Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Kiss and Hand)


__ADS_3

2 Hari kemudian.


Surat pindah dan pengunduran diri dari pertunjukkan seni yang harus nya di ikuti pada hari ini membuat pihak sekolah tak terima karna pengunduran yang begitu tiba-tiba sehingga akan sulit mencari pengganti dan bisa berakibat buruk pada putra sekolah.


Ganti rugi pun di layangkan dan pada akhirnya memberikan surat pengunduran diri dan rekomendasi pindah sekolah dari sekolah tersebut.


Mike tentu nya mendengar hal ini, ia kembali mencari keberadaan putra nya yang tengah menyembunyikan putri sambung nya.


Namun masih menghasilkan hasil yang nihil karna Steve yang masih berada dalam perlindungan seseorang atas dasar kesepakatan yang ia buat.


......................


Apart.


Gadis itu terlihat terpaku dengan apa yang berada di depan nya, acara musik yang besar-besaran di ajang dunia itu di tampilkan di televisi.


"Hey? Mau makan pie nya?" tanya Steve sembari mencium pipi gadis yang duduk di sofa itu sembari membawakan semangkuk pie apel kesukaan gadis itu.


Celine tak menjawab ia hanya menatap ke arah televisi dan merasa iri dengan pemain piano yang menggantikan diri nya.


"Kalau gak hamil pasti Celine yang di sana..." ucap nya lirih hampir tak begitu bersuara.


Steve bisa mendengar nya karna jarak nya yang masih begitu dekat namun jika ia jauh sedikit lagi saja ia tak akan mendengar suara yang seakan telah begitu kehilangan sesuatu itu.


"Hey? Kamu gak dengerin kakak?" tanya nya yang memilih berpura-pura tak tau dan kembali menggoyangkan bahu gadis nya.


Celine tersentak, ia tak begitu memperhatikan walaupun sang kakak sebelum nya sudah mencium pipi nya.


"Kakak buat apa?" tanya nya dengan mengikuti arah pandang pada pria itu.


"Pie apel, kamu mau ini kan semalam?" tanya pria itu sembari mencium kening gadis nya.


"Makasih kak," jawab Celine dengan senyuman tipis.


Perhatian dan kasih sayang pria itu kembali seperti biasa bahkan mungkin menjadi lebih baik lagi pada nya.


Gadis itu menyandarkan kepala nya di bahu tegap pria itu, menatap ke arah televisi yang masih memainkan melodi nya dengan indah.


"Celine? Kakak udah lihat daftar yang mau kita tuju, kalau kita pindah ke Amerika kamu setuju?" tanya Steve pada gadis itu.


Celine langsung menyantap dengan mata nya, "New York?" tanya gadis itu lagi.


"Kalau kamu kita ke sana atau pilihan lain nya Canada," ucap pria itu yang memberikan pilihan pertama di Amerika tempat universitas yang sangat di inginkan gadis itu.


"Selain Julliard juga banyak kok univ yang bisa kamu masukin," ucap nya lagi pada gadis itu.


"Celine kan gak punya kualifikasi ke sana kak, apa yang bisa Celine masukin? Jangan bahas lagi kak," ucap nya yang kini bahkan tak mau mendengar nama univ impian nya itu karna tau kesempatan emas nya sudah melayang.


Steve diam, ia tak mengatakan apapun lagi untuk memperbaiki mood gadis itu.


"Kamu mau makan pie nya kakak suapi?" tanya nya sembari mengecup dengan gemas ke arah pipi gadis itu.


"Kalau kita pindah Papa Mama bakal setuju kak? Terus kenapa Celine gak boleh sekolah kak sekarang?" tanya nya lagi pada sang kakak.


Tentu nya Steve tak membiarkan gadis itu keluar sementara waktu sampai ia bisa benar-benar membawa kabur karna tau kedua sang ayah akan lebih cepat menemukan nya.


"Celine? Celine kan punya kakak? Nanti kalau udah lama Papa sama Mama bakal ketemu sama Celine lagi kok," ucap nya yang mulai menyuapi gadis itu satu persatu dengan pie yang ia ambil dengan sendok.


Celine membuka mulut nya memakan makanan manis yang meleleh di dalam gigitan nya itu, "Tapi Celine bosen kak..." ucap nya lirih.


"Sabar yah sayang..." ucap pria itu sembari menatap mata yang terlihat menghindari nya.


"Tumben kakak manggil nya sayang," ucap gadis itu yang merasa sang kakak semakin memperlakukan nya berbeda.


"Kalau kamu mau kamu boleh panggil nama kakak juga kok, panggil sayang juga malah lebih bagus." ucap Steve sembari menggoda gadis itu dan tersenyum.


"Jangan kak, aneh denger nya." jawab gadis itu yang merasa panggilan tersebut berbeda di telinga nya.


Walupun ia sering mendengar nya ketika selesai berhubungan namun jika di luar dari hal itu ia sangat tak terbiasa.


Steve mendekat, berusaha mencium bibir merah muda itu, namun dengan cepat gadis manis itu langsung memalingkan wajah nya.


"Pi..pie nya enak kak..." jawab gadis itu lirih yang menghindari sentuhan langsung dengan sang kakak.


Steve tak mengatakan apapun, ia tau gadis itu menghindari nya namun ia pun hanya berlatih kembali mencium pipi gadis nya.


"Kalau kamu suka nanti kakak buatin lagi," ucap nya pada gadis itu.


...


"Kak?"


"Kakak?"


Gadis itu keluar dengan handuk putih yang masih melilit di tubuh nya.


"Kakak lihat sweter aku yang warna putih gak kak?" tanya nya pada pria itu.


Sedangkan Steve bukan nya menjawab malah menatap dengan mata yang tak berkedip


Greb!


Satu tarikan langsung membuat tubuh mungil itu terjatuh ke atas pangkuan pria itu.


"Kak..." panggil gadis itu lirih saat sang kakak menatap nya sama seperti ketika ingin meminta sesuatu dari nya.


Humph!


Bukan jawaban yang di lakukan namun tarikan di tengkuk dan bibir yang lembut itu lah yang menjadi sambutan nya.


Gadis yang sudah tau arti dari hal mereka lakukan itu tanpa sadar membuat nya melakukan penolakan.


Tangan kecil nya memberontak, berusaha mendorong walaupun biasa nya ia tak pernah menolak sama sekali.

__ADS_1


Steve yang sudah hampir seminggu lebih tak mencoba lagi merasakan bibir manis adik tiri nya seperti tak sadar jika ia terus memaksakan ciuman nya.


Celine mulai lagi tak mendorong sama sekali saat ia tau tangan kakak nya seperti besi yang menahan kepala nya hingga tak bisa bergerak, ia diam namun tanpa ia sadari mata nya mulai berkaca.


Pangutan itu terlepas, pipi yang basah karna buliran bening dari mata itu membuat pria itu tersentak.


"Celine?" ucap Steve yang langsung mengusap air mata gadis nya.


"Celine gak mau kak..." ucap nya lirih.


"Celine gak mau lagi..." sambung nya dengan buliran bening yang masih menetes.


Ia takut jika melakukan nya lagi akan ada sesuatu yang harus kembali ia lepaskan seperti impian nya, takut jika hubungan nya akan memberikan benih yang lain lagi.


"Kakak buat kamu sakit? Jangan nangis..." ucap pria itu dengan lembut yang merasa bersalah jika melihat gadis nya yang langsung terisak hanya dengan ciuman.


Jika saja gadis itu tau sejak awal jika hubungan yang biasa ia lakukan tak di perbolehkan dan salah tentu nya akan ada penolakan yang datang bukan pasrah dan menyukai begitu saja serta tak memberi penolakan sama sekali.


"Ce...Celine gak mau hamil lagi kak..."


"Celine takut..." ucap nya lirih pada pria itu dengan polos.


"Kalau kamu sekarang lagi hamil, gak mungkin hamil nya jadi nambah lagi Celine," ucap Steve yang menenangkan rasa takut gadis itu.


"Taku Celine gak mau kak..." jawab nya lirih yang tetap menolak.


Pria itu menarik napas nya, ia mengusap dengan lembut air mata yang jatuh itu dan mengecup pipi gadis nya.


"Maaf, kakak gak akan cium kamu kok, gak akan sentuh kamu kalau kamu gak mau..." ucap nya sembari menenangkan gadis yang menangis itu.


"Don't cry anymore, babe..." ucap nya berbisik sembari mengusap rambut yang masih basah itu.


Ia tak bisa memaksa gadis itu untuk melakukan hubungan dengan nya karna ia tak mau melihat gadis nya terluka atau pun tersakiti namun tetap saja ia juga pria normal yang penuh dengan hormon saat terpancing dengan gadis yang cintai.


Tangisan lirih itu masih tak berhenti, pria itu beranjak menggendong nya dan membawa ke ruang ganti.


"Kamu mau sweter putih yang ini?" tanya Steve sembari menatap gadis nya dan membujuk nya.


Menatap gadis yang masih memilik mata merah berair itu, "Udah jangan nangis lagi..."


"Kamu sekarang kenapa sering nangis? Hm? Kakak kan sudah sama kamu..." ucap nya sembari melihat dan menatap gadis nya.


Celine tak menjawab, ia juga tak tau mengapa sekarang menjadi lebih sering menangis apalagi semenjak tau tentang kehamilan nya.


"Celine?" panggil pria itu sembari memegang tangan mungil gadis kesayangan nya.


"Kakak itu mau nya kamu seperti dulu, main, usil, ceria..."


"Kalau kamu gak suka kakak sentuh kamu, kamu bisa nolak kok, tapi kakak gak mau lihat kamu sedih..." ucap nya pada gadis itu.


Celine melihat ke arah sang kakak yang selalu berusaha menghibur nya.


"Kalau gitu Celine mau keluar kak," ucap nya lirih pada sang kakak.


"Kamu mau makan di luar?" tanya pria itu menatap wajah yang masih polos menggemaskan itu.


"Ini kan jauh Celine, naik mobil aja sudah dua jam. Kamu nanti kelelahan." ucap Steve yang tak mau kandungan yang berusaha ia pertahankan menjadi terancam.


Gadis itu terlihat lesu mendengar nya, ia menunduk dan tak mengatakan apapun, hormon hamil yang membuat nya semakin sensitif akan ucapan seseorang.


"Kita ke sini?" tanya Steve mengulang sembari menunjukkan tempat yang lebih dekat.


Gadis itu menoleh, senyuman tipis dengan mata berbinar itu mulai mengembang.


"Dua Minggu lagi yah, nanti kakak minta cuti biar bisa main sama kamu." ucap Steve menatap gemas wajah imut adik tiri nya yang tengah membawa darah daging nya itu.


Cup!


Satu kecupan di dahi gadis nya melayang, "Terus kamu mau apa lagi?" tanya nya yang seakan bisa menuruti apa saja yang di inginkan gadis nya.


Gadis itu menggeleng atas pertanyaan sang kakak.


...


2 Minggu kemudian.


"Kamu sudah siap?" tanya Steve yang mulai menghidupkan mesin mobil nya.


"Kak?" panggil gadis itu yang merasakan ingin sesuatu secara tiba-tiba.


"Iya?" jawab Steve sembari menoleh.


"Kita pergi nya sama mobil rumah bisa kak? Kak seru itu, Celine mau coba..." ucap nya menatap sang kakak dengan mata jernih nya.


Steve menatap ke arah gadis itu dengan bingung.


Dimana ia akan mencari mobil rumah sekarang?


"Kamu beneran mau pakai nya mobil begitu? Tidak mau yang biasa kita pakai saja?" tanya Steve pada gadis itu.


Gadis itu menggeleng, walaupun mobil yang ia pakai saat ini merupakan mobil mewah kelas teratas namun ia malah ingin mencoba memakai mobil rumah hanya karna melihat mobil yang berbentuk besar dan petak dan mengingatkan nya pada mobil rumah.


"Kakak gak bisa cariin?" tanya gadis itu lirih sembari memegang dan meraih tangan sang kakak lalu menatap nya dengan mata berbinar yang dapat membuat siapapun menjadi tak tega.


3 Jam kemudian.


"Celine? Ayo." ucap Steve yang kembali setelah mencari dan menuruti permintaan aneh gadis nya yang tengah hamil itu.


Gadis itu tersenyum, melihat senyuman yang mengambang di wajah yang masih imut itu membuat rasa kesal dan suntuk pria itu menghilang karna mencari mobil rumah yang tersedia dan bisa mereka gunakan.


......................


Lavender fields

__ADS_1


Gadis itu terlihat begitu senang, bunga berwarna keunguan yang terlihat begitu mekar dan cantik membuat senyum nya mengembang dengan sempurna.


"Kak?" panggil nya tersenyum.


Senyuman cerah terlihat setelah wajah yang penuh akan tangis itu beberapa hari sebelum nya.


Steve mengambil camera nya mukai memotret gadis nya tak sadar itu sedang dan tersenyum melihat mekar nya bunga berwarna ungu memanjang itu.


"Celine? Sini lihat kakak..." ucap nya yang mulai memotret gadis itu.


Setelah melihat dan cukup berkeliling pun Steve segera memanggil gadis itu karna tak mau nanti nya ibu muda yang mengandung 4 bayi itu menjadi kelelahan.


"Kak Celine mau lihat foto yang tadi," ucap gadis itu sembari membuka pakaian nya karna merasa gerah telah bermain satu harian dan hanya mengenakan pakaian lapis di dalam pakaian nya yang lain karna sebelum nya ia mengenakan kemeja longgar yang di buat seperti jaket.



Steve menatap tempat tidur di mobil itu yah terkuat berantakan namun saat melihat wajah gadis yang terlihat serius menatap Poto yang terambil sebelumnya nya membuat ia tak jadi menegur.


"Celine? Jangan telungkup," ucap nya pada gadis itu.


Gadis itu menoleh dan menatap sang kakak, "Memang gak boleh yah kak?" tanya nya yang mulai duduk.


Steve tak menjawab, ia sendiri saja tak tau boleh atau tidak membiarkan ibu hamil muda telungkup namun ia hanya khawatir dengan kondisi ke empat anak nya jika sang ibu telungkup.


"Kamu sudah lapar?" tanya nya yang memilih tak menjawab pertanyaan sang adik barusan.


Satu anggukan menjadi jawaban gadis itu, "Yauda kita cari resto nya yah..." ucap Steve sembari mengecup kening gadis itu.


"Kak? Yang ini kapan kakak ambil nya?" tanya gadis itu mendekat.


Sedangkan pria itu tak bisa mengatakan apapun, ia saja sudah susah payah menahan diri nya namun gadis itu malah mendekat dengan pakaian terbuka di tempat yang tertutup dan cocok untuk melakukan sesuatu yang lain.


"Celine?" panggil Steve yang sembari menggaruk kepala nya sejenak.



Ia memiringkan kepala nya menatap gadis itu yang tanpa ragu mendekat pada nya.


"Ada apa kak?" tanya gadis itu yang tau sang kakak sedang menahan sesuatu.


Greb!


Satu tarikan dan menjadi pelukan ketika gadis itu langsung merapat pada pria itu.


"Celine? Kamu jangan gerak yah? Kakak cuma mau peluk kamu aja." ucap nya lirih sembari memeluk gadis yang terlihat bingung itu.


"I...iya kak..." jawab nya lirih tanpa sadar dan bahkan tak tau jika sang kakak sedang menahan diri nya mati-matian karna sudah terlalu lama puasa dalam menyentuh nya.


Walaupun hanya hitungan beberapa Minggu namun bagi pria yang memiliki hasrat besar dan juga yang hanya tertarik dengan gadis nya itu tentu sulit mengendalikan diri nya.


Apa lagi jika ia sudah mengenal tubuh yang membuat nya begitu kecanduan.


"Fyuhh..." gadis itu meniup pelan telinga pria itu ketika melihat sesuatu menempel.


Entah daun kering ataupun bunga kering yang pasti nya benda itu hingga di telinga sang kakak.


Steve tersentak, ia sangat sensitif jika gadis itu menyentuh telinga nya, "Celine! Kan kakak bilang kamu jangan gerak," ucap Steve yang tersentak dan semakin menahan diri nya.


Ia menarik napas lalu membuang nya dan memejam dengan mata nya agar bisa menurunkan n*fsu yang tiba-tiba naik itu.


"Ada kotoran kak tadi," jawab gadis itu yang malah membersihkan dengan jemari nya yang halus dan lembut, "Malah jatuh." ucap nya yang kini beranjak menyingkirkan bunga kering di leher pria itu.


"Kakak tadi kemana sih? Kok banyak bunga yang nempel?" tanya nya sembari berulang kali mengusap leher pria itu agar serpihan bunga kering itu hilang di leher putih sang kakak.


"Celine?" panggil Steve dengan suara berat sedangkan ia tengah memeluk dengan posisi memangku gadis itu dan sama-sama duduk di atas tempat tidur mobil rumah tersebut.


"Tadi daun nya juga banyak yang nempel di sini? Mau di bersihin juga tidak?" tanya pria itu yang mengarahkan tangan gadis nya ke sesuatu yang sudah membesar dan mengembang.


"Kak?" panggil gadis itu yang terkejut merasakan sesuatu yang seharusnya tidur namun kini sudah bangun.


"Jangan lihat kakak begitu, tangan kamu sih nakal padahal kakak sudah suruh kamu jangan bergerak." ucap pria itu frustasi karna gadis itu terlihat tak ingin melakukan nya.


Rona merah mulai naik, gadis itu menatap ke arah pria yang terlihat tengah menahan sesuatu itu.


"Kakak sakit?" tanya nya lirih.


"Kalau kakak kasih tau kamu juga gak akan mau kan?" tanya Steve yang tak bisa melakukan apapun walau sudah sangat ingin menerkam gadis di depannya.


"Celine takut kak..."


"Maaf..." ucap nya lirih pada pria itu.


Steve membuang napas nya yang berat itu sembari melihat wajah memelas yang terlihat merasa bersalah dan takut di saat bersamaan.


"Kalau kakak cium bibir kamu boleh? Sama pinjam tangan kamu aja," ucap pria itu sembari memandang gadis di depannya.


"Tangan Celine buat apa kak?" tanya gadis itu dengan bingung.


"Buat pijat kakak," jawab Steve asal, walaupun gadis itu sudah tau secara garis besar namun tetap saja banyak hal lain yang belum ia ketahui sama sekali.


"Bukan itu kan kak?" tanya nya lirih.


"Iya, bukan..."


"Kalau kamu gak setuju kakak gak akan lakukan kok," ucap nya yang sedang menahan hasrat yang sudah mencapai ubun-ubun itu.


"Ciuman sama tangan Celine aja kak?" tanya nya lagi dengan takut jika sang kakak akan melakukan lebih.


Pria itu mengangguk, "Kalau kamu mau." ucap nya.


Celine bingung, ia tak tau apa yang bisa di lakukan dengan ciuman dan tangan mungil nya yang lembut itu.


"Yauda kak," jawab nya yang sekali lagi jatuh dalam muslihat sang kakak.

__ADS_1


Humph!


Steve langsung menarik tengkuk gadis itu dan mel*mat bibir merah muda itu sampai habis, tangan yang mungil itu pun segera di arahkan pada sesuatu yang sudah memberontak sejak tadi ingin udara bebas.


__ADS_2