Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Cara membuat nya goyah


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Mansion Zinchanko.


Richard mengusap pipi lembut bayi kecil itu dengan jari nya, ia menarik napas panjang saat teringat ibu bayi tersebut.


"Mommy mu benar-benar keras kepala, padahal kau selucu ini tapi kenapa dia bisa mengikuti aturan ku?" gumam nya berbicara pada Baby Axel yang menggeliat melihat wajah nya.


Bayi kecil menggemaskan itu menarik boneka di samping nya yang beberapa hari tempo lalu di belikan oleh ibu nya.


"Kau suka? Padahal kau anak laki-laki tapi kenapa dia beli boneka?" pria itu berbicara pada putra nya yang berada di dalam keranjang bayi di kamar nya.


Nyah!


Gumam nya bayi kecil nya sembari menatap sang ayah, "Kau tersenyum?" ucap Richard karna tak bisa melihat bibir bayi mungil nya yang tertutup tangan kecil itu.



"Kau rindu Mommy mu? Apa mau Daddy buatkan adik? Biar dia gak lari lagi?" tanya pria itu tanpa sadar dan tersenyum melihat wajah gemas anak nya.


Selama beberapa waktu terakhir ia hanya memberikan waktu 5 menit agar gadis itu bisa menemui putra nya dengan beberapa persyaratan yang ia ajukan.


Namun gadis itu yang mulai puas dengan hanya 5 menit waktu yang di berikan membuat nya tetap memilih untuk tidak bersama dengan ayah biologis dari putra nya.


Setelah menepuk dan membiarkan putra kecil nya tertidur pria itu pun beranjak keluar, ia memanggil Liam ke ruang kerja nya.


"Dia masih menemui pria itu?" tanya Richard pada Liam sembari mengambil beberapa foto yang sudah di cetak dan melihat gadis di dalam nya.


Ia memerintahkan Liam untuk mengikuti gadus itu diam-diam karna penasaran dengan apa yang di lakukan nya.


"Mereka terlalu dekat jika hanya kembali berteman," ucap Liam dengan ragu.


"Dekat yah?" gumam Richard sembari melihat foto gadis yang tengah bersama mantan kekasih nya itu.


"Mereka pacaran lagi?" tanya nya pada Liam.


"Saya belum bisa pastikan tuan," jawab pria itu pada atasan nya.


"Apa menurut mu, aku buat dia hamil lagi saja? Kalau sudah terlalu banyak anak dengan ku, pria si*lan itu tidak akan mau lagi kan dengan nya?" tanya Richard pada bawahan nya.


Liam terkatup sejenak mendengar ide gila tuan nya, "Nona Ainsley memiliki panggul yang kecil berarti dia harus operasi setiap kali melahirkan, dan jika menggunakan ide seperti anda tetap harus menunggu 6 bulan sejak pasca operasi untuk masa kehamilan lagi."


"Untuk apa? Ku dengar tidak ada batasan untuk wanita melakukan operasi selagi masih dalam pantauan ketat dokter kan?" tanya Richard lagi.


"Tapi tetap saja agar nona masih baik-baik saja anda perlu menunggu 6 bulan lagi untuk memberi tuan muda Axel adik lagi agar menghindari komplikasi pada nona Ainsley," jawab Liam pada tuan nya.


"6 Bulan? Kalau sebelum itu dia sudah menikah dengan mantan nya? Apa ku bunuh saja sekalian pria si*lan itu? Dia seperti tanah liat! Mau mati saja menyusahkan!" decak Richard kesal.


"Saya punya ide untuk membuat nona Ainsley menjadi goyah, tapi saya harap tuan bisa bekerja sama." ucap pria itu pada tuan nya.


Walaupun ia bawahan yang setia namun tetap saja ia suka semenjak gadis cantik itu datang ke kehidupan tuan nya.


Richard tak begitu ketat ataupun menekan nya dengan pekerjaan yang bertubi dan suasana menjadi lebih hangat tak sedingin sebelum tuan nya menyukai siapapun.


"Apa?" tanya pria itu mengernyit.


Liam pun tersenyum dan mulai mengatakan apa yang ada di pikiran nya untuk membuat gadis itu tak punya pilihan selain berada di sisi tuan nya untuk melindungi putra kecil nya.


......................


Kediaman Clarinda.


Wanita itu melihat putri nya yang terlihat lesu sembari menyandarkan wajah nya ke atas meja dengan rambut yang di ikat.


"Kenapa?" tanya wanita itu datang dengan menyentuh pundak putri nya.


"Rindu Axel Mah," jawab nya lirih dengan lesu.


Wajah polos tanpa make up yang baru saja beranjak bangun dari tidur nya dan bahkan belum mencuci nya sama sekali itu terlihat diam tak bersemangat.



"Kalau rindu, datangin Axel, kenapa di malah lesu di sini?" ucap Clarinda.


Gadis itu tak menjawab namun hanya beranjak lesu.


"Kamu gak mandi sayang? Bukan nya hari ini katanya mau pergi sama Sean?" tanya Clarinda mengalihkan pembicaraan.


"Ini jam berapa Mah?" tanya gadis itu lirih karna ia pikir masih memiliki banyak waktu lagi.


"Jam 10 pagi kamu pergi nya jam berapa?" tanya Clarinda pada putri nya.


"Jam 10? Aku per-"


"Nona Ainsley, ada yang mencari nona di depan." potong seorang pelayan sebelum gadis itu menyelesaikan kalimat nya.


"Aku janji nya jam 10 Mah," ucap gadis itu lirih dan langsung beranjak.

__ADS_1


"Sana mandi! Sudah di jemput baru mau siapan," ucap Clarinda menggelengkan kepala nya sembari tersenyum melihat putri nya yang berlari dengan cepat seperti anak yang kesiangan bangun untuk ke sekolah.


......................


Udara yang menyejukkan dan dingin dengan sinar mentari yang cerah membuat senyuman gadis itu menjadi lebih indah.


"Kau mau beli sesuatu lagi? Bagaimana dengan baju nya?" tanya Sean pada gadis itu sembari melihat belanjaan yang di beli.


Setiap kali Ainsley melihat barang anak kecil yang terlihat bagus di mata nya ia akan membeli nya karna teringat dengan putra kecil nya.


"Tidak ini saja sudah cukup," ucap Ainsley tersenyum.


"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Sean pada mantan kekasih nya yang cantik itu.


Ainsley diam sejenak dan menarik napas nya, "Mungkin karna hari ini aku belum bertemu Axel?" jawab nya dengan senyuman yang di paksakan.


"Mau ku antar?" tanya pria itu lirih.


"Tidak, aku saja nanti yang kesana." tolak Ainsley pada pria itu, ia tak mau terjadi perseteruan lagi diantara kedua pria tersebut.


"Kau akan Prancis bulan depan?" tanya Sean pada gadis di samping nya.


"Hm,"


"Mau pergi dengan ku? Aku akan Prancis juga bulan depan," ajak pria itu pada gadis di samping nya, sebenarnya alasan ia berada di Spanyol hanyalah karna gadis itu saja.


"Benarkah? Yasudah, kita kembali bersama saja!" jawab Ainsley tersenyum mendengar pria itu juga akan pulang ke negara asal nya.


Sean tersenyum, ia suka sinar yang di timbulkan mata cantik itu saat menatap nya.


"Kau masih mau ja- Sebentar," ucap nya yang terpotong saat ia merasakan ponsel nya bergetar dalam saku celana nya.


"Aku angkat telpon nya dulu," ucap pria itu yang sedikit menjauh dari gadis cantik itu.


Ainsley mengangguk ia melihat pria yang dulu nya menjadi milik nya namun kini sudah tidak lagi walaupun pria itu masih memiliki perasaan yang sama.



Sean mendengarkan apa yang di bicarakan di telpon, awal nya ia masih diam tanpa ada nya mempermasalahkan apapun namun tiba-tiba raut nya berubah.


"Jangan lakukan apapun kalau anda masih berharap kita memiliki hubungan orang tua antara orang tua dan anak! Hidup saya tidak perlu anda yang mengatur!" ucap pria itu ketus dan mematikan ponsel nya.


Ia kembali mendatangi Ainsley setelah selesai menelpon.


"Siapa?" tanya Ainsley pada pria itu.


Ia tak ingin memberi tau Ainsley tentang desakan sang ayah untuk membuat nya mengikuti kencan buta dengan wanita lain.


Ainsley mengangguk mendengar tawaran pria itu.


"Ayo," ajak pria itu sembari menggenggam tangan kecil gadis di samping nya.


"Eh?" Ainsley tersentak saat pria itu menggenggam dan menautkan jemari nya.


"Udara nya dingin, kalau seperti ini kan jadi hangat." ucap Sean tersenyum sembari menunjukkan tangan yang bertaut satu sama lain itu.


......................


Mansion Zinchanko.


Sejak awal ia datang, Ia sudah mendengar tangisan putra nya yang menggema, langkah nya pun langsung tertuju mencari sumber suara.


Tak ada pelayan ataupun pengawal yang menghadang nya, bahkan Richard pun terlihat tak ada.


"Ck! Kencang sekali tangisan nya?! Kau tak bisa diam?! Hush! Diam! Mau ku cubit bibir mu!" decak seorang wanita yang menggendong bayi mungil itu.


"Axel?" gumam Ainsley saat melihat wanita cantik yang tengah menggendong putra nya.


"Kau menggendong nya seperti itu tentu saja dia tidak nyaman, lagi pula kenapa memarahi anak bayi?" tanya Ainsley yang beranjak ingin mengambil putra nya.


Wanita itu menghindar sembari mengukup Baby Axel dalam dekapan nya.


"Apa-apaan kau? Terserah ku lah mau bagaimana cara menggendong nya!" ucap wanita itu dengan wajah sinis nya.


"Anak ku tidak nyaman!" ucap Ainsley yang ingin kembali menggapai putra nya.


Greb!


Tangan gadis itu tercegat oleh sesuatu yang membuat nya tak bisa mendekat.


"Pam- Richard?" ucap nya lirih yang terkadang masih sulit menghilangkan kebiasaan nya memanggil pria itu 'Paman'


"Sedang apa?" tanya Richard datar pada gadis itu.


Sedangkan wanita yang terlihat dewasa dan cantik itu pun langsung mengubah cara gendong nya, "Sayang, berhenti menangis yah..." ucap nya dengan lembut.


"Tadi dia marahin Axel! Cara gendong juga berubah!" ucap Ainsley pada Richard sembari menunjuk wanita cantik itu.

__ADS_1


"Kau memarahi nya?" tanya Richard pada wanita itu.


"Tidak? Aku tidak mungkin memarahi anak bayi kan?" sanggah wanita cantik itu berbohong.


Richard kembali menoleh ke Ainsley yang terlihat terkejut dan tak terima mendengar kebohongan wanita di depan nya.


"Dia bilang tidak ada memarahi nya," ucap Richard pada gadis itu.


"Dia bohong! Aku lihat sendiri tadi!" ucap Ainsley membenarkan apa yang ia lihat dengan mata nya.


Richard menarik napas dan melepaskan tangan gadis itu.


"Aku lupa memberi tau mu sesuatu," ucap pria itu sembari memandang wajah gadis di depan nya.


"Kenalkan, nama nya Samantha Grace dia..."


"Wanita ku," sambung nya dengan senyum kecil pada gadis di depan nya.


Ainsley mengernyit mendengar nya, namun ia tak merasa cemburu melainkan perasaan lega dan khawatir yang tercampur bersama.


"Wanita?" tanya Ainsley lagi.


"Hm, lagi pula ini tak ada urusan nya dengan mu kan?" tanya Richard lagi.


"Memang tidak ada, tapi dia..." gumam nya yang tak yakin jika putra nya bersama dengan wanita yang baru saja memarahi bayi kecil itu lalu berpura-pura baik.


Grace pun meletakkan Baby Axel yang masih menangis ke keranjang bayi di samping nya dan mendekati Ainsley dengan senyuman ramah.


"Grace, seperti nya kita terlambat berkenalan." ucap nya sembari menyodorkan uluran tangan nya.


Ainsley ragu namun ia pun menerima uluran tangan wanita itu, "Ainsley." ucap nya singkat dan ingin melepas namun Grace menahan nya.


Wanita itu pun menarik dan berbisik pelan di telinga gadis itu, "Anak mu menyusahkan, apa lebih baik aku membuat nya tidur selama nya saja?"


Mata gadis itu membulat seketika mendengar ucapan wanita itu, "Apa yang kau bilang tadi?!" tanya nya dengan segera dan raut yang marah.


"Kenapa kau memarahi nya?" sentak Richard saat mendengar nada tinggi gadis itu, ia menyembunyikan smirk nya di balik tatapan nya.


"Dia bilang sesuatu tentang Axel!" jawab Ainsley segera.


"Aku tidak bilang apa-apa," jawab Grace dengan nada lemah.


"Barusan kau bil-"


"Kenapa dia mengatakan sesuatu? Kami akan menikah dan dia yang akan menjadi ibu Axel, bukan kau jadi jangan bicara sembarangan!" ucap pria itu.


Deg!


Gadis itu tersentak, bukan perkara pria itu ingin menikah dengan siapa namun perkara putra nya yang bisa salah memiliki ibu sambung.


"Terserah mau menikah dengan siapa! Tapi anak ku, tidak akan dengan nya!" ucap gadis itu pada pria di depan nya.


Ia ingin beranjak mengambil putra nya namun tubuh mungil nya tercegah, pria itu mencengkram pergelangan tangan nya dengan erat.


"Kau lupa? Aku sudah mengurus hak asuh nya dan bahkan kalau kau menggunakan pengadilan pun dia tetap akan berada di tangan ku!" ucap Richard dengan nada penuh penekanan mencegah gadis itu mengambil putra mereka.


Baby Axel terus menangis semakin kencang ketika melihat kedua orang tua nya bertengkar, walaupun ia tak mengerti namun bayi dapat merasakan situasi yang tengah terjadi.


"Aku tidak mau dia yang mengurus anak ku..." ucap Ainsley lirih.


"Kalau begitu kau yang urus! Kau sendiri yang tidak mau mengurus nya kan?! Lalu kenapa sekarang ribut?! Hm?!" ucap Richard dengan mata tajam nya.


"Aku mau! Kau yang tidak membiarkan ku mendekat!" ucap Ainsley yang membicarakan batas waktu setiap kali ia menemui putra nya.


"Aku butuh yang bisa dekat dengan ku terus, tapi kau tidak bisa! Jadi jangan mengomentari apa yang ku lakukan!" jawab pria itu sembari mengeratkan cengkraman nya di tangan mungil itu.


"Aku bisa, jangan dia..."


"Dia mengancam anak ku..." ucap nya lirih yang takut wanita yang di bawa pria itu menyakiti putra nya.


"Lalu kau mau menggantikan nya? Kau yang akan menikah dengan ku?" tanya pria dengan tajam.


Ainsley diam tak bisa menjawab langsung, ia ragu dan bingung sekaligus.


Senyuman simpul dan tatapan tajam terlihat di wajah pria itu sembari melepaskan cengkraman tangan nya.


"Kau tidak bisa kan? Karna waktu lima menit mu sudah habis, kau bisa kembali." ucap nya pada Ainsley.


"Antar tamu ini keluar," ucap nya dengan dingin pada pengawal mansion yang berada tak jauh dari mereka.


...****************...


Happy New Year buat para pembaca othorđź’•đź’•đź’•


Semoga dengan adanya pergantian tahun, kita semua juga semakin bijaksana dalam sikap dan othor berharap buat para pembaca agar tetap sehat dan memiliki pintu rezeki yang terbuka di tahun yang berganti🥳🥳🥳🥳


Happy Reading💕💕💕♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2