Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Cinta tidak pernah salah


__ADS_3

Kediaman Clarinda.


Ainsley diantar kembali saat pagi hari nya, namun bukan Richard yang mengantar nya ia bahkan tak menemui pria itu sejak terbangun.


"Calesta? Kenapa diam saja sayang?" tanya Clarinda sembari mengusap kepala putri nya.


"Perasaan ku gelisah," jawab Ajnsleu singkat sembari menangkup tubuh ibu nya.


"Jangan banyak pikiran, kamu lagi hamil, ada masalah? Bilang sama Mamah." ucap wanita itu memeluk putri nya.


"Mah?" panggil gadis itu.


"Ya, sayang?" jawab Clarinda sembari menatap putri nya.


"Sean gak angkat telpon ku," gumam nya lirih.


"Sean?" tanya Clarinda mengulang.


Ainsley pun mengangguk mendengar pertanyaan ulang dari ibu nya.


Clarinda mengusap kening dan rambut putri nya menatap wajah yang tengah melihat nya juga.


"Kau suka dia? Lalu Ayah anak mu bagaimana? Orang itu juga suka dengan mu kan?" tanya Clarinda menghela napas.


"Iya, tapi aku kan sekarang sudah punya..." ucap Ainsley lirih.


"Kalau kamu bahagia sama yang lain, suka sama yang lain, jangan terus berhubungan sama Ayah anak mu, bukan nya Mamah tidak suka tapi kalau kamu begitu terus, nama nya kami mainin perasaan orang lain sayang..." ucap Clarinda pada putri nya.


"Calesta bukan mau begitu Mah, tapi..." ucapnya lirih, "Cales bingung..." sambung gadis itu menghela.


Clarinda memegang pipi putri nya dan menatap lurus, ia ingin bertanya kenapa tidak dari awal saja dekat dengan pria yang di sukai sebelum sempat terlanjur seperti ini.


"Lalu pria yang bernama Richard itu kau sama sekali tak suka?" tanya wanita itu pada putri nya.


Jika hanya hubungan main-main, pasti ada perbedaan di mana yang tidak suka sepenuh hati dengan yang setengah-setengah.


Ainsley diam dan berpikir sejenak, "Bukan tidak suka sama sekali, aku suka..." jawab nya lirih.


"Tapi bukan untuk sebagai pria, aku nyaman, tapi bukan perasaan nyaman seperti itu, aku tidak tau cara jelasin nya Mah..." sambung nya lirih.


Clarinda diam sejenak menatap putri nya, ia mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Calesta sudah ingat semua kan?" tanya wanita itu tiba-tiba, "Semua tentang memori Calesta yang dulu, sebelum bertemu Mamah."


Ainsley mengangguk dan menatap wajah ibu nya, "Iya, Mah."


"Ayah Calesta yang dulu bagaimana? Calesta dengan dengan nya?" tanya Clarinda lagi.

__ADS_1


Gadis itu mengernyit ia bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilayangkan ibu nya.


"Kenapa Mamah tanya begitu?" tanya Ainsley bingung.


"Coba kamu jawab dulu pertanyaan Mamah, Kamu dekat dengan Ayah mu?" tanya Clarinda lagi.


Ainsley diam sejenak, ia bahkan sangat canggung bicara dengan Ayah kandung nya dan tak mungkin itu adalah hubungan dekat.


"Tidak, aku..."


"Sebanyak apapun aku berusaha dekat, Papah gak akan sayang aku, aku saja jarang bicara dengan nya..." jawab nya lirih.


Clarinda tersenyum, sekarang ia tau kenapa putri angkat kesayangan nya bisa terjebak dengan hubungan segitiga yang merumitkan.


Gadis yang tidak bisa sepenuhnya keluar dari pria yang tidak bisa sungguh menempati hati nya karna ia masih menginginkan sosok yang ia dambakan, sosok yang bahkan tak pernah ia temui hingga membuat nya hilang arah.


"Calesta," panggil wanita dengan lembut.


"Hm?"


"Kalau sudah begini coba kamu sukai saja yang mana yang lebih kuat di hati mu, hubungan bisa di mulai dengan banyak cara dan alasan apapun, dan cinta itu juga tidak pernah salah." ucap wanita itu.


"Cinta tidak pernah salah? Kalau begitu orang yang selingkuh pasti bilang alasan nya begitu," balas gadis itu dengan iris jernih nya.


Clarinda tersenyum, "Itu hanya untuk alasan orang yang tidak bertanggung jawab dan egois, cinta memang tidak salah tapi orang lain sering salah dalam penyaluran nya." jawab wanita itu.


"Maksud Mamah, gak salah yah suka sama siapa aja? Tapi harus tanggung jawab sama perasaan nya sendiri kan? Juga harus mikirin akibat dari yang kita buat?" tanya gadis itu.


"Iya, kamu kan sekarang sudah mau jadi ibu, harus dewasa, bukan untuk dari kamu sendiri tapi untuk anak mu juga," jawab Clarinda.


Ainsley diam, ia berusaha mencerna kata-kata yang di ucapkan ibu nya.


......................


Rumah Sakit.


"Shoot!" ucap salah satu dokter yang terlihat sibuk guna mengembalikan detak normal dari pria yang di bawa bermumuran darah pagi ini.


Alat detak itu mulai menampilkan garis normal dan angka kehidupan yang seakan kembali namun bukan berarti semua masalah telah terlewati.


"Siapkan ruang operasi dan darah." perintah sang dokter dan perawat lain pun mulai bergegas, salah satu nya menghubungi pihak wali dari pria itu.


Pendarahan yang terjadi serta tusukan di yang mengenai bagian vital karna pisau nya di putar membuat operasi rumit di jalankan.


"Tunggu? Dia sudah pernah operasi parah?" ucap sang dokter yang terkejut.


Akibat kecelakaan sebelum nya dan sebagian tubuh nya yang sudah berjuang dengan maut membuat operasi kali ini lebih sulit.

__ADS_1


Tak lama kemudian sekertaris Jhon datang, yang ada di Spanyol hanya dia saat ini dan tuan besar nya masih berada di Prancis.


Pria itu berdiri menunggu atasan nya di luar ruangan, walaupun ia termasuk bawahan yang patuh namun selama ini ia hanya menganggap seperti atasan dan bawahan hanya sebatas itu loyalitas nya.


....


3 Hari kemudian.


Setelah operasi kondisi pria itu jatuh kritis, bertahan di tiap menit dan jam nya adalah hal yang patut di syukuri walau pria itu belum sama sekali menerjapkan mata nya.


"Anda harus bangun, saya yakin anda bisa bertahan lagi kali ini." ucap sekertaris Jhon pada atasan nya.


Ia mencari pelaku dari kejadian naas ini namun tak menemukan apapun, tak ada saksi mata ataupun bukti digital untuk tau siapa yang melakukan nya seperti asap tanpa api, sesuatu yang mustahil namun sedang terjadi.


Sekertaris Jhon juga mengabari gadis yang di sukai atasan nya, ia berharap jika gadis itu mampu menyakinkan atasan nya agar bisa terbangun lagi dan bertahan lebih lama.


....


Langkah yang tergesa terdengar jelas di lorong rumah sakit itu, "Aku bisa masuk?" tanya Ainsley lirih.


"Hanya di bolehkan 10 menit, dan nona harus pakai ini," ucap nya sembari memberikan ganti untuk mengurangi kontaminan mungkin bisa terjadi.


"Dia separah itu?" tanya Ainsley lirih.


Perawat yang berada di sebelah sekertaris tampan itu pun terlihat diam, ia sudah biasa menemui kesedihan seperti ini saat bekerja dalam rumah sakit.


Deg...deg...


Gadis itu terkejut, ia menutup mulut nya dan menjatuhkan bulir bening nya.


"Siapa? Siapa yang melakukan ini dengan mu?" gumam nya lirih sembari tak bisa menahan air mata nya.


Ia larut dalam kesedihan nya sejenak hinga tak mendengar keributan di luar.


Greb!


"Auch!" ringis gadis itu saat tangan nya tertarik.


Mata nya membulat sempurna karna terkejut beberapa saat, "Pa-paman?"


Tanpa mengatakan apapun, pria itu menarik nya keluar dengan paksa bahkan bisa di katakan menyeret nya dengan kasar.


Ainsley terkejut, langkah kecil nya kesulitan mengikuti langkah lebar dan cepat pria itu, ia bahkan bisa melihat beberapa penjaga rumah sakit yang jatuh saat keluar dari ruangan intensive tersebut.


"Paman sakit..." ucap nya lirih saat merasakan pergelangan tangan nya yang ingin terlepas.


Pria itu tak menjawab ataupun mengatakan sepatah kata dan hanya menyeret nya keluar.

__ADS_1


__ADS_2