
Wanita itu terduduk di lantai walaupun ia berada di rumah nya sendiri, ia berlutut di hadapan seorang wanita yang memakai pakaian bermerek dan terlihat elegan walaupun memiliki sifat yang tak sesuai dengan apa yang ia perlihatkan.
"A-aku akan pergi, biarkan aku membawa putra ku..." ucap nya gemetar.
Irine si wanita lemah lembut yang bahkan tak tau apa yang sedang ia hadapi.
Walaupun ia tak pernah sekalipun ingin menjadi wanita ketiga atau bahkan simpanan seperti yang terjadi saat ini namun semua nya berjalan tak sesuai yang ia inginkan.
Saat ia mengetahui pria yang sedang menjalin hubungan nya sudah memiliki keluarga ia pun berbalik dan pergi walaupun dirinya sudah membawa kehidupan lain di dalam tubuh nya.
Ia sudah berusaha melupakan pria yang mengisi hati nya, karna tak ingin menjadi pengganggu rumah tangga orang lain karna setidaknya ia masih percaya dengan apa yang namanya karma.
Namun tak banyak yang bisa ia lakukan, gadis lemah yang bahkan tak memiliki orang tua ataupun sanak saudara.
Pria yang dulu ia cintai sekarang mengancam nya dengan membawa putra nya, putra dari hasil hubungan yang ia lakukan.
Karna tak ingin putra nya di ambil, satu-satu nya keluarga dan buah hatinya, ia terpaksa mengikuti pria itu dan di jadikan sebagai wanita simpanan.
"Pergi? Kalau kau pergi kau jamin dia tak akan mencari mu?" tanya wanita itu dengan mata yang penuh akan kecemburuan.
"Ku mohon, anda bisa membiarkan ku pergi, aku akan bawa anak ku juga...
Kami tak akan mengganggu anda lagi," ucap nya lirih dengan memohon yang sungguh-sungguh.
Wanita ia diam namun ia semakin cemburu, ia berusaha melakukan segala cara agar bisa mendapatkan cinta pria itu namun wanita di depan nya tak melakukan banyak hal.
PLAK!!
Satu tamparan kuat melayang di pipi wanita itu, perih dan panas ia rasakan secara bersamaan hingga membuat hidung mancung nya mengalirkan cairan merah kental.
"Berhenti bersikap sok polos! Kau itu hanya wanita penggoda! Dasar Jal*ng!" maki Selena dengan amarah memuncak.
"Ma-maaf..." wanita itu tak melakukan pembelaan karna ia memang tak mencari tau dengan jelas siapa yang ia sukai.
"Aku punya cara agar dia tak bisa menemukan mu," ucap wanita itu dengan senyuman yang menyimpan maksud lain.
Irine diam, ia menatap bingung ke arah wanita yang merupakan istri sah dari ayah putranya.
"Kalau kau mati dia tak akan mencari mu lagi kan?" tanya Selena dengan suara yang rendah namun menusuk.
Irine terbelalak, ia terkejut dan tak menyangka ucapan tersebut, "Ja-jangan, anak ku...
anak ku akan sendirian..." ucap nya terbata.
Sekarang ia tau kenapa wanita itu membawa pengawal ke rumah nya.
"Aku akan menjaga nya jadi kau tak perlu khawatir," ucap Selena sembari menjauh.
"Ja-jangan! Aku sudah janji akan liburan dengan nya! Beri aku waktu lagi ku mohon!" ucap nya dengan sungguh-sungguh.
"Tidak ada waktu lagi, Lakukan sekarang!" ucap Selena dan membuat pengawal yang ia bawa mencekik Irine dengan tali pancing yang tipis.
Uhuk!
__ADS_1
Leher nya terasa ingin putus, napas nya hilang dan terputus, mata nya berair serta rasa sakit yang tak bisa ia katakan.
Kedua tangan dan kaki nya di pegang erat agar ia tak memberontak saat ia di bunuh dengan kejam seperti itu.
Mata nya mulai menutup dengan linangan air mata, bahkan kata terakhir yang ia ucapkan sebelum tubuh nya lemas adalah nama putra nya.
Pembunuhan yang di tutupi dengan alasan bunuh diri pun di lakukan, wanita cantik itu meregang nyawa dengan tragis bahkan ia belum sempat mengatakan sepatah kata pun pada kelurga satu-satu nya yang ia miliki.
Putra kesayangan nya, putra yang ia janjikan akan ia temani hingga dewasa, putra yang ia janjikan akan melakukan liburan tak lama lagi.
Namun kali ini pun semua tak berjalan sesuai keinginan, janji yang ia buat tak dapat di tepati ia bahkan tak menyangka akan berakhir seperti ini.
......................
Sementara itu.
Byur!
Guyuran air yang jatuh membasahi seorang pria yang terikat menyadarkan nya setelah pingsan karna di pukuli.
"Sekarang ingat?"
Pria itu mengandah menatap ke arah sumber suara, ia ragu ingin mengatakan nya namun ia juga tak sanggup jika harus di siksa lagi.
"Dia tidak bunuh diri," ucap nya lirih.
Mata pria itu memerah, rahang nya mengeras menatap tajam ke pria tersebut.
"Apa yang kalian lakukan pada nya?!" tanya pria itu dengan tatapan tajam dan hawa membunuh.
"Tak perlu tau! Kalau kau masih mau memiliki sisa jari mu jawab saja pertanyaan ku!" ucap pria itu tak bisa menahan emosi nya begitu mendengar ucapan yang mengejutkan nya.
Pria itu mulai menceritakan bagaimana ia merenggut nyawa wanita cantik itu.
Sean terperangah, ia tak menyangka jika ibu nya akan berakhir tragis seperti itu, rasa terkejut yang membuat terbungkam.
......................
Ainsley membuang napas nya dengan kasar, ia tak tau apa yang akan terjadi namun situasi yang benar-benar tenang setelah mengetahui alasan sang ibu membenci nya beberapa minggu yang lalu.
Gadis itu masih merebahkan tubuh nya menatap langit-langit kamar nya, ia enggan untuk bangun dan bersiap ke kampus nya.
Tubuh nya tak ingin di gerakkan dan hanya ingin tertidur lagi dengan nyenyak sebelum,
Hoek!
Rasa gejolak yang muncul di perut nya membuat gadis itu mau tak mau harus beranjak bangun dan memuntahkan isi perut nya yang sama sekali belum terisi.
Ainsley mengusap mulut nya dengan air yang mengalir di wastafel nya, tak ada yang ia muntahkan namun perut nya terus bergejolak.
"Apa aku libur saja hari ini?" gumam nya saat merasa tubuh nya kurang sehat.
Ia pun mengambil ponsel nya, dan memberitahu Vindi jika ia tak datang hari ini, ia menjadi lebih malas bergerak dan hanya ingin tidur serta merebahkan dirinya saja.
__ADS_1
Satu harian hanya berbaring di kamar dan memesan makanan pesan antar, malam yang terganti membuat nya hanya berbaring diam.
Ting...
Suara bel yang membuat nya terperangah dan mengira jika makanan yang ia pesan sudah datang.
Gadis itu beranjak dan berjalan ke arah pintu nya, ia membuka nya.
"Eh?" Ainsley terkejut saat melihat yang datang bukanlah makanan yang ia pesan melainkan pria yang bahkan tak lagi menunjukkan dirinya beberapa minggu terakhir.
Pria itu menjatuhkan kepala di pundak gadis itu, "Aku merindukan mu..." gumam nya tak jelas sembari memeluk gadis di depan nya.
Aroma alkohol yang tercium jelas di indra penciuman gadis itu membuat nya tersadar jika pria yang datang pada nya tengah mabuk.
"Sean?! Kau mabuk? Bagaimana bisa sampai ke sini?!" tanya Ainsley mendorong tubuh yang tengah memeluk nya.
Ainsley tau seberapa bahaya pengemudi yang mabuk membawa kendaraan.
"Tidak tau, kenapa aku kesini?" tanya pria itu menatap ke arah gadis yang baru ia lepaskan pelukan nya.
Saat mengetahui semua nya tentu saja ia terguncang, walaupun ia sudah menduga nya namun ia tak menyangka jika sang ibu akan memiliki akhir seperti.
Wanita yang memiliki hati yang lembut dan sikap yang baik harus berakhir tragis.
Alkohol yang memabukkan nya membuat alam bawah sadar membawa ke tempat yang membuat nya paling nyaman.
Tempat nyaman yang harus nya tak boleh ia dekati lagi, namun ia bahkan tak dapat mencegah nya.
Ainsley pun tak memiliki pilihan, ia membawa masuk pria itu dan membawa nya ke kamar nya.
Greb!
Tangan nya di pegang erat saat ia ingin mengambil handuk basah agar membasuh pria itu.
"Jangan pergi..." ucap pria itu lirih.
Sorot mata yang menampilkan kesedihan dan tatapan penuh pengharapan terlihat jelas, alkohol yang membuat nya lebih dapat menunjukkan perasaan yang jujur.
"Ku mohon...
Jangan tinggalkan aku..." ucap pria itu dengan suara serak dan menjatuhkan bulir bening di mata nya.
Kali ini ia kembali terpuruk, dan ia bahkan menyandarkan harapan nya lagi pada gadis yang masih memiliki tempat yang luas di hati nya.
Kau lupa sesuatu? Dia belum pemilik Sation Grup yang sah dan lagi banyak kecelakaan yang bisa menghabisi nyawa seseorang.
Deg!
Ainsley tersentak ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Richard yang seakan mengancam nya dengan bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan Sean.
"Sean..." ucap nya lirih membalas tatapan nanar pria itu.
Ia takut jika akan menyebabkan masalah pada pria tampan itu, masalah yang akan membuat pria itu lebih terluka.
__ADS_1
"Maaf..." sambung nya lirih dan melepaskan perlahan tangan Sean yang tengah menggenggam nya erat.