Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Berburuk sangka


__ADS_3

Tubuh yang menggeliat di dalam karung besar itu tak nyaman terus saja mengeluarkan suara.


"Aduh! Lepas! Axel gak bisa napas!" ucap nya berteriak sembari memberontak.


Para pria itu pun melepaskan Axel yang berada di dalam karung, mata hijau itu membulat dan bergetar menatap para pria asing yang terlihat menyarankan untuk nya.


Tatapan tajam dan mengintimidasi di perlihatkan jelas pada anak menggemaskan itu.


Axel terdiam, ia tak mengatakan bungkam dan merasa tertekan oleh hawa yang membuat nya tak ingin berbicara sedikitpun.


"Dia anak pria itu?" tanya salah satu pria yang memiliki bekas luka di leher nya.


"Benar, kita tidak salah culik." jawab salah satu pria lain nya sembari menatap wajah anak menggemaskan yang terlihat tertekan dan lesu karna takut tersebut.


"Tapi tidak kelihatan mirip, ku kira anak nya akan seperti anak iblis." ucap pria itu sembari menatap anak menggemaskan yang terlihat takut itu.


"Tidak mirip apa nya? Bentuk wajah nya saja mirip, hidung nya juga." pria yang satu nya lagi menyangkal sembari memperhatikan wajah Axel.


Axel menunduk sembari menahan tangis nya, ia ketakutan namun ia tak berteriak merengek.


Daddy bakal jemput Axel kan? Axel takut...


Batin nya dalam hati berusaha untuk tetap diam dan menenangkan diri nya walaupun ia sedang takut.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap salah satu setelah melihat mobil yang dari tadi mengikuti dari belakang.


"Benar juga, dari tadi dia mengikuti kita." ucap salah satu nya.


Terdapat empat orang pria bertubuh tegap yang menculik anak menggemaskan dari pria yang hidup di atas darah orang lain.


Axel langsung terperanjat, ia naik ke bangku dan melihat dari pantulan kaca belakang mobil.


Paman Sean!


Gumam nya menatap dengan mata berbinar dan muncul harapan baru dalam diri nya.


"Tembak saja dia!" ucap pria yang tengah mengendarai mobil tersebut.


Mata hijau bulat itu membesar begitu mendengar paman baik nya ingin di tembak.


Tak membutuhkan waktu lama, salah satu pria pun mengambil senapan panjang dan juga mengisi peluru di dalam nya.


Ia pun membuka kaca nya dan mengeluarkan senapan nya.


Sean tersentak saat melihat mobil yang ia kejar mengeluarkan senapan ke arah nya, tangan nya langsung menelpon sekertaris nya dan meminta pria itu untuk melacak mobil nya saat ini.


"Presdir! Anda harus kembali! Anda lupa rapat anda?" ucap sekertaris Jhon begitu ponsel nya terhubung.


"Lacak tempatku ku saat ini dan kirim tim keamanan pada ku!" ucap Sean sekilas.


Tanpa memperdulikan jika bawahan nya saat ini tengah dalam kondisi yang sulit juga karna sibuk menenangkan para dewan lain nya saat Presdir yang ia layani terlambat datang atau mungkin tidak sempat datang lagi saat ini.


"Apa yang anda maksud? Anda harus kem-"


Tak ada jawaban lain bahkan tak sempat kalimat tersebut terdengar hingga selesai namun Sean sudah mematikan nya.


Abu aspal yang bertebaran karna ban yang yang melaju kencang terdengar seperti besatan pedang.


Pria yang memakai masker berwarna hitam itu melihat dengan tajam dan juga berkonsentrasi walaupun ia tengah berada di dalam mobil yang tengah melaju.


Sean melihat senapan yang ke arah nya ia bersiap membanting stir nya karna tau pria itu menargetkan kepala nya.


Perlahan tapi pasti pria itu mulai menarik pelatuk nya, Axel yang yang terkejut pun langsung mendekat dan,


Hap!


DOR!!!


Sean membanting stir nya yang menimbulkan bunyi decit yang cukup kuat dari aduan aspal dan juga ban mobil nya.


Meninggalkan bekas jalur hitam yang terlihat jelas di aspal, peluru yang goyah dan tak tertembak tepat sasaran membuat nya mengenai kaca bagian belakang mobil mewah itu.


Prang!!!


Hamburan dari kaca itu pun terdengar keras, pria itu tersentak dan mengatur napasnya.


Sedangkan pria yang di dalam mobil,


Akh!


"Dasar anak gila!" ucap nya membentak Axel dan menatap nya dengan tatapan yang terlihat sangat marah.


Ia melihat tangan nya terlihat mengeluarkan cairan merah kental dan terlihat jelas bekas gigi yang membulat di luka nya.


"Wajah saja yang polos asli nya sama seperti Monster itu!" hardik nya melihat ke arah anak lelaki itu.


"Pegang dia!" perintah nya pada teman nya yang lain agar memegangi Axel dan tak mengigit nya dengan tiba-tiba lagi.


"Lepas! Kalian olang jahat!" ucap nya memberontak saat ia di pegangi dan melihat pria yang tadi nya gagal menembak kini ingin menambak lagi.


Teriakan yang memekakkan ke empat pria itu yang berada di dalam mobil itu membuat salah satu penculik kehilangan kesabaran, ia mengambil pistol yang berada di dalam dashboard mobil dan,


BUGH!


Satu pukulan keras di layangkan di kepala anak lelaki itu hingga membuat nya diam.


Axel tersentak, kepala nya terasa berdenyut, perih, sakit, hingga membuat nya merasa pandangan nya berputar.


Tes...

__ADS_1


Tubuh nya tak memberontak, suara nya bungkam seketika saat ia merasakan sakit di kepala nya.


Pria yang memegangi Axel pun merasakan sesuatu yang membasahi tangan nya saat sibuk memegang anak itu.


"Darah?" gumam nya melihat wajah anak yang terlihat mimisan karna mengalami benturan kuat di kepala itu.


"Dia pingsan! Kau memukul nya terllau kuat! Kalau dia mati sebelum kita beri pada bos bagaimana?!" tanya pria itu dengan kesal pada rekan nya.


Sedangkan pria yang memukul Axel tadi terlihat risau, "Coba priksa nadi nya."


Tak menunggu waktu lama, pria yang tadi nya memegangi Axel pun memegang dan memeriksa nadi anak menggemaskan itu.


"Hidup," ucap nya setelah ia masih merasakan adanya nadi di dalam detak dan denyut anak makan itu.


"Aman," ucap saah satu yang tak peduli apapun asal anak itu hidup saat mereka membawa nya.


DOR!!!


Mereka tersentak saat mobil yang mereka kendarai hampir tergelincir dan kehilangan arah begitu salah satu ban di tembak.


"Si*l! Dia menembak kita!" ucap salah satu nya sedangkan pria yang membawa mobil hampir kehilangan kendali nya karna laju mobil yang begitu kencang.


"Turun!" ucap salah satu dan langsung melompat keluar.


Pria yang memegang Axel pun membawa nya dan ikut turun loncat ke bawah membawa anak yang tak sadarkan diri itu sebelum mobil yang mereka kendarai menghantam benda lain dan terjadi kecelakaan.


Sean melihat ke empat pria itu yang loncat sembari membawa Axel dari jauh, ia pun menyusul sembari menyimpan pistol yang sering ia bawa di dashboard mobil nya untuk melindungi diri nya jika terdapat situasi yang tak menguntungkan nya.


Bugh!


Belum sempat pria yang tadi nya berguling lompat saat turun darii mobil itu bangun namun sudah ada pukulan yang datang pada nya.


"G*la! Kau siapa?!" teriak pria itu yang memegang hidung nya yang terluka sedangkan ia melepaskan Axel yang sebelum nya ia bawa seperti membawa barang.


"Axel?" panggil nya pada anak yang tak sadarkan diri itu.


Tubuh nya terdapat bekas lecet dan juga hidung nya yang berdarah serta kepala nya yang membiru memar.


Bruk!


Tes...tes...tes...


Pria itu lengah, karna sibuk ingin membangunkan dan ingin tau kondisi anak yang ia kejar membuat nya lupa jika ke empat pria itu masih berada di dekat nya.


Kepala nya terasa nyeri dan sakit di saat bersamaan serta cairan merah yang menetes dari nya.


Hantaman batu yang membuat nya merasa sangat pusing, ia pun berbalik dan menatap pria yang tadi nya sempat memukul nya.


Tangan nya mengambil menggenggam pasir dan melempar nya pada pria itu, batu yang tadi di gunakan untuk menghantam pun terjatuh dan membuat nya mengambil kesempatan dengan langsung mengambil nya dan membalas pukulan.


Bugh!


Akh!


Dusk!


Ranting tajam yang menembus tak sempat membuat pria itu memasukkan peluru ke dalam senapan nya.


Sean menendang peluru tersebut hingga hilang dalam semak sebelum ada lagi yang mengambil nya.


Salah satu pria yang melihat ketiga rekan nya sibuk melawan pria yang tak dikenal yang sedang mengamuk menggila itu.


Ia pun melihat, anak yang tadi nya ingin mereka culik lepas dari pengawasan membuat nya mengambil ide saat ia sadar jika ia membawa gas asap.


Bush!


Suara yang terdengar seperti angin serta mengeluarkan asap putih yang berkabut membuat Sean terbatuk dan tak bisa bernapas.


Pria itu mengambil kesempatan dengan membawa Axel dan meninggalkan ketiga rekan nya karna ia harus menyelesaikan misi nya.


Axel? Dimana dia? Kenapa Jhon lama sekali?!


Decak nya sembari kini yang mulai mencari jejak bocah menggemaskan itu.


......................


Mansion Zinchanko


Supir yang datang pun terlihat takut saat ia tak menemukan tuan muda nya di sekolah.


"Axel hilang?!" tanya nya mengulang.


"Be-benar tuan!" ucap nya dengan gugup.


"Kau tidak menjemput nya dengan benar?!" tanya Richard mengernyit.


"Saya sudah menjemput tuan muda Axel seperti biasanya namun saya tidak melihat nya." jawab supir tersebut dengan gugup.


Richard mengernyit, ia memilih sekolah dengan sistem keamanan yang tinggi agar bisa tenang meninggalkan anak nya, dan karna alasan itu lah ia tak lagi menggunakan pengawal karna ia tau putra nya pun tak akan menyukai nya dan istrinya juga akan melarang nya.


"Seharusnya aku lakukan saja," decak nya kesal.


"Hubungi pihak sekolah! Minta rekaman cctv!" perintah pria itu dengan emosi yang meledak.


Ia pun segera pergi keruangan nya, melihat monitor di layar laptop nya.


"Buruk sekali sinyal nya?" gumam nya saat melihat titik lokasi putra nya yang tak jelas.


Ia menanam chip pelacak dalam tubuh putra nya bahkan tanpa sepengetahuan anak itu ataupun istri nya.

__ADS_1


Dengan dalih putra nya yang pernah terjatuh ia pun langsung melakukan pembedahan dan memasukkan alat pelacak.


Hal yang sama ingin ia lakukan pada istri nya namun tubuh wanita itu menolak radiasi yang dan efek yang di timbulkan oleh alat tersebut.


Ian pun langsung mengabari Liam dan memerintahkan pria itu untuk langsung bergerak mencari putra kesayangan nya.


"Tuan!" ucap Liam yang langsung masuk setelah mendapat telpon tuan nya dan mendapatkan informasi.


"Kau temukan sesuatu?" tanya Richard sembari terus mengetik dan menatap layar laptop nya guna mencari keberadaan yang lebih jelas dari putra nya.


"Jalan xx di hutan arah pegunungan xx adalah jejak terakhir tuan muda Axel lebih tepat nya lokasi nya berada di sini," ucap Liam sembari menunjukkan lokasi.


Richard melihat nya, ia pun kembali memberikan lokasi yang ia dapat, lalu memperkuat jaringan pelacak nya.


Tampak lebih jelas gambaran pelacak di tubuh putra nya setelah mendapatkan lokasi yang mempermudah pencarian nya walaupun dari lokasi terakhir sudah hilang.


"Dari mana kau dapatkan ini? Dengan waktu yang sangat singkat?" tanya pria itu mengernyit.


"Sation yang mengirimkan nya," jawab Liam pada pria itu.


Deg!


Mata pria itu membulat, ia tersentak. Tangan nya mengepal dengan erat dan membuat nya begitu geram.


"Berani sekali dia!" gumam nya dengan penuh amarah.


Karna ia berpikir jika mantan kekasih istri nya juga terlibat dalam penculikan putra nya nya mengirim lokasi terakhir sebagai peringatan sekaligus ancaman untuk nya.


"Jangan beri tau Ainsley kalau Axel hilang," ucap Richard pada Liam namun.


Prang!


Suara pecahan dari gelas yang berisi penuh teh terdengar hancur dan pecah ke lantai.


"A-apa? Axel hilang?" tanya Ainsley yang terkejut saat ia tak sengaja mendengar nya.


Richard membuang napas nya, terlambat untuk di tutupi dari istrinya saat wanita itu sudah mengetahui jika putra nya kini entah dalam kondisi yang bagaimana.


"Kau bisa keluar," ucap Richard pada Liam.


Liam pun langsung menunduk sekilas dan beranjak keluar sembari menunduk saat melewati nyonya rumah tersebut.


"Ainsley?" panggil nya pada wanita itu.


"Axel hilang? Apa maksud nya?!" tanya nya yang mulai panik mendengar jika anak kesayangan nya hilang.


"Tenang! Aku akan mengeluarkan usus mereka semua nya dan menemukan Axel!" ucap nya pada sang istri.


"Axel..." gumam wanita itu yang mulai panik dan pikiran nya kosong saat hanya di penuhi dengan kekhawatiran.


"Kau tau? Mantan kekasih mu yang tercinta itu juga terlibat! Kalau dia menyentuh anak ku! Aku juga akan membunuh nya," ucap Richard sekali lagi hingga membuat Ainsley langsung meoleh ke arah pria itu.


"Sean?" tanya nya lirih di tengah kepanikan nya.


"Iya, bagaimana kalau dia juga terlibat? Hm?" tanya Richard sembari memberikan tatapan yang menusuk pada istri nya.


"Sean tidak mungkin seperti itu!" sanggah nya langsung.


Walaupun pria itu dulu nya pernah memperlakukan nya dengan kasar karna sifat posesif nya namun ia sangat mengenal jika mantan kekasih nya tidak anak menyakiti anak-anak.


"Mungkin saja! Memang nya kau tau dia akan jadi seperti apa setelah putus dari mu?" ucap Richard yang menatap ke arah istri nya.


"Aku kenal dia! Dia tidak akan membahayakan Axel! Mungkin saja itu orang lain! Jangan menuduh!" ucap Ainsley yang tanpa sadar membela mantan kekasih nya terang-terangan.


Richard tersenyum getir, ia memang selalu membenci mantan kekasih istri nya maka dari itu apapun yang di lakukan pria itu selalu menjadi kesalahan dan tak pernah terlihat baik ataupun sulit menangkap niat baik nya.


"Dia mengirim ini," ucap nya sembari menunjukkan bekas salinan kiriman dari Sation grup ke privat email organisasi nya.


Ainsley melihat nya ia melihat dengan jelas jika itu terkirim oleh Sation.


"Sean bukan orang seperti itu! Kau harus percaya aku!" ucap nya lagi setelah melihat nya.


Ia tak akan bisa mempercayai hal seperti walaupun seperti ada kemungkinan hal itu benar namun ia hanya memegang perasaan dan kepercayaan nya yang tersimpan untuk pria itu.


Richard tak bisa mengatakan apapun lagi, ia merasa geram, jengkel, cemburu, dan marah sekaligus pada istri nya karna membela pria yang ia anggap saat ini tengah menyakiti putra nya.


Namun ia tau saat ini bukanlah pertengkaran diantara mereka yang penting melainkan mencari keberadaan pasti putra nya.


Ia pun kembali ke laptop yang tadi nya sempat ia tinggalkan dan mencari keberadaan pasti setelah melihat petunjuk.


"Kau di sini saja! Jangan keluar selangkah pun dari mansion dan tunggu aku kembali!" ucap nya sembari membalik lemari buku di dalam ruang kerja nya.


Tersimpan jelas, alat-alat dan benda-benda yang mengerikan, pistol, pisau, jarum panah dan benda yang tak di mengerti wanita itu.


"Kau akan membawa Axel?" tanya Ainsley lirih.


Tak ada jawaban dari pertanyaan nya, pria itu hanya membekali dirinya dengan senjata yang ia simpan lalu membawa yang ia pilih.


"Kita akan bicara setelah aku kembali," ucap pria itu dengan suara dingin dan melewati istrinya.


Begitu pintu ruangan tersebut tertutup, Ainsley langsung terjatuh ke lantai.


Kaki nya lemas, seluruh otot nya terasa mati dan semua dalam dirinya hanya di penuhi dengan keselamatan putra nya.


*Ku mohon jangan terjadi apapun dengan anak ku...


Aku bisa berikan apapun untuk nya, apapun itu asal anak ku baik-baik saja...


Ku mohon*...

__ADS_1


__ADS_2