
Mansion Sean
Pria itu kembali setelah seseorang merusak harinya, sekertaris Jhon mengikuti langkah nya dari belakang dan mulai memberikan berkas yang ia pegang setelah melihat pria itu duduk di meja kerja nya.
Pria itu melihat beberapa berkas yang ada di depan nya dan memilah yang mana yang berhak untuk mendapatkan persetujuan tanda tangan nya.
"Aku lupa memberi tau sesuatu, soal Marilyn cari tau apakah dia pura-pura hamil atau ounya kekasih lain." Sean yang mengatakan nya sembari memberikan salah satu berkas di tangan nya.
"Kenapa anda tiba-tiba tertarik dengan nona Marilyn?" tanya sekertaris Jhon mengernyit.
"Dia hamil," jawab Sean singkat.
"Lalu?" tanya pria itu bingung dengan hamil dan apa hubungan nya dengan pria yang ia layani.
"Tapi dia bilang itu anak ku," jawab Sean dengan acuh tak acuh.
Sekertaris Jhon sontak terkejut ia tau tuan nya bisa menghamili wanita lain setelah menjalani menjalani vasektomi selama beberapa bulan lalu setelah kembali dari Kanada tempat di mana ia membangun impian mantan kekasih nya dan melepaskan cinta nya.
"Mustahil," ucap pria itu mengernyit, "Anda tidak menyangkal nya? Atau mengatakan kalau sudah..."
"Untuk apa? Justru bagus kan? Aku bisa manfaatkan situasi nya agar si tua itu tidak menyuruh ku kencan lagi." jawab Sean tersenyum.
Ia tau pasti nya sang ayah akan jera jika tau wanita yang berusaha ia jadikan menantu malah menipu nya mentah-mentah.
"Anda ingin memberitahu nya saat kapan?" tanya sekertaris Jhon.
"Dia pasti akan memberitahu kehamilan nya, jadi aku akan mengatakan nya di pesta tunangan kami," ucap Sean tersenyum.
"Kapan anda berencana mengembalikan nya?" tanya sekertaris Jhon.
Sean diam sejenak, ia memang menjalani proses vasektomi saat ia mengatakan ingin melepaskan mantan kekasih nya.
Pria itu menjalankan prosedur tersebut karna tak ingin adanya kemungkinan bisa menghamili wanita secara tak sadar karna ia sering datang ke club' malam setelah hari dimana hubungan nya benar-benar berakhir.
Dan ia sendiri pun tau tempat macam apa itu, walau mungkin tak ada niatan berc*nta dengan wanita seperti itu namun bisa saja ia melakukan nya dalam keadaan mabuk.
"Kapan yah? Setelah Ainsley bercerai dan menikah dengan ku?" tanya Sean dengan senyuman pahit nya.
"Tuan?" tanya sekertaris Jhon dengan wajah yang tampak risau dan sedikit kesal.
Sean tertawa melihat nya, "Aku hanya bercanda."
Ia masih tersenyum saat sekertaris nya masih ada dan saat pria itu menghilang di balik pintu senyuman nya hilang pudar menghilang.
Sean menarik napas nya dengan pelan sembari memejamkan mata nya. Ia juga berusaha untuk melupakan namun entah mengapa hal itu semakin membuat nya tersiksa.
"Apa aku pindah saja?" gumam nya lirih.
Ia ingin pindah dari mansion nya karna baginya masih banyak kenangan tentang mantan kekasih nya di setiap ruangan namun saat ia benar-benar ingin melakukan nya ia juga secara bersamaan tak ingin kenangan itu menghilang.
"Harusnya aku datang saja ke pesta nya waktu itu," sambung nya tersenyum pahit.
Pria itu tak lagi melihat wajah polos dari mantan kekasih nya sejak hari pernikahan hingga sekarang dan tentu nya hal ini membuat nya ingin kembali melihat wajah itu walaupun ia harusnya tak memiliki perasaan seperti itu lagi.
......................
Satu minggu kemudian.
Mansion Zinchanko
Richard perlahan membuka mata nya, ia melhat pelukan nya yang kosong tak ada wanita itu di samping tempat tidur nya.
Ia pun mengusap mata nya yang masih kabur dan mulai bangun.
"Kau mau kemana?" tanya nya dengan suara parau saat bangun dari tidur nya.
"Ada pertemuan hari ini," jawab Ainsley singkat sembari mengikat rambut nya ke belakang.
Pria itu diam melihat leher jenjang yang berlapis kulit seputih susu itu. Ia pun bangun dari duduk nya dan mendekat.
"Leher mu terlalu kosong," ucap pria itu sembari menyentuh pundak wanita di yang tengah duduk di depan meja rias tersebut.
"Aku perlu pakai kalung?" tanya Ainsley sembari melirik ke atas dari cermin melihat pantulan pria itu yang berdiri di belakang nya.
"Bukan, Bukan kalung." jawab pria itu sembari menunduk dan mengigit leher putih nan jenjang itu hingga meninggalkan bekas kecupan berwarna merah.
Auch!
Ainsley tersentak ia secara refleks langsung menghindar sembari mengapit leher nya.
"Kenapa di gigit?" tanya nya sembari melihat bekas memerah di leher putih nya.
"Seharunya kita melakukan nya semalam," jawab pria itu dengan raut yang terlihat kesal.
"Maksud nya? Ck!" Ainsley bertanya sembari ikut merasa kesal juga.
Ia pun melepaskan ikat rambut nya dan menggerai rambut nya guna menutupi bekaa ciuman yang di buat pria itu.
Walaupun ia juga sudah menutup nya dengan make up namun waktu nya tak mencukupi hingga ia bisa menutup dengan jelas bekas ciuman tersebut.
"Kau tak bisa tetap di sini saja?" tanya Richard sembari mencium aroma bunga dari rambut istri nya.
"Hari ini ada pertemuan sama dewan universitas yang lain untuk prodi yang baru sekalian mau bertemu dengan salah satu seniman untuk jadi juri," jawab Ainsley yang tak bisa mengiyakan keinginan pria itu.
"Kebutuhan mu juga pasti akan ku cukupi kalau kau tidak bekerja," jawab Richard pada wanita itu.
"Sejak awal kau juga sudah tau kan kalau aku pewaris B'One? Kenapa sekarang seperti ini?" tanya Ainsley mengernyit.
Karna hal itu bagai tanggung jawab dan tugas nya yang harus ia tanggung sejak lahir.
Richard membuang napas nya dengan kasar, Ia tau ia tak akan bisa menghentikan wanita itu untuk pergi kecuali hak waris dan otoritas yang berada di tangan istrinya di serahkan padanya.
"Aku bisa mengurusnya untuk mu," ucap nya sembari memangku tangan nya melihat istrinya.
Ainsley melirik dan mengernyitkan dahi nya menatap pria yang sudah menjadi suami nya.
"Apapun yang kau pikirkan aku tidak berniat mengambil harta mu atau menguasai nya," ucap Richard yang langsung dapat membaca tatapan wanita itu.
"Lalu?" tanya Ainsley singkat.
Masalah tentang ia yang akan mewarisi pekerjaan orang tua nya sudah di bicarakan sebelum menikah dan tentu nya ia tak bisa langsung mencegah begitu saja.
"Kau suka memasak kue kan? Kau juga harus jaga Axel kan?" tanya Richard dengan dalih nya.
"Lalu niat mu ingin menguasai ku?" tanya Ainsley lagi.
Tak ada jawaban hanya tatapan yang mengatakan jika tebakan nya adalah benar.
Ainsley membuang napas nya dengan pelan, "Aku juga bukan mau selingkuh kan? Aku tidak mau di kurung seperti waktu kita bulan madu,"
"Jangan pakai heels," jawab Richard dengan wajah yang tampak tak baik.
__ADS_1
Ainsley pun memilih sepatu yang lebih formal untuk menghindari perdebatan.
"Ganti rok mu dengan celana dan pakai blouse saja di dalam jas," ucap pria itu yang tak suka dengan tampilan cantik istrinya.
Bukan nya ia yang tak mau punya istri cantik namun jika kecantikan itu keluar tanpa ada dirinya di samping terus membuat nya was-was dan khawatir.
"Iya!" jawab wanita itu sembari membuka rok nya dan mencari celana panjang untuk ia kenakan.
Tap!
Pria itu mengikuti dari belakang dan menepuk siluet bok*ng putih wanita itu saat sampai di ruang ganti.
"Jam berapa kau pergi?" tanya nya berbisik dari samping.
"Sebentar lagi, aku buru-buru!" jawab Ainsley bergegas dan langsung menepis tangan pria itu di bok*ng nya.
Ia tau gelagat pria yang sedang menginginkan nya.
"Sudah kan?" tanya nya saat sudah menganggu pakaian dan sepatu nya mengikuti keinginan pria itu.
"Kenapa masih cantik? Hapus make up mu," ucap nya lagi saat ia merasa belum puas dengan tampilan sekarang.
"Hapus? Kau mau aku jadi bahan tertawaan?!" tanya Ainsley mengernyit.
Bukan masalah nya harus tampil cantik dengan penuh make up namun hal ini merupakan acara formal tentu nya ia pun harus tampil dengan riasan formal karna akan bertemu dengan banyak orang.
"Lagi pula kau kan juga tetap can- kalau kau tak mau kau tak bisa pergi!" ucap nya kesal dan beranjak pergi.
Blam!
Ainsley terperanjat saat mendengar suara pintu yang keras begitu pria itu keluar.
"Pam- Richard? Kau mengurung ku? Buka pintu nya! Aku tidak sedang main-main!" ucap Ainsley sembari mengetuk dan menggedor pintu kamar nya.
"Aku hapus make up! Aku hapus!" teriak nya lagi sembari berusaha membuka pintu kamar nya.
Perlahan pintu yang terbuat dari bahan yang kuat itu terbuka, "Sungguh? Mana? Kau belum hapus make up mu?"
"Dari tadi kau di sini?" tanya Ainsley yang merasa sikap pria itu terlalu kekanakan.
Tak ada jawaban dari pertanyaan nya, "Sana cepat hapus!"
Wanita itu beranjak kembali ke meja rias nya menghapus make nya hingga menampilkan wajah polos nya.
Setelah menghapus make up nya ia pun beranjak keluar namun tangan nya kembali tercegah.
Cup!
Satu kecupan melayang di bibir wanita itu sekilas, "Jangan nakal di luar atau aku akan membunuh-"
"Membunuh siapa yang bicara dengan mu," jawab pria itu dengan bibir tersenyum dan mata yang tajam.
"Memang nya aku mau apa? Aku kan juga bukan mau selingkuh!" jawab Ainsley kesal.
"Siapa yang tau? Kau bisa saja menggunakan kaki mu untuk berlari ke pria lain nya kan?" tanya pria itu dengan tatapan yang sama sekali tidak mempercayai wanita nya.
"Kalau aku melakukan nya kau akan membunuhku?" tanya Ainsley mengernyit.
"Mungkin aku akan memberi mu dua pilihan?" jawab pria itu sembari memikirkan sesuatu di kepala nya.
"Apa itu?" tanya Ainsley yang ingin tau.
"Pertama aku akan mematahkan kaki mu kau merantai nya yang kedua aku akan memotong nya," jawab nya dengan senyuman seakan hal yang ia katakan sama sekali bukan ancaman.
"Kenapa tidak? Aku kan tidak akan membunuh mu? Aku sudah mengatakan nya kan? Jadi kau harus hati-hati," ucap pria itu sekali lagi dengan senyuman nya namun menjatuhkan senyum wanita itu.
Ainsley terdiam sejenak dan beranjak ke mobil nya.
......................
B'One university
Setelah mengikuti pertemuan yang membosankan dan pembahasan yang membuat nya jengah, Ainsley menarik napas nya dengan panjang.
Tampilan cantik dengan wajah yang seperti pahatan patung Dewi Yunani dan usia yang masih muda tentu nya membuat beberapa orang tertarik melihat wanita itu, ia memang menghapus nya saat masih berada di mansion namun langsung berias kembali begitu ia pergi.
"Kita belum bertemu pemain biola itu kan?" tanya nya pada wanita di sebelah nya.
Wanita yang bernama Cindy yang mulai berkerja dengan wanita cantik itu, yang sebenarnya ia juga merupakan bawahan Richard karna pria itu ingin menempatkan semua orang nya di samping istri nya.
"Belum nyonya," jawab nya sembari membuka iPad nya dan melihat jadwal lain nya, "Kita juga ada kunjungan ke galeri seni di sana juga ada tuan Gio."
"Dia ada di sana?" tanya Ainsley mengernyit.
Pria yang tidak datang di pertemuan dewan dan lebih memilih mewakili acara pembukaan ke galeri seni.
"Dia seperti yang di rumorkan," gumam Ainsley lirih.
Ia memang mendengar rumor jika pria itu sangat sulit di rekrut dan hanya berkerja di tempat yang ia inginkan saja.
"Di sini juga akan ada perwakilan dari Sat-"
"Ayo, nanti terlambat." potong Ainsley yang tak begitu mendengar ucapan asisten nya.
"Baik nyonya," jawab Cindy sembari mengikuti langkah wanita itu.
....
Galeri seni.
Marilyn tersenyum, ia merasa sudah mendapatkan pria itu seutuhnya karna Daniel sudah ingin menerapkan tanggal pertunangan dan pernikahan mereka.
"Mungkin anak kita perempuan?" tanya nya dengan senyuman tipis dan elegan sembari mengusap perut nya.
Sean hanya tersenyum miring mendengar nya sembari melirik malas, ia tak tau jika sang ayah akan ikut memanggil wanita itu untuk menemani nya mengikuti acara pembukaan galeri seni yang juga di biayai oleh perusahaan nya.
Marilyn tersenyum ia melihat dan menatap ke arah lukisan di depan nya sedangkan pria itu pergi melangkah ke arah lain meninggalkan wanita berparas cantik dan bertubuh elok itu.
"Menurut mu apa artinya lukisan ini?" tanya Marilyn sembari menatap coretan kanvas di depan nya.
Tak ada jawaban sama sekali, "Sean?" ia menoleh namun di sebelah nya kosong, "Di mana dia?!"
Ia pun berdecak kesal dan ingin berangsur mencari keberadaan pria itu.
Sementara itu di tempat lain Ainsley melihat ke arah lukisan di depan nya, ia membuang napas nya sembari menatap dengan benar.
"Anda tau apa artinya?"
Suara bariton yang membuat Ainsley langsung menoleh, ia kembali berbalik melihat ke arah lukisan di depan nya karna sejak awal ia merasa terpaku di depan nya.
Coretan hitam yang seperti benang abstrak serta air dan tangan yang ingin menggapai serta punggung yang berbalik terlihat menjadi satu di dalam lukisan tersebut.
__ADS_1
"Jangan pergi, tetap lah disini dan aku akan menanggung penderitaan mu?" jawab Ainsley sembari menoleh kembali ke arah pria itu.
Pria itu tersenyum mendengar nya, "Mungkin saja, sepertinya yang melukis menggambar kan kesedihan yang mendalam?"
"Kurasa dia bukan sedih tapi kesepian," gumam Ainsley lirih.
Wanita yang sejak kecil di besarkan nya dengan nilai estetika tinggi tentu nya tau mana yang memiliki makna dalam sebuah karya.
Senyuman yang selalu terpasang seperti topeng itu turun sejenak mendengar nya lalu mengatur kembali ekspresi nya.
"Anda seperti nya suka dengan seni?" tanya nya lagi menyapa dengan ramah.
"Bisa di bilang saya bekerja di bidang seperti itu," jawab Ainsley singkat.
"Saya juga," jawab pria itu sekali lagi, "Saya Giovender Rios."
Pria itu mengulurkan tangan nya dan langsung membuat Ainsley menoleh, "Giovender Rios?"
"Benar," jawab nya tersenyum.
"Ainsley Setya Bellen," jawab nya singkat sembari membalas uluran tangan pria itu.
Gio melihat sekilas cincin pernikahan yang bertaut di jemari manis wanita itu dan membuat nya membuang napas dengan kecewa tanpa sadar.
"Ternyata kita bertemu di sini? Anda melewatkan pertemuan pertama kita," jawab Ainsley tersenyum walaupun ia sedikit kesal.
Gio mengernyit sejenak namun ia mulai ingat dengan nama yang tak asing itu.
"Anda pimpinan B'One?" tanya mengernyit.
"Memang nya saya tidak cocok?" tanya Ainsley lagi.
"Saya kira anda tidak semuda ini," jawab nya yang tak menyangka jika pimpinan yang sekarang lebih mirip gadis muda.
"Saya akan anggap pujian, dan sekarang kita bisa bicara tentang pembahasan yang tertunda?" tanya Ainsley lagi.
Gio mengangguk ia pun mempersilahkan jalan lebih dulu pada wanita itu untuk menuju ke meja dan kursi yang telah di sediakan di tempat tersebut.
Setelah membicarakan beberapa hal yang mengenai B'One dan juga Ainsley yang meminta salah satu seniman yang terkenal itu untuk menjadi juri sebagai perwakilan dari universitas nya.
"Baik akan saya pikirkan lagi tentang tawaran anda," jawab Gio tersenyum.
"Apa anda memang orang yang selalu ramah?" tanya Ainsley yang sedari tadi tak melihat senyum pria itu hilang.
Senyuman, cara bicara yang sopan dan ramah menjadi kesan pertama wanita itu.
"Seharusnya pertanyaan nya adalah apakah saya orang yang memang selalu tampan?" tanya Gio dengan nada bercanda.
"Untuk pertama kali bertemu anda memang tampan," jawab Ainsley jujur dengan wajah yang datar.
Gio terkejut sejenak dan membuang mata nya mendengar ucapan wanita itu.
"Saya harap anda memberikan keputusan yang tepat, terimakasih waktu nya saya pergi dulu." jawab Ainsley sembari bergegas bangun dan beranjak.
"Tunggu anda tidak mau meli-"
Ucapan Gio terpotong saat melihat wanita itu mematung berdiri sejenak dengan pandangan lurus ke depan.
"Sean?" gumam nya lirih.
Pria itu juga memandang nya dan bahkan terdiam sejenak melihat ke arah wanita di depan nya, terlebih lagi saat ekor mata nya melirik ke arah jemari manis wanita itu yang kini sudah bertaut dengan cincin janji.
Gio mengernyitkan dahi nya dan melihat pria yang ia kenal semasa kuliah nya dulu.
"Sean? Kau ada di sini?" tanya Gio tersenyum dan mulai menyapa pria itu segera membuyarkan lamunan teman nya.
"Kau juga? Oh iya di sini kan tempat seni?" tanya Sean yang mulai teralihkan.
"Kalian saling kenal?" tanya Gio saat merasakan sikap yang berbeda untuk orang yang baru saja bertemu.
"Kami?" tanya Ainsley tersentak.
"Kami dul-"
"Teman!" potong Ainsley langsung saat Sean ingin bicara.
Ainsley membuang pandangan nya sekilas ke arah lain.
"Benar, kami dulu hanya teman." sambung Sean tersenyum getir saat melihat wajah yang tak ingin melihat nya.
Ainsley tersentak ia tak nyaman mendengar nya namun jika ia mengatakan mereka dulu sepasang kekasih mungkin suasana nya akan canggung.
"Kalau begitu anda ingin bergabung sebentar? Saya akan pesankan minum." tanya Gio yang tak bisa membaca situasi canggung kedua orang itu lalu meninggalkan nya.
Hening beberapa saat hingga Sean pun membuka suara, "Bagaimana kabar mu?"
"Baik," jawab Ainsley singkat.
"Axel?" tanya pria itu lagi.
"Baik," jawaban kaku yang sama seperti sebelum nya.
Greb!
Sean tersentak saat lengan nya tiba-tiba di peluk.
"Sea-" Marilyn terdiam melihat Ainsley yang berdiri di depan pria itu, "Sayang? Kau ke mana? Aku mencari mu?" tanya nya dengan senyuman tipis nya.
Mata Ainsley membulat sejenak ia terkejut namun ia juga harus nya baik-baik saja melihat hal itu.
Benar, dia juga harus menjalani hidup nya kan?
Batin nya dan segera mengatur ekspresi nya dengan kembali tersenyum.
Marilyn ikut tersenyum sembari mengulurkan tangan nya, "Marilyn, saya tunangan nya."
"Ainsley," jawab wanita itu sembari membalas uluran tangan nya.
"Kita belum bertunangan," ucap Sean ketus sembari memandang malas.
"Kenapa bicara begitu? Anak kita kan bisa sedih mendengar nya," jawab Marilyn sembari mengusap perut nya.
Deg!
Ainsley kembali terkejut ia pun tersenyum, "Saya pergi lebih dulu, selamat menikmati waktu nya." ucap nya dengan formal dan meninggalkan pria itu.
Langkah nya menjauh, ia sudah menetapkan hatinya untuk hanya melihat ke arah satu pria namun tetap saja ada situasi dimana ia tak bisa mengatur perasaan nya.
Tes...
"Eh?" gumam nya saat ia merasakan sesuatu menetes di mata nya.
__ADS_1
"Kenapa seperti ini? Hubungan kami sudah berakhir dan pria yang harusnya ku cintai suami ku," gumam nya sembari menghapus cairan bening yang keluar dari mata nya.
Ia tak boleh bersikap egois ataupun mementingkan perasaan nya, maka dari itu ia hanya perlu meyakinkan dirinya jika hati nya telah berubah untuk pria yang akan menemani nya bersama putra nya kelak.