
Tubuh yang lebam memburu dengan bekas kepemilikan yang tersebar di seluruh kulit seputih susu itu.
Pria itu merengkuh dan memeluk tubuh yang terlihat rapuh itu, sedangkan wanita itu tak mengatakan apapun, hanya terdengar suara ringisan lirih di dalam dekapan nya.
"Sakit..." ringis nya di balik pelukan pria itu.
Amarah yang mulai mereda saat rasa cemburu nya juga sudah menurun.
Tak ada balasan dari rintihan nya yang merasa sakit pada pria itu.
"Kau tidak bisa berhenti seperti ini? Ku rasa aku lelah, kapan kau bisa percaya pada ku?" ucap Ainsley lirih.
Benar jika perasaan nya belum sepenuh nya di penuhi oleh suami nya, namun begitu pun ia juga tidak berniat mengkhianati pria itu dan bersama dengan pria lain nya.
"Lelah? Kau pikir hanya kau? Aku tidak?" tanya Richard sembari menundukkan pandangan nya dan menoleh.
"Kau bilang mencintai ku walaupun sebenarnya tidak, aku tau kau berbohong tapi aku tetap menyukai nya. Aku sangat marah sampai ingin mematahkan leher mu tapi aku tetap tidak bisa melakukan nya jika melihat wajah mu," sambung pria itu sembari menatap wajah di depan nya yang terlihat luka di sudut bibir nya.
Ainsley diam tak menjawab ucapan pria itu, ia hanya menatap dengan tatapan yang berkata di dalam nya.
"Aku bohong apa? Kau tidak bisa percaya pada ku? Mau sampai kapan seperti ini?" tanya Ainsley sembari mendorong dan bangun dari tidur nya.
Tangan nya memegang selimut tebal agar tak jatuh memperlihatkan bagian tubuh nya yang penuh dengan bekas kepemilikan itu.
"Kalau kau mencintaiku, kau bohong kan? Tapi kau tau? Walaupun aku tau itu bohong aku masih menyukai nya." ucap pria itu tertawa getir.
Tak ada makna sama sekali di mata wanita itu setiap kali ia mengatakan kata cinta pada nya, ia tau jika itu hanyalah kebohongan manis namun ia juga sangat menyukai nya.
"Makanya kau tidak percaya pada ku? Kau minta cara agar kau bisa mencintai ku dengan cara ku, tapi apa? Kau pikir aku selama lima tahun sedang apa? Kabur dari mu?!" tanya Ainsley lagi.
"Benar, sudah lima tahun." gumam pria itu sembari berpikir tentang kebersamaan mereka.
"Selama lima tahun, kita tidak terus bertengkar. Aku tidak terus bersikap kasar dengan mu tapi apa kau pernah benar-benar mencintai ku sedikit saja? Bukan karna kau tidak bisa kabur atau bukan karna aku ayah Axel?" tanya nya sembari menatap iris hijau di depan nya.
Ainsley langsung mengalihkan mata nya tanpa sadar dan tak menatap pria itu.
"Aku kan juga sedang berusaha! Kau sendiri tau kalau ak-"
"Selama lima tahun kau tidak pernah merasakan apapun pada ku? Tidak ada?" Potong pria itu langsung.
Ia tau selama lima tahun hubungan mereka tak selalu buruk, tidak selalu bertengkar namun juga tetap ada senyuman yang terlihat di wajah cantik itu.
Ainsley kembali bungkam, bukan nya ia membenci selama lima tahun dan sama sekali tidak bahagia namun juga banyak rasa senang yang ia rasakan walaupun ia terkurung di dalam tempat mewah itu.
"Kau tidak ada merasakan apapun untuk ku?" tanya nya lagi saat tak ada jawaban yang sama sekali keluar.
__ADS_1
Ainsley diam tak bisa menjawab nya, padahal hanya tinggal mengatakan apa yang ia rasakan namun ia bahkan tak bisa merasakan nya.
"Jawab? Kenapa diam? Hanya ada dua jawaban ya dan tidak. Apa sesulit itu?" tanya Richard lagi.
Masih sama, wanita itu tak menjawab dan bahkan tak bisa menatap mata pria di depan nya, tangan nya hanya mengepal meremas selimut yang menutup tubuh nya.
"Sekarang kalau aku minta kau mengulangi ucapan yang tadi kau katakan kau bisa?" tanya pria itu setelah memejam saat ia tak mendengar jawaban apapun.
"Kenapa jadi aku sih yang salah?! Dari awal kalau kau bisa percaya pada ku pasti tidak akan seperti ini kan?!" tanya wanita itu dengan jawaban mengelak.
"Memang masalah nya itu dari mu! Kalau kau bisa benar-benar menyukai ku aku juga tidak akan curiga terus?!" jawab Richard sembari berdecak.
"Kau sendiri suka aku kenapa bisa? Aku suka! Aku bisa suka dengan mu, ta-"
"Tapi kau tidak bisa mencintai ku kan? Apapun yang ku lakukan kita juga akan kembali ke titik ini!" ucap pria itu lagi dengan suara meninggi.
"Lalu kau mau bagaimana?" tanya Ainsley sembari menatap pria itu.
"Apapun itu tapi bukan melepaskan mu," jawab nya tanpa ragu.
"Kau mau terus mengurungku? Aku juga butuh sosialisasi! Aku juga mau pergi keluar!" jawab Ainsley mengernyit, "Apa sih yang kau takutkan?" tanya nya lagi.
"Aku takut kau tidak kembali, selain rasa cemburu ku, di luar juga banyak bahaya! Bisa saja kau nanti terluka!" ucap pria itu sembari menyentuh dahi nya.
Ia tau jika sifat nya sangat cemburu namun ia juga merasa apapun yang ia alami tetap yang terbaik adalah wanita itu berada dalam lingkup nya agar lebih mudah ia jangkau.
Bersama nya saja sudah mengatakan jika ia tak akan bisa lagi memiliki hidup nya lagi.
"Benarkah? Bukan nya hanya alasan mu?" tanya Ainsley mengernyit.
Richard tak menjawab, ia hanya membuang napas nya dengan kasar, antara ia dan wanita itu sama sekali tak ada rasa kepercayaan.
"Terserah kau mau bilang apa! Tapi dari pada kau tanya aku lebih baik kau pikirkan saja pertanyaan ku tadi," ucap nya beranjak bangun dari tempat tidur yang terasa sangat empuk itu.
Ainsley terdiam mendengar nya, tangan nya mengepal erat hingga gemetar saat memegang kuat selimut yang menutup tubuh nya.
Tes...
Satu tetes bulir bening mengalir tanpa sadar, ia tidak tau kenapa ia bisa mengeluarkan air mata namun yang ia tau ia hanya tak bisa mengendalikan perasaan nya.
...
"Daddy?" panggil Axel sembari memainkan garpu nya dan melihat ke arah kursi sang ibu yang kosong.
Tak ada jawaban dari sang ayah yang membuat nya kembali memanggil pria itu.
__ADS_1
"Daddy!" panggil Axel lagi sembari meninggikan suara nya.
Richard tersentak dan menoleh ke arah putra nya, "Yes, love?"
"Mommy mana? Kenapa ga tulun sama makan sama kita?" tanya nya sembari menatap kursi sang ibu.
"Mommy lagi sakit jadi makan di kamar," jawab pria itu sembari mengusap pipi gemas itu.
Ia sudah mengajak wanita itu untuk makan di luar setelah ia selesai mandi namun tak ada jawaban sama sekali.
Maka dari itu ia pergi turun untuk makan bersama putra nya dan nanti nya baru mengantar makanan pada wanita itu.
"Jadi nanti Daddy mau antelin makan buat Mommy?" tanya Axel lagi.
"Iya, setelah ini Daddy antar makanan buat Mommy," ucap pria itu.
"Axel mau ikut!" jawab nya dengan semangat.
"Daddy aja, besok baru sama Axel." jawab Richard karna ia tau istrinya belum membersihkan diri nya dan masih memiliki banyak bekas kepemilikan di tubuh wanita itu.
"Kenapa?" tanya nya dengan mata penasaran.
"Mommy kan mau istirahat, Axel kan juga." jawab Richard dengan nada rendah agar putra nya itu bisa memahami.
"Axel mau sama Mommy tuh! Mommy juga ga pelnah malah!" jawab nya dengan segera.
"Iya, Mommy gak marah tapi kan Axel mau Mommy cepet sembuh kan?" tanya pria itu lagi.
Axel pun mengangguk mendengar nya, Richard tersenyum dan mengusap kepala putra nya.
"Axel?" panggil nya sembari menghentikan makan nya perlahan.
Anak lelaki menggemaskan itu menatap sang ibu dengan iris hijau nya yang mirip dengan sang ibu.
"Kalau misal nya Axel di suruh milih Axel pilih siapa? Daddy atau Mommy?" tanya Richard lagi.
"Axel mau sama dua-dua nya," jawab Axel dengan wajah polos nya.
Richard hanya tersenyum tipis, "Iya, Axel sama Daddy Mommy yah, kita bertiga terus."
Axel kembali melihat dengan wajah cemberut nya saat ia mendengar hanya akan terus bertiga.
"Katanya Axel mau punya adik? Kok adik Axel belum keluar sih?" tanya nya yang berpikir proses sang adik untuk ia lihat hanya membutuhkan waktu singkat.
Richard tertawa mendengar ocehan putra nya, sejenak ia lupa dengan masalah nya, "Iya nanti sama adik Axel juga yah..." ucap pria itu.
__ADS_1
"Yeeyyy!" seru nya bersorak.