
Sation Company.
Sean menyandarkan punggung nya ke bangku yang ia duduki, mata nya memejam pelan, sulit sekali baginya untuk mengontrol diri agar tak menemui gadis cantik yang sudah menjadi mantan kekasih nya.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya pria itu pada sekertaris nya.
Sekertaris Jhon mengerti siapa yang di maksud oleh atasan nya, "Kemarin terjadi keributan."
Sekertaris Jhon pun mulai menjelaskan secara rinci apa yang terjadi pada Ainsley di hari itu, semua nya kecuali di culik dengan bawahan Richard karna pria itu tak meninggalkan jejak apapun.
Telinga Sean memanas, ia melepaskan gadis yang ia cintai agar bahagia namun sudah ada yang merusak ketenangan gadis kesayangan nya.
"Menurutmu kecelakaan apa yang bisa membuat nya kehilangan tangan?" tanya Sean pada sekertaris nya.
Sekertaris Jhon mengerti ucapan atasan nya, ia mengangguk kepala nya saat tau maksud yang di lontarkan barusan.
"Saya akan mengurus nya," ucap pria itu datar pada atasan nya.
Alasan sekertaris Jhon memilih Sean sebagai atasan nya karna ia yakin jika pria itu yang paling berpotensial untuk membangun perusahaan di bandingkan saudara nya yang lain.
......................
Mansion Zinchanko.
Richard melihat ke arah gadis cantik yang tengah tertidur tersebut, walaupun pagi sudah menyinsing namun bukan berarti dapat membangunkan nya.
Tangan nya menyentuh lembut rambut Ainsley dengan perlahan, memberikan kehangatan dari ujung jari nya.
Cukup lama agar bisa menidurkan gadis yang terus was-was dan takut di sentuh itu tanpa memberikan obat tidur.
Engh!
Gadis itu melenguh saat tidur nya di ganggu, pipi bulat nya yang di cubit kecil karna gemas membuat nya terusik.
Mata nya terbuka perlahan, pandangan yang masih mengabur dan tangan yang mengucek mata nya.
Namun saat ia sudah melihat dengan jelas, ia langsung terbangun dan tersentak, tangan nya langsung melihat tubuh mungil nya di balik selimut.
"Aku tak melakukan apapun, tenanglah." ucap Richard dengan tawa kecil melihat kepanikan di mata gadis cantik itu.
Ainsley diam tak mengacuhkan ucapan pria yang tengah tertawa itu, "Aku mau pulang..." ucap nya lirih.
"Pulang? Bagaimana kalau aku tak membiarkan mu?" tanya Richard sembari mengelus halus rambut gadis itu.
"Kenapa paman seperti ini? Bukan, pasti selama ini paman senang kan menipu ku?" tanya Ainsley dengan tawa miris karna merasa sikap paman yang ia kenal sudah berbeda total.
"Kau mau aku seperti dulu lagi? Hm?" tanya Richard sembari menatap lekat iris gadis itu.
"Bisakah?" tanya Ainsley yang seperti ingin mendapatkan kembali paman yang ia sukai.
Namun rasa takut nya lebih besar karna ia sudah mengetahui segala nya.
"Tentu, kalau kau mau aku bisa bersikap seperti sebelum nya." jawab Richard dengan cepat.
Ainsley terdiam bagi nya tak mungkin untuk bersikap seperti tak terjadi apa-apa setelah semua yang ia ketahui.
"Hal itu juga bagus untuk pacar mu kan? Oh bukan, mantan pacar maksud ku." ucap Richard sekali lagi menegaskan ancaman nya.
"Sean tidak aka-"
"Kau lupa sesuatu? Dia belum pemilik Sation Grup yang sah dan lagi banyak kecelakaan yang bisa menghabisi nyawa seseorang." ucap Richard dengan smirk nya.
Mata Ainsley membulat dengan sempurna, ucapan yang bagaikan ancaman pada nya datang kali ini.
"Kenapa?" tanya nya lirih.
"Maybe...
Cause I love you?" jawab Richard dengan ambigu.
"Cinta? Kenapa selalu pakai alasan seperti itu?" tanya Ainsley yang merasa semua orang yang menyakiti nya mengatasnamakan cinta sebagai alasan.
"Kau mau kan aku bersikap seperti dulu lagi? Aku bisa melakukan nya," ucap Richard lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Ainsley.
"Aku tak mau apapun, apa paman bisa menjauh dari ku saja?" tanya Ainsley menatap pria itu.
"Sayang nya tak bisa," ucap Richard dengan cepat dan berlalu pergi.
"Oh ya, kalau kau mau pulang kau harus bayar hutang mu dulu." sambung nya sebelum melangkah keluar dari pintu.
"Hutang?" gumam Ainsley mengernyit berusaha mengingat hutang apa yang ia miliki pada pria itu.
Hingga ingatan nya tertuju pada ruangan kosong di universitas nya, ia ingat saat pria itu menarik nya lalu membuat nya mendapatkan pelepasan.
...
2 Hari kemudian.
__ADS_1
"Kecelakaan? Tangan nya hancur?" tanya Richard sekali lagi.
"Benar tuan, kedua tangan nya terancam diamputasi total dari bahu." Jawab Liam pada tuan nya.
"Kecelakaan murni?" tanya Richard lagi.
"Sejauh penyelidikan yang di lakukan benar kalau ini kecelakaan murni," jawab Liam setelah melihat laporan kecelakaan, "Apa perlu saya selidiki lebih lanjut?" tanya nya sekali lagi.
"Tak perlu, dia sudah kecelakaan kan? Bunuh sekalian saja, Ainsley tak mau melihat nya lagi." titah Richard tanpa iba.
"Baik, Tuan." jawab Liam sembari pamit berlalu pergi.
Richard menghela napas nya, dan menatap langit-langit ruangan nya hingga ketukan pintu membuat nya terperanjat.
"Masuk," ucap nya yang mengira jika Liam yang datang pada nya.
Wajah nya tak menunjukkan ekspresi namun ia terlihat senang dan bahagia saat mendapati jika gadis yang ia inginkan yang mendatangi nya.
"Ada apa?" tanya menatap gadis itu.
"Aku mau kembali! Paman tidak punya hak mengurung ku!" ucap Ainsley yang sudah tiga hari di tempat tersebut
"Kalau begitu bayar hutang mu," jawab Richard enteng.
"Ta-tapi kemarin aku tidak meminta nya!" sanggah Ainsley langsung.
Di bandingkan dengan Sean berhadapan dengan Richard lebih menakutkan, karna ia dapat menyadari perbedaan kedua orang tersebut.
Seseorang yang pernah ia lihat melakukan pembantaian dan mengatakan akan mencukil mata nya dengan seseorang yang melakukan kekerasan pada nya dengan mengatasnamakan cinta.
Memang tak ada pilihan namun ia setidak nya dulu yakin, sekeras apapun Sean menghukum nya pria itu tak akan membunuh nya.
Rasa takut dan rasa nyaman yang berbeda, perbedaan yang hanya bisa di rasakan di hati kecil nya.
"Oh ya?" ucap Richard dan mulai mendekat.
Ainsley tersentak, ia memundur beberapa langkah namun tangan nya di raih dengan cepat.
"Paman, aku tida- eh?" ucap nya terhenti saat tangan nya di tarik dan tubuh nya di buat terjatuh di pangkuan pria itu.
"Tenanglah, temani aku bekerja sebentar." ucap Richard yang memeluk gadis yang berada di pangkuan nya.
"Bukan! Aku kesini karna mau minta pulang!" Ainsley yang beringsur bergerak dan enggan berada dalam pangkuan pria tampan itu.
"Kalau kau bergerak, mungkin aku akan menagih hutang mu sekarang." jawab Richard dengan ancaman nya yang berhasil membuat gadis itu diam.
"Kalau kau menurut tentu saja," jawab Richard sembari membuat kepala gadis itu menyandar di dada bidang nya.
Dua jam kemudian.
Pria itu memperhatikan data yang terkirim pada nya, pekerjaan yang menggunung karna perselisihan nya dengan O'Prey.
Napas teratur yang terdengar dan meniup leher nya dengan lirih membuat nya melihat ke gadis yang ia pangku, tubuh kecil yang mungil dan ringan membuat nya bahkan sampai lupa memangku gadis itu.
"Ringan sekali," ucap nya sembari menatap wajah tenang yang tertidur tersebut.
Ainsley yang takut bergerak dan tak melakukan apapun membuat nya merasa kantuk, ia memang merasa nyaman namun tak pernah merasa aman sama sekali dengan Richard.
Tangan pria itu semakin merangkul dan memeluk tubuh mungil tersebut, ia mencium pipi lembut gadis itu dengan dalam dan membawa nya ke kamar.
Menidurkan gadis itu perlahan dan mengelus wajah nya dengan lembut, wajah yang terlihat letih dan sendu.
Ia tau perselisihan nya dengan O'Prey akan membawa masalah, namun ia masih ingin bersama gadis itu.
Cara melindungi Ainsley yang terbaik saat terjadi perselisihan dengan O'Prey adalah melepaskan gadis itu sesaat.
Namun ia yang merasa tak bisa melepaskan gadis itu tetap ingin menahan nya, Richard memangut pelan bibir gadis itu sesaat lalu melepaskan dan kembali ke ruangan nya.
...
"Kan sudah ku bilang, kau harus membayar hutang mu baru bisa ku lepaskan." ucap Richard saat melihat wajah Ainsley yang gelisah.
"Tapi kan kita waktu itu tidak melakukan nya! Lalu aku harus bayar apa?!" tanya Ainsley yang mengepalkan tangan nya.
"Kalau kau tak mau di sini saja," jawab Richard tak acuh sembari berbalik.
"Paman tak bisa lepaskan aku?" tanya Ainsley yang membuat langkah pria itu terhenti.
Richard menoleh, ia menatap mata gusar yang bercampur dengan amarah tersebut, "Tidak."
Ainsley tersentak, ia bingung situasi mental nya belum pulih dengan benar, "Jahat! Paman jahat! Aku benci paman!" teriak nya menggema pada pria itu.
Richard mendekat kembali, Ainsley terkejut dan memundurkan langkah nya sejenak namun tangan nya langsung tertarik.
Humph!
Mata nya membulat, ia mendorong pria itu dengan segera dan memberontak.
__ADS_1
Napas nya terasa ingin habis, ia tak bisa lagi memberontak ataupun melepaskan ciuman tersebut, tangan nya mulai diam namun tangan nya meremas kemeja yang di kenakan oleh Richard.
"Karna kau sudah membenci ku, tak apa kan kalau lebih benci lagi?" tanya pria itu saat melepaskan tangan nya.
Ainsley diam, mata nya berair karna takut namun pria itu malah mencium air mata nya.
"Aku antar," Richard yang menarik tangan gadis itu dan membawa nya kembali ke apart nya.
......................
2 Minggu kemudian.
Apart Winter Garden.
Hari sudah berlalu, keadaan mulai tenang. Richard maupun Sean seperti bungkam tak ada satupun yang mengganggu nya.
Konsultasi pun tetap berjalan, Ainsley yang sebelum nya menutup diri kini mulai terbuka pada dr. Canly
"Kenapa wajah mu pucat sekali?" tanya Fanny setelah meletakkan buku komposer yang akan di gunakan untuk latihan.
"Saya masih mau istirahat, anda tidak mau saya mempermalukan nama anda kan?" tanya Ainsley saat sang ibu memberikan nya lagu untuk konser selanjutnya.
Ia yang mental nya belum pulih dan bisa meledak kapan saja karna serangan panik tentu nya tak bisa melakukan konser seperti itu sekarang.
"Itu dia, kenapa bisa kau jadi gila seperti ini?" tanya Fanny tanpa merasa bersalah.
"Mungkin karna menjadi putri anda?" jawaban yang seakan menyindir wanita yang kecantikan nya belum pudar tersebut.
"Kau!" ucap Fanny merasa kesal karna jawaban yang ingin menampar nya.
Fanny pun berbalik, ia menahan emosi dan tangan nya dari ingin menampar kuat pipi putri nya saat melihat wajah datar gadis itu.
"Ain? Siapa dia?" tanya Ainsley saat sang ibu memutar langkah nya.
Fanny tersentak, dada nya bergemuruh saat mendengar gadis itu menyebut nama yang begitu sensitif di hati nya.
Ia pun mendekat dan mencengkram lengan gadis itu dengan kuat, "Siapa yang mengatakan nya? Michele?!" tanya nya dengan mata tajam.
"Apa aku punya kakak?" Ainsley yang tetap bertanya tanpa mengindahkan pertanyaan sang ibu.
"Kakak?! Kau berani mengatakan nya setelah membunuh nya?! Kau dan ayah mu itu sama! Kalian hanya penghancur hidup orang lain!" Fanny berteriak meluapkan emosi nya.
Ia tau kematian putra pertama adalah ketidaksengajaan, dan putri nya bahkan tak ingat apapun karna usia nya yang sangat muda.
"Kenapa aku membunuh nya? Aku bahkan tidak ingat pernah memiliki saudara," tanya Ainsley yang terkejut.
Ia tau nama tersebut karna mimpi yang sama berulang kali. Mimpi tentang anak lelaki yang miliki rambut pirang tersenyum ramah dan begitu menyayangi nya.
Tangan hangat yang menarik nya saat tubuh nya hampir membeku kedinginan dan kehabisan napas.
"Kenapa bukan kau saja?" ucap Fanny lirih.
Ainsley bingung dengan perkataan tersebut.
"Kenapa bukan kau saja yang mati? Kenapa harus putra ku? Mau ku beri tau sesuatu?" tanya Fanny dengan suara bergetar.
Ainsley diam, ia masih belum bisa mencerna apa yang di katakan sang ibu.
"Ayah mu dulu membunuh suami ku, setelah itu membuat ku memiliki mu, lalu kau? Kau membuat putra ku mati! Karna kau dan ayah mu keluarga ku hancur!" ucap nya saat kendali nya lepas.
Mantan suami yang meninggal karna kecelakaan tak wajar, bahkan jebakan yang membuat nya memiliki kehidupan lain dan di paksa menikah karna membawa pewaris B'One grup.
Bahkan setelah itu tak bisa mengajukan cerai karna alasan harus membesarkan putri nya, dan anak pertama nya yang meninggal karna menyelamatkan adik nya.
Keluarga kecil yang awal bahagia mulai hancur dan terusik lalu hanya menyisahkan dirinya saja.
Rasa terkejut yang berubah menjadi amarah dan amarah yang berubah menjadi kebencian membuat nya kehilangan sifat lembut dan keibuan nya.
Ia tau putri kecil nya tak ada hubungan nya sama sekali, bahkan saat putra pertama nya meninggal pun Ainsley masih tak salah karna bukan dia lah yang menginginkan hal tersebut.
Namun gadis cantik itu juga terkena imbas dari kebencian ibu nya untuk sang ayah. Karna dalam tubuh nya masih mengalir darah dari pria yang menghancurkan keluarga nya.
"Lihat, bahkan kau yang putri nya pun dia juga tidak menyayangi mu kan?" tanya Fanny dengan tawa menyindir namun mata nya terlihat begitu terluka.
"Bukan nya anda juga sama? Anda bilang saya dan Ayah saya menghancurkan anda, lalu apa anda merasa tidak pernah menghancurkan siapapun?" tanya Ainsley dengan menjatuhkan bulir bening nya.
Fanny diam tak menjawab pertanyaan putri nya, ia hanya menatap datar tanpa menjawab apapun.
"Orang tua bisa memilih memiliki anak atau tidak, tapi anak tidak bisa memilih sama sekali siapa orang tua nya atau bahkan kehidupan nya." sambung Ainsley.
"Aku benar-benar menyesal melahirkan mu," jawab wanita itu tanpa iba.
"Maaf, karna bukan saya yang mati, tapi kalau saya bisa memilih saya juga tidak ingin di lahirkan dari rahim wanita seperti anda," jawab gadis itu lagi.
Mungkin sang ayah sudah menghancurkan keluarga dan hidup orang lain, namun ia juga tak pernah ingin menjadi 'Kesalahan satu malam' yang menjerat kehidupan seseorang.
Dunia dan kehidupan nya juga hancur dan berantakan, ia tak pernah sekalipun memiliki hidup yang normal seperti orang lain.
__ADS_1