
3 Minggu kemudian.
Gadis itu membanting tubuh nya diatas ranjang yang empuk, ia membuka ponsel nya dan memainkan nya.
Kau mau keluar?
Sebuah pesan yang membuat sudut bibir gadis itu naik dan langsung membalas nya cepat.
Tentu saja!
Ia pun kembali bangun dan segera bersiap, memakai pakaian yang ia sukai dan keluar.
Auch!
Ringis nya saat pinggang nya terasa sakit karna kemarin Richard membuat nya bermain di atas meja makan, ia bahkan tak tau kenapa pria itu selalu ingin melakukan nya di segala tempat.
...
"Kau menunggu lama?" tanya gadis itu saat menuruni anak tangga dan melihat pria yang menunggu nya di ruang tengah kediaman mewah itu.
"Tidak, teh di sini enak jadi aku tidak merasa terlalu lama." jawab pria itu tersenyum.
Gadis itu tersenyum ia pun beranjak mengajak pria itu untuk segera keluar.
"Kita mau kemana?" tanya Calesta saat mulai memasuki mobil pria yang menjemput nya.
"Tempat yang kau sukai," jawab pria itu tersenyum.
Gadis itu tal lagi bertanya ia menurut saja karna ia juga senang saat bersama dengan pria tampan itu.
......................
Aroma dedaunan dan bunga yang mekar dengan angin lembut yang terasa sejuk di cuaca yang kali ini cerah.
"Sean, lihat ini!" ucap nya dengan senang, ia memang suka berada di tempat yang membuat mata nya nya sejuk.
Warna hijau yang membuat nya hati nya terasa damai.
"Angin nya terasa kencang, kau jadi memakan rambut mu sendiri." ucap pria itu mendekat dan mengikat rambut gadis itu kebelakang.
Deg!
Mata nya terperanjat melihat bekas kemerahan di leher putih gadis itu, bersembunyi di balik rambut dan jaket yang di gunakan.
Ia tetap mengingat rambut panjang yang tergerai itu, namun bibir nya tersenyum pahit, hati nya terasa berdenyut dan nyeri di saat yang bersamaan melihat apa yang ada di depan mata nya.
"Kau benar-benar pacaran dengan nya?" tanya nya mengalihkan mata nya menatap ke arah lain.
Calesta menoleh ia menatap pria itu yang seakan terlihat terluka, "Bukan hubungan yang terikat, kau tau kan? Hanya hubungan yah...
Hubungan seperti itu saja."
Sean mengangguk, ia tau gadis itu tak memiliki hubungan yang mengikat perasaan namun mengikat hasrat dan tubuh.
"Aku boleh tanya satu hal?" tanya pria itu yang kini menoleh.
Calesta melirik ke arah lain sejenak dan kembali menatap pria itu lagi, ia merasa canggung dan dengan tanpa sadar memegang ke arah leher nya yang masih memiliki bekas kecupan.
"Bo-boleh, tanyakan saja." jawab gadis itu.
"Aku tidak bisa memuaskan mu? Kau tau kan malam itu kau kan sudah mencoba nya? Aku tidak cukup baik? Atau milik ku kura-"
Blush!
"Hush! Jangan tanya lagi!" potong gadis itu langsung menutup mulut pria itu dengan kedua tangan kecil nya.
Wajah dan telinga nya memerah, ia ingin menghentikan waktu karna merasa begitu malu.
"Bu-bukan itu masalah nya," jawab gadis cantik itu lirih.
Sean melepaskan tangan kecil yang berada di mulut nya perlahan, "Kau menyukai nya?"
Calesta langsung menengadah, ia menatap dengan mata panik, "Bukan! Bukan suka juga. Aku...
Bagaimana yah?" jawab nya bingung.
Walaupun bukan perasaan yang kuat saat seperti bersama pria tampan itu namun tubuh nya sudah beradaptasi dengan semua permainan yang di berikan Richard, di tambah lagi dengan semua kesenangan abstrak yang di berikan padanya.
"Lalu?" tanya Sean lagi.
"Waktu itu, aku cuma buat kesepakatan saja." jawab gadis itu lirih.
"Apa kesepakatan nya?" tanya Sean langsung.
Calesta diam sejenak, ia takut menjawab nya karna takut pria itu pergi dari nya.
__ADS_1
"Hm?" tanya Sean lagi saat melihat gadis itu diam.
"Sean tidak mau berteman dengan ku lagi?" tanya nya lirih.
"Bukan nya tidak mau, aku hanya ingin lebih dekat dari teman, tapi kau terus menghindar." jawab pria itu pada gadis di depan nya.
"Lebih dekat?" tanya Calesta mengulang.
"Hm, kau mau? Kali ini, aku tidak akan melukai mu." ucap pria itu sembari menggenggam erat jemari mungil gadis cantik itu.
Sean sudah tidak tahan lagi melihat gadis yang ia sukai terus menerus bersama pria lain, walau bukan hubungan yang mengikat perasaan namun memiliki hubungan dalam yang juga lebih dari sekedar teman.
"Tapi aku," ucap nya lirih sembari memutar bola mata nya.
Ia bingung, dalam kesepakatan nya ia tak boleh memiliki hubungan yang dalam dengan pria lain, namun tidak mungkin juga berkencan tanpa hubungan yang seperti itu.
"Akan ku pikirkan," jawab nya sembari melepas tangan kekar yang menyelimuti tangan mungil nya perlahan.
Sean tersenyum pedih mendengar nya, mungkin ini batu nya karna ia dulu pernah menyakiti gadis di depan nya dan tidak tau bagaimana cara mencintai yang benar.
...
"Wah...
Ini apa? Jadi seperti mengunjungi fosil bangunan tua..." ucap gadis itu takjub.
Pria itu memberikan senyuman nya, ia berjalan mendahului dan duduk di dekat salah satu tempat yang bisa dijadikan sandaran.
"Sini, duduk di sini." ucap pria itu saat memandang gadis cantik yang tengah tersenyum cerah tersebut.
"Hm?" Calesta menoleh ia menatap pria tampan itu dan sedetik kemudian tangan nya tertarik.
"Eh? Aku bisa duduk sendiri," ucap nya terkejut saat ia duduk di atas pangkuan pria itu.
Sean tak menjawab ia memeluk perut gadis itu dari belakang dan tetap memaksa pangkuan nya, "Kau tidak merasa nyaman?"
"Nyaman, aku merasa nyaman..." jawab gadis itu lirih.
Sean tersenyum menghirup aroma punggung gadis itu, semerbak parfum lembut memasuki penciuman nya.
"Aku merindukan mu," gumam nya lirih sat ia menjatuhkan wajah nya ke punggung gadis yang tengah ia pangku.
"Kau bilang apa?" tanya Calesta tak mendengar jelas suara lirihan pria tampan itu.
Calesta diam sejenak, pria itu mengatakan apa yang ada di pikiran nya.
Ia memang suka mengambil gambar, namun ia tak melakukan nya karna tak memiliki hubungan apapun selain close friend dengan pria itu.
Sean mengambil ponsel nya dan dan meminta gadis itu mengklik foto bersama, Calesta tak menolak ia tersenyum dan mengikuti apa yang di inginkan pria itu.
"Kau mau ambil foto lagi?" tanya Sean saat melihat hasil foto nya.
Calesta berhenti mengganti slide, wajah nya memerah ia dapat merasakan hembusan napas hangat pria itu di telinga nya, jantung nya berdebar dan hal itu membuat nya gugup tanpa ia sadari.
"A-aku haus, mau minum..." ucap gadis itu gugup.
"Haus?" tanya Sean sembari mengangkat pinggul gadis itu agar berdiri, "Tunggu di sini aku beli minum dulu."
"Eh?" Calesta terkejut namun ia tak sempat memanggil saat pria itu sudah pergi membelikan nya minuman karna ucapan asal nya yang mengatakan haus.
Tangan nya menyentuh debaran di dada nya yang masih terasa jelas, ia gugup dan terkadang malu namun juga ingin bersama pria itu.
Mata nya kembali teralihkan lagi pada ponsel yang berada di tangan nya, ia melihat isi galeri pria tampan itu.
Ia mengernyit tak ada foto lain selain dirinya, kalaupun ada itu ketika ia bersama dengan pria itu.
"Aku dan Sean?" gumam nya melihat semua isi galeri tersebut.
Tersenyum dan foto yang menunjukkan kalau ia dulu berkencan dengan pria itu, "Aku dulu sesenang ini?" ucap nya saat melihat wajah nya yang penuh akan senyuman cerah bersama pria itu.
Tak hanya ia itu ia juga membuka beberapa file, file yang berisi tentang bangunan design rumah yang dulu ia inginkan.
Perasaan nya kembali terasa tergelitik, ia seakan kembali melewatkan sesuatu yang ia tak ingat, namun ia suka dengan design seperti itu.
"Kau menunggu lama?" tanya Sean sembari membawakan minuman nya.
Calesta terkejut begitu mendengar suara pria itu, "Ti-tidak, maaf aku tadi buka ponsel mu sembarangan."
Sean tersenyum, ia mengambil ponsel nya yang di kembalikan pada nya dan memberikan minuman yang ia beli pada gadis itu.
"Kau mau membangun rumah seperti itu?" tanya gadis itu membuka suara.
"Rumah?" Sean bingung sesaat namun ia teringat file design di ponsel nya, "Kau suka?"
"Eh? Bukan, aku cuma tanya..." jawab gadis itu gugup.
__ADS_1
"Aku membuat nya untuk mu dulu, tidak akan ku ralat aku membuat nya untuk kita tapi dengan design yang kau sukai." ucap pria itu tersenyum.
Calesta tak tau harus mengatakan apa ia hanya bisa memberikan senyuman nya saja.
......................
2 Minggu kemudian.
Mansion Zinchanko.
Hoek!
Gadis itu bangun dari bangku nya, ia tak bisa menelan sarapan yang di berikan pada nya pagi ini namun langsung berlari ke wastafel.
"Kau baik-baik saja?" tanya Richard sembari mengelus punggung gadis itu.
Calesta membasuh bibir nya dengan air yang mengalir di depan nya, dan menggeleng perlahan.
"Perut ku terasa tidak nyaman," jawab nya lirih.
Richard melihat gadis itu dan mengelus tetap punggung nya.
"Paman, ada yang mau ku bicarakan." ucap nya setelah meminum air hangat yang di berikan Richard.
Richard masih diam, ia menggenggam tangan gadis itu dan kembali membawa nya ke meja makan.
"Makan dulu baru setelah itu bicara, atau ada yang kau inginkan?" tanya pria itu menatap wajah gadis di depan nya.
"Ini mungkin aku mual karna semalam paman kuat sekali!" ucap gadis itu kesal.
"Biasanya kau mencegah ku, tapi kenapa semalam tidak?" tanya Richard pada gadis itu.
Karna ia tau biasanya gadis cantik itu akan mengatakan tidak mau, atau protes jika ia melakukan gerakan yang terlalu mendominasi atau terus mengulangi tanpa lelah, namun tadi malam gadis itu tak mencegah dan menuruti nya saja.
Calesta meletakkan sendok dan garpu nya, "Karna hadiah perpisahan? Dulu kan kesepakatan nya kalau salah satu ingin berhenti maka kita bisa berhenti," jawab gadis itu.
Richard masih tak memotong pembicaraan gadis itu, ia mulai tau arah pembicaraan gadis di depan nya.
"Sekarang aku mau berhenti, jadi paman harus cari partner ranjang yang lain," sambung gadis itu lirih.
"Coba ulangi?" tanya Richard dengan mata yang memandang tajam dan dingin.
Deg!
Gadis itu tersentak, entah kenapa ia merasa takut dengan nada dingin dan tatapan tajam yang seakan ingin membunuh nya.
"A-aku bilang aku mau...
Aku mau..." jawab nya gugup entah mengapa pria yang biasanya memberikan perlakukan lembut dan perhatian itu kini tampak begitu mengerikan hingga membuat nya tak sanggup memandang.
Richard tiba-tiba tersenyum dan mendekat ke arah gadis cantik itu, "Kau mau berlayar kan? Aku sudah siapkan kapal nya, minggu ini kita pergi."
Calesta menoleh, pria itu kini tersenyum sekian tak pernah memberikan nya wajah dingin dan tatapan membunuh.
Apa aku tadi salah lihat? Kenapa aku setakut ini?
Apa hanya perasaan ku saja?
...****************...
Hai pembaca othor yang paling luv luv๐๐
Othor ada baca komentar yang bilang othor gak denger saran dari kebanyakan pembaca.
Okey othor bakal bilang, kalau othor masih mendengarkan saran kalian makanya jalan cerita ada yang othor ubah dari rencana asli karna masih mendengarkan saran.
Tapi bukan berarti semua nya harus di ikuti karna nanti malah jadi beda jalur, dan strong women itu tidak harus bisa membela diri namun tetap bisa bertahan di lingkungan keras itu udah termasuk strong women, yah dalam defenisi othor sih.
Dan kalau ada yang merasa si Ainsley ga da berubah yang Ainsley atau Calesta, othor kasih tau kalau si Ainsley nya itu Uda beda, ibarat nya nih si Ainsley kayak awan mendung si Calesta ini kayak matahari.
Kenapa? Karna Calesta lebih ceria sama bisa beradaptasi terus melakukan apa yang dia ingin kan.
Dan kalau ada yang nganggap hubungan dia sama Richard itu lebih seperti di lec*hkan othor mau bilang kalau itu bukan pel*cehan
Karna si Ainsley nya mau sama mau, dari awal yang si Richard bobo in dia memang awal nya bisa dianggap pelec*han tapi setelah itu si Richard minta buat kesepakatan untuk minta dia jadi partner dan balasan si Ainsley bakal di ajari semua hal yang menyenangkan.
dan si Ainsley nya udah setuju, jadi di hubungan mereka si Richard nya ga ngelec*hin kalau kurang jelas bisa search pengertian pel*cehan itu gimana.
Dan kalau kalian mau si Ainsley nya yang uda hilang tiga tahun bisa bela diri atau sebagai macam, othor ga bisa buat itu kalau dia masih Ainsley atau Calesta, kenapa? Karna selama tiga tahun dia kecelakaan dan ga sadar dua tahun, tulang udah patah semua bahkan sampai pakai pen dimana" biar ga cacat belum lagi pemulihan pasca sadar setelah kecelakaan jadi dia ga mungkin sempat belajar untuk hal begitu yah.
Saran kalian tetap othor dengar, enggak diabaikan kok, kalau ada yang pembaca dari novel pertama othor yang when the devil falls in love pasti juga tau kalau othor buat alur memang agak lambat walaupun dulu di novel itu banyak yang mau pemeran utama pria nya berubah baik dan menyesal but othor punya jalan cerita sendiri yang buat karma nya.
Okey sekali lagi, othor tidak menyinggung siapapun yah, buat yang baca othor ucapkan terimakasih sebanyak-banyak nya dan jika punya saran silahkan di katakan, saran kalian tetap di dengar tapi ga bisa othor ubah semua nya dengan apa yang kalian inginkan.
Happy reading๐๐๐
Salam cinta dari othor yang suka ngehaluโฅ๏ธโฅ๏ธ๐๐
__ADS_1