Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Do you love me?


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Bruk!


Ainsley tersentak, ia tersungkur ke lantai yang dingin, belanjaan yang sudah ia beli pun ikut jatuh di samping nya.


"Coba jelaskan," ucap pria itu sembari menatap tajam ke arah mata yang terlihat gelisah.


"Cincin nya, aku berniat membeli yang baru untuk kita karna menghilangkan nya..." jawab Ainsley lirih.


Richard diam dengan tatapan tajam nya setelah mendengar jawaban lirih dari istrinya.


"Kau ingat apa yang pernah ku bilang dulu?" tanya Richard sembari berjongkok di depan wanita itu dan memegang dagu nya hingga Ainsley menengandah.


Ainsley memutar bola mata nya ke kiri berusaha mengingat apa yang pernah di katakan pria itu.


"Perlu ku ulangi? Seperti nya daya ingat mu sedikit buruk," tanya Richard pada wanita itu.


Iris nya bergetar menatap pria di depan nya, Ainsley tak menyangkal sama sekali karna ia memang sedikit kesulitan mengingat sesuatu semenjak kecelakaan dan hilang ingatan tempo waktu lalu.


Hal yang mudah di ingat nya adalah yang sering di lakukan, di dengar, dan di lewati dalam keseharian nya.


"Aku bilang akan memotong atau mematahkan kaki mu kan? Kalau kau menggunakan nya untuk berlari ke pria lain?" ucap Richard sembari perlahan mengusap rambut wanita itu.


Ainsley menggeleng mendengar nya, "Aku keluar dengan nya karna dia bilang ada tempat yang bisa membuat nya dalam satu hari dengan bentuk yang kita inginkan."


"Lalu? Kau barusan bilang membeli cincin yang baru tapi alasan nya beda dari yang kau katakan sekarang," tanya Richard dengan tajam.


"Karna membutuhkan waktu yang cukup lama aku jadi beli yang baru tapi aku tidak selingkuh! Aku juga tidak melakukan apapun! Lihat! Aku tidak pakai make up kan?" tanya Ainsley sembari memegang tangan pria itu yang tak sedang mengelus rambut nya.


"Iya, tapi kau masih terlihat cantik." gumam Richard sembari melihat nya.


"Tidak! Tidak cantik!" jawab Ainsley dengan cepat.


"Benarkah?" tanya nya sembari melihat wajah yang mulai lembab karna tetesan bening saat mulai takut.


"Richard..." panggil Ainsley lirih, kali ini ia sebisa mungkin tidak salah memanggil dengan yang tidak di sukai pria itu.


"Kita bicarakan dulu soal kaki mu, kau mau di potong atau di patahkan?" tanya nya tersenyum dengan mata yang melihat seperti bukan memberikan pilihan yang mengerikan.


"Tidak kedua nya," jawab Ainsley menggeleng, "Kau ingat dulu waktu mau menikahi ku? Katanya mau membuat ku bahagia kan? Jadi jangan melakukan nya." sambung nya lirih.


"Kau sepertinya juga lupa aku mengatakan hal lain juga kan? Aku menikahi mu karna ingin memiliki mu," ucap Richard pada wanita itu.


"Tapi bahkan setelah kita menikah aku masih merasa kau belum menjadi milik ku sepenuh nya," sambung nya lagi.


"Memiliki ku? Kau bilang mencintai ku?" tanya Ainsley lagi.


Pria itu hanya tersenyum sembari mulai bangun dan menatap nya, ia tak menjawab pertanyaan tersebut.


Ia memang mencintai wanita cantik itu karna itu adalah tafsiran dari arti ingin memiliki yang besar di dalam diri nya.


Jadi bagi nya hal itu sama saja tak ada yang berbeda dan itu bukan lah pertanyaan yang perlu ia jawab.


"Kalau boleh jujur aku lebih suka memotong kaki mu jadi kau tidak akan bisa pergi, tapi aku masih memberi mu pilihan." ucap pria itu.


"Apa lempar koin saja?" tanya Richard lagi saat ekor mata nya melihat salah satu uang pecahan yang ikut terjatuh di kembalian barang-barang yang di beli Ainsley.


Ia pun mengambil nya, "Yang depan potong kaki yang belakang patah kaki, adil kan?" tanya nya sembari bermain permainan mengundi nasib tersebut.


Sedangkan Ainsley hanya melihat wajah pria itu tak ada jawaban dari pertanyaan nya cinta atau ingin memiliki.


Richard pun mulai melempar nya dan melihat tangkapan nya serta gambar mana dari koin tersebut.


"Ternyata hanya di patahkan," ucap nya dengan nada kecewa.


Mata Ainsley membulat melihat nya ia pun segera beranjak ingin bangun dan berlari namun.


Auch!


Rambut nya tertarik seketika saat ia ingin segara menjauh, "Jangan! Kalau melakukan nya aku akan benci paman! Benci!" teriak nya yang mulai meronta ingin melepaskan diri nya.

__ADS_1


Richard tak mengatakan apapun namun ia memberikan tatapan yang setajam silet pada wanita itu.


Bruk!


Ia pun langsung mendorong tubuh Ainsley kembali ke lantai dan mengambil kursi dari meja rias di kamar nya.


Bugh!


Satu hantaman kuat langsung membuat kursi tersebut patah dan berserakan di lantai tepat mengenai kaki jenjang yang belum sempat pergi tersebut.


Akh!


Ainsley menjerit seketika ia meringis menahan sakit di kaki nya, dapat ia lihat bercak darah yang keluar dari celana jeans yang ia pakai dan lantai putih yang semakin menunjukan kontras dengan warna merah darah tersebut.


"Masih belum cukup," ucap nya lagi sembari ingin meraih benda lain nya untuk ia hantamkan ke kaki wanita itu.


"Jangan! Ja-jangan lagi..." ucap Ainsley lirih ia tak bisa beranjak bangun ataupun berlari dengan cepat.


Dan ia tak ingin pria itu kembali memukul kaki nya yang sudah terluka itu lagi, jujur saja ia sangat takut tak bisa berjalan lagi setelah ini.


Pasalnya setelah kecelakaan lima tahun yang lalu banyak dari tulang nya yang sudah di sambung dengan pen agar tetap bisa berjalan dan kembali beraktifitas seperti biasa.


Tentu nya dengan syarat ia tak mengalami benturan keras di tempat yang sama lagi.


"Apa sih yang buat paman tidak percaya aku? Aku tidak lakukan apapun dengan nya! Sungguh!" tanya nya sembari meringis dan menangis.


"Kau mau membuat ku tidak khawatir lagi?" tanya Richard sembari menatap wajah cantik yang tengah menahan sakit itu.


Ainsley mengangguk ia sadar jika saat ini pernikahan nya sangat minim kepercayaan.


"Rusak wajah mu," ucap pria itu singkat.


"A-apa?" tanya nya terkejut.


Walaupun ia bukan lah yang selalu memperhatikan penampilan namun tetap saja merusak wajah bukan itu yang ia inginkan.


Richard pun memanggil pengawal yang tak jauh dari luar kamar nya, meminta pria itu untuk mengambil sebotol cairan keras dan membawa nya ke kamar nya.


Pria itu tak menjawab melainkan hanya menatap dengan datar, ia merasa jika merusak wajah cantik itu tak akan ada lagi yang menyukai istri nya.


Dan ia bisa menjadi satu-satu nya pemilik wanita itu. Tak lama kemudian salah satu pengawal yang tadi nya di suruh untuk mengambil air keras pun datang sembari membawakan nya.


"Hanya HCl pekat tak akan begitu sakit," ucap nya sembari melihat botol tersebut.


Sedangkan Ainsley masih sangat terkejut sembari menatap pria di depan nya yang tengah membuka botol itu.


Ia membatu beberapa saat begitu melihat pria itu membuka botol tersebut.


Byur!


Deg...deg...deg...


Auch!


Ringis nya saat tangan nya terciprat cairan tersebut.


Jantung nya berdegup sangat kencang, tubuh nya dalam waktu yang singkat bisa bergerak refleks langsung menyingkir sebelum cairan keras itu jatuh mengenai wajah nya.


"Pa-paman benar-benar menyiramnya?" tanya Ainsley terkejut sembari melihat tangan nya yang terbakar.


"Kau menghindar?" tanya Richard mengernyit saat cairan keras itu tak berhasil mengenai wajah cantik istri nya.


Richard berjongkok melihat tangan wanita itu, "Tangan mu yang kena bukan wajah mu!" ucap nya sembari melihat tangan sang istri.


Ainsley bergetar melihat nya, ia melihat mata dan pandangan yang sama saat pria itu menghabisi dan menyiksa orang lain.


Greb!


Ia tak tau namun ia langsung menghamburkan pelukan nya segera, "Jangan, kalau paman merusak wajah ku nanti Axel bagaimana?" tanya Ainsley lirih dengan isakkan nya dan suara yang bergetar.


"Axel? Apa hubungan nya dengan Axel?" tanya nya sembari berusaha melepaskan pelukan wanita itu.

__ADS_1


"Paman mau dia takut dengan ku? Aku tidak mau di panggil ibu monster kalau punya wajah hancur!" ucap nya dengan tangis nya yang tak ingin melepaskan pelukan nya.


"Monster..." gumam Richard lirih.


Ia tak lagi ingin melepaskan pelukan wanita itu dan membiarkan tangisan takut dan panik itu mereda lebih dulu.


"Aku tidak akan melalukan nya untuk sekarang," ucap nya yang tersentak saat mendengar kata "Monster"


Ainsley perlahan melepaskan nya dan melihat wajah pria itu.


Kaki nya tak bisa ia gerakkan kecuali rasa sakit dan nyeri nya yang teramat sangat.


Pria itu pun mengusap air mata nya dan perlahan mel*mat bibir merah muda tanpa polesan lipstick tersebut.


Ia pun mengangkat tubuh yang tak bisa bangun tersebut ke atas ranjang.


Air keras dan darah yang terlihat di lantai kamar itu meninggalkan jejak saat Ainsley di bawa.


"Tu-tunggu!" ucap Ainsley yang masih belum siap merasakan sakit di kaki nya yang bahkan memberikan bercak darah di sprei nya.


Namun suami nya sudah beranjak menginginkan hal lain, "Apa ini juga termasuk hukuman?" tanya Ainsley lirih saat pria itu membuka sweater nya.


"Bukan," jawab Richard datar.


Tak ada yang bisa menebak apa yang di inginkan pria itu, setelah marah besar dengan mematahkan kaki dan hampir menyiramkan wajah cantik itu dengan air keras kini ia ingin melakukan hubungan itu.


Tangan nya, dan sapuan bibir nya mengusap dan mengendus serta mengisap seperti biasanya.


Tidak berubah menjadi kasar ataupun brutal seperti tengah marah namun hanya seperti malam-malam lain nya.


Namun Ainsley sama sekali tak bisa menikmati nya sama seperti biasanya walaupun dengan cara yang sama seperti yang sering membuat nya melayang.


Rasa sakit di kaki nya yang mungkin salah satu tulang nya sudah patah namun tubuh nya terjamah. Walaupun tak bersikap kasar dan brutal namun seperti nya adrenalin pria itu berpacu dan sangat bersemangat.


Richard mencajutkan dirinya sejenak sembari mengatur napas nya saat sudah mencapai pelepasan nya.


Ia menoleh ke arah wanita itu yang sedikit pucat dan terlihat menahan sakit, apa lagi jika bukan kaki yang baru saja ia patahkan.


Ia pun beranjak bangun mencari piyama tidur nya agar bisa langsung ia pakai dan ia lilitkan.


Tangan nya mengusap rambut basah wanita itu, dan mengecup nya.


"Paman marah? Tapi kenapa?" tanya Aisnlsy dengan suara serak.


"Kau milik ku," ucap pria itu sembari menatap wajah yang meringis tersebut.


"Do you really love me? Not just an obsession?" tanya nya dengan suara bergetar.


"I love you," jawab Richard tanpa ragu.


Rasa ingin memiliki yang sangat besar dan benci melihat wanita itu dengan pria lain apalagi jika bukan rasa cinta?


Kalau dia punya keberuntungan yang bagus dia mungkin akan selamat seperti dia, tapi ku harap kartu keberuntungan nya sudah habis!


Batin Richard saat mengingat tentang Gio, ia pernah mencoba membunuh Sean namun tak berhasil karna ternyata pria itu bisa bertahan dari maut namun tak semua orang bisa tertahan dari maut.


Ainsley tak mengatakan apapun ia hanya menutup mata nya tak ingin melihat mata yang tengah membara dari pria itu.


...****************...


Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️


Oh iya buat yang ada tanya karna othor baca di komen ada yang bilang kok Richard sekarang kasar padahal kan dulu gak pernah? Yang kasar kan Sean?


Kalo masih ingat di pertemuan awal nya si Richard memang kasar yang orang nya ingat waktu Ainsley pertama di culik dia kan langsung main tangan mukulin nya tapi memang othor lebih tonjolin kekerasan ******al karna apa? kalau dari segi Richard nya dia kan di awal tertarik sama badan nya si Ainsley dan juga kalau dua" nya kasar sedangkan si Ainsley masih pacaran sama Sean kan bisa mati cepet dong dia wkwk


Yauda penjelasan singkat nya, Oh iya buat yang sebelum nya ada yang komen vasektomi ga bisa punya anak lagi, othor baca beberapa artikel itu bisa di bedah lagi dan kemungkinan masih bisa buat wanita atau pasangan nya hamil waktu Uda di buka lagi.


Othor bukan mau singgung siapapun yah cuma mau jelasin ttg sifat karakter yang mungkin kalian lupa, dan othor juga sangat senang dengan dukungan kalian yang tetus ikutin cerita ini.


Happy Reading❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2