mu, antara melihat mu terluka dengan kehilangan mu aku lebih memilih melihat mu terluka," jawab Sean sembari membuang nafas nya dengan kasar.
"Aku mencintai mu, benar-benar membuat ku gila sampai tak ada yang bisa ku pikirkan selain kau." sambung Sean lagi dengan tatapan nya yang berubah sendu.
"Sean...
Masih banyak yang lebih baik dari aku..." ucap Ainsley lirih saat melihat wajah pria itu.
Dada nya terasa sakit namun ia juga sangat ragu untuk memulai hubungan nya lagi.
"Bagi ku yang terbaik itu kau, aku egois dan aku tau itu." jawab Sean pada Ainsley.
Ainsley tak menjawab namun ia meminum mocca latte di depan nya, sudut mata pria itu mengikuti alur minuman yang di minum oleh gadis di depan nya.
"Ainsley? Kau membenci ku?" tanya Sean tiba-tiba.
"Tidak, aku tak membenci mu. Aku hanya tak bisa untuk kembali seperti dulu lagi," jawab Ainsley.
Ainsley menggeleng pelan sembari menatap wajah pria didepan nya, "Bukan, aku perlu memahami perasaan ku Sean."
"Kalau begitu sudah cukup, aku mencintai mu maka dari itu maafkan aku." ucap Sean sekali lagi.
Ainsley bingung namun ia langsung memilih mengalihkan pembicaraan dan dirinya yang ingin mengakhiri pertemuan mereka.
"Aku pergi dulu," ucap gadis itu sembari mengambil tas nya dan mulai berdiri.
Sean diam tak menjawab namun menatap gadis itu.
Ainsley yang baru berjalan beberapa langkah pun, mulai terasa pusing, pandangan nya mengabur, indra pendengaran nya menurun dan apa yang ia lihat berputar bagai pusaran air laut lalu sedetik kemudian semua menjadi gelap.
Bruk!
Tubuh kecil gadis itu terjatuh, Sean yang awal nya masih duduk di bangku nya pun segera mendatangi nya dan merengkuh tubuh gadis itu.
"Maaf...
Tapi tak ingin kehilangan mu..." ucap nya lirih sembari mengendong gadis itu.
......................
__ADS_1
Mansion Sean.
Ainsley mulai terbangun, pandangan nya masih mengabur menatap apa yang ada di depan nya namun ia dengan segera sadar di mana ia berada.
Sean!
Batin nya yang langsung mengenali dekorasi kamar tersebut karna ia dulu sering menginap di mansion tersebut.
Ainsley pun langsung bangun dan beranjak ingin turun lalu pergi, namun...
Bruk!
Tubuh nya terjatuh, ia merasa seperti ada yang mengikat satu kaki nya hingga ia tak bisa lari kemanapun.
"Rantai?" gumam nya menatap rantai yang mengikat kaki nya bagai hewan.
Tak lama kemudian pun terdengar suara pintu terbuka dan membuat Ainsley menatap ke arah suara tersebut.
"Astaga! Kau jatuh?! Tak apa-apa?" tanya Sean yang terkejut sembari langsung menghampiri gadis itu.
"Sean? Ini apa?" tanya Ainsley lirih dan memelas sembari memegang rantai di kaki nya.
"Maaf..." hanya itu lah yang keluar dari bibir pria itu.
"Kenapa seperti ini Sean?" tanya Ainsley lagi dengan lirih.
"Aku tak bisa kehilangan mu! Aku...
Benar-benar gila kau pergi meninggalkan ku juga..." jawab Sean pada gadis itu.
Plak!
Tanpa sadar Ainsley memukul wajah pria di depan nya, "Pergi!" teriak nya menggema di seluruh kamar besar tersebut.
Sean diam tak membalas tamparan gadis di depan nya, ia membiarkan gadis itu melampiaskan amarah karna menurut nya ini lebih baik dari pada harus di tinggalkan.
Buk! Buk!
Tangan kecil itu memukul kuat dada bidang di depan nya dengan keras dan berulang kali, namun Sean tak begitu merasakan pukulan yang baginya tak ada rasa apapun itu.
"Jahat! Aku membenci mu!" ucap Ainsley sembari memukuli dada bidang pria di depan nya.
Air mata gadis itu luruh dan terus memukul sembari terus mengatakan jika ia membenci pria di depan nya dengan sangat.
Sean menangkap satu tangan kecil itu guna menghentikan pukulan nya dan memaksa pelukan nya.
"Maaf...
__ADS_1
Aku tak bisa kehilangan mu, aku janji tak akan memukul mu lagi..." ucap Sean dengan suara bergetar dan lirih sedangkan gadis itu masih menangis dalam pelukan nya.