Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
luluh


__ADS_3

Mansion Zinchanko.


Auch!


Gadis itu meringis, tangan nya memerah dan mulai membiru karna pria itu sama sekali tak melepaskan nya.


Richard mendudukkan gadis ke atas ranjang sari melepaskan tangan nya, sedang Ainsley menatap tangan nya yang terlihat sangat sakit itu.


"Kenapa membawa ku? Kita sudah tidak punya hubungan apapun," ucap gadis itu sembari terus mengusap tangan nya dengan suara bergetar.


Richard berjongkok di depan gadis itu agar bisa melihat wajah yang tengah tertunduk tersebut.


"Tidak ada? Tapi kita masih punya ini." ucap nya sembari menyentuh perut yang mulai membesar gadis itu.


Ainsley menepis nya segera, "Tapi tetap saja paman tidak- Ach!"


Pria itu segera kembali menarik tangan gadis cantik itu hingga membuat berdiri di depan cermin rias seakan menyuruh gadis itu untuk memperhatikan dirinya.


Richard menangkup dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang, menahan Ainsley yang berusaha memberontak dan melepaskan pelukan nya.


Namun ia tetap memaksa pelukan pada Ainsley dari belakang sembari menyentuh serta mengelus perut yang terlihat membulat dari luar pakaian yang di gunakan.


"Disini ada anak ku, kau lupa perjanjian nya? Selagi anak ku masih ada kau masih tetap milik ku," bisik nya sembari memaksa gadis itu menatap dirinya sendiri dari cermin.


Ainsley diam, namun tubuh nya berhenti memberontak dan menatap ke arah perut nya dari pantulan cermin.


"Anak ku..." gumam nya sembari mulai mengelus nya.


Richard tersenyum dengan smirk nya, ia berhembus di telinga gadis itu.


"Benar...


Anak mu dan juga anak ku, kita membuat nya bersama kau lupa? Hm?" bisik pria itu bertanya.


"Lalu? Kenapa? Karna ada anak ini aku tidak bisa menemui Sean? Dia seda-"


"Kau yakin dia akan suka melihat mu datang kalau kau membawa anak ku di perut mu? Bukan nya dia sangat membenci ku?" tanya pria itu sekali lagi.


"Sean sudah berubah, dia tetap baik dia juga sayang sama anak ku! Dia tida-"


"Kau yakin? Bagaimana kalau itu semua tipuan? Dia hanya suka pada mu! Bukan anak mu! Anak kita! Dia bukan ayah nya, bagaimana kau bisa tau apa yang dia pikirkan tentang mu?!"


Ainsley diam, ia tak tau apa yang harus ia katakan, pikiran nya kosong.


"Lihat dirimu, kita punya sesuatu di sini. Sesuatu yang tidak bisa di bantahkan dari hubungan kita." ucap Richard lagi.


"Setelah dia lahir aku tak akan hubungan apapun lagi dengan paman," balas nya lirih.


"Dan itu artinya kau juga tak ada hubungan apapun lagi dengan anak mu," ucap Richard pada gadis itu.


Karna sejak awal kesepakatan nya adalah ia yang melepaskan gadis itu dan mengambil anak nya, karna Ainsley dulunya merasa tak mampu dan tak akan bisa untuk menjadi ibu yang baik ataupun mengasuh anak nya.


Deg!

__ADS_1


Gadis itu tersentak, mungkin ia dulu nya tak menginginkan anak yang berada dalam kandungan nya, namun seiring berjalan nya waktu ia semakin menyukai malaikat kecil yang terus menemani nya tersebut.


"Kenapa kau tak jawab? Hm?" tanya Richard pada gadis itu.


"Kenapa dia tak berhubungan lagi dengan ku?" tanya Ainsley pada Richard.


"Kau lupa? Kau tidak menginginkan nya, dan aku juga akan melepaskan mu setelah dia lahir kan? Kau juga dulu yang mau memberikan anak ini pada ku karna kau tidak tak mau mengurusnya kan?" tanya pria itu.


Ainsley diam, ia sadar dengan sikap nya yang dulu, sikap yang memang masih belum siap untuk menerima anak dan menjadi orang tua.


"Atau kita menikah dan membesarkan nya bersama?" sambung pria itu berbisik.


Ainsley menepis dan langsung membalik dirinya melepaskan cengkraman dirinya yang sulit terlepas dari tubuh kekar itu.


"Tidak! Su-sudah ku bilang aku masih belum siap untuk jadi ibu kan? Aku tidak keberatan kalau-"


"Baik, aku akan mengambil nya setelah anak itu lahir." potong Richard dengan wajah dingin.


Gadis itu terdiam, ia bingung namun ia masih keras tak mau memiliki hubungan dengan pria lain sedangkan hati nya masih tertaut pada mantan kekasih nya.


Richard memperhatikan wajah yang tampak berubah gelisah itu, secarik seringai kembali naik ke sudut bibir nya.


Ainsley pun kembali menatap ke arah wajah pria itu, awal nya ia tak begitu memperhatikan wajah pria yang ia panggil paman namun kali ini memperhatikan nya.


Mata nya mengernyit melihat beberapa bekas pukulan yang terlihat.


Bekas luka yang terlihat hampir sama dengan bekas luka di wajah mantan kekasih nya yang baru ia lihat tadi, jemari tangan yang terlihat membiru seakan di gunakan untuk memukul seseorang dengan sekuat tenaga, dan ia juga melihat hal sama tadi saat di rumah sakit.


Deg!


"Paman bertemu Sean?" tanya nya lirih dan ia berharap jawaban yang akan ia dengar adalah 'Tidak'.


"Ya, aku bertemu dengan nya." jawab Richard sembari mulai menarik secarik senyuman seringai pada gadis itu.


Deg!


Jantung nya terasa ingin berhenti, ia memundurkan langkah nya untuk menjauhi pria tampan itu namun Richard selalu maju satu langkah setiap kali ia mundur.


"Kenapa?" tanya nya lirih dengan mata bergetar.


Langkah gadis itu terhenti saat tubuh nya sudah sampai menyentuh meja rias hingga ia tak lagi bisa memundurkan langkah nya.


"Kenapa? Karna dia sangat membuat ku kesal," jawab pria itu dengan suara pelan.


Ainsley terdiam, iris bergetar dan mata nya mulai berkaca.


Plak!


Tanpa sadar tangan nya menampar pipi pria itu, mengambil semua yang berada di meja rias dan memukuli pria tampan itu dengan apa yang diraih tangan kecil nya.


"Jahat! Dasar iblis!" teriak gadis itu marah saat tau siapa yang membuat mantan kekasih nya berada dalam kondisi kritis.


Tangan nya memukuli dada bidang pria itu dengan sekuat tenaga, bahkan terkadang juga menampar nya dengan kuat.

__ADS_1


Richard masih diam membiarkan gadis itu marah pada dirinya hingga mulai tenang dan hanya menyisikan tangisan lirih yang terdengar.


"Aku bisa tahan kalau kau bersikap semau mu pada ku, tapi aku tidak tahan kalau terus dengan orang itu." ucap nya dengan berbisik dan nada penuh penekanan.


"Lagi pula kit-"


"Kau masih milik ku sampai anak ku lahir! Kau tak paham?!" bentak pria itu tiba-tiba sembari mencengkram bahu gadis itu.


Ainsley terkejut, ia membatu beberapa saat menatap pria di depan nya.


"Apa aku harus menikam nya lagi?" tanya pria itu dengan tatapan tajam dan membunuh nya


"Ja- Auch!" ringis Ainsley saat perut nya tiba-tiba terasa nyeri dan bergejolak.


Richard yang awalnya merasa kesal dan cemburu mulai berangsur surut saat melihat gadis itu kesakitan karna kandungan nya.


"Kau baik-baik saja?!" tanya nya yang kini mulai berganti dengan khawatir.


Ainsley meraih tangan pria yang tengah memegang tubuh nya.


"Jangan, tidak boleh! Ku mohon..." ucap Ainsley lirih sembari meringis.


Richard diam, ia tak mau mengiyakan permintaan itu, karna ia juga begitu membenci mantan kekasih gadis itu.


Dan alasan utama nya adalah karna gadis itu masih mencintai mantan kekasih nya.


"Ku mohon...


Demi aku, dan demi anak mu juga..." ucap gadis itu lirih sembari menjatuhkan bulir bening nya antara sakit hingga takut dan terkejut yang membuat nya menangis.


Gadis itu tanpa sadar mengarahkan tangan Richard ke perut bulat nya hingga pria itu dapat merasakan pergerakan kecil yang di lakukan calon anak nya.


Entah apa yang terjadi di dalam sana sampai membuat calon pangeran kecil itu protes dan membuat ibu nya kesakitan.


Deg!


Hati pria itu selalu tergelitik saat merasakan gerakan yang di stimulasi dari anak nya yang berada dalam kandungan.


"Kau tak akan menemui nya lagi? Kita masih punya hubungan selama anak ini masih ada." ucap nya yang mulai luluh.


Ainsley mengangguk kecil, bukan nya ia yang tak mau bertemu Sean lagi namun ia tak mau melihat pria itu terluka lagi atau mungkin pria itu tak bisa selamat lagi kali ini.


"Baik, aku tak akan lakukan apapun." jawab Richard sembari menggendong gadis itu ke ranjang.


Ainsley diam, pria yang tadi nya membentak dan menatap nya setajam pisau yang baru di asah dan dingin seperti es kini bersikap begitu lembut padanya.


"Sst...


Jangan nakal, Daddy sudah tidak marah lagi..." bisik nya di perut yang membuncit itu sembari mengusap nya lembut.


Ainsley diam, rasa sakit nya berkurang dan saat itu pria itu seakan bisa berubah 180 derajat dalam sekejap bahkan hanya hitungan kedipan saat menyangkut dengan anak nya.


"Kau menyayangi nya?" tanya gadis itu lirih.

__ADS_1


"Tentu, dia kan anak ku dan anak mu karna dia anak kita tentu aku menyayangi nya." jawab pria itu tanpa menoleh ke arah yang bertanya pada nya dan terus mengusap lembut perut besar gadis itu.


__ADS_2