
Axel kini mulai dapat berjalan dengan bebas, sikap nya pun mulai bisa di kendalikan saat rutin menjalani terapi psikologis setelah hampir sebulan menjalani perawatan.
Mata nya memandang luruh ke jendela rumah sakit di mana ia di rawat.
Bayangan dan bentuk orang-orang yang mengecil dari atas membuat nya hanya diam menatap nya.
Ruangan yang besar dan ia yang sendirian, karna tak mengatakan apapun bukan berarti ia tak kesepian.
"Axel dulu juga di sayang sama Mommy..." gumam nya lirih menatap seorang wanita yang menggendong anak nya.
Ia merindukan sang ibu namun juga marah pada wanita secara bersamaan.
Harapan yang tak pernah sesuai ia harapkan membuat nya mulai merasa kesal dan marah.
......................
Mansion Zinchanko
Ainsley menatap pria yang tengah duduk di depan meja kerja nya sembari mengerjakan dengan teliti apa yang ada di depan nya.
"Richard? Apa sekarang aku sudah boleh menemui Axel?" tanya nya yang hanya duduk di atas sofa itu karna suami nya meminta ia untuk menemani.
Tak ada jawaban sama sekali walau pria itu sudah melirik nya saat mendengarkan ucapan nya.
"Aku sudah buat cake untuk mu! Aku juga sudah yang untuk Axel!" ucap nya yang berusaha agar pria itu mengizinkan nya.
"Kau sudah bisa keluar, seperti nya kau sudah merasa bosan." ucap pria itu yang sekali lagi tak memberikan jawaban.
Harapan yang membara di mata wanita itu Erna seketika saat ia mendengar suami nya menyuruhnya keluar karna tak ingin membahas tentang permintaan nya.
Ainsley pun perlahan keluar, kaki nya terasa berat. Ia semakin merindukan putra nya.
Rumah besar dan megah itu pun seketika menjadi sunyi saat tak ada pria kecil cerewet dan banyak tanya itu.
Tanpa sadar langkah nya berjalan ke kamar putra nya, mainan yang selalu di mainkan serta catatan dan gambar coretan yang di buat anak berumur lima tahun itu membuat nya tersenyum.
"Kabar Axel gimana nak? Maaf yah Mommy belum bisa datang..." ucap nya tersenyum namun menjatuhkan bulir-bulir bening nya di atas gambar putra nya yang masih beraturan.
Ia benar-benar merindukan suara, wajah, dan senyuman putra nya.
Rasa ingin memeluk dengan erat dan mencium pipi nya semakin membuncah, di bandingkan hukuman yang lain dan siksaan yang pernah ia terima sekarang ini adalah siksaan terberat nya.
Di pisahkan dari seseorang yang menjadi harapan hidup nya membuat nya begitu tersiksa hingga sulit untuk melepaskan napas. nya.
"Axel gak marah kan nak? Mommy bukan nya gak mau sama Axel tapi Mommy gak bisa..." ucap nya lirih.
Ia duduk di tempat tidur putra nya, melihat mainan dan juga semua yang menjadi kebiasaan putra nya.
Ia yang mulai merasa nyaman berada di kamar putra nya pun membuat nya tertidur tanpa sadar.
...
Richard yang sudah selesai mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan nya pun beranjak keluar dan ingin mengajak sang istri untuk makan malam bersama.
Setelah itu ke rumah sakit menemui putra kesayangan nya.
"Dia di mana?" tanya nya pada pelayan yang berada di ruang makan saat tak melihat istri' nya duduk.
Hanya meja yang berisi semua makanan lezat namun tak ada wanita itu yang mengisi bangku di meja makan itu.
"Nyonya sed-"
"Sudah lah, aku yang akan panggil dia." ucap Richard memotong dan beranjak ke kamar nya.
Ia langsung mengernyit saat tak melihat sang istri yang berada di kamar mereka, ia pun langsung berbalik.
Mungkin hanya firasat dan tebakan yang membuat langkah nya tertuju pada kamar putra nya.
Dan benar saja wanita itu tertidur di sana, padahal di malam-malam sebelum nya ia tak pernah tidur dengan nyenyak dan hanya terlihat gelisah sepanjang malam.
Tangan nya menyentuh pipi dan mengelus wajah wanita itu yang sembab karna menangis.
Ia pun mulai menggendong nya, perlahan ke kamar nya dan tak membangunkan makan malam karna melihat wanita itu yang bisa tertidur.
Menurunkan tubuh kecil itu perlahan ke atas ranjang empuk milik nya dan sang istri namun wanita itu langsung terbangun ketika ia di pindahkan.
Alam bawah sadar dan kesadaran nya hanya menginginkan putra nya hingga membuat nya langsung terbangun.
Mata nya melihat iris sang suami yang masih berjarak beberapa senti dari nya ketika perlahan menidurkan nya ke ranjang.
Tangan nya mulai meremas kemeja pria itu menatap nya dengan iris berkaca yang melepaskan semua rasa yang menumpuk di hati nya.
"Ku mohon..."
"Biarkan aku menemui nya, aku benar-benar tidak tahan lagi..."
"Berhenti menyiksa ku dengan cara seperti ini, aku tidak sanggup..."
Richard hanya melihat tatapan yang penuh pengharapan itu, ia tak mengatakan apapun walaupun wanita yang cintai itu sudah memohon pada nya dengan begitu dalam.
"Kenapa aku bisa sangat menyukai mu?" tanya nya mengernyit yang mulai membuka suara.
Ia tak tau alasan nya mengapa ia bisa sesuka dan seobsesi itu pada sesuatu.
"Padahal banyak yang lebih dari mu, lebih cantik, lebih baik, lebih segala nya. Tapi kenapa aku hanya suka dengan mu?" tanya nya yang semakin tak mengerti.
Ia menyadari sesuatu saat berbicara dengan mantan kekasih wanita itu, dulu ia memang sangat ingin merebut nya karna merasa menyenangkan dan penasaran.
Seperti hanya memenuhi hasrat yang terpendam dalam diri, ia yang mudah bosan tentu nya hanya akan merasa bisa membuang kapan saja ketika setelah mendapatkan nya.
__ADS_1
Namun saat wanita itu menghilang rasa nya kesal dan begitu ingin menemukan nya walaupun harus mencari di pelosok negri manapun.
Saat bertemu dan merasakan sentuhan yang membuat jantung nya berdetak, merasa kan aliran listrik yang membuat dapat senang tanpa alasan.
Atau pun saat wanita itu memperlakukan nya dengan baik, memberi nya senyuman ataupun memberikan perhatian pada nya bukan nya merasa bosan ia malah semakin ingin mendapatkan hal yang lebih.
Seperti tak pernah cukup dan tak pernah akan bisa memenuhi keinginan nya dan hasrat yang sudah ia siapkan dengan wadah semakin besar.
Ainsley tak bisa menjawab nya, ia hanya menatap dengan iris hijau nya. Tak ada jawaban yang bisa ia berikan.
Karna cinta itu tidak membutuhkan alasan, rasa ketertarikan bisa timbul dan bertahan pada apa saja.
"Kenapa tanya aku, semua jawaban nya ada pada mu." jawab Ainsley pada pria itu.
"I love you, I think maybe that's the answer," ucap nya menatap wanita itu.
"If you really love me, why you hurt me so?" tanya wanita itu.
"I wanna you stay with me forever, but you always seem to wanna leave me," (Aku ingin kau tinggal dengan ku selama nya, tapi kau selalu terlihat ingin meninggalkan ku.)
Jawab nya dengan mata menatap wanita itu dengan dalam.
"Aku harus apa supaya kau percaya aku tidak akan pergi?" tanya Ainsley mengernyit.
Pria itu tak menjawab, ia tak bisa mengatakan apapun karna tak ada yang bisa menutupi rasa takut nya kehilangan wanita itu.
Ainsley diam dan menatap nya, ia menarik tangan suami nya dengan kuat.
Tenaga yang tiba-tiba di keluarkan oleh wanita itu membuat Richard terkejut, ia yang ingin langsung bangun ketika tubuh nya berguling ke ranjang langsung berhenti saat wanita itu menaiki perut nya.
"Aku bisa menjadi wanita apapun seperti yang kau mau, kau hanya perlu mengatakan nya. Aku akan lakukan," ucap Ainsley sembari menyentuh dada bidang pria itu yang berada di atas tubuh nya.
"Seperti memiliki Axel benar-benar kartu emas," ucap pria itu tertawa getir.
Bukan karna cinta namun wanita itu melakukan segala hal untuk putra nya.
Sekali lagi, harus nya ia merasa senang namun kenapa ia selalu merasa sesuatu yang membuat dada nya merasa tak bisa bernapas.
Seperti sakit namun tak bisa ia jelaskan apa yang menyakiti nya.
"Axel bukan kartu emas, dia anak mu." ucap Ainsley yang mengernyit saat mendengar pria itu seperti mengatakan jika anak mereka seperti barang yang berguna.
Pria itu tak mengatakan apapun, tangan nya beranjak menyentuh dan mengelus rambut wanita yang tengah duduk di atas perut penuh otot nya.
"Dia milik ku, sama seperti mu." ucap pria itu lirih.
Lalu sedetik kemudian ia menarik tengkuk wanita itu hingga jatuh pada nya dan mel*mat bibir merah muda itu dengan dalam.
"Kau bisa lakukan malam ini? Kalau kau benar-benar bisa membuat ku puas aku akan memikirkan nya," ucap Richard saat melepaskan ciuman nya.
Seperti harapan yang selalu di bangun pria itu walau tak pernah memberikan nya setelah melakukan apa yang di minta namun Ainsley tetap melakukan nya dengan harapan keinginan nya terkabul.
Ia melepaskan ciuman nya dan mengigit kecil leher pria itu, entah sejak kapan ia belajar namun ia terbiasa dan bisa meniru apa yang selalu di lakukan suami nya.
Melepaskan kancing kemeja, serta mengusap dada bidang dan juga perut penuh otot pria itu membuat Richard semakin merasakan listrik yang mengalir ke seluruh tubuh nya.
Ia ingin yang bergerak dan memimpin namun menahan nya, ia ingin tau sejauh mana wanita itu bereaksi pada nya.
Tangan lembut yang menyentuh tubuh keras penuh otot itu saat bentuk tubuh yang terlihat seperti patung dewa Yunani itu berada di bawah diri nya.
Ia mengecup ringan leher pria itu dan mengecup otot-otot bidang suami nya.
Merasakan sesuatu yang mengganjal membuat nya, beranjak dengan turun dan mulai melakukan sesuatu dengan mulut nya.
Pria itu tak tahan dan menahan kepala wanita itu, setelah mengatur napas nya ketika mencapai suatu puncak, ia pun melihat sejak wajah yang terlihat tak bisa bernapas itu.
Tak ada perintah apapun namun wanita itu melakukan apa yang ia sukai tanpa harus ia katakan, menelan semua nya seperti yang ia sukai.
Ainsley pun perlahan bangun, menaiki tubuh pria itu dan melakukan sesuatu yang sangat di sukai suami nya.
Pukul 12.30 am
Setelah lelah dan tak sanggup lagi wanita itu berada di samping tubuh pria yang kali ini seperti mimpi indah di musim semi yang penuh peluru saat kejadian buruk datang dan juga sesuatu yang manis datang.
Ia mengatur napas nya begitu juga dengan wanita yang berada di samping nya.
"Apa aku bisa menemui Axel?" tanya Ainsley setelah mengatur napas nya.
Pria itu tak menjawab, Ainsley memejam. Ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk menyenangkan pria itu, memuaskan hasrat pria itu pada nya.
"Menurut mu Axel bisa hidup tanpa ibu nya?" tanya Ainsley lagi.
Tatapan mata nya kini mulai terlihat kosong dan sudah mencapai batas nya.
"Entahlah, tapi mungkin jawaban nya Iya." balas Richard yang ingin wanita itu lebih keras membujuk nya.
Deg!
Jawaban yang seperti kini meruntuhkan semua harapan nya untuk bertahan.
"Kalau begitu apa kau bisa mengatakan kalau sangat mencintai nya, katakan kalau aku sangat beruntung jadi ibu nya." ucap nya yang tanpa sadar tersenyum.
Pria itu tak memberikan balasan atas permintaan tersebut.
Ainsley pun bangun dan beranjak memakai pakaian nya lagi seadanya.
"Aku akan mandi lebih dulu, kalau kau mau kau bisa makan malam atau tidur dulu." ucap nya yang memberikan senyuman pada pria itu.
Richard mengernyit melihat nya, senyuman yang terlihat seperti akan melepaskan segala, sorot mata yang seperti kini telah kehilangan harapan dan asa nya.
__ADS_1
Ainsley berbalik dengan senyum nya, berjalan ke arah kamar mandi dan mengunci nya.
Ia masih tersenyum sampai melihat ke arah cermin dan seketika senyuman tersebut langsung hilang dan hanya menyisahkan wajah tanpa ekspresi.
Axel bisa hidup tanpa ku, dia tidak membutuhkan ku...
Lalu untuk apa aku tetap ada?
Batin nya yang penuh dengan pikiran yang seharusnya tak ada.
Tangan nya beranjak ke laci di balik cermin yang menyimpan pisau kuku yang tajam.
Seharusnya bukan aku yang jadi ibu nya, dia pasti akan lebih bahagia kalau bukan aku ibu nya...
Tapi aku merasa memiliki keberuntungan di hidup ku karna memiliki nya...
Axel anak Mommy, maaf yah sayang karna Mommy gak bisa buat Axel bahagia...
Tapi Mommy mau Axel selalu bisa bahagia...
ucap nya dalam hati sembari perlahan menusukkan ujung pisau kuku itu tepat ke jantung nya.
Tangan, blouse putih yang ia kenakan mulai mengeluarkan darah, namun ia tersenyum tanpa sadar seperti tak merasakan sakit sama sekali.
Richard mulai merasa aneh, ia tak mendengar suara apapun dari balik kamar mandi. Tak ada suara guyuran air hanya senyap sejak tadi.
Ia pun beranjak dan menggedor pintu kamar mandi nya.
"Ainsley? Kau sudah siap? Biarkan aku masuk juga," ucap nya sembari semakin mengetuk pintu tersebut dengan kuat.
Firasat nya seperti mengatakan sesuatu yang membuat nya tak nyaman.
"Ainsley? Ainsley! Kau mendengar ku? Buka pintu nya!" ucap Richard yang semakin merasa tak nyaman.
Tak ada balasan apapun membuat nya langsung beranjak ingin mendobrak pintu tersebut.
Ainsley menoleh ke arah pintu yang sejak tadi mulai berisik, ia mulai merasakan rasa sakit dari tusukan pisau itu namun ia tak bisa menghentikan nya.
Brak!
Mata pria itu membulat seketika, tubuh yang berdiri diatas genangan darah yang mengalir dari dada wanita itu sembari memegang sesuatu di tangan nya yang terus ia tancapkan.
Uhuk!
Wanita itu mulai mengeluarkan darah yang mengalir dari mulut nya dan tubuh nya yang mulai terjatuh ke lantai.
"Ainsley!" ucap pria itu yang langsung menangkap tubuh istri nya sebelum menyentuh lantai.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya dengan membentak wanita itu.
Tangan nya bergetar memegangi tubuh yang penuh dengan darah itu.
Seperti tak merasakan apapun, wanita itu tersenyum seperti sebelum nya.
Tubuh yang perlahan mulai lemas dan kehilangan tenaga ia paksakan untuk menyentuh wajah pria di depan nya.
Tangan kecil yang terasa dingin dan penuh darah itu menyentuh nya dengan sentuhan yang selalu terasa lembut.
"Kau bisa katakan pada Axel kalau aku sangat menyayangi nya? Katakan pada nya agar dia tetap bisa ingat aku..." ucap Ainsley dengan suara yang semakin melemah.
Richard menggeleng, "Tidak! Kau harus katakan sendiri!" ucap nya pada wanita itu.
Pikiran nya seperti hilang dan tak bisa memikirkan apapun selain memeluk tubuh wanita yang penuh akan darah itu.
"Apa kau perlu sejauh ini untuk membalas ku?!" tanya Richard tanpa sadar menjatuhkan sesuatu dari mata nya.
Buliran bening yang bahkan tak pernah ia keluarkan ketika melihat kematian kedua orang tua nya.
Wajah wanita itu tersenyum, ibu jari nya mengusap air mata pria itu.
"Aku mencintai mu, mungkin tidak setiap hari, tapi ada hari di mana aku benar-benar hanya melihat mu." ucap Ainsley tersenyum.
Ia tak tau kapan namun, ia memang pernah merasakan nya selama 6 tahun menjalani pernikahan nya dengan pria itu.
Hati nya juga pernah goyah, ia juga pernah merasa benar-benar bahagia dan merasa sangat di cintai saat menjalani hubungan pernikahan nya.
Deg!
Pria itu seperti merasakan sesuatu yang menembus dada nya, pengakuan yang kali benar-benar dapat ia rasakan.
Bukan hanya pengakuan dari bibir namun ucapan yang di ucapkan berdasarkan perasaan wanita itu sesungguhnya.
"Aku akan membawa ke rumah sakit! Aku-"ucap Richard yang semakin panik saat tangan wanita itu mulai jatuh.
Tubuh Ainsley perlahan seperti mati rasa dan tenggelam dalam lautan yang membuat nya hanya menatap kegelapan yang menginginkan cahaya.
Cintai aku lebih banyak lagi...
Berikan aku waktu lebih banyak lagi...
Kalau kita bertemu lagi, saat ini atau saat nanti...
Aku akan mencintai mu juga saat itu...
Dan aku puas dengan hidup ku...
Aku mendapatkan kebahagiaan saat kau membuat ku memiliki anak ku...
Anak yang menjadi hidup ku, tapi ku rasa dia tidak akan membutuhkan ku...
__ADS_1
Jika aku masih bisa melihat nya sekali lagi ku harap semua nya sudah membaik...