Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Kau itu hidup ku


__ADS_3

dr. Terry melihat satu laporan lagi yang masuk pada nya, "Ini sudah di pastikan?" tanya pria itu sekali lagi.


"Sudah, kami tidak bisa memastikan berapa usia kandungan nya tetapi menurut perkiraan saya usia nya di bawah satu Minggu." ucap wanita itu yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu.


dr. Terry membuang napas nya dengan pelan, setelah istri nya yang kritis ia harus mengatakan pada pria itu jika ia juga kehilangan calon anak nya.


"Baik, saya akan menghubungi nya." ucap dr. Terry.


Tangan nya pun mengatur ulang alat medis yang tadi nya berbunyi dengan nyaring ketika terjadi sesuatu yang salah pada tubuh wanita itu.


....


Tubuh kecil yang gemetar karna tangis itu pun kini sudah mulai tenang dalam pelukan nya, ia tak menyangka jika putra nya akan sehisteris itu.


Punggung kecil yang memeluk tubuh nya dengan erat, ia mengusap dan menepuk tubuh mungil itu.


Ku mohon...


Biarkan aku menemui nya, aku benar-benar tidak tahan lagi...


Berhenti menyiksa ku dengan cara seperti ini, aku tidak sanggup...


Perkataan yang berdengung di telinga nya membuat nya memejam saat menepuk tubuh putra nya.


"Kalau ku biarkan dia menemui Axel waktu itu, kalau saja aku mengiyakan permintaan nya mungkin dia tidak akan..." gumam nya saat mengingat ucapan wanita itu.


Jujur saja ia benar-benar terkejut, sebelum nya ia bahkan merasakan sesuatu yang manis karna baru kali ini sang istri yang memegang kendali sepenuh nya di permainan ranjang mereka.


Namun setelah itu?


"Aku tidak akan membiarkan nya mati, Tidak akan!" gumam nya ketika ia memikirkan wanita itu.


...


Bulan yang tenggelam dan diganti dengan mentari terbit membuat si kecil menggemaskan itu mulai terbangun.


Tidur nya pulas karna rasa sakit di tubuh nya sudah mulai menghilang dan juga berada di pelukan sang ayah berbeda dengan pria yang mendekap nya sepanjang malam.


Tidak tertidur, terus terjaga dan memikirkan seseorang yang kini masih tak sadarkan diri dan di penuhi dengan penuh alat-alat medis tersebut.


"Yeeyy! Axel bisa pulang hali ini!" ucap nya tersenyum dengan mata jernih berbinar saat ia tak mengetahui apapun.


Pria itu diam sejenak dan memberikan senyum tipis yang ia paksakan di wajah nya saat melihat putra nya yang begitu riang.


"Axel suka kita mau pulang?" tanya Richard sembari memakai kan pakaian untuk putra kesayangan nya itu.


Axel mengangguk dengan semangat, walaupun ia marah, kesal dan merasa tidak adil serta di abaikan oleh ibu nya namun ketika melihat cake cantik yang ia hancurkan tadi malam membuat nya merasakan sesuatu yang menekan nya.


Mengharapkan kasih sayang tentu masih ia inginkan, berharap sang ibu akan membujuk nya dan tetap tinggal di sisi nya.


*Axel mau malah sama Mommy!


Kali ini Axel mau malah nya lama! Bial Mommy tau sedih nya Axel*!


Ucap pria kecil itu dalam hati, karna ia juga sebenrnya masih sangat mengharapkan sang ibu kembali pada nya.


.....................


Mansion Zinchanko


Axel melihat ke sekeliling nya, tak ada satu pun tanda-tanda sang ibu yang mengisi tempat mewah itu.


Tangan mungil nya menggenggam tangan sang ayah dengan erat sembari melihat wajah ayah nya.


Richard menoleh melihat ke arah mata putra nya yang bertanya-tanya.


"Axel cari Mommy?" tanya Richard sembari menahan sesuatu yang mencekat di tenggorokan nya.


Axel pun langsung membuang pandangan nya dengan wajah cemberut nya, "Enggak tuh! Axel kan udah gak sayang Mommy lagi!" ucap nya pada sang ayah.


Tangan kecil itu melepaskan genggaman nya dan berjalan sendiri ke segala arah di mansion mewah dan besar tersebut.


Kaki kecil nya perlahan menuju ke arah kamar nya, ia membuka pintu nya perlahan dan mengira sang ibu menunggu nya dengan penuh mainan dan buku dongeng di sekitar nya.


Namun mata berbinar itu kembali hilang saat menatap kamar tidur nya yang luas dan mencerminkan nuansa ceria itu kosong.


"Mommy gak ada di sini?" gumam nya lirih dengan nada lesu.


Kaki kecil nya tak menyerah ia pun segera beranjak ke kamar kedua orang tua nya.


Hening...


Tak ada apapun bahkan hingga ia masuk dan mengecek kamar mandi nya.


Ia merasa sangat marah namun entah kenapa kemarahan nya membuat perasaan nya menjadi meluap hingga ia menjatuhkan tetesan bulir bening nya lagi.


Ia merasa sang ibu kini sudah benar-benar membuang dan meninggalkan nya.


"Axel?"


Suara yang membuat nya terperanjat dan langsung dengan cepat menghapus air mata nya lalu menoleh ke arah sang ayah.

__ADS_1


"Axel kenapa di sini? Cari Mommy?" tanya pria itu sembari berjalan mendekat ke arah putra nya.


"Gak! Axel itu udah gak sayang Mommy! Mommy aja udah tinggalin Axel!" ucap nya yang tampak marah namun bercampur dengan tangisan.


"Mommy kan sayang Axel," ucap pria itu sembari menghapus air mata putra nya, "Mommy lagi sakit makanya gak di rumah sekarang."


"Bohong! Daddy Bohong! Masa Mommy sakit? Waktu itu aja Mommy masih sehat kok! Pasti Mommy lagi sama Paman Sean kan?!" ucap nya yang kini tak lagi menerima alasan sang ayah.


Bagi nya kini ibu nya telah di rebut dan tak lagi menyayangi nya.


"Axel benci Mommy! Axel..." ucap nya tersendat karna cegukan ketika ia kembali menangis.


Pria itu tak bisa mengatakan apapun, putra nya sudah sangat marah namun terluka di saat bersamaan.


Hati kecil yang rapuh serapuh tubuh mungil itu sudah terluka, ia tak tau cara berkomentar atau pun memberontak pada ibu nya yang bisa ia lakukan hanyalah tangisan yang mencerminkan perasaan nya.


Tangisan yang terdengar pilu itu membuat pria itu tersentak, perasaan meluap yang membuat nya takut, gelisah, dan sedih secara bersamaan bercampur aduk.


Richard menarik perlahan tubuh mungil itu kedalam pelukan nya, menepuk nya pelan dan menenangkan putra nya.


"Nanti Daddy bakalan bawa Mommy pulang, Axel jangan nangis lagi yah..." ucap nya dengan suara yang semakin tersendat dalam tenggorokan nya.


"Axel benci Mommy, huhuhu..." tangis nya tersendat pada sang ayah.


......................


Setelah mendapat telpon Richard pun segera bergegas ke rumah sakit karna ada yang ingin di bicarakan oleh sang dokter.


Ia memasuki ruangan dokter tersebut dan melihat satu tambahan dokter wanita di samping pria berkaca mata itu.


dr. Hanna mulai menjelaskan perihal kandungan yang keguguran karna sang ibu sempat mengalami syok saat pendarahan hebat ketika benda tajam itu menusuk dan melukai jantung nya.


Deg!


Seperti terkena hantaman batu lalu di lemparkan ke dalam jurang tak berujung. Itulah yang ia rasakan.


"Dia hamil? Kapan? Kenapa sekarang aku baru di beri tau?" tanya Richard yang mengernyit dan tak seakan tak bisa menerima situasi nya.


"Benar pak, usia kandungan baru sekitar satu Minggu jadi kami perlu memastikan ulang," ucap dr. Hanna.


Daddy? Axel mau tiga adik yah...


Satu adik pelempuan dua adik laki-laki...


Sekali lagi ingatan dan dengungan di telinga nya membuat nya merasakan sakit di dada nya.


"Lalu anak itu apa masih..." ucap nya dengan suara yang mulai berubah sembari memejam agar kembali mengontrol perasaan serta emosi nya.


Ia diam sejenak mendengar nya, namun tanpa sadar anggukan kecil ia berikan.


Selama bertengkar ataupun perang dingin dengan wanita itu namun ia tetap meminta hak nya sebagai suami nya, frekuensi tidur atau pun hubungan yang tak berubah walau pun ia sedang marah.


Dan siapa yang tau jika saat hubungan nya merenggang dan ia yang di penuhi dengan rasa amarah itu akan di berikan satu lagi malaikat kecil yang mungkin saja akan sama menggemaskan nya seperti sang kakak yang telah lahir lebih dulu.


Deg!


Ia membatu, gumpalan darah berukuran kecil dan masih tidak terlihat sama sekali seperti bentuk manusia.


"Dia anak ku?" tanya nya dengan suara yang terdengar gemetar seperti menahan gemuruh dalam dada nya.


"Benar pak, dalam usia ini belum terjadi pembentukan pada janin," jawab dr. Hanna


Pria itu masih mematung, ia masih mencerna situasi nya dengan kepala nya yang begitu mendadak.


dr. Terry hanya melihat nya pria itu sembari menunggu wali pasien di depan nya merasa lebih tenang sebelum ia mengatakan sesuatu tentang kondisi istri pria itu.


"Maaf sebelum nya, apakah saya bisa bicara?" tanya nya lagi yang langsung menyadarkan Richard dari lamunan nya.


Richard kembali mengandarkan mata nya sembari menatap pria itu, "Ya?" tanya nya mulai linglung.


"Kondisi Ibu Ainsley semakin menurun, dan mungkin jika nanti dia menemukan donor tidak bisa di pastikan kondisi nya akan membaik." ucap nya dr. Terry yang terdengar ragu.


"Maksud nya?" tanya Richard mengernyit.


"Saat ini kondisi tubuh ibu Ainsley juga tidak memungkinkan untuk menerima donor jantung," ucap nya pada pria itu.


"Jadi walaupun memberi nya jantung baru akan memiliki hasil yang sama?" tanya Richard lagi.


"Saya tidak bisa menentukan kehidupan dan kematian seseorang, tapi operasi donor memiliki resiko yang besar di lihat dari kondisi jantung ibu Ainsley," ucap dr. Terry sekali lagi.


"Lalu dia tidak punya kemungkinan hidup walaupun sudah punya jantung baru?" tanya Richard lagi yang masih terlihat sangat bingung karna pikiran nya yang sedang kacau.


"Kemungkinan hidup ada jika menerima jantung baru akan tetapi resiko selama operasi dan pasca operasi sangat besar." ucap nya lagi.


"Pilihan dengan memberi jantung baru adalah pilihan yang sangat berisiko," tambah nya lagi.


"Lalu jika dia tetap seperti ini apa akan baik-baik saja?" tanya Richard lagi, "Tidak apa-apa walaupun dia tidak bangun, asalkan..."


Ia tak bisa menyambung kalimat nya, pikiran nya kacau sama seperti suasana hati nya.


"Asalkan dia masih hidup saja itu sudah cukup bagi ku," sambung nya lirih.

__ADS_1


dr. Terry diam sejenak, ia tak bisa menjawab nya langsung karna tak mungkin wanita itu dapat bertahan lebih lama lagi.


"Mungkin anda harus melepaskan nya den-"


Brak!


Pria berkaca mata itu tersentak seketika, meja kuat yang kokoh di depan nya terlihat patah di bagian gebrakan tangan pria itu.


"Apa kau bilang? Coba bilang lagi dengan mulut mu itu," ucap Richard yang langsung terlihat begitu marah.


"Bukan begitu! Maksud sa-"


"Jantung mu juga akan ku cabut dan ku peras dengan tangan ku!" ucap nya yang mulai mengancam dokter berkaca mata di depan nya.


"Anda harus tenang dulu pak," ucap dr. Terry yang terkejut melihat pria itu yang secara tiba-tiba berubah dan memiliki hawa yang kuat untuk membunuh nya juga.


Richard berdecak dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


Langkah nya berjalan tanpa arah, ia tak bisa lagi memikirkan apa pun di kepala nya setelah mendengar penjelasan tentang kondisi sang istri.


Namun kaki nya tau kemana jalan menuju pulang, langkah nya berjalan ke arah sesuatu yang mampu membuat nya merasa nyaman dan obsesif secara bersamaan.


Tes...


Ia tak mengerti dengan perasaan emosional yang ia rasakan saat ini, ia pernah merasakan dan tau perasaan marah, gelisah, takut, panik dan khawatir.


Namun kali ini ia baru saja mendapatkan satu emosi baru yang membuat nya merasa asing.


"Apa ini?" gumam nya yang sadar saat ia seperti merasakan sesuatu di pipi nya ketika melihat tubuh sang istri.


"Aku menangis? Tidak mungkin kan? Aku..." gumam nya tercekat saat ia semakin melangkah mendekat ke arah sang istri.


Rembesan cairan putih bening semakin keluar dari mata nya, ia tak tau kenapa ia bisa sampai merasa terluka ataupun merasakan sesuatu yang membuat nya tak bisa bernapas.


"Ainsley? Aku ini kenapa? Mata ku terus berair..." tanya nya yang merasa aneh pada diri nya sendiri.


Karna baru kali ini mengenal apa itu kesedihan.


"Pfftt! Apa aku menangis? Tidak mungkin kan? Karna apa aku seperti ini? Karna anak kita sudah tidak ada? Aku saja pernah membunuh anak ku sendiri sebelum Axel dulu,"


"Aku juga pernah membunuh banyak orang lain, aku juga sering hampir membunuh mu. Tapi kenapa aku seperti ini? Aku aneh..." gumam nya yang berbicara sendiri namun air mata nya tak bisa ia hentikan.


Perasaan sesak yang seperti mengiris dada nya, perasaan tak nyaman dan juga membuat nya merasa terluka tanpa luka apapun di tubuh nya.


Ia merasa bingung dengan apa yang ia rasakan, bahkan tangisan yang ia keluarkan pun tak bisa terima dan terus ia sangkal secara bersamaan.


"Ainsley? Kau ingat kan? Aku pernah bilang apa? Aku tidak akan membiarkan mu mati lebih dulu, kau pikir aku akan membiarkan nya?" tanya nya dengan suara gemetar.


"Berani sekali kau mau pergi dari ku? Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu!" ucap nya sembari menjatuhkan tetesan air mata yang tak bisa ia hentikan hingga mengenai tangan wanita itu.


Alasan mengapa ia menangis saja tak bisa ia temukan, penyebab mengapa perasaan nya menjadi sangat kacau pun tak bisa ia ketahui.


Kaki nya terasa hilang tenaga, ia menjatuhkan lutut ke lantai sebelum sempat menarik kursi.


Tangan nya yang besar dan hangat itu menggenggam tangan kecil yang bahkan di penuhi dengan selang kecil.


"Aku akan membawa Axel kembali pada mu, jadi..."


"Jangan tinggal kan aku..." ucap nya lirih sembari menyentuh tangan kecil itu.


Tangan yang bahkan terasa bisa hancur jika ia menggenggam nya terlalu erat.


Perasaan nya semakin kacau, seperti sesuatu meruntuhkan dinding di hati nya. Ia baru sadar akan sesuatu.


Kenapa ia selalu berpikir wanita itu tetap akan hidup apapun yang ia lakukan?


Karna ia yang selalu merasa dirinya bisa mengatur hidup dan mati seseorang membuat nya selalu merasa apapun yang ia lakukan pada wanita itu tidak akan apa-apa.


Perasaan yang semakin meluap nya membuat nya terus menangis seperti anak kecil, air mata yang bahkan tak bisa ia rasakan keluar tanpa bisa ia hentikan.


Perasaan kesedihan yang belum pernah ia tau rasa nya seperti apa membuat nya seperti kehilangan diri nya.


Kenapa aku selalu merasa kau akan hidup selama nya?


Aku baru benar-benar sadar kalau kau itu sangat rapuh...


Dulu aku berpikir kau hanya seperti gelas kaca yang mudah pecah tapi kali ini aku tau kalau kau bukan gelas kaca...


Kau itu gelembung sabun yang bahkan bisa pecah dan menghilang tanpa apapun...


Seperti saat ini...


Kau hampir menghilang walaupun tidak ada yang ingin membunuh mu...


Aku akan membawa Axel pada mu...


Jadi jangan tinggalkan aku...


Aku tidak bisa hidup jika kau tidak ada...


Aku baru sadar kalau kau itu hidup ku...

__ADS_1


__ADS_2