
Cermin yang besar dengan penuh gaun yang memiliki warna putih yang mengembang dengan indah.
Rambut halus yang di satukan dan teriakan dengan rapi ke belakang itu serta bando yang bertabur mutiara di atas nya.
Ainsley melihat ke arah diri nya dari cermin, mempersiapkan pernikahan dalam kurung waktu dua Minggu adalah hal yang begitu melelahkan.
"Bagaimana dengan ini? Gaun nya terlihat cukup sederhana kan?" tanya nya ketika menanyakan pendapat pria yang tengah melihat nya dari cermin.
"Cantik," jawab pria itu singkat yang seakan terpesona.
Walaupun wanita itu sudah pernah memakai balutan gaun putih yang indah sebelum nya namun ia tak melihat sama sekali.
Ia tak sanggup untuk melihat wanita yang benar-benar ia cintai mengucapkan janji dengan pria lain.
Namun kini ia kembali melihat nya, sesuatu yang awal nya tertunda itu pun kini datang.
"Atau aku pakai yang ini aja?" tanya Ainsley sembari menarik salah satu gaun yang terlihat lebih sederhana karna tidak mengembang seperti gaun yang ia kenakan saat ini.
"Itu juga bagus," ucap Sean yang menganggap semua gaun yang akan di coba wanita itu akan sangat bangus.
Para staf toko pun mulai kembali membantu nya untuk mengganti gaun serta riasan yang akan ia gunakan.
"Sekarang gimana?" tanya wanita itu ketika sudah selesai mengganti gaun nya sembari mengangkat kain yang menyapu lantai itu dengan dua jari nya.
"Ini juga bagus kok," ucap Sean pada wanita itu.
Ainsley pun membuang napas nya dan berjalan melewati pria itu lalu duduk di atas sofa sembari melipat kaki nya karna memakai heels.
"Sekarang aku sudah lelah," ucap nya lirih sembari membuang napas nya.
"Waktu hamil Axel dulu aku gak lelah secepat ini, apa karna faktor usia yah?" tanya nya lirih.
Para staf pun beranjak ingin melepaskan manik-manik rambut yang masih melekat di kepala wanita itu namun Sean menahan nya.
"Aku saja, kalian sudah bisa keluar." ucap nya sembari membiarkan para staf itu untuk keluar.
"Yasudah nanti kita percepat saja acara nya," ucap nya lagi sembari mulai melepaskan ikatan manik-manik di rambut halus wanita itu.
Ainsley menunduk, ia merasa lelah sekaligus ingin tertidur saat kepala nya di pegang dan rambut nya yang seperti di usap karna pria itu benar-benar hati-hati untuk sampai tak mencabut rambut nya ketika melepaskan hiasan itu.
"Tapi ini kan pesta pernikahan pertama mu," jawab Ainsley lirih.
Ia sudah pernah menikah sebelum nya dan sudah pernah melakukan pesta yang besar-besaran dan megah walau dulu ia ingin pesta sederhana juga.
"Tidak apa-apa, lagi pula kan yang penting kau jadi istri ku kan?" jawab pria itu sembari menarik satu hiasan terakhir yang tertinggal.
"Istri..." gumam Ainsley lirih.
Ia bahkan hampir lupa dengan kata-kata itu semenjak Richard tiada, karna tak ada lagi yang mengatakan atau menyebut satu kata itu untuk nya.
"Sean?" panggil nya lirih.
"Hm?"
"Aku nanti mau pergi sebentar, kau tidak perlu ikut. Aku bisa sendiri." ucap nya pada pria itu.
"Mau kemana? Kau kan lagi hamil." tanya pria itu mengernyit.
"Aku mau ke tempat dia, jadi aku mau pergi sendiri. Boleh kan?" tanya nya lagi.
"Bawa mobil sendiri?" tanya pria itu yang masih ragu karna sang dokter kini sudah memberi tau nya untuk tidak membiarkan wanita itu kelelahan.
"Bukan nya kau bilang tadi sudah lelah? Bagaimana kalau aku yang bawa mobil nya nanti kau kesana sendiri? Mau?" tanya nya lagi.
"Aku udah gak begitu lelah kok," ucap nya pada pria itu.
Cup!
Satu kecupan dalam yang mendarat di lengkung leher wanita itu yang terlihat jenjang dengan begitu indah.
"Aku khawatir, aku gak akan cegah atau marah kok, aku cuma mau mengantar mu saja..." ucap nya lirih setelah mencium lengkung leher yang putih nan jenjang itu.
Ainsley diam sejenak, ia bahkan masih merasakan napas hangat beraroma mint itu meniup telinga nya ketika berbicara begitu dekat dengan nya.
Ia pun mengangguk perlahan dan membuat pria itu tersenyum pada nya.
...
Sebuket bunga yang harum kembali mendarat di atas nisan yang bertuliskan nama yang pernah membuat janji dengan nya selama enam tahun.
"Aku akan menikah..."
"Aku tidak tau kau akan marah seperti apa kalau mendengar ini secara langsung, tapi kau pernah bilang berharap untuk bertemu dengan ku lagi kan? Entah itu di kehidupan yang lain atau dunia yang mungkin berbeda..."
"Aku juga, aku ingin bertemu dengan mu lagi..."
"Hubungan apapun yang akan kita miliki nanti nya, tapi aku akan jadi orang pertama yang menyukai mu nanti..."
"Jadi..."
"Hanya untuk kali ini saja..."
"Aku ingin memiliki pilihan ku sendiri, bertemu dengan mu juga sesuatu yang berharga untuk ku..."
"Aku tidak pernah menyesali apapun,"
"Richard..."
"Di dalam sejarah hidup ku..."
"Kau juga termasuk kebahagian ku..."
"Terimakasih untuk semua nya, semua yang sudah kau berikan..."
"Ku harap sekarang kau bisa lebih tenang, aku benar-benar berharap untuk itu..."
Wanita itu menyeka air mata nya sejenak, ia tak pernah berpikir untuk kembali mengucapkan janji setelah belasan tahun lama nya, dan kini ia kembali mengulangi nya dengan pria yang berbeda.
Namun sesuatu yang tak bisa ia lupakan bahkan untuk mencoba nya saja tak pernah adalah kenangan yang menjadi berharga.
Rasa sedih, takut, gelisah dan bahagia semua itu menyatu dan membuat nya dalam memori yang tersimpan seperti pasir biasa yang menggumpal menjadi mutiara.
Sesuatu yang tak istimewa dan menyakitkan pada akhirnya menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi.
Sean menunggu di dalam mobil nya, ia tak ikut turun sesuai janji yang ia katakan sebelum nya.
"Ayo," ucap wanita itu ketika masuk dan duduk di samping bangku pengemudi.
Sean menatap mata yang merah dan sembab itu, ia tak bertanya apapun dan tak mengatakan apapun selain hanya melajukan mobil nya.
......................
Cafetaria.
Gadis cantik itu menatap teman nya yang lesu dan menyandarkan kepala nya ke atas meja, ia pun sama namun duduk di sisi yang berlawan arah.
"Axel? Kenapa diam aja?" tanya Emily yang terus menerus melihat teman nya yang tak bersemangat sama sekali.
__ADS_1
Axel menoleh sembari mencoba menyentuh pipi gadis itu, "Mommy aku mau nikah..." ucap nya lirih.
Emily dan Mack tentu nya sudah tau sejak awal ibu teman mereka menyiapkan pernikahan.
Namun sahabat mereka itu terus menerus lesu saat sang ibu akan segera mengucapkan janji dengan pria lain.
"Yang pentingkan sekarang Mommy Axel bahagia..." ucap Emily pada teman nya.
"Oh iya, gimana nanti Axel nginap di rumah aku? Sama Mack juga, mau kan Mack?" tawar Emily pada teman nya yang lain.
"Aku bisa datang tapi gak bisa nginap sih, ada urusan hihi..." ucap Mack yang tertawa kecil.
"Gimana? Axel mau?" tanya nya pada remaja tampan itu.
"Mau tapi Mack gak usah ikutan," sahut Axel membuka suara nya.
"Kenapa?" tanya Mack dengan bingung.
"Aku sama Lily kan mau pacaran masa di ganggu sih?" tanya Axel pada teman nya itu.
Bugh!
Satu pukulan mendarat sempurna di punggung remaja tampan itu, "Axel makin hari nyebelin yah?" ucap Mack sekali lagi.
"Bukan nyebelin! Kamu nya aja yang gak peka!" sahut Axel sembari mengusap punggung nya.
...
Ia pun tak lupa memberi tau pada sang ibu karna akan bersama dengan teman-teman nya saat ini.
"Udah kasih tau Tante?" tanya Emily sembari mengusap anjing peliharaan nya.
"Udah, kata Mommy gak apa-apa kok." jawab Axel pada gadis itu.
"Mommy kamu kemana?" tanya nya lagi.
"Lagi pergi, nanti sore baru balik." ucap nya pada remaja itu.
Axel pun mengangguk pelan sembari melihat-lihat ke arah kamar gadis itu yang kini semakin banyak menunjukkan perubahan dari yang dulu nya di design seperti rumah boneka.
"Lily?" panggil nya saat gadis itu hanya memperhatikan anjing peliharaan nya.
"Emily!" panggil nya lagi dan baru membaut gadis itu menoleh.
"Iya?" Sahut gadis itu yang tidur di sofa nyaman yang berada di kamar nya itu sembari memangku anjing kesayangan nya.
"Kok dia aja sih yang di sayang? Aku engga?" tanya Axel yang mendengus kesal.
"Yang pacar kamu kan aku bukan dia!" ucap nya lagi yang cemburu dengan anjing kesayangan gadis itu.
"Kalau kamu pasti nanti yang di usap aku terus," ucap Emily yang tau kalau berada di dekat remaja itu pasti ia lah yang selalu di usap dengan lembut karna Axel begitu suka membelai helaian rambut nya.
Axel mengernyit, ia pun mengangkat anjing peliharaan gadis itu dan memindahkan nya lalu tidur di samping tubuh gadis itu.
"Axel sempit..." keluh Emily ketika temannya mulai ikut-ikutan naik ke atas sofa tersebut.
Remaja tampan itu tak menggubris melainkan mengambil satu tangan gadis itu lalu meletakkan di atas kepala nya.
"Aku juga mau di elus..." ucap nya lirih pada gadis itu.
Melihat mata yang berbinar itu membuat Emily merasa gemas beberapa saat dan,
Cup!
Wajah yang hanya berjarak beberapa senti itu langsung mengecup bibir remaja tampan itu tanpa sadar ketika ia merasa gemas.
Axel yang terdiam sejenak pun langsung melihat ke arah wajah yang memerah itu, ia kembali tersenyum dan menangkup pipi gadis itu dengan tangan nya.
Cup!
Cup!
"Axel! Geli! Haha..." tawa Emily ketika ciuman remaja itu terasa menggelitik lehernya hingga membuat nya tertawa.
"Lily cantik!" ucap Axel tanpa sadar ketika selesai mengecup seluruh wajah gadis itu.
Blush!
"A-apaan sih?" tanya gadis itu malu dan malah menyembunyikan wajah nya di dada yang mulai terlihat bidang itu.
Axel tersenyum itu menarik pinggang gadis itu agar semakin melekat dengan nya di atas sofa yang sempit untuk dua orang itu namun membuat nya merasa nyaman.
"Lily cantik! Cantik banget!" ucap nya lagi di telinga gadis itu sembari sesekali juga ikut mengecup telinga nya.
"Axel!" ucap Emily yang berada di balik dekapan remaja itu ketika ia terus di goda.
......................
Sean mempersiapkan bak mandi yang akan di gunakan wanita itu.
"Sekarang ayo mandi," ucap nya sembari duduk di pinggir bak.
"Mandi? Kita?" tanya Ainsley mengulang dengan mata yang membulat.
"Iya, kita. Masa kau dan Papa ku yang mandi bersama." ucapnya segera.
"Ta-tapi kan..." ucap Ainsley lirih.
"Kenapa?" tanya Sean dengan bingung dan menatap lurus ke arah wajah wanita itu.
"A-aku lagi lelah Sean..." sambung Ainsley lirih.
"Karna kau lelah maka nya kita mandi bersama-"
"Tunggu! Kau sedang memikirkan hal lain?" tanya pria itu yang mulai tersenyum.
Mata wanita itu kembali membulat, wajah nya memerah ketika pikiran kotor nya tertebak. Ia bahkan sampai lupa jika mandi bersama pria di depan nya berbeda dengan mandi bersama dengan mantan suami nya.
"Dulu kau kan juga sering mandi dengan ku, kau selalu tidur tuh." ucap Sean yang membuat wajah wanita di depan nya semakin memerah.
"A-aku gak mikir apa-apa kok!" sanggah Ainsley langsung.
Ia masih belum lupa akan arti mandi bersama ketika ia menikah dulu nya dengan Richard dan mandi yang dalam artian benar-benar membersihkan dan menrelaxing diri ketika ia masih pacaran dengan pria itu.
"Kalau kau mau yang lebih juga gak apa-apa, aku juga mau..." sambung Sean tertawa kecil.
"Bener yang di bilang Axel!" ucap Ainsley pada pria itu.
"Axel bilang apa?" tanya pria itu mengernyit.
"Sean nyebelin!" sambung nya dengan wajah kesal karna pria itu yang terus menggoda nya.
Sean tertawa mendengarnya, ia pun mengejar langkah wanita itu dan meraih tangan nya.
"Jangan cemberut, nanti anak nya juga cemberut loh waktu lahir..." ucap Sean pada wanita itu sembari mengecup bibir nya dengan pelan.
"Nyebelin sih!" ucap wanita itu dengan ketus.
Pria itu hanya tersenyum, "Sekarang mandi yah? Abis itu istirahat," ucap nya dengan pelan sembari mulai melepaskan sweater yang di kenakan wanita itu.
Ainsley membiarkan nya tanpa perlawanan, pria yang perlahan melepaskan dan membuat nya melucuti pakaian secara perlahan.
__ADS_1
Aroma bunga yang lembut dan menenangkan nya, air hangat yang menyapu tubuh nya memberikan selimut kenyamanan yang ingin membuat nya tertidur.
Pria itu melihat ke arah wanita yang bersandar di dada bidang nya sembari mengusap kulit yang terasa lembut dan licin itu karna berada di dalam air yang memiliki sabun mandi.
"Mau tidur?" tanya nya sembari melihat ke arah wanita yang terus bergerak di pangkuan nya dan menyandarkan diri di dada bidangnya.
Tubuh yang polos tanpa apapun itu hanya bersalut air yang lembut dan wangi, sesuatu yang terasa hangat menyentuh satu sama lain.
Ainsley diam sejenak, ia merasakan sesuatu yang bangun dan suara yang mulai berat dari pria itu namun ia hanya diam saja seperti gak menyadari apapun.
Ia tau dulu ketika masih berpacaran pria itu pun selalu seperti ini ketika mandi bersamanya namun tak pernah sampai memaksanya memberi kesucian nya walau pun tubuhnya tentu sudah di pernah jamah oleh tangan pria itu.
Hanya saja kesabaran itu hilang ketika pria yang menjadi kekasih nya selama tiga tahun itu tidak bisa menahan rasa cemburu dan para akhir nya membuat nya mengalami pengalaman pertama yang begitu membekas karna rasa sakit yang seperti tengah melayang ke neraka.
"Sean?"
"Hm?"
"Aku mau tanya," ucap nya lirih.
"Tanya apa?" pria itu sembari melihat dan mengecup kepala wanita itu dari belakang.
"Dulu, kau kok bisa tahan sih?" tanyanya dengan bingung.
"Tahan apa?" tanya pria itu dengan bingung sembari terus mengusap bagian tubuh wanita itu dengan lembut.
"Tahan yang kayak sekarang, kau lagi mau kan? Dulu juga begini terus kalau lagi mandi sama aku," jawab Ainsley lirih. "Biasanya nya tuh pria kan gak bisa nahan kalau udah begini..." sambungnya lagi.
Ia tau, karna biasa nya jika ia mandi dengan Richard maka mandi nya akan benar-benar lama di tambah lagi dengan kaki nya yang semakin hilang tenaga bukan menambah tenaga.
"Sebenernya gak tahan sih, tapi kalau kau tidak terlalu banyak bergerak tidak apa-apa..." ucap nya pada wanita itu.
"Nanti di tahan-tahan malah kayak dulu lagi, waktu kita pertama kali..." ucap nya menggantung.
"Sakit sekali yah?" tanya pria itu yang menghentikan usapan dan bilasan air di tangan nya lalu mulai memeluk wanita itu.
"Sakitlah, abis di cambuk masih luka langsung di masukin ke air abis itu..."
"Abis itu di..." ucap nya yang tak lagi melanjutkan.
"Maaf..." Sean yang mengatakan nya dengan lirih sembari memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
Ainsley diam sejenak, "Sean? Kalau pria lagi marah memang suka begitu yah?" tanya nya lagi.
Pria itu diam sejenak, ia menatap ke arah wanita yang terlihat tengah menunduk melihat pantulan diri nya dari air yang menyelimuti tubuh mereka.
Ia tau kali ini bukan lagi cerita mengenai nya namun mengenai masa lalu wanita itu.
"Seperti menunjukkan kepemilikan, kau milik ku dan sekarang ini bukti nya, berada di bawah kendali ku dan jangan coba berpikir untuk kabur seperti itu analogi nya..." jawab pria itu.
"Sean..." panggil nya lagi.
"Hm? Kau mau tanya apa lagi?" jawab pria itu pada wanita yang terus bergerak di pangkuan nya.
Deg!
Pria itu tersentak, ketika wanita itu membuat nya sempat membatu sejenak.
"Kenapa sekarang makin besar?" tanya Ainsley sembari meraba karna tau sebelum nya ukuran yang semenyesakkan itu ketika ia duduki.
"Makanya jangan di pegang!" jawab pria itu yang hampir bergetar.
"Karna makin besar maka nya penasaran, jadi ku pegang..." jawab Ainsley tertawa kecil sembari menoleh ke arah pria itu.
"Sean? Masih tahan?" tanya nya lagi sembari semakin mengusap dengan genggaman tangan nya di balik air.
"Ainsley?" panggil pria itu sembari menatap mata jahil di depan nya.
Wanita itu dulu nya juga pernah ingin menggoda mantan suami nya dengan cara yang sama namun tak pernah terwujud karna Richard yang tak pernah menahan apapun dari nya. Belum sempat di goda saja pria itu akan langsung menyerang nya apa lagi menggoda nya.
Ia hanya akan mencari masalah dengan membuat tubuh nya remuk, maka dari itu ia tak mau mengambil hal yang berisiko itu saat masih berada di pernikahan sebelum nya.
"Ainsley? Jangan nakal," ucap Sean yang semakin berat di setiap napas nya.
"No, I wanna become a bad girl." jawab wanita itu tersenyum jahil.
Sesuatu yang panas semakin mengembang dalam genggaman nya lalu ia melepaskan nya tangan mungil nya seketika.
Ia tertawa kecil melihat wajah frustasi pria di depan nya.
"Kau tau? Kalau anak nakal selalu di berikan hukuman kan?" tanya Sean ketika melihat tawa wanita itu.
"Aku lagi hamil," jawab Ainsley tersenyum yang langsung membuat pria itu tak berdaya pada nya.
"Memang nya kalau hamil gak bisa?" tanya pria itu yang mulai mendekat sembari menghimpit ke sisi bathup yang berbeda dan mengecup pipi serta leher jenjang itu perlahan.
"Aku kan gak boleh kelelahan Sean..." ucap nya lirih di tengah kecupan pria itu.
"Maka nya jangan jahil," ucap pria itu yang harus menyelesaikan apa yang sudah di mulai wanita itu.
"Lagi pula dia juga mau kenalan sama Daddy nya kan? Kau lari dari ku waktu ada dia." ucap nya sembari mengusap perut wanita itu.
Ainsley langsung mengerti maksud ucapan pria itu, ia sudah tak polos lagi sejak belasan tahun yang lalu membuat nya langsung tau maksud tujuan ucapan dari pria itu.
"Gak tuh! Aku kan udah kenalin dia, jadi dia udah tau Daddy nya yang mana," jawab Ainsley dengan cepat.
"Kapan? Masa ngenalin tapi gak sama orang yang bersangkutan?" tanya pria itu segera.
"Kalau begitu aku sapa sekali aja, cuma satu kali aja." ucap Sean sembari memeluk dan mengendus ke leher wanita itu.
"Mana bisa begitu?" tanya Ainsley mengernyit.
"Bisa aja kalau Mommy nya mau," ucap pria itu sekali lagi.
"Kita udah selesai kan mandi nya? Ayo keluar." ucap Ainsley mengalihkan pembicaraan dan mulai berdiri.
Sean menarik tangan wanita itu dan membuatnya duduk di pinggir bathup.
Ia yang masih berada di dalam air tentu nya berada di posisi yang lebih rendah dari pada wanita yang duduk di pinggir bathup itu.
Tangan nya membuka pelan paha wanita yang tengah duduk itu, "Mau kenalan sebentar, lagi pula kan gak apa-apa..." ucapnya sembari mengecup betis yang putih dan halus itu.
"Sebentar aja," jawab Ainsley yang langsung diangguki dengan cepat oleh pria itu.
Sebentar dalam artian yang berbeda pada akhirnya membuat hawa panas menyelimuti ruangan tersebut.
Sesuatu yang tak bisa di tahan itu pada akhir nya meledak karna wanita yang dengan iseng itu menjahili pria yang tengah menahan dirinya.
......................
Apart Venelue'ca
"Mommy kenapa?" tanya remaja itu ketika melihat sang ibu yang terlihat letih.
"Mommy kamu lagi kelelahan, biar paman antar ke kamar dulu." ucap nya sembari membawa wanita itu.
"Makanya jangan yang aneh-aneh!" ucap Ainsley saat pria itu membawa nya.
"Aneh apa? Aku kan cuma kenalan sama anak ku aja," jawab Sean terkekeh.
Sedangkan remaja itu memiringkan kepalanya dan menatap dengan bingung maksud pembicaraan sang ibu dan pamannya.
...****************...
Yang mau datang di pesta mereka cus yuks, sama othor abis magrib biar buka puasa haha😘😘😅😅
__ADS_1