Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Aborsi?


__ADS_3

Apart Winter Garden.


Ainsley sudah kembali ke apart nya setelah dua minggu dan luka nya membaik.


Seperti biasa ia langsung berusaha menghilangkan bekas luka di tubuh nya menggunakan beberapa perawatan yang di perlukan bahkan jika harus ke dokter kulit.


Karna tak mungkin ia tak menghabiskan jutaan dolar untuk kulit yang mulus setelah sang ibu memukuli nya sejak kecil.


Konsultasi nya tetap berjalan, walaupun ia sempat menghilang selama dua Minggu. Gadis itu mulai semakin sering muntah di pagi hari dan makan di malam hari.


Wajah nya pun sering pucat dan mudah merasa lelah.


"Apa aku priksa saja?" gumam nya lirih setelah muntah di pagi hari lagi.


......................


Universitas.


"Ainsley?" panggil Vindi saat melihat gadis itu yang memakan sesuatu tidak pada porsi yang biasa.


"Hm?" jawab gadis itu sembari melihat ke arah teman nya.


"Kau hamil?" tanya Vindi frontal hingga membuat gadis itu begitu terkejut.


Ia merasa teman nya sedikit berbeda, walaupun ia belum pernah sampai mengandung biarpun selalu memiliki cara interaksi yang sangat bebas, namun ia bisa tau karna banyak teman nya yang lain sudah mengalami hal serupa.


"Vindi! Kenapa bilang begitu sih?!" tanya gadis itu kesal.


"Habis nya sih," jawab Vindi sembari menaikkan bahu nya.


"Habis nya kenapa?" tanya Ainsley cepat.


"Kau tidak seperti biasanya saja," jawab Vindi sekedar nya.


"Jangan bilang begitu!" jawab Ainsley karna ia memang tak ingin hal seperti itu terjadi padanya.


"Mana tau, lagi pula pasti pacar mu itu bisa langsung menikah dengan mu, kan?" goda Vindi dengan tawa nya, "Eh, tapi dia kenapa tidak kelihatan lagi?"


Gadis itu bingung karna kekasih teman nya tak lagi terlihat, "Dia di luar negeri lagi?" tanya nya sembari menatap wajah teman nya.


"Kami sudah putus, jadi..." jawab Ainsley lirih.


"Maaf..." jawab Vindi lirih dan tak menanyakan apapun lagi pada sahabat nya.


......................


Hari semakin berlalu, berat badan yang terus naik dengan pola makan yang teratur serta kondisi yang selalu kurang sehat membuat Ainsley akhirnya memutuskan untuk memeriksa diri nya.


Ia sudah meminum vitamin untuk menjaga stamina nya namun tetap saja ia seperti tak stabil.


Deg!


Mata nya terbelalak, dengan tangan yang gemetar memegang surat hasil pemeriksaan nya.

__ADS_1


"Bi-bisa lakukan pemeriksaan ulang lagi?" tanya nya lirih pada dokter yang berada di depan nya.


Dokter tersebut pun melihat dan memperhatikan wajah terkejut gadis itu, bukan tak sedikit gadis muda yang sama saat menghadapi situasi dengan makhluk lain di dalam diri nya namun tak di inginkan.


"Baik, silahkan ikut perawat nya." ucap dokter wanita berambut pendek tersebut.


Pemeriksaan ulang pun di laksanakan dan memiliki hasil yang sama. Ainsley tak dapat lagi mengatakan apapun dan kembali ke apart nya segera.


Sang dokter pun mengatakan beberapa kata sebelum ia kembali, karna melihat wajah yang benar-benar terkejut tak seterkejut gadis lain nya yang pernah ia temui.


......................


Apart Winter Garden.


Gadis itu meringkuk dalam tempat tidur nya sembari menjatuhkan bulir bening nya.


Bingung, gelisah, takut...


Perasaan yang berbaur menjadi satu, tangan nya kembali melihat USG dari kandungan nya yang masih berumur 7 Minggu.


Ia baru sadar jika selama ini ia tak pernah meminum KB darurat ataupun memakai pengaman jika tak ingin membuat nya menghadirkan makhluk lain di dalam diri nya.


Namun apa?


Sekarang semua sudah terjadi hingga ia tak lagi bisa mengatakan kata 'Andai'


Aku harus bagaimana?


Aku takut, aku tak bisa ingat dengan siapa.


Paman?


Apa aku harus menghubungi Sean tapi bagaimana kalau anak ini bukan milik nya?


Atau aku harus bilang paman? Tapi paman kan sudah membuang ku? Kalau paman marah dengan Sean aku harus gimana?


Kenapa anak ini harus ada? Aku tidak mau!


Aku tidak mau anak ini!


Gadis itu tertidur dalam tangis nya yang panjang, ia tak bisa memikirkan apapun, ia mulai marah pada pria yang meniduri nya lalu marah pada diri nya sendiri yang bodoh.


Hingga kemarahan mulai menyalahkan makhluk kecil tak berdosa tersebut yang tumbuh dalam perut nya tanpa ia inginkan.


...


Setelah hari dimana ia mengetahui tentang kehamilan nya gadis itu mulai bersikap tergesa-gesa.


Ia memakan nanas bahkan membeli beberapa pil penggugur kandungan dan meminum nya.


Mental nya belum siap dan stabil untuk menghadapi situasi seperti ini hingga membuat nya tak bisa berpikir dengan sehat.


Psikologis nya kembali terguncang dengan kehamilan yang tak pernah ia inginkan, ia bahkan bingung siapa ayah anak yang ia kandung.

__ADS_1


Rasa bingung yang membuat akal nya terasa ingin hilang dan melenyapkan bagi nya yang menjadi suatu masalah.


"Kenapa masih belum hilang juga? Kenapa kau masih hidup? Hm?" tanya nya sembari melihat ke perut nya.


Setelah meminum pil penggugur nya dalam beberapa hari ia kembali memeriksakan nya, dan kandungan nya masih baik-baik saja.


"Aku tidak bisa jadi ibu mu, kau hanya akan menderita punya orang tua seperti ku? Kenapa harus datang pada ku?" tanya nya sembari mulai memukuli perut nya dengan kedua tangan kecil nya.


Air mata nya luruh, ia menangis dan kebingungan sendirian, ia takut mengatakan hal tersebut pada siapapun termasuk teman ataupun kelurga yang tak pernah memperdulikan nya.


....


Rumah sakit.


Gadis itu pun akhirnya membuat keputusan yang final dengan cara mengugurkan kandungan yang berada di perut nya sesuai dengan prosedur aborsi.


Ia duduk sembari menunggu nama nya di panggil, mata nya mengarah pada anak-anak kecil yang tak jauh dari nya.


Anak-anak yang tersenyum dengan cerah serta orang tua yang mendampingi nya.


Mata nya mengarah kembali ke perut nya dan mengusap perlahan, ia juga ingin seperti itu.


Memiliki anak dengan pria yang ia cintai dan membangun hidup serta keluarga nya.


"Maaf, aku tidak bisa membawa mu..." gumam nya yang tanpa sadar sembari menjatuhkan bulir bening di mata nya.


Ia bahkan tak di temani siapapun saat pergi untuk melakukan prosedur aborsi pada kandungan nya, hingga nama nya terpanggil dan ia pun dengan cepat menghapus air mata nya.


"Kenapa anda ingin melakukan aborsi?" tanya sang dokter pada gadis yang datang sendiri dengan raut gelisah tersebut.


"Saya tak menginginkan nya," jawab Ainsley singkat sembari terus menunduk.


"Kami akan priksa usia kandungan nya lebih dulu," jawab sang dokter setelah mendengar alasan gadis muda tersebut.


Usia kandungan yang di legalkan untuk aborsi adalah kandungan masih berumur 10 Minggu dan setelah lewat dari 10 Minggu maka hal tersebut tak boleh di lakukan kecuali membahayakan nyawa sang ibu.


Ainsley mengangguk ia mengikuti prosedur yang berjalan, namun hati nya terus tak tenang.


Antara yakin dan ragu untuk benar-benar melenyapkan makhluk tak berdosa tersebut yang bersemayam dalam diri nya.


Apa aku sudah benar?


Anak ini juga tak akan bahagia jika dengan ku, aku tidak mau dia jadi seperti ku...


Aku takut...


...****************...


Oh iya othor mau bilang sekali lagi kalau ini latar luar dan pakai negara Prancis yah.


Dan setau othor kalau misal nya peraturan nya belum berubah, Prancis negara yang melegalkan aborsi, selagi masih dalam usia kandungan 10 Minggu.


Jadi walaupun si Ainsley nya ke rumah sakit dia gak ke rumah sakit ilegal atau abal-abal yah wkwkwk

__ADS_1


See you😘♥️


__ADS_2