
Aroma bunga yang hangat dan menyegarkan serta tangan yang dingin karna memegang cone Ice cream yang penuh akan rasa dan warna.
"Kau mau lagi?" tanya pria itu, suara dan wajah nya terlihat samar dan tak jelas.
"Mau!" ia menjawab dengan senang lalu memeluk pria itu dengan erat.
Ice cream yang di pegang nya mengenai jaket pria itu namun tak membuat pria itu marah.
Pria itu lantas membalas pelukan nya dan mengusap wajah cantik di depan nya, tangan nya yang terasa hangat walaupun di udara yang dingin.
"Love you..." ucap nya dengan penuh rasa yang tulus dan hati yang berbunga.
"Love you too, babe..." balas pria itu sekali lagi, tak terlihat jelas siapa yang mengatakan nya namun ketulusan terpancar di kalimat tersebut.
......................
Deg!
Mata Calesta terperanjat, ia sekali lagi terbangun dengan mimpi yang berulang kali hampir sama.
"Apa aku sekarang kesepian? Masa mimpi orang yang pacaran terus?" gumam nya sembari mengusap wajah nya dan membalik tubuh nya.
Mata nya menoleh pada jam yang berada di samping nakas nya, pukul 02.45 am.
Sejak ia memulai hubungan dengan Richard dan berteman dengan Sean ia mulai memimpikan sesuatu yang sama selama beberapa minggu terakhir.
Gadis yang terlihat manja dan sangat bergantung pada cinta seorang pria dan pria yang merasa tak keberatan sama sekali dengan sikap gadis itu walaupun terlalu menggantung semua hal pada nya.
Namun mimpi nya selalu sama, ia tak bisa melihat siapa pria itu atau pun mengenal nya, semua nya terasa samar namun perasaan yang terpancar terasa begitu jelas.
Ia menghela napas kasar sembari meletakkan lengan nya ke kening nya, "Kenapa aku terus mimpi seperti ini sih?" gumam nya sekali lagi.
......................
Dua Bulan kemudian.
Sesuai janji Clarinda sebelum nya, ia sekarang sudah membuat satu toko kue untuk putri kesayangan nya.
Calesta pun semakin senang ia membuka toko nya pertama kali dan bersikap ramah setiap ada pelanggan yang datang.
Ia yang meminta sendiri untuk menjalankan toko nya langsung bukan sebagai atasan yang hanya duduk di ruangan namun juga melayani pelanggan dan membuat kue nya.
Maka dari itu Clarinda hanya memberi 2 pekerja untuk membantu putri nya, sesuai dengan apa yang di inginkan gadis cantik itu.
"Selamat dat-" ucap nya terhenti dan kemudian tersenyum, "Sean? Kau sungguh datang?" tanya gadis itu dengan mata binar nya.
Sean tersenyum ia rindu dengan wajah cantik itu karna selama beberapa hari terakhir tak bertemu.
Ia harus kembali ke Prancis dan mengatur beberapa hal agar memindahkan pekerjaan utama nya ke Spanyol tempat gadis cantik itu kini tinggal.
"Kenapa? Kau rindu pada ku?" goda pria taman itu pada gadis di depan nya.
Calesta tertawa, ia memilih memberikan senyuman cerah nya dan membawa agar itu bisa duduk di tempat yang ia sediakan di toko cake nya.
"Aku mau beli cake yang kau buat," ucap pria itu segera sesaat ketika ia duduk.
__ADS_1
"Tentu saja, kau harus mencoba nya dan khusus untuk teman ku akan berikan gratis hari ini." jawab Calesta tersenyum.
Senyum pria itu sedikit jatuh namun ia dengan cepat kembali tersenyum, hati nya terasa sedikit berdenyut saat gadis itu memanggil nya teman sedangkan dulu gadis itu selalu mengucapkan mencintai nya setiap saat.
Calesta pun mulai membawakan beberapa macaron serta cake yang ia buat sendiri, ia memberikan nya dengan sepenuh hati dan menatap pria itu memakan cake nya.
Sean sedikit tak nyaman saat gadis itu memperhatikan wajah nya dengan mata penuh binar.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya nya tak jadi menyuapkan macaron berwarna biru muda itu kedalam mulut nya.
"Aku mau dengar komentar mu," jawab Calesta menggeleng dengan senyuman nya.
Sean ikut tersenyum melihat wajah cantik gadis itu, ini mengingatkan nya saat Ainsley dulu memasak untuk nya, makanan yang memiliki bentuk yang bagus namun rasa yang sangat luar biasa.
Ia sangat merindukan momen tersebut, ia juga berniat membuat gadis itu kembali menyukai nya lagi seperti dulu walaupun sekarang ia sudah memiliki saingan yang sulit.
"Enak, kau punya bakat dalam membuat makanan seperti ini!" jawab Sean jujur karna rasa yang ia coba sekarang tak seperti masakan gadis itu dulu yang seakan ingin menaikkan tekanan darah nya karna terlalu asin.
"Benarkah? Sudah ku duga kalau aku memang berbakat di bidang ini!" jawab Calesta penuh percaya diri.
Sean tersenyum sembari mengusap kepala gadis itu.
"Maaf, tidak datang di hari pertama mu buka toko." ucap Sean pada gadis itu.
"Tidak apa-apa! Kau datang hari ini saja aku sudah sangat senang!" jawab Calesta cepat.
Bukan nya ia tak suka jika pria itu datang di hari pertama ia buka toko cake nya namun ia tak mau di hari pertama usaha nya di buka sudah memiliki aura mencekam karna Richard yang datang di hari pertama nya.
Ia tak tau alasan nya namun setiap kedua pria itu bertemu atmosfer sekitar nya berubah mencekam dan hawa yang menakutkan yang membuat nya merinding, kedua pria itu bagai minyak dan api yang mudah tersambar dan meledak maka dari itu ingin menghindari perselisihan nya.
Calesta tersenyum ia memangku wajah nya dengan satu tangan dan menatap pria itu.
"Kalau begitu ajak aku nonton, ada film yang ingin ku lihat!" ucap gadis itu pada pria di depan nya.
Ia tak tau namun ia suka berada saat bersama pria itu, namun karna kini ia memiliki hubungan bersama dengan pria lain.
Walaupun bukan hubungan sepasang kekasih yang saling mengikat namun pria itu meminta nya untuk tak berhubungan secara dalam dengan pria lain lagi dan hal itu lah yang membuat nya menjaga jarak pada pria di depan nya.
"Tentu saja, Kau punya waktu malam ini?" tanya Sean segera pada gadis itu.
"Hm, aku punya." jawab Calesta tersenyum.
....
Mall.
Gadis itu memilih bioskop yang berada di mall agar bisa berkeliling lagi dan menghabiskan lebih banyak waktu.
"Kau suka film nya tadi?" tanya Sean pada gadis cantik itu.
"Suka!" jawab Calesta segera dengan senyuman nya.
"Benarkah? Padahal kau tadi terus menutup mata," goda Sean tertawa mengingat gadis itu yang ketakutan setengah mati saat scene hantu nya keluar.
"Tidak! Aku lihat!" Bantah gadis itu dengan cepat.
__ADS_1
Sean hanya tertawa ia memang sengaja menggoda gadis itu, mereka pun kembali berjalan menelusuri mall yang sangat luas tersebut hingga mata kedua orang tersebut sama-sama tertuju pada sekumpulan orang-orang yang melihat sesuatu.
"Itu apa?" tanya Calesta penasaran.
"Entahlah, kau mau lihat?" jawab Sean yang sebenarnya tak begitu tertarik namun saat melihat wajah antusias gadis itu ia pun merasa tak masalah.
"Iya! Mau!" jawab Calesta segera dan langsung berlari ke tempat itu sembari secara tak sadar menarik tangan pria yang berada di samping nya.
Sean tersentak sejenak namun ia tersenyum seketika saat melihat gadis itu menarik tangan nya sama seperti ketika ia kencan bersama dulu.
Langkah Calesta terhenti, ia menatap piano besar yang berada di tengah kumpulan orang-orang yang ingin melihat nya.
Mata nya melihat pada banner yang ternyata di sebar banyak saat seorang pianis terkenal ingin bermain bebas tanpa konser.
"Piano?" gumam nya yang raut nya langsung berubah.
Ia membatu sesaat, setiap kali mendengar alunan melodi ataupun melihat benda yang menghasilkan suara indah itu ia selalu merasa takut dan gelisah seperti seseorang tengah mengawasi nya.
"Kita mau pergi saja?" tanya Sean yang menyadari wajah gadis itu terlihat tak baik.
"I-iya..." jawab Calesta terbata dan langsung berbalik arah.
Ia pun mulai berjalan menjauh, sedangkan Sean melihat wajah yang mulai pucat tersebut.
Deg!
Langkah nya terhenti ia mendengar alunan melodi yang mulai di mainkan, jantung nya berdegup kencang.
Napas nya terasa tercekat dan dada nya mulai berdenyut, ia takut! Sangat takut! Begitu mendengar alunan musik klasik itu.
*Plak!
Dasar anak bodoh! Kau tak bisa memainkan nya dengan benar*?!
Akh!
Ia menjerit seketika, telinga nya berdengung dan ia mendengar sesuatu yang lain di dalam kepala nya.
Sean segera menangkup gadis itu beberapa mata melihat nya, "Calesta? Ada apa?!" tanya Sean segera.
"Berhenti! Jangan..." gumam nya tak jelas sembari menutup kedua telinga nya dan terus menunduk.
Sean melihat gadis itu begitu ketakutan, tubuh kecil itu gemetar hebat dalam dekapan nya dan terus menunduk.
"Cales- Hey? Kau kenapa?!" ucap Sean yang terkejut.
Tes...
Cairan merah kental itu mulai mengalir keluar di hidung mancung gadis cantik tersebut, pandangan nya mengabur dan ia tak mendengar dengan jelas serta tubuh nya terasa kesakitan seperti dipukuli walau ia sebenarnya baik-baik saja.
Bruk!
Gadis itu langsung terjatuh tak sadarkan diri dalam dekapan pria tampan itu.
"Calesta?"
__ADS_1
Suara panggilan yang terdengar panik di telinga nya setelah itu ia tak lagi mengingat apapun.