Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Kencan terakhir


__ADS_3

2 Hari kemudian.


Ainsley mulai tersadar, ia bahkan masih belum mengetahui kondisi Sean karna tak ada satupun yang mengatakan apa yang terjadi setelah ia mencoba melakukan percobaan bunuh diri.


dr. Canly pun menginap beberapa hari dan mulai berbicara pada Ainsley saat kondisi tubuh nya mulai membaik.


Sedangkan Sean masih mengurung diri nya di kamar dan tak membiarkan siapapun masuk menemui nya.


"Apa ini yang nona maksud dengan bebas?" tanya dr. Canly pada Ainsley yang duduk menunduk di depan nya.


"Dia bilang begitu," jawab gadis itu lirih.


"Dia siapa? Apa nona masih mendengar nya lagi? Apa dia pernah meminta nona meraih tangan nya atau merasa dia merasuki nona?" tanya wanita paruh baya berkaca mata itu lagi.


"Aku tak mendengar nya lagi, kalau aku seperti ini semua akan bahagia kan? Lalu apa yang salah?" tanya gadis itu sembari menatap dr. Canly.


"Tidak ada yang bahagia kalau seperti ini cara nya, apa nona merasa sudah merasa bahagia?" tanya wanita itu pada gadis yang berada di depan nya.


Ainsley diam tak bisa menjawab pertanyaan tersebut, ia tak tau bagaimana cara nya terbebas ataupun bahagia.


Sebanyak apapun ia melukai tubuh nya tetap tak membuat hati nya terasa tenang, namun sebalik nya ia terus merasa gelisah dan gelisah hingga ia terus melakukan percobaan bunuh diri.


"Tapi semua akan baik-baik saja kan? Kalau aku tidak ada..." jawab Ainsley sekali lagi.


"Saya pernah mengatakan untuk mencintai dan menghargai diri nona sendiri kan?" tanya dr. Canly.


Ainsley tertawa pahit mendengar nya, entah mengapa kali ini kalimat itu sangat sulit ia terapkan.


"Cinta? Memang nya apa yang akan berubah? Tak ada kan?" tanya Ainsley dengan wajah yang mulai memberikan tawa getir dan sorot mata yang melambangkan jiwa lelah di dalam nya.


"Kenapa anda memilih gantung diri? Nona ingin melukai tuan?" tanya dr. Canly lagi dengan hati-hati.


"Aku tidak ingin dia terluka, tapi aku juga tidak ingin dia baik-baik saja setelah apa yang dia lakukan pada ku." jawab Ainsley lirih.


Antara suara yang ia dengar dengan apa yang di rasakan diri nya tentu ingin membuat pria tampan itu terluka.


Ia merasa marah karna perlakuan yang merebut kebebasan nya namun ia masih tak tau amarah apa yang meluap dalam diri nya.


"Dia sudah terluka, dan saya lebih berharap lagi agar nona tidak terluka, tidak apa-apa kalau kita memberi pelajaran pada orang yang menyakiti diri kita tapi tetap saja tak boleh sampai melukai diri kita sendiri," jawab dr. Canly pada gadis itu.


Wanita paruh baya berkaca mata itu pun memulai konsultasi nya dan berbicara tentang kondisi Sean secara perlahan hingga konsultasi selesai.


...


Pria itu terduduk di samping ranjang nya dengan keadaan kamar yang sudah sangat berantakan dan tak teratur lagi bentuk nya.


Ia tak peduli dengan apapun bahkan makanan nya belum tersentuh sama sekali, ia hanya meminum air yang ikut di bawakan bersama makanan nya. Perut nya tak merasa lapar sama sekali dan pikiran nya terus menerus kacau.


"Sean?" suara wanita yang meruntuhkan kegelisahan di hati nya dan membuat langsung menoleh ke sumber suara.


"Kenapa bisa begini? Tangan mu terluka..." ucap Ainsley yang mendekat dan meraih tangan pria itu.


Grep!


Dalam satu tarikan Sean langsung mendekap tubuh kecil itu dan memeluk nya dengan erat.

__ADS_1


"Kau masih di sini kan? Maaf...


Jangan melakukan nya lagi..." ucap nya dengan suara bergetar sembari terus memeluk gadis itu.


"Sean..." panggil Ainsley lirih di pelukan pria tampan itu.


Tubuh mungil nya langsung hilang sekejap saat Sean memeluk nya erat.


"Kau mau apa? Hm? Kau mau aku melepaskan mu?" tanya Sean bergetar sembari melepaskan pelukan nya.


Iris Ainsley membesar beberapa saat melihat pria di depan nya, entah mengapa pria itu terlihat begitu hancur.


Suara dan tangan bergetar yang menyentuh nya dan mata yang terlihat penuh luka.


"Aku mau bahagia Sean...


Aku mau keluar, aku mau hidup..." ucap gadis itu lirih dengan menjatuhkan bulir bening nya dari iris indah nya.


Sean diam sejenak dan mengusap air mata gadis itu, dada nya terasa sesak hingga membuat nya sulit bernapas namun ia juga tak bisa menahan buliran bening di mata nya.


Ia merasa senang karna masih bisa melihat gadis nya lagi, senang karna masih bisa menyentuh dan mendengar nya lagi.


"Maaf...


Maafkan aku..." ucap nya lirih dan kembali menarik gadis itu dalam pelukan nya.


"Aku tidak bisa kehilangan mu...


Memikirkan nya saja membuat ku takut..." sambung pria itu dengan terus memeluk erat gadis yang sangat ia cintai.


Ainsley tak menjawab ia hanya terus menerus menjatuhkan bulir bening nya di dalam dekapan pria tampan itu.


Maaf..." Sean yang terus berbicara sembari mengelus gadis nya dengan lembut.


Tubuh nya gemetar, ia mengeluarkan air mata yang tak pernah lagi ia keluarkan sejak hari kematian ibu nya.


Namun kali ini perasaan nya kembali hanyut, sekali lagi gadis itu mampu membuat gunung es di hati nya mencair dan menunjukkan emosi sebenarnya dari pria tampan itu.


Setelah cukup lama memeluk gadis nya Sean melepaskan dekapan tersebut dan menyentuh pipi Ainsley. Ia tersenyum lembut dengan mata sayu nya dan perlahan mulai memejam dan menjatuhkan kepala nya ke pundak gadis itu.


"Sean?!" panggil Ainsley yang terkejut dan mulai menolak tubuh pria itu.


Ia mulai merasakan suhu yang meninggi di tubuh mantan kekasih nya, Ainsley sendiri bahkan tak pernah melihat pria itu sakit selama menjalin hubungan dengan nya dulu.


Namun kini?


Pria yang dulu nya selalu ia kira sebagai pria terkuat kini tumbang dengan suhu yang sangat tinggi.


"Panas sekali," ucap Ainsley lirih.


...


Skip.


Sean kembali membuka mata nya, ia tersentak dan langsung mencari keberadaan gadis nya. Ia takut jika gadis yang tadi ia peluk hanyalah khayalan nya.

__ADS_1


Ia takut semua yang ada di ingatan nya barusan nya hanyalah mimpi belaka.


"Sean? Masih demam?" tanya Ainsley sembari membawa kompres yang baru di tangan nya ketika ia baru memasuki kamar pria itu.


dr. Canly sudah memeriksa Sean dan mengobati luka di tangan pria itu sekarang ia juga sudah di pindahkan ke kamar yang lebih nyaman, dan Ainsley pun dengan inisiatif nya sendiri nya ingin merawat pria itu.


"Kau masih disini? Kau masih hidup kan? Kau benar-benar bernapas?" tanya Sean sembari menangkup tangan kecil gadis di depan nya.


"Iya, aku masih hidup...


Masih bernapas juga..." jawab Ainsley sembari menatap lekat iris di depan nya.


Sean menghela lega melihat nya, lalu kembali menatap wajah gadis itu.


"Kau sangat membenci ku?" tanya Sean tiba-tiba saat ia sudah bisa mengendalikan diri nya lagi.


Ainsley terperanjat namun ia tetap menjawab pertanyaan tersebut, "Tidak, aku tidak membenci mu..."


"Lalu? Kenapa melakukan nya?" tanya Sean lagi.


"Aku ingin bebas...


Aku juga ingin seperti orang lain, aku mau bahagia..." jawab Ainsley lirih.


Sean mengangguk kecil mendengar penuturan gadis itu.


"Kau tau? Saat melihat mu seperti itu kemarin aku berpikir tidak apa-apa kalau kau tak bersama ku setidak nya aku masih bisa melihat mu," ucap Sean dengan senyum kosong di wajah nya.


Ainsley menoleh dan melihat bibir yang tersenyum namun mata yang terpancar penuh akan sorot kesedihan.


"Aku egois, aku sadar itu...


Maafkan aku..." sambung nya lagi.


"Aku juga salah, maaf..." jawab Ainsley lirih.


"Aku akan melepaskan mu, tapi kau harus janji akan hidup dengan bahagia saat aku melepaskan mu." ucap Sean tiba-tiba dan membuat Ainsley langsung menatap lekat iris pria di hadapan nya.


"Aku mencintai mu...


Dulu, saat ini dan untuk kedepan nya. Jadi jangan lakukan hal seperti itu lagi." ucap Sean yang kembali memaksakan senyum nya sembari mulai mengelus kepala gadis cantik itu dengan lembut.


"Sean..." Ainsley tak dapat mengatakan apapun, ia cukup terkejut hingga kehabisan kata-kata.


"Karna sudah seperti ini, aku ingin egois sekali lagi sebelum benar-benar melepaskan mu..." ucap Sean pada gadis itu sembari menarik napas nya dengan berat.


Ainsley memandang bingung ke arah pria itu, namun Sean kembali memasukkan tubuh kecil itu ke dalam dekapan nya.


"Berkencanlah dengan ku satu kali lagi..." ucap nya lirih di pelukan nya.


Ainsley masih diam tak bisa menjawab apapun.


"Kencan terakhir sebelum hubungan kita benar-benar berakhir...


Aku mencintai mu...

__ADS_1


Sangat..." ucap nya lirih dengan suara tertahan sembari terus memeluk gadis itu dengan erat.


Pria itu mulai sadar jika ada yang lebih berharga dari rasa egois nya.


__ADS_2