Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Aku harus menemui mu


__ADS_3

Malam yang panjang akhirnya berlalu, walaupun kondisi pria itu sempat menurun drastis tiba-tiba namun tak hanya sampai disitu saja kejutan yang datang.


Sean tiba-tiba membuka matanya, walaupun hanya terjadi beberapa saat namun para dokter segera mencari tau alasan nya dan berusaha kembali menyadarkan pria itu lagi.


"Kapan putra ku akan sadar? Bukan nya sudah terlalu lama seperti ini?" tanya Daniel pada para dokter.


"Kondisi nya mulai stabil, kami akan coba membangunkan malam ini, tapi jika masih tak ada perubahan kita bisa menunggu hingga satu Minggu ke depan." ucap salah satu dokter pada Daniel yang terlihat risau.


Daniel membuang napas nya kasar lalu kembali menatap pada para dokter, "Dia akan selamat kan? Dia akan tetap baik-baik saja kan?"


Para dokter diam sejenak karna mereka tau jika harus ada serangkaian tes yang di lakukan setelah sadar untuk mengetahui kondisi pemulihan pria itu.


"Bisa saja mengalami kecacatan permanen atau mungkin hanya kondisi tubuh yang tidak di gunakan selama 6 bulan lebih, kita akan tau pastinya setelah pasien tersadar." jawab sang dokter.


Daniel hanya mengernyit kepala nya terasa sakit karna memikirkan putra nya yang tak kunjung bangun dari koma.


......................


Mansion Zinchanko.


Masih tak ada perkembangan tentang gadis itu selain beberapa barang yang di miliki Ainsley.


"Tuan, sebaik nya anda berhenti minum..." ucap Liam saat melihat tuan nya yang selalu menggunakan alkohol untuk tertidur di malam hari.


"Dia suka wine, tapi aku sedang tidak minum wine hari ini, apa menurut mu dia baik-baik saja?" Richard yang balik bertanya dengan tatapan kosong nya, ia tak tau jika menyukai seseorang hanya akan memberi kehampaan saat tidak bisa menggenggam nya.


"Sisa dari organisasi pendukung O'Prey seperti nya kembali membentuk aliansi, Apakah tuan ingin membereskan nya?" tanya Liam yang mengalihkan pembicaraan segera.


Richard tertawa kecil, ia menyisir rambut nya kebelakang dengan jemari nya, "Aku akan bereskan tikus kecil sialan itu."


Liam mengangguk dan mulai mengambil minuman Richard, ia tak mau membiarkan tuan nya terus terlena dengan alkohol dan nantinya akan merusak tubuh tuan nya.


Richard membiarkan Liam mengambil minuman nya, ia pun mulai beranjak bangun dan berjalan ke balkon kamar nya.


Merasakan hembusan malam yang terasa sejuk menyapu wajah nya, pria itu membuang nafas nya dengan berat, ia sama sekali tidak tau jika menyukai seseorang hanya memerlukan waktu singkat namun menjerumuskan perasaan nya begitu dalam.


"Sial! Apa harus seperti ini rasanya menyukai mu? Kau di mana?" gumam nya tertawa pahit.


Pria itu memejam, ia sangat ingin mengulang waktu dan mengurung gadis itu dalam mansion nya tanpa berpikir untuk melepaskan nya.


......................


Kediaman Belen.


Fanny kali ini beranjak dari ranjang nya, wajah yang dulu begitu ia rawat kini tampak lesu karna mulai depresi atas kehilangan putri nya, perasaan menyesal yang begitu ia rasakan karna membuat tubuh mungil menggemaskan itu penuh dengan luka.


Tawa yang harusnya cerah selalu ia ubah menjadi suara rintihan sakit dan tangisan pilu.


"Kau sudah menemukan Ainsley?" tanya Fanny pada Michele.


Ia langsung mendatangi pria itu keruangan kerja nya.

__ADS_1


"Belum, tapi bukan nya ini yang kau inginkan?" tanya pria itu menatap ke arah wanita yang raut wajah nya telah hilang karna larut dalam kesedihan dan penyesalan.


"Aku..." jawab Fanny tercekat.


"Sekarang kau mau bersikap seperti ibu pada nya?" tanya pria itu lagi menatap wajah lesu istrinya.


Fanny tersentak namun ia tetap merasa tidak adil atas perkataan yang di lontarkan pria itu padanya, "Lalu kau bersikap seperti ayah? Kau sendiri yang membiarkan aku menyiksa nya kan? Kalau kau memang ayah nya bukan nya seharusnya kau melindungi nya?"


Michele terdiam, ia memang membiarkan nya dan menutup mata serta telinga nya atas apa yang di lakukan istri nya pada putri nya.


"Tapi tetap saja kau itu kan ibu nya!" jawab Michele menyentak pada Fanny.


Fanny membuang wajah nya dengan raut tak suka, "Kalau kau bukan ayah nya aku mungkin menyayangi nya! Dasar pembunuh!"


Michele tak bisa membantah hal tersebut karna memang ia lah yang dulu menghancurkan keluarga wanita di depan nya, membunuh suami wanita itu lalu menjebak nya hingga mengandung putri dari benih yang ia berikan.


"Kita bercerai saja, sekarang kau sudah tak punya alasan lagi kan?" ucap Fanny karna dulu Michele menahan nya dengan ancaman akan menghancurkan reputasi keluarga dan mengatasnamakan putri kecil nya yang membutuhkan seorang ibu.


"Tidak! Tetap tidak bisa! Ainsley anak itu masih hidup! Aku akan mencari nya!" sanggah pria itu langsung.


"Kalau begitu bawa dia pada ku! Kau bisa membawa nya?!" teriak Fanny dengan tangisan nya.


"Dia masih hidup...


Aku yakin, dia..." ucap Michele lirih, ia juga tak yakin apakah putri nya masih hidup atau tidak.


Ia melihat ke arah wanita di depan nya, wanita yang dulu nya mati-matian ingin bercerai setelah mengetahui bahwa ia adalah dalang di balik kematian pria yang di cintai wanita itu.


"Kau mau pergi dengan ku besok? Aku akan mengunjungi laut di mana pesawat nya jatuh," ajak Michele pada istri nya dengan lirih.


Fanny menengadah dengan mata sembab nya, "Tidak mau, kenapa kita kesana? Ainsley masih hidup kan? Iya kan? Kau bilang tadi dia masih hidup...


Aku...


Aku belum memeluk nya..."


Michele diam ia tak bisa mengatakan apapun, ia juga sadar jika selama ini ia tak pernah menatap putri kecil nya ataupun memeluk nya sekali saja.


......................


2 Minggu kemudian.


Sean terbangun 8 Hari yang lalu, walaupun ia kini masih menjalani terapi untuk kembali bisa menggerakkan semua otot-otot nya namun kini ia mulai dapat berbicara.


Ingatan nya samar tentang kecelakaan nya namun semakin menguat karena hal itu hanya efek dari tidur panjang nya.


Ia masih belum mengetahui tentang kecelakaan gadis itu, dua hari setelah ia mulai dapat bicara pria itu mencari ponsel nya.


Walaupun ia masih linglung karna tak sadar untuk waktu lama namun ia ingat dengan tujuan nya sebelum kecelakaan.


"Sekarang aku bisa mengambil ponsel ku?" tanya nya pada sang ayah yang menunggu nya.

__ADS_1


Daniel menghela napas nya, kini ia memang harus memberikan nya pada pria itu, karna pemulihan yang setidak nya sudah lancar berbicara walaupun masih belum bisa berjalan ataupun bergerak dengan leluasa.


"Papah yang mengganti ponsel mu karena sudah hancur tapi semua kontak mu ada disana," ucap Daniel sembari memberikan ponsel baru.


The number you are calling is busy, please try again a few minute


Sean mengerutkan dahi nya, sebanyak apapun ia menelpon gadis itu tak ada panggilan nya yang terjawab sekali pun.


Ia kembali menelpon dan terus menelpon, "Apa dia mengganti nomor nya?" gumam nya lirih.


"Siapa yang kau hubungi?" tanya Daniel pada putra nya.


Sean hanya melirik tanpa menjawab, ia tak suka melihat ayah nya, baginya karna pria yang ia panggil Ayah itu ia kehilangan ibu nya.


"Kenapa anda disini? Bukan nya anda sedang sibuk?" tanya Sean tanpa menjawab pertanyaan sang ayah.


"Papah, ke sini memeriksa keadaan mu dulu." jawab Daniel canggung, ia memang tak bisa menyempatkan ataupun mendekat pada putra nya setelah kematian Irine.


"Baru sekarang? Bukan nya anda tidak pernah peduli dengan saya? Saya kan cuma anak yang lahir di luar nikah," ucap Sean menyindir ke arah pria tersebut.


Ia tau semenjak kematian ibu nya pria yang ia panggil ayah itu menjauh dari nya, bahkan berpura-pura tidak tau setiap kali ia diganggu oleh anak-anak Selena yang tak lain kakak tiri nya, dan ia menganggap jika kasih sayang ayah nya sudah tak ada lagi semenjak ibu nya meninggal, dan status yang tersisa di mata ayah nya hanyalah 'Anak Haram'


"Bukan, aku tidak pernah menganggap mu seperti itu!" sanggah Daniel langsung, ia juga bingung bagaimana meluruskan kesalahpahaman yang terbentuk selama bertahun-tahun antara ia dan putra nya.


"Apa anda tau? Ibu saya tidak bunuh diri, dia tidak berniat sama sekali untuk mati," tanya pria itu menatap ayah nya.


Daniel tersentak, ia menghindari kontak mata pada putra nya, karna ia dulu memang curiga namun ia memilih tak mencari tau lebih dalam.


Sean menghela napas nya dan tertawa pahit melihat reaksi sang ayah, "Baik sekarang maupun dulu anda tidak pernah melindungi kami, jadi aku juga sudah belajar untuk bertahan tanpa anda."


"Tidak, kali ini Papah akan melindungi mu! Kematian Irene ataupun kecelakaan mu sudah Papah atasi!" ucap Daniel pada putra nya.


"Saya sudah menghabiskan waktu di mana saya sangat membutuhkan ayah, sampai saya sudah terbiasa untuk tidak merasa memiliki ayah lagi, jadi bersikap seperti biasanya saja, jangan berubah menjadi seperti orang lain." jawab Sean pada sang ayah.


Daniel hanya tersenyum getir mendengar nya, tapi ia tau jika sikap nya selama ini memang membuat nya menjauh dari putra nya, walaupun sejak dulu maupun sekarang ia masih dan tetap menyayangi putra nya, namun dengan sikap yang tak mencerminkan kasih sayang sama sekali.


"Saya ingin bertemu sekertaris saya, seharusnya dia masih orang saya, kan? Walaupun saya sudah tidak sadar cukup lama?" tanya Sean setelah melihat raut wajah sang ayah berbeda.


"Lakukan sebulan pemulihan mu setelah itu Papah akan kirim sekertaris Jhon lagi untuk bertemu dengan mu," jawab Daniel dan mulai beranjak pergi.


"Oh iya, Sekarang kau Pemilik Sation grup setelah pulih Papah akan lakukan pelantikan mu," ucap Daniel sebelum keluar ruangan.


Sean diam tak membalas apapun, ia saat ini masih risau karna gadis nya tak lagi bisa di hubungi, ia juga masih belum mendapat kabar tentang kecelakaan pesawat 6 bulan yang lalu sama sekali.


Sekarang kau dimana? Kau sudah tak mau mengangkat telpon ku lagi?


Kenapa pergi setelah mengandung?


Kenapa tidak menjelaskan apapun?


Aku harus menemui mu...

__ADS_1


__ADS_2