
Setelah lelah menangis, tatapan Ainsley menjadi kosong ia pun berusaha bangun dengan tubuh nya yang semakin lemas.
Dengan langkah tertatih ia berjalan ke kamar nya, berusaha mencari buku pelajaran nya dan membuka nya satu-satu. Walaupun tubuhnya terasa semakin lemah karna tak memakan apapun selama tiga hari ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap belajar.
Ia takut jika ibunya nya semakin marah pada nya, namun tetap saja pikirannya semakin kalut saat terbayang tentang penculikan nya dan pesan ancaman yang ia terima.
Tes...tes...tes...
Tanpa terasa darah segar pun mengalir jatuh ke lembar buku nya, Ainsley yang melihat cairan merah tersebut pun langsung menyentuh hidungnya.
Ia pun dengan cepat langsung mengambil tisu dan menutup hidung nya sembari terus memaksakan dirinya untuk belajar.
......................
Mansion Richard.
Richard yang sudah menyelesaikan transaksi ilegal nya pun teringat akan Ainsley, ia ingin sekali lagi menakut-nakuti gadis itu, baginya Ainsley memberinya reaksi yang menyenangkan.
Richard pun memeriksa beberapa undangan dan dokumen yang ia terima, ia pun melihat satu undangan dari universitas tempat Ainsley menuntut ilmu, mengundangnya untuk memberi kuliah umum sebagai tamu dan narasumber dari usahawan yang telah berhasil.
Richard tak pernah menerima hal seperti itu, namun karna universitas dan di jurusan yang sama dengan Ainsley mengundangnya membuatnya sedikit tertarik.
"Aku akan menerima ini." ucap Richard pada Liam sembari memberikan dokumen yang berisi tentang undangan dari universitas atau kampus Ainsley.
Liam pun dengan patuh mengambil dokumen tersebut dan segera mengurusnya.
"Ini pasti akan menjadi semakin menyenangkan. Iya kan?" tanya Richard dengan seutas senyum mengerikan pada Liam.
"Tentu, tuan." jawab Liam yang selalu berada di pihak tuan nya.
Setelah itu Liam pun pamit pergi untuk mengurus hal yang perlu di urus untuk Richard yang bersedia memberi kelas umum di kelas yang di duduki Ainsley.
Richard pun meneguk Wiski yang berada di samping meja kerja nya, wajah nya tersenyum saat mengingat Ainsley yang menangis dan memohon di bawah kungkungan nya saat itu.
Penolakan yang di berikan Ainsley memberi gairah tersendiri dan membuatnya terobsesi untuk membuat gadis cantik itu tunduk padanya.
"Dia sedang apa sekarang?" gumam Richard saat merasa bosan, setiap kali ini merasa bosan ia selalu menghubungi Ainsley.
Ia ingin berbicara dengan gadis itu, namun karna tak ada bahan pembicaraan ia pun selalu mengancam gadis itu agar dapat memiliki bahasan.
Mungkin baginya ini hal yang sangat menyenangkan namun bagi Ainsley ini adalah yang sangat mengerikan.
Hidup gadis itu seperti tersiksa di neraka semu yang membunuh jiwa nya tanpa membunuh raga nya.
......................
Apartemen Winter Garden.
Drrtt..drrtt...
__ADS_1
Ponsel Ainsley berbunyi lagi, Ainsley pun kembali gemetar saat ponsel nya berbunyi ia sangat takut membuka dan melihat isi pesan nya, namun ia dengan segala keberanian yang ia miliki mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.
Tangan nya terasa dingin dan gemetar saat membuka pesan tersebut.
Setelah ku perhatikan lagi wajah mu sangat menggemaskan saat kau memohon seperti itu...
Aku juga sangat menyukai aroma tubuh mu...
Pesan yang di kirim di ponselnya beserta video nya lagi.
"Akhh!!" teriak Ainsley yang mulai hilang kendali dan langsung menghapus pesan tersebut ia pun segera melempar ponselnya jauh darinya.
"Ja-jangan...
Jangan... ku mohon...." ucap Ainsley lirih dengan tubuh gemetar nya.
Ia pergi ke sudut tempat tidur dan berjongkok seperti sedang bersembunyi, ia terus saja merasa takut, gelisah, dan panik secara bersamaan.
Ia kembali menangis dan menjatuhkan semua bulir bening nya, tubuhnya kembali gemetar lagi. Ia benar-benar tertekan sekarang, tak tau harus bagaimana menghadapi situasi nya sekarang.
"Kenapa semua nya jahat padaku? Aku salah apa? Kalau Sean tau bagaimana? Kalau dia pergi, aku akan benar-benar sendiri..." ucap Ainsley lirih sembari terus menjatuhkan bulir bening nya dengan tubuh gemetarnya.
"Aku takut...
Aku gak sanggup...
Ia pun perlahan mengambil obat tidur dan penenang yang ia simpang di laci meja yang berada tepat di samping tempat tidurnya.
"Ini mimpi kan? Aku pasti sedang mimpi buruk sekarang...
Kalau aku tidur dan bangun lagi pasti semua nya kembali seperti semula kan?" ucap Ainsley lirih.
Ia semakin depresi dan tertekan dengan semua keadaan hingga membuat nya mulai berhalusinasi dan menganggap semua yang terjadi di hidup nya sekarang tak nyata.
Ainsley pun mulai meminum obat penenang dan obat tidur secara bersamaan dengan dosis tinggi.
Pandangan nya langsung terasa gelap saat ia menelan semua obat tersebut secara bersamaan hingga hampir menghabiskan dua botol di waktu yang sama.
Aku ingin tidur...
Aku ingin tidur dan bangun dari mimpi buruk ku...
batin Ainsley sebelum kehilangan kesadaran saat tubuhnya sudah tergelatak tak berdaya dengan banyak butiran obat penenang dan obat tidur di dekat tubuhnya.
......................
Dua hari kemudian.
Bandara internasional.
__ADS_1
Sean pun yang baru saja dari London langsung menuju ke apart Ainsley ia sudah sangat marah dan kesal saat ini.
Ainsley sama sekali belum menjawab panggilan nya ataupun membalas pesan yang ia kirimkan.
"Ckk...
Sepertinya aku terlalu memanjakan nya!" ucap Sean berdecih kesal menatap riwayat chat yang sudah ratusan namun belum dibalas Ainsley sama sekali, jangan kan di balas di baca pun tidak, dan membuat Sean semakin kesal.
"Percepat mobilnya." perintah Sean pada supir nya.
Selama menuju apart Ainsley ia kembali menghubungi gadis nya, dan hasilnya tetap sama, tak ada jawaban sama sekali.
Perasaan kesal, marah, dan khawatir bercampur satu dalam dirinya. Ainsley tak pernah seberani ini sampai mengabaikan semua panggilan dan pesan nya.
Ia selalu membuat gadis cantik di bawah kendalinya, memberikan cinta dan rasa sakit bersamaan. Membuat luka dan menyembuhkan lukanya.
......................
Setelah kurang lebih menempuh 45 menit perjalanan dari bandara ke kawasan apart Ainsley dengan kecepatan penuh membuat Sean langsung menghampiri apart kekasihnya.
Tanpa menekan bel pintu Sean langsung membuka dengan sandi yang biasa ia gunakan.
"Ainsley!" Panggil Sean menggema di apart mewah tersebut.
Ia tak mendengar jawaban apapun dari Ainsley. Kaki nya pun mulai menelusuri setiap sudut dari apart mewah tersebut, hingga ia membuka pintu kamar kekasih nya dan...
Deg...
Amarah dan rasa kesalnya langsung turun ketika melihat Ainsley yang tergeletak di lantai dengan penuh butiran obat tidur dan obat penenang di samping tubuh gadisnya.
Sean pun langsung mendekati tubuh Ainsley.
"Ainsley? Hey? Bangun...." ucap Sean dengan suara bergetar sembari menangkup tubuh Ainsley.
Ia panik melihat kondisi kekasih nya, wajah Ainsley yang sudah sepucat susu membuatnya semakin panik dan takut.
"Jangan begini....
Bertahan! Aku akan segera membawa mu!" ucap Sean berusaha untuk tenang sembari mulai menggendong tubuh Ainsley setelah memeriksa denyut nadi kekasihnya yang sudah sangat lemah.
Jantung nya berdegup sangat kencang, ia sangat kalut saat ini, ia takut jika Ainsley benar-benar pergi, jika itu sampai terjadi ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
...****************...
Aduh mbak Ainsley itu babang Sean dah balik, kamu ga sendiri lagi sekarang🤧🤧🤧
Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️
Happy Reading❤️❤️
__ADS_1