
Dasar anak sial!
Kau tak bisa melakukan nya?!
Kenapa bisa sebodoh ini?
Anak nakal!
Ia tak bisa menggerakkan tubuh nya, terkunci dalam kegelapan dan semua otot yang terasa lumpuh tak bisa ia gerakkan.
Bibir nya tak mampu membantah sepatah kata pun, karna bahkan hanya untuk bernapas pun ia sudah sangat takut.
Di tengah rasa takut dan kesepian nya seseorang menarik nya, membangun nya dan menyatukan kepingan nya.
Bruk!
Gadis nakal harus di hukum kan?
Ia menjerit namun tak ada satupun yang mendengarkan jeritan atau rintihan nya, ia berusaha lari.
Langkah yang penuh akan pijakan duri hingga membuat kaki nya terasa tertusuk dan berjalan di jalan yang penuh akan pisau tajam.
Iris yang membesar saat ia merasa menatap sesuatu yang tak boleh ia lihat sama sekali.
Mata mu terlihat indah...
Bagaimana kalau aku mencongkel nya dan menjual nya?
Kau...
Melihat yang harus nya tak boleh kau lihat...
......................
Akh!
Teriak gadis itu seketika, Clarinda langsung mendekat dan memeluk gadis itu dengan erat.
Saat Clarinda menelpon Calesta Sean mengangkat nya dan mengatakan jika gadis itu pingsan dan di bawa kerumah sakit.
"Sakit...
Tolong berhenti...
Ampun..." tangis yang berusaha memberontak dalam pelukan wanita itu.
Clarinda mengernyit gadis itu bicara dalam bahasa Prancis dan bukan nya Spanyol namun yang terlihat jelas jika gadis itu merintih kesakitan walau tak ada satupun yang menyakiti nya.
"Calesta terluka? Yang mana sayang? Sini Mamah lihat..." jawab Clarinda yang mengikuti bahasa kelahiran gadis itu.
Deg!
Ia tersentak, baginya mendengar kata "Mamah" adalah hal yang mengerikan.
"Ampun Mah...
Ainsley jadi anak baik, sakit...
Sakit Mah...
Berhenti..." tangis nya histeris yang merasakan rasa sakit yang nyata di sekujur tubuh nya.
Gadis nakal harus di hukum...
__ADS_1
Suara pria yang berbisik di telinga nya membuat nya tersentak dan semakin berteriak histeris.
Clarinda terkejut, gadis itu baru saja menyebut nama asli nya.
"Pergi!" teriak nya yang bercampur dengan suara rintihan saat ia merasakan semua rasa sakit saat ia tubuh nya menerima semua kekerasan fisik yang di berikan nya.
Para dokter pun mulai datang dan memberikan obat penenang secara paksa dengan menyuntikkan sesuatu pada nya.
Clarinda menangis melihat gadis itu yang seakan kehilangan akal sehat nya.
Calesta mulai dapat mengingat saat ia mulai menjalin hubungan erat dengan orang-orang masa lalu nya yang mulai menciptakan dan membangkitkan kembali semua masa lalu nya.
...
"Psikosomatik?" tanya Clarinda mengulang.
"Benar nyonya, saat ini nona Calesta sedang mengalami nya, walaupun tak ada masalah sama sekali pada kesehatan nona Calesta namun dia merasakan semua rasa sakit nya," jawab sang dokter pada wanita itu.
"Kenapa bisa?" tanya Clarinda terkejut.
"Trauma yang masih meninggalkan rasa sakit sehingga pikiran nya masih belum melupakan nya hingga nona masih memiliki asumsi jika dia masih terjebak, dan walaupun kita tak melihat apapun namun rasa sakit yang dirasakan nona Calesta adalah nyata." jawab sang dokter.
NB KET : Psikosomatik adalah gangguan keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukannya oleh alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi.
"Lalu apa yang harus di lakukan sekarang?" tanya Clarinda lirih, ia tak pernah tau jika putri angkat kesayangan nya pernah mengalami hal yang mengerikan.
"Kami sarankan untuk di rawat oleh psikiater karna ini bukanlah penyakit fisik namun akan tetap kami pantau kesehatan nona Calesta agar dia tidak mimisan seperti hari ini lagi," terang pria paruh baya tersebut pada Clarinda.
"Lakukan apa saja yang terbaik untuk nya." jawab Clarinda lirih.
...
Sean menatap gadis yang tengah menutup mata nya begitu tenang tersebut.
Clarinda datang ke ruangan putri nya di rawat, ia tak jadi masuk namun berhenti di sela pintu melihat pria yang menjaga putri nya terlihat sangat khawatir.
Ia pun berbalik dan menunggu diluar hingga Sean keluar dari ruangan putri nya.
"Kau punya hubungan apa dengan anak ku?" tanya wanita itu pada Sean dengan raut serius.
"Hubungan? Mungkin kami dulu dekat tapi sekarang tidak sedekat dulu." jawab Sean pada wanita itu.
Clarinda tersentak, sekarang ia tau jika orang-orang yang mengenal Ainsley seperti apa yang sempat di katakan putri nya adalah salah satu orang yang sama dengan pria di depan nya.
"Kau kenal Ainsley?" tanya Clarinda lirih.
"Hm, tapi tenang saja. Aku tak akan membawa nya menjadi Ainsley lagi dia sekarang lebih bahagia saat menjadi Calesta." jawab Sean sekali lagi.
"Bagaimana kehidupan nya saat menjadi Ainsley? Apa dia tidak bahagia?" tanya Clarinda lagi.
"Aku tidak tau, mungkin saja aku juga tidak berhak menjawab nya." ucap Sean yang merasa dirinya juga merupakan bagian mengerikan yang harus di hapus.
Jika saja ia mengendalikan sedikit sikap paranoid dan posesif nya dulu mungkin saat ini tak akan terjadi, mungkin saja ia masih bisa menjalin hubungan dengan gadis cantik itu.
Namun ia tak sadar jika hancur nya hubungan nya tidak hanya karna sikap posesif nya namun juga karna pria lain yang mulai datang dan mengacaukan hubungan nya hingga membuat gadis itu merasa kotor dan enggan mempertahankan hubungan nya lagi.
"Kau menyukai nya kan?" tanya Clarinda lagi.
"Sangat," jawab Sean tersenyum tipis.
......................
Keesokkan hari nya.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanya seorang perawat saat melihat gadis itu yang sudah bangun namun seperti kondisi saat pertama kali bangun dari koma.
Calesta linglung, ia tak merespon sama sekali dan bingung dengan identitas nya.
"Lihat ini," ucap perawat tersebut memberikan name tag gadis itu untuk di baca.
"Quete Calesta?" gumam nya saat membaca name tag nya.
"Sekarang nama kamu siapa?" tanya perawat itu lagi.
Gadis itu diam, ia hanya melihat satu dokter dua perawat dan Clarinda yang berada di ruangan tersebut.
"Calesta..." jawab nya lirih dan mulai memandang ke arah sang ibu.
"Mamah!" ucap nya yang mulai kembali merespon dan memeluk wanita itu erat saat kepala nya kembali memproses memori baru nya.
"Iya sayang...
Mamah di sini," jawab Clarinda sembari membalas pelukan hangat putri nya.
...
Waktu berlalu gadis itu mulai membaik, namun ia mengaku tak ingat apapun tentang yang ia katakan saat sempat terbangun sebelum nya.
Ia juga tak ingat sempat histeris ataupun kejadian saat ia mendengar lantunan piano sebelum nya.
"Sean mana mah?" tanya gadis itu saat Clarinda mengelupaskan kulit apel nya.
Clarinda terdiam sejenak, ia memang tak mengizinkan siapapun menjenguk putri nya.
"Mungkin dia sibuk? Ini makan sayang," jawab Clarinda sembari menyodorkan apel pada gadis itu.
Bukan nya ia ingin putri nya tak memiliki teman namun ia tak ingin melihat putri nya kesakitan lagi.
......................
Kediaman Clarinda.
Karna gadis itu terus menerus meminta pulang akhirnya Clarinda pun menuruti nya dan membawa gadis itu kembali.
Gadis itu memeriksa ponsel nya, Sean menghubungi nya beberapa kali dan juga Richard yang memang sedang tak berada di Spanyol selama tiga hari terakhir karna mengatakan sedang memiliki pekerjaan.
Ia tersenyum sembari membalas kedua chat di saat yang bersamaan, hingga ia mulai ingin merapikan rambut nya.
Gadis beranjak ke cermin dan menatap dirinya, ia juga memberikan beberapa perawatan kulit wajah sebelum ia tidur namun ia merasakan sesuatu di kening nya membuat nya mendekat ke cermin.
"Apa nih? Jerawat?!" tanya nya sembari meraba walau sebenarnya bukan lah hal yang besar dan tak mengurangi wajah cantik nya.
Deg!
Jantung nya tersentak saat menatap mata nya dari dekat, iris indah yang berwarna hijau coklat keemasan tersebut terlihat dari dekat oleh nya.
Kau melihat sesuatu yang harus nya tak kau lihat?
Bagaimana kalau aku ambil mata mu sebagai ganti nya?
Bisikan yang terdengar di telinga nya, ia merasa kan tangan yang menyentuh pundak nya dan memeluk leher nya dari belakang secara perlahan.
AKH!!!
Teriak nya kencang saat ia mulai tak dapat bernapas karna perasaan takut dan serangan panik yang tiba-tiba datang pada nya.
"Ma-mamah..." ucap nya lirih dengan napas yang tak beraturan karna dada nya terasa begitu sesak.
__ADS_1