Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Wedding day (My happiness?)


__ADS_3

Mansion Zinchanko.


"Kenapa kau di sana? Lalu pengawal yang ku berikan kenapa mereka tidak ada?" tanya Richard pada gadis yang tengah terduduk tersebut.


"Tadi..." gumam nya lirih.


"Bicara yang jelas, jangan bergumam seperti itu." ucap Richard pada gadis cantik itu.


"Sean ti-tidak apa-apa kan?" tanya nya lirih dengan takut-takut.


"Dia akan baik-baik saja kalau kau tidak mengusir pengawal yang ku berikan!" ucap pria itu kesal.


Ia tau akan banyak yang mengincar gadis itu saat berita pernikahan nya tersebar.


Maka dari itu ia sudah menyiapkan pengawal untuk menjaga gadis nya, namun saat gadis itu kesulitan malah semua pengawal yang ia berikan hilang entah kemana.


"Aku minta mereka pergi waktu sudah selesai rapat, aku tidak tau kalau akan seperti ini..." jawab nya lirih sembari menunduk.


"Mereka bukan orang yang akan pergi begitu saja kalau di suruh, kau kabur kan?" tanya pria itu mengernyit.


"Maaf..." ucap Ainsley lirih.


"Astaga! Kau ini kenapa sih? Sulit sekali mengatur mu! Kau tidak bisa patuh saja?!" ucap pria itu dengan nada tinggi hingga membuat Ainsley tersentak.


Richard hampir frustasi menghadapi sikap keras kepala gadis itu, ia tau manusia adalah makhluk yang memiliki pemikiran sendiri sehingga selalu ingin mendapat kebebasan.


Namun saat gadis itu sudah terikat dengan nya maka kebebasan hanya akan membunuh makhluk indah yang lemah itu saja.


"Aku tidak akan melakukan nya lagi, aku hanya merasa risih..." ucap Ainsley lirih.


"Dua Minggu lagi kita akan menikah, jadi jaga diri mu baik-baik, bukan lebih tepat nya kau di sini saja sampai hari pernikahan jangan keluar selangkah pun dari pintu!" ucap Richard sembari meninggalkan gadis yang tengah duduk di tepi ranjang tersebut.


Ainsley membuang napas nya lirih, ia memang kabur dari pengawal yang di berikan karna tak nyaman, namun ia tak menyangka akan ada hal seperti itu yang datang pada nya.


...


Tiga hari kemudian.


Richard awal nya memang marah namun ia tak bisa berlarut dalam kemarahan nya, jika melihat wajah gadis itu yang tersenyum tanpa sengaja hati nya akan kembali meleleh.


Wajah yang terlihat bersinar sembari menggendong putra nya yang tengah tertawa dengan suara menggemaskan.


Ia seperti sudah memiliki segala nya, bagian dari dalam dirinya yang selalu terasa kosong dan hilang kini seakan sudah lengkap.


"Ketawa nya anak Mommy," ucap Ainsley tersenyum sembari menciumi gemas pipi bulat bayi nya.


Richard tak menganggu ataupun mendekat, ia hanya memperhatikan dari balkon saja melihat gadis itu tengah menggendong dan bermain dengan putra nya di taman.


"Benar, mereka masih sangat rapuh dan lemah." gumam nya menarik napas.


Ia cukup kuat untuk melindungi diri nya sendiri dan karna kekuatan nya itu lah yang membuat tak ada siapapun yang bisa menyakiti nya.


Namun saat ia sudah memiliki satu kelemahan yang bisa membuat nya terluka tentu semua mata pisau akan tertuju pada kelemahan nya.


Sesuatu yang tak bisa melindungi diri nya dan saat sesuatu itu terluka ia akan ikut merasa kan sakit nya.


Ia memang membenci mantan kekasih gadis itu, namun semua ucapan yang di katakan oleh pria itu adalah kebenaran.


"Apa ku potong kaki dan tangan nya saja saat sudah menikah? Dengan begitu dia tak akan keluar dari sini kan?" gumam nya saat melihat tubuh gadis itu yang tengah menggendong putra semata wayang nya.


Deg!


Namun ia tersentak saat melihat tawa cerah ketika gadis itu bermain dengan putra mereka.


"Tapi apa dia akan tersenyum seperti itu lagi kalau aku memotong kaki dan tangan nya?" ucap nya lirih yang terus memperhatikan wajah yang tengah tersenyum itu.


....


"Siapa yang mau kau telpon?" suara yang langsung membuat Ainsley tersentak dan refleks menyembunyikan ponsel nya.


"Bu-bukan siapa-siapa..." jawab gadis itu lirih.


Namun Richard mengambil paksa ponsel gadis itu dan melihat nomor yang tak asing baginya, walaupun ia benci namun ia tau siapa yang akan di telpon gadis itu.


Prang!


"Kau berani menelpon nya di rumah ku?!" tanya nya dengan tatapan marah setelah membanting ponsel gadis itu.


"Bu-bukan, aku mau tau kondisi nya saja, bukan seperti itu..." ucap Ainsley lirih dengan takut.

__ADS_1


"Sama saja! Memang nya apa sih yang sudah dia beri pada mu?! Aku bisa berikan yang lebih banyak!" ucap Richard kesal karna gadis itu tak bisa keluar dari bayangan masa lalu nya.


Ainsley diam, ia tak bisa menjawab nya ia hanya menunduk tak berani menatap wajah pria di depan nya.


Richard tersenyum miring, ia ingat dulu saat menjadi dosen sementara di kampus gadis itu pernah melihat tubuh yang memiliki jalur biru di balik pakaian nya.


"Bekas cambukan yang dulu pernah ku lihat di tubuh mu itu dia yang membuat nya kan?" tebak nya seketika membuat Ainsley langsung menengadah.


"Kenapa terkejut? Kau sesuka itu pada nya? Atau kau mau aku juga melakukan nya? Kau suka pria yang seperti itu?" tanya Richard dengan senyuman kesal nya yang tengah menggertakkan gigi nya.


"Tidak, aku tidak suka." jawab Ainsley segera.


"Lalu? Apa alasan nya kau lebih menyukai dia? Setelah ku ingat aku tidak pernah mencambuk mu, walaupun aku pernah memukul mu juga." ucap Richard dengan kekesalan nya.


"Aku tau..." hanya dua kata yang keluar dari bibir gadis itu semakin membuat Richard geram.


"Hanya itu yang bisa kau katakan?! Aku benar-benar tidak mengerti dengan mu?!" ucap nya yang benar-benar di buat pusing oleh gadis itu.


"Tapi kalau tidak ada dia, aku tidak akan bertemu dengan mu," jawab Ainsley lirih.


Richard mengernyit melihat nya, sedangkan gadis itu masih menunduk dan menautkan jemari nya.


"Richard tau tidak? Dulu aku seperti apa? Aku tidak bisa bernapas, tidak ada ruang untuk ku..." sambung nya lirih.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya pria itu menetap menelisik.


"Hubungan kami memang tidak sehat dulu, aku sadar tapi aku juga butuh dia." jawab nya lirih.


"Kalau begitu sama saja seperti hubungan kalian sama saja seperti orang tua mu? Kau tidak bisa menggunakan akal mu?!" tanya pria itu mengernyit.


"Sama?" Ainsley tersenyum mendengar nya, ia menggeleng pelan, "Tidak sama, mungkin sangat berbeda."


Richard tak habis pikir dengan gadis itu.


"Aku sendiri, aku tidak punya sandaran, aku takut dan terus berharap setiap hari, kau menyamankan nya dengan orang tua ku?" tanya Ainsley mengernyit.


"Dia dan orang tua ku itu beda! Dia orang yang ada saat aku butuh! Saat aku berada di posisi yang paling buruk! Kau tidak akan tau, aku tidak sekuat kau." ucap gadis itu yang tak bisa menerima jika pria di depan nya menyamakan mantan kekasih nya dengan kedua orang tua nya.


Mungkin hubungan mereka dulu benar-benar beracun namun, saat ia jatuh pria itu yang menangkap nya, saat ia merasa tidak akan ada yang bisa menyayangi nya pria itu memberikan cinta nya.


Walaupun tak semua rasa cinta yang di berikan pada nya membuat nya merasa bahagia dan mungkin rasa cinta itu juga menyakiti nya namun ia bisa tau bagaimana rasanya dicintai seseorang.


Rasanya mendapat kasih sayang yang selalu ia harapkan, rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh nya saat ia menangis lalu di tenangkan.


"Kalau aku bertemu dengan mu lebih dulu apa tetap akan sama? Apa kau mau bersama ku kalau lihat masa terburuk ku?" tanya gadis itu tersenyum.


"Waktu aku hampir gila dulu, kau datang? Oh iya aku ingat, kau datang ke rumah sakit lalu hanya mencium ku kan? Padahal aku benar-benar hampir gila waktu itu."


"Dan jangan lupa, yang membuat ku hampir gila saat itu siapa." ucap Ainsley lagi, "Apa kau ada untuk ku saat itu?" sambung nya lagi.


Richard terdiam, ia memang tak pernah ada saat gadis itu sedang sangat membutuhkan seseorang.


"Sekarang aku akan selalu ada, jadi berhenti memikirkan nya!" ucap Richard pada gadis yang hampir menangis itu.


"Aku juga tidak mau kau menangis untuk pria lain lagi, ini yang terakhir!" ucap nya sembari menghapus air mata gadis itu.


Ainsley diam sejenak ia tak membalas ataupun menolak tangan yang mengusap air mata nya.


"Kau mau Axel bahagia kan? Kalau kau mau hal itu kau harus bisa menerima ku, menurut mu apa yang dia pikirkan nanti kalau tau ibu nya menyukai pria lain selain ayah nya? Dia tidak akan memiliki keluarga normal atau mungkin dia tak akan hidup seperti anak lain nya." bisik pria itu.


Ainsley tersentak, ia lupa alasan utama ia pergi dari pria yang cintai dan masuk ke dalam pelukan pria tampan itu sekarang.


Hanya satu!


Putra nya yang bahkan masih belum bisa bicara itu lah yang menjadi alasan utama nya, ia ingin memberikan kebahagian untuk putra nya maka dari itu ia sampai di titik sekarang.


"Aku tau, aku akan mencoba nya..." ucap nya lirih


....


Suara air yang tergenang dan tetesan yang keluar dari bathup hampir membuat gadis itu tertidur.


Sapuan lembut di punggung nya membuat rasa waspada nya menjadi turun, pria itu mengecup pundak gadis itu sesekali.


Tubuh kecil dan mungil yang bersandar di atas tubuh bidang yang berada di balik nya.


"Ainsley? Kau tidur?" tanya pria itu saat gadis yang bersandar di dada bidang nya tak bergerak sama sekali kecuali sesekali mengendus aroma tubuh nya.


Hening...

__ADS_1


Gadis itu hanya mengusap wajah nya yang mengantuk, air hangat dan aroma yang segar membuat nya ingin tertidur dan pria hanya hanya terus mengusap punggung nya dengan lembut tentu nya membuat mata nya tertarik ingin terpejam.


"Kau bisa tidur padahal aku sudah seperti ini?" ucap Richard yang merasakan hal yang berbeda.


Hasrat nya lebih cepat bangkit jika ia bersam gadis itu, belum lagi sentuhan kulit halus yang langsung melekat pada nya dan aroma bunga lavender dan mawar yang menyatu dengan tubuh gadis itu tentu nya membuat nya semakin sulit menahan diri nya.


Namun ia tak melakukan apapun, gadis itu jarang tertidur tak sengaja seperti ini dalam pelukan nya.


"Apa kau tidak bisa mencintai ku?" gumam nya saat melihat wajah tenang yang tengah terpejam tersebut.


"Dengan begitu aku bisa mencintai mu berkali-kali lipat lagi," sambung nya sembari terus mengusap punggung putih yang halus itu dengan tangan nya dan sesekali mengusap air nya.


......................


Hotel.



Hotel mewah yang saat ini tengah berlangsung acara yang suci.


Gaun putih yang mengembang dengan hiasan di kepala yang berada di antara rambut halus yang tergerai.


Sebuket bunga di tangan nya lentik nya, ia melihat sang ayah yang berada di samping nya membawa nya menuju altar dan ekor mata nya yang melirik ke arah ibu angkat nya yang tersenyum melihat nya.


Clarinda datang ke Prancis saat hari pernikahan putri angkat nya, ia duduk sembari memangku Axel dan berada di samping ibu kandung gadis itu.


Fanny baru tau jika ia sudah memiliki cucu namun ia tak bisa menggendong cucu nya karna Axel yang akan menangis saat berada dalam pelukan orang yang ia anggap asing.


Pria yang akan memiliki status resmi untuk nya hari ini sudah menunggu lebih dulu untuk melihat nya datang dan mengucapkan ikrar yang akan mereka katakan bersama nanti nya.


Ainsley membuang napas nya pelan nya, entah mengapa ia lega saat tidak bertemu dengan mantan kekasih nya nya.


Walaupun Richard yang mengundang namun ia sendiri berharap tak bertemu agar hati nya tak goyah, agar ia bisa lebih tenang melewati pernikahan nya.


Ku harap dia juga akan bahagia...


Batin nya berharap kebahagian pria itu dan ku kebahagiaan nya.


Richard meraih tangan lentik gadis itu, upacara suci itu mulai terjalin, ikrar dan janji yang sudah di ucapkan dengan harapan tak akan ada yang mengingkari nya.


Richard diam sejenak, gadis itu itu terlihat begitu indah dalam balutan gaun putih yang membungkus seluruh tubuh nya.



"Kau cantik," bisik pria itu di telinga gadis yang kini sudah resmi menjadi istri nya.


"Karna gaun pilihan paman?" tanya Ainsley dengan suara berbisik yang lagi-lagi memanggil dengan paman pada pria itu.


"Bukan Paman tapi Sayang," bisik nya di telinga gadis itu.


Ia perlahan mendekat dan meraih bibir gadis itu untuk di berikan ciuman pernikahan.


Humph!


Mata Ainsley membuat sejenak, ia merasa pria itu tak hanya sekedar mencium di acara pernikahan namun juga mel*mat habis bibir nya.


Namun ia tak mendorong sama sekali walau terkejut, karna ia tau ini adalah hari pernikahan nya.


Richard melepaskan nya ia, suara riuh dari para tamu terdengar di telinga nya saat ia mencium dengan agresif pada pengantin wanita nya.


"Now, you're mine." bisik nya saat gadis itu menarik napas nya yang hampir habis.


"I know..." jawab Ainsley lirih saat wajah pria itu masih sangat dekat nya.


Richard tersenyum dan mel*mat bibir gadis di depan nya lagi, ia tak peduli dengan suara riuh yang bersemangat melihat tingkah nya pada pengantin wanita nya.


Ainsley tak menolak, ia membiarkan pria itu melakukan hal yang di inginkan nya, tangan nya meremas jas yang di kenakan Richard.


Aku hanya perlu menyukai nya, hanya itu...


Untuk ku...


Untuk anak ku...


Aku juga berharap dia bisa menemukan seseorang lagi...


Kalau aku tidak bisa dengan nya...


Ku mohon...

__ADS_1


Hilangkan rasa suka ku...


Aku juga ingin bahagia...


__ADS_2