
Universitas.
Ainsley yang dijemput oleh bawahan sang ayah dari kampus tentunya langsung ikut dan kembali ke kediaman nya.
..
Kediaman Belen.
Gadis itu memasuki lagi kediaman mewah yang baginya seperti sangkar emas yang terus mengurung nya dan melatih nya seperti bukan manusia.
"Piyu...
Kenapa jatuh yah?" ucap gadis itu dan langsung menghampiri rakun peliharaan ibu nya yang terjebak tanaman di taman rumah nya.
"Sakit? Kasihan...
Aku obatin yah?" ucap Ainsley dengan lembut sembari menggendong rakun berbulu halus itu dan membawa nya masuk.
Fanny yang suasana hati nya sudah kesal karna bertengkar lagi membuat nya semakin sensitif melihat putri nya yang membawa hewan peliharaan nya yang sedang terluka dalam gendongan gadis cantik itu.
Plak!
Tanpa bertanya ataupun berbicara wanita itu langsung melayangkan tangan nya untuk memukul putri nya.
"Kau apakan dia?! Kau melukai nya?!" bentak Fanny sembari mengambil rakun nya dari gendongan putri nya.
Ainsley diam membatu ia terkejut saat tiba-tiba mendapatkan pukulan yang menyakitkan di pipi putih nya.
Fanny sendiri seperti biasanya selalu akan membuat gadis itu tersiksa jika ia baru saja bertengkar dengan sang suami.
"Ainsley tidak melakukan apapun Mah..." cicit Ainsley menunduk sembari memegang dan mengusap pipi nya perlahan. Ia sedang berusaha menahan keras air mata nya agar tak jatuh dan tak semakin di marahin.
"Alasan! Minta maaf sama Piyu! Karna kau dia terluka!" bentak Fanny yang sama sekali tak mendengarkan putrinya.
"Beneran bukan Ainsley Mah...
Ainsley tidak salah..." jawab gadis itu berusaha meyakinkan sang ibu jika sejak awal ia menemukan rakun ibu nya hewan tersebut sudah terluka.
Plak!
Fanny pun dengan nada datar langsung menampar gadis itu lagi tanpa rasa bersalah, ia tau jika Ainsley tak bersalah dan tak tau apapun namun ia hanya butuh pelampiasan dari rasa kesal nya setelah pertengkarannya dengan Michele.
"Kalau ku bilang minta maaf yah lakukan saja! Kau bodoh?! Percuma belajar tapi masih idiot!" ucap Fanny sembari menunjuk dan mendorong kepala gadis itu dengan jari telunjuk nya.
Ainsley hanya diam sesekali ia menghapus air mata nya yang jatuh tak bisa ia tahan sama sekali walau sekeras apapun ucapan nya.
"Ma-maaf Piyu...
Aku jahat, buat Piyu luka..." ucap gadis itu yang kesulitan karna menangis sembari menatap hewan peliharaan yang berada dalam pelukan sang ibu.
"Piyu sayang...
Sekarang kita obati yah?" ucap Fanny yang tak menghiraukan gadis cantik itu dan berlalu begitu saja meninggalkan putri nya yang menangis tersedu tanpa suara itu.
Aku juga mau di peluk...
Batin Ainsley yang semakin menjatuhkan bulir bening nya ketika menatap rakun yang di peluk ibunya dengan penuh kasih sayang sedangkan ia tak pernah sama sekali mendapatkan nya.
Ainsley pun mengusap air mata nya dan membasuh wajah nya lebih dahulu sebelum menemui sang ayah, kaki nya pun melangkah ke kamar yang selalu ia tempati sejak kecil.
Ia melatih senyuman palsu yang harus ia tunjukan agar dirinya terlihat baik-baik saja dan memancing amarah sang ayah nanti nya di depan cermin.
"Kalau aku seperti ini ayah tidak akan marah padaku kan?" ucap gadis itu yang berusaha tersenyum di depan cermin dan sudah menutup bekas tamparan ibu nya dengan make up.
Ia pun turun dan mulai ke ruangan kerja sang ayah.
"Papah? Ada apa?" tanya Ainsley setelah mengetuk pintu dan masuk ke ruangan tersebut.
"Anak tak berguna! Percuma di besarkan dengan baik tapi hanya membuat malu!" ucap Michele yang juga melempar semua kesalahan pada putri nya.
Ainsley pun langsung menunduk dan menautkan jemarinya satu sama lain dengan takut. Ia berdiri membatu di depan sang ayah yang duduk di kursi kerja nya.
__ADS_1
sedangkan gadis itu terlihat sangat takut dan berdiri di depan meja pria paruh baya itu seperti sedang di sidang.
"Kau tak pikir konsekuensi nya untuk keluargamu kalau kau mau bertindak konyol dengan bunuh diri? Apa yang kurang? Uang? Aku sudah berikan black card untuk mu tapi kau masih melakukan hal memalukan itu!" ucap Michele pada putri nya.
Ia sama sekali tak mau tau alasan putri nya berbuat nekat namun ia melemparkan semua kesalahan pada gadis malang itu.
"Ma-maaf Pah..." ucap Ainsley dengan takut sembari terus menunduk dan menghapus air mata nya sesekali.
"Kalau kau buat kesalahan seperti ini lagi aku akan memindahkan mu keluar negri!" ucap Michele pada gadis itu.
Ainsley langsung terbelalak jika ia di paksa pergi maka ia harus meninggalkan kekasih nya, pria satu-satunya yang mau mengakui keberadaan nya.
Gadis itu langsung berlutut dan memohon pada sang ayah dengan sepenuh hati yang ia miliki.
"Maaf Pah...
Ainsley salah...
Janji tidak akan buat malu Papah lagi..." mohon gadis itu pada sang ayah yang tak bisa menahan air mata nya jatuh semakin banyak.
"Berisik! Sana keluar! Ini yang terakhir kali aku mendengar hal konyol ini lagi!" ucap Michele pada gadis itu yang menganggap jika penyakit mental putri nya hanya hal konyol yang tak penting.
Ainsley pun diam dan mulai keluar dari ruang kerja sang ayah. Langkah nya gontai hingga ia berhenti dan melihat cupcake yang tersusun rapi diatas meja saat ia hendak keluar.
Gadis itu tak berani memakan nya sama sekali ataupun mengambil dan menyentuhnya, ia hanya diam melihat kue cantik yang ia tau jika itu buatan ibu nya.
Fanny yang baru datang dengan menggendong Piyu yang sudah di obati melihat putrinya terus mematung melihat cupcake cantik nya.
"Kenapa lihat-lihat?!" tanya Fanny ketus dan langsung mengambil cupcake nya agar putrinya tak terus melihat.
"Maaf Mah..." ucap Ainsley lirih dengan menunduk tak berani menatap ke arah sang ibu.
"Malang nya...
Kau habis di marahin pria brengsek itu?" ucap Fanny sembari duduk dan menyantap cupcake nya dengan santai di depan putri nya.
"Mau? Kau bisa ambil kecuali yang rasa red velvet." tawar Fanny pada gadis itu dan langsung membuat Ainsley mengandah.
Sejak kecil ia memang terkadang di berikan kue buatan ibu nya, namun Fanny hanya akan memberinya sisa jika tak habis memakan nya dan hal itu bisa membuat gadis itu langsung senang setengah mati walau hanya makanan sisa buatan ibunya.
"Hm...
Setelah itu pergi dari hadapan ku! Melihat wajah mu membuat ku kesal!" ucap Fanny ketus.
Gadis itu memilih dan mengambil rasa matcha yang terlihat cantik baru kali ini ibu nya memberi yang bukan kue sisa lagi.
"Terimakasih Mah..." ucap gadis itu tersenyum cerah dan memegang dengan hati-hati karna takut merusak cupcake cantik itu.
"Itu yang coklat ambil juga!" ucap Fanny sembari menunjuk cupcake rasa coklat.
Ia tak menyukai rasa coklat namun selalu tanpa sadar membuat nya, rasa yang paling di sukai gadis cantik itu.
Namun karna ia yang mengeraskan hati nya membuat nya selalu ingin melihat gadis itu menderita. Ia tak memakan rasa coklat dan membiarkan putri nya hanya melihat dan sangat ingin mencoba kue buatan nya.
Setelah kue itu hampir rusak ia akan memberikan nya yang sama saja seperti memberi kue sisa yang harus nya di buang. Namun Ainsley yang selalu memberikan senyum nya dan sangat senang walaupun di beri kue yang hampir busuk tak pernah mengeluh ataupun membenci ibu nya.
"Terimakasih Mah..." ucap nya lagi saat mengambil kue yang masih baru itu tak seperti kue lain nya.
Semua kesalahan dan kesedihan yang di ciptakan orang tua nya sirna hanya karna sepotong cupcake cantik yang di berikan padanya.
Fanny melihat gadis itu yang berjalan menjauh dengan perasaan senang dan senyuman cerah yang tulus.
Andai saja kau bukan putri nya...
Dengan begitu aku bisa menyayangi mu, dan kita bisa memiliki hubungan ibu dan putri seperti orang lain....
......................
Ainsley pun berhenti di salah satu mall. Entah kenapa saat suasana hati nya sedang senang ia akan mengingat kekasih nya.
Gadis itu berbelanja beberapa bahan masakan dengan tujuan ingin memasakan sesuatu untuk pria yang sudah mengisi hati nya sepenuh nya.
__ADS_1
Gadis itu...
Ucap Richard saat melihat Ainsley yang tersenyum cerah sembari mendorong keranjang belanja nya.
Pria itu memiliki urusan lain dan saat ingin kembali ia melihat gadis yang hampir ia dapatkan tubuh nya beberapa malam yang lalu.
Richard pun segera datang menghampiri dan menyapa gadis itu, tentu nya dengan gaya yang pura-pura menjadi orang baik untuk mempermainkan kelinci polos yang terisolasi dari kejam nya dunia.
"Kau juga belanja disini?" tanya Richard pada gadis itu sembari ikut memilih daging yang ingin di beli Ainsley.
Deg...
Ainsley tersentak karna terkejut, ia sangat takut saat mendengar suara orang yang tiba-tiba datang pada nya dari belakang karna membuat nya teringat akan penculikan nya.
"Eh? Pa-pak dosen..." ucap Ainsley lirih ia langsung menghindar agar tak mendekat ke pria itu lagi.
Ia tak mau kekasih nya melihat dan membuat Sean benci pada nya.
"Kenapa kau sangat takut? Karna di Club? Waktu kau di racun...
Aku hanya ingin membantu mu..." ucap Richard yang memasang wajah sendu membuat gadis itu merasa bersalah karna seperti mencurigai.
"Di racun? Ke-kenapa? Kan aku tidak salah apapun?" tanya Ainsley yang sangat mudah di bodohi karna sama sekali belum tau beragam nya manusia-manusia brengsek yang bahkan tak pantas di sebut manusia lagi.
"Entahlah...
Aku hanya ingin membantu mu malam itu, alu tak mau kau sampai mati, tapi pacar mu langsung datang dan marah pada ku..." jawab Richard yang semakin ingin mempermainkan gadis itu.
"Sean tidak jahat...
Dia cuma salah paham...
Dia bukan orang yang akan langsung berkelahi..." ucap Ainsley yang masih bisa membela Sean walaupun ia sendiri tau bagaimana kasar nya pria itu pada nya saat sedang marah.
"Saat itu seperti film yang menangkap perselingkuhan...
Kau tau?" ucap Richard yang semakin ingin mengganggu gadis itu karna semakin lama semakin menunjukkan keluguan nya yang membuat berbeda dari gadis lain.
Ainsley diam dan memandang bingung, ia tak pernah menonton film kecuali dengan Sean bahkan sejak kecil ia tak pernah menonton kartun sama sekali dan hanya di berikan tontonan materi pembelajaran dan video konser atau musik dari pianis terkenal ataupun hanya tampilan berita sosial yang menampilkan situasi saat ini.
Karna tak pernah tau tentang apa yang sedang tren atau bahkan menonton film, drama, atau kartun saja ia sangat jarang dan hampir tak pernah kecuali dengan Sean membuat nya semakin polos dan tak mengerti apapun.
"Kau tak tau?" tanya Richard saat melihat wajah bingung gadis itu.
Ainsley pun menggeleng lirih.
"Kau tak pernah menonton film?" tanya Richard bingung dengan sikap gadis itu yang tak tau apapun.
"Pernah!" jawab Ainsley langsung karna ia memang pernah menonton film dengan Sean setiap kali pria itu mengajak nya menginap.
"Film apa? Mungkin bisa menjadi referensi ku kalau bagus..." ucap Richard basa-basi.
Blush...
Pipi gadis itu langsung memerah saat ia mengingat film yang di pilih kekasih nya untuk ia lihat bersama.
"Kau lihat dengan pacar mu?" tanya Richard saat melihat wajah gadis itu yang langsung memerah dan malu seketika.
Ainsley pun mengangguk dan semakin memerah wajah nya karna ia semakin malu.
Lucu...
Entah kenapa pria itu ingin tertawa melihat gadis yang langsung salah tingkah itu.
"Mau berbaikan dengan ku?" tanya Richard yang mengulurkan tangan nya untuk bersalaman menandakan ia ingin gadis itu melupakan kejadian di club.
Ainsley terlihat ragu dan gugup saat pria itu mengulurkan tangan nya.
"Aku benar-benar tak sengaja...
Aku hanya ingin menolong mu saat itu..." ucap nya lagi yang penuh akan kebohongan dengan wajah iba membuat Ainsley menjadi tak tega.
__ADS_1
"I-iya..." jawab Ainsley mendekat dan membalas uluran tangan pria itu.
Richard tersenyum simpul melihat yang entah keluguan gadis itu atau kebodohan nya yang sangat mudah memiliki rasa iba pada orang lain.