
Ainsley terdiam dan termenung beberapa saat, ia sudah kembali ke apart, entah bagaimana pria itu terbujuk dan akhirnya mengantar nya kembali.
Air dingin yang menyelimuti nya serta bunyi desiran shower yang menimpa tubuh nya tak sedikitpun membuat gadis itu merasakan nya.
Rambut panjang nya basah kuyup, ia merendam tubuh nya dalam bathup dan duduk dengan memeluk lutut kecil nya.
Pikiran nya kosong, ia tak tau cara berfikir jernih saat mengetahui semua dengan tiba-tiba dan kepala kecil nya harus menerima semua nya secara spontan.
Tangan kecil nya yang memiliki kuku kilat terawat itu tanpa sadar mulai mencakar pergelangan tangan nya yang lain sebagai bentuk dari pelampiasan rasa terkejut dan shock nya, dan itulah yang menjadi alasan kuat kenapa ia dalam pantauan psikiater penuh.
Karna ia akan dapat melukai diri nya sendiri bahkan membahayakan diri nya tanpa sadari, tak hanya itu ia juga bisa menyakiti orang lain saat ledakan emosi nya meluap dan tak terkendali.
"Aku harus apa? Aku takut..." gumam nya sembari menutup mata nya agar tenang dan menenggelamkan wajah nya ke dalam bathup yang telah penuh berisi oleh air itu.
Ia tak merasa perih sama sekali di pergelangan tangan nya yang sudah terluka akibat cakaran nya sendiri, ia tak akan sadar rasa sakit itu hingga pikiran sehat nya kembali lagi.
Blup...
Nafas nya hampir terhenti, namun ia tak merasakan ia bisa saja mati karna menenggelamkan diri nya tanpa sadar.
Ainsley?! Pegang tangan kakak!
Deg!
Mata nya terbuka dan langsung terbelalak, ia segera bangun dan duduk serta menarik nafas sebanyak mungkin dari hidung nya.
Hah...hah...hah...
Tarikan nafas nya yang masih terdengar memenuhi dan berbaur dengan shower menyala serta suara air berlebih yang tumpah dari bathup nya.
"Si-siapa dia?" gumam nya saat ia mendengar suara lain dan melihat wajah anak lelaki berusia 7 atau 8 tahun yang khawatir padanya lalu menarik tangan nya keluar saat nafas nya akan terhenti.
"Auch!" ringis nya saat ia mulai merasakan perih di pergelangan tangan nya karna luka dari cakaran nya.
Ia melihat dan mengernyitkan dahi nya, karna ia tak sadar ia lah yang menyakiti dirinya sendiri.
Gadis itu menghela nafas berat dan menutup wajah nya dengan kedua tangan kecil nya, namun mata bulat, wajah yang lembut serta tangan hangat yang menarik nya keluar walaupun seluruh tubuh nya mendingin begitu mengganggu nya.
Ia memang tak tau apapun itu, namun hal yang tak pernah bisa ia lakukan adalah berenang, ada perasaan takut, sesak, dan tak nyaman, saat sedang melakukan nya.
Ainsley memejam sesaat dan menyelesaikan mandi nya, ia pun memakai pakaian nya dan beranjak ke lemari es nya guna melihat apa yang bisa mengisi perut kosong nya.
"Tak ada..." gumam nya yang tiba-tiba teringat dengan mantan kekasih nya yang selalu mengisi lemari es nya karna tau ia tak bisa memasak.
Sean...
Ia teringat pria itu, namun ia tak memiliki kepercayaan diri untuk bersama dengan nya lagi, perasaan kotor dan tak pantas selalu menyelimuti nya hingga membuat nya tak nyaman.
Belum lagi saat tubuh dan pikiran nya masih mengingat rasa takut dan trauma karna hukuman yang dulu selalu ia terima dari mantan kekasih membuat nya semakin gelisah dan merasa jika pria itu dapat berubah kapan saja dan membuang nya kapan saja juga.
Ia pun beranjak mengambil dompet nya dan ke minimarket yang tak jauh dari apart nya.
Ainsley pun membuka pintu apart nya hingga langkah nya terhenti, mata nya mengunci sejenak pada iris pria di depan nya yang tadi sempat datang terbesit di kepala kecil nya.
"Sean?" gumam nya lirih menatap pria itu.
"Ini, makanan mu pasti sudah habis kan?" ucap Sean sembari memberikan sekantung makanan yang selalu menjadi kesukaan gadis itu.
"Sejak kapan kau datang? Kenapa tidak masuk?" tanya Ainsley canggung sembari menutup refleks bekas kecupan di leher nya.
"Kau belum mengganti sandi nya?" tanya Sean sembari memperhatikan wajah canggung dan tak nyaman di depan nya
__ADS_1
Ainsley diam dan membuang pandangan nya, ia memang belum mengganti sandi apart yang dulu di buatkan pria itu untuk nya.
"Aku bisa masuk?" ucap Sean lagi dan membuat gadis itu kembali menatap nya.
"Bisa," jawab Ainsley tanpa sadar dan membiarkan pria itu memasuki apart nya.
Sean masih diam, tak mengatakan apa maksud nya, sedangkan Ainsley meletakkan apa yang di bawa pria itu ke atas meja.
"Ayo kembali pacaran," ucap pria itu yang tiba-tiba memecah keheningan.
Ainsley terperanjat dan segera menatap kembali ke arah Sean, ia tak tau bagaimana cara menjawab nya namun sudah tentu akan ada penolakan yang terlontar dari bibir nya.
"Aku tak bisa..." gumam nya lirih.
"Kenapa? Kau benar-benar tidak menyukai lagi? Atau kau sudah tak membutuhkan ku lagi?" tanya Sean mendekat ke gadis itu.
Kali ini ia pun dapat melihat bekas yang tertinggal di leher gadis itu.
Ainsley mengikuti jejak pandangan pria di depan nya dan tau kemana arah yang menjadi perhatian pria itu.
"Sudah tau kan alasan nya? Maaf kemarin mendorong mu..." ucap Ainsley lirih sembari mencoba melepaskan tangan yang sedang memegang lengan nya.
"Dengan dia? Kau sudah melakukan sejauh apa?" tanya pria itu dengan suara parau menatap iris yang tertunduk dan melihat nya.
Ainsley menggeleng, ia juga masih terkejut dengan semua nya dan ia juga sangat berat untuk mengatakan semua kejadian lengkap yang ia alami selain mengklaim jika dirinya sudah kotor.
"Cari wanita yang baik Sean...
Aku tidak bisa lagi..." jawab gadis itu dengan suara tertahan dan terus menunduk.
"Aku tidak bisa! Bagi ku cuma kau! Bukan yang lain!" jawab Sean dengan nada tinggi ketika ledakan emosi nya datang.
"Sean! Kau tak mengerti?! Aku pernah melakukan nya dengan dia saat kita masih berhubungan! Dan hal lain nya..." teriak Ainsley dengan tangis nya lalu melanjutkan dengan parau di kalimat terakhir nya.
"Maksud mu? Ada yang kau sembunyikan dari ku?" tanya Sean sembari menarik lengan Ainsley mendekat ke arah nya menatap wajah sembab itu.
"Tentu saja...
Kalau ku katakan aku tidak akan jadi penting, kau akan membuang ku, karna tidak sesuai dengan yang kau mau, iya kan?" jawab Ainsley dengan pertanyaan lain.
Tertanam benih ragu di kepala nya sejak dulu, dan itu semua karna hukuman yang selalu ia terima.
"Ainsley?" panggil Sean tak mengerti.
"Kau dulu mau dengan ku karna aku masih murni kan? Kau sendiri yang bilang, kau lupa?" tanya Ainsley lirih menatap pria itu.
Sean mengernyitkan dahi nya, ia pun mengingat kapan pernah mengatakan hal itu hingga ingatan nya tertuju pada saat ia menghukum gadis nya.
Kau...
Mau dengan ku karna masih murni?
Tentu saja, itu kelebihan mu. Kalau orang lain mengambil nya sebelum aku. Lalu apa lagi yang akan menarik dari mu...
"Aku tidak bermaksud begitu..." ucap Sean lirih, dulu ia memang sengaja mengatakan demikian agar gadis nya bisa lebih menjaga jarak dengan pria lain dan tidak dijadikan bahan pemangsa karna sifat lugu nya.
"Sean...
Aku bahkan tidak tau apapun tentang mu..." ucap Ainsley lirih, selama tiga tahun menjalin hubungan ia bahkan tak tau masalah apa yang sedang di tangani bahkan masalah 'anak haram' pun ia tau dari Danny sebelum nya.
"Apa yang kau mau tau dari ku?" tanya Sean menatap gadis itu.
__ADS_1
"Semua tentang mu, masalah mu, apapun...
Kau tak pernah mengatakan apapun Sean, kau hanya membuat ku berfikir sendiri." jawab Ainsley lirih.
"Masalah ku? Bagaimana aku bisa memberi tau nya?! Kau memiliki masalah lain, aku tak bisa memberi tau mu, aku tak mau kau terbebani, makanya aku bilang pada mu untuk 'Tunggu'!" jawab Sean dengan ucapan kukuh karna ia memang tak berbohong sama sekali.
"Karna itu kau memanfaatkan ku? Atau karna kau masih perlu hubungan kita makanya kau masih mau pacaran dengan ku lagi?" tanya Ainsley dengan asumsi nya karna pria di depan nya selalu menyimpan semua nya sendiri.
"Apa?" Sean merasa bingung dengan ucapan Ainsley.
"Aku dengar apa yang di bilang ibu mu saat dia ke mansion, kau pacaran dengan ku untuk mencapai posisi presdir kan? Kau juga bilang aku akan lebih membantu kalau aku pewaris B'One university?" tanya gadis itu.
Keluarga nya memang memiliki pengaruh besar pada dunia pendidikan di negara nya, dan bahkan sudah memiliki nama di jenjang internasional nya.
Sean menggeleng, walaupun ia pernah ingin memanfaatkan gadis itu namun ia tak bisa melakukan nya saat perasaan yang ia miliki kini adalah nyata.
"Aku ingin menghancurkan mereka, maka dari itu aku perlu posisi itu, Ainsley...
Ku mohon...
Sekarang hanya kau..." jawab pria itu dengan suara parau dan tertahan.
"Aku bisa membantu mu mendapatkan posisi yang kau mau, tapi kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi..." jawab Ainsley dengan tangis nya, mau bagaimana pun ia masih belum bisa menerima dirinya sendiri.
"Sekarang aku tak mau lagi! Aku hanya mau kau saja! Aku mohon..." ucap pria itu dengan suara putus asa.
"Sean...
Kau tau apa yang ku inginkan? Kebebasan, kebahagian...
Tapi aku terluka Sean...
Aku sakit, aku benar-benar merasa akan gila!" jawab Ainsley lirih, buliran bening di mata nya terus mengalir deras hingga membuat wajah sendu nya semakin terlihat.
"Ainsley, ku mohon satu kali kesempatan lagi, aku akan ubah semua nya! Aku akan membuat mu bebas dan bahagia!" ucap Sean antusias sembari menangkup tangan mungil gadis itu.
"Aku tidak pantas Sean...
Aku tidak bisa, jangan seperti ini..." jawab Ainsley yang berusaha melepaskan tangan pria itu.
"Apa aku juga harus tidur dengan wanita lain? Kalau aku juga melakukan nya kau akan merasa diri mu pantas?" tanya Sean dengan ide gila di kepala nya karna sudah tak tau lagi harus mengatakan apa.
"Dunia tidak berpusat pada ku Sean...
Kau masih bisa cari yang lain..." jawab Ainsley lirih.
Selain ia merasa tak pantas, ia juga tak ingin pria di depan nya mengalami sesuatu yang buruk karna Richard sudah mulai mengincar nya.
"Tapi Dunia ku itu kau...
Kau tak sadar? Kau itu dunia ku, aku haru cari kemana lagi?" jawab Sean sembari menatap lekat iris gadis itu.
Ainsley dapat merasakan keyakinan dan kejujuran di kata-kata yang baru ia dengar namun saat ini memang tak ada lagi jalan bagi nya untuk kembali.
Ainsley...
Ku mohon...
Jangan membuat ku melakukan sesuatu yang kau benci...
Aku tak mau menyakiti mu lagi...
__ADS_1