Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
You're not alone, I'm here for you


__ADS_3

2 Hari kemudian.


"Tuan!" panggil Liam pada tuan segera.


Richard menoleh ke arah bawahan nya sekilas, "Ada apa?" tanya pria itu dan kembali membalik buku yang sedang ia baca.


"Dia melacak lagi, maksud nya user RinX008 meretas lagi, kalau seperti ini terus dia bisa benar-benar menembus sistem keamanan yang kita miliki." jawab Liam pada tuan nya.


"Kau tau kekasih gadis itu kan? Sudah menyelidiki nya? Selain identitas nya." tanya Richard pada bawahan nya.


"Saya mendapat informasi baru kalau dia juga yang memegang kendali penuh atas bagian sistem keamanan Sation grup." jawab pria itu dengan sopan.


Richard pun terdiam sesaat, sistem keamanan nya terus berusaha di retas semenjak ia membawa gadis itu membuat nya yakin jika gadis itu masih memiliki hubungan dengan orang yang berusaha meretas nya.


"Ku pikir tak akan ada yang peduli dengan nya..." gumam pria itu dengan smirk nya karna ia tau bahkan orang tua gadis cantik itu sama sekali tak mencari dan peduli pada putri nya yang menghilang tanpa jejak.


Rasa peka nya pada lingkungan membuat nya mudah membaca situasi dan menilai sesuatu.


"Gadis itu, bawa dia keluar malam ini. Jangan lupa berikan bius supaya dia tak ingat jalan nya." perintah pria yang berhati keji tersebut.


"Baik, tuan." ucap Liam dan keluar.


...


Sinar mentari hangat dengan angin sore yang memberikan tiupan dingin menyelimuti gadis yang tengah berdiri di balkon tersebut.


Wajah dan mata nya kosong tak menunjukkan ekspresi apapun sejak pagi hari yang menghancurkan segala nya.


Berusaha tetap baik-baik saja dan bersikap seperti biasanya malah membuat kehilangan semua ekspresi nya.


Setelah tangis nya yang tak kunjung berhenti, luapan sesak dan kesedihan yang bahkan ia tak mengerti dan membuat pikiran nya menjadi kosong.


Ekspresi dan mata yang menunjukkan perasaan nya kini.


Tidak ada...


Entah itu tertawa, senang, tersenyum, dan menangis dia bingung bagaimana cara menunjukkan emosi dan ekspresi itu lagi dan pada akhirnya tak ada yang bisa ia tunjukkan lagi.


"Kau ingin lompat lagi?" tanya seorang pria pada Ainsley namun tak membuat gadis itu menoleh.


Richard mendatangi gadis itu dengan memakai topeng nya yang berarti kali ini ia tak ingin menjadi "Paman" bagi gadis itu.


"Aku sedang bicara dengan mu!" ucap nya kesal dan menarik tangan Ainsley.


Ainsley menoleh dan menatap pria di depan nya yang tengah memegang tangan nya seakan ingin mematahkan nya.


Namun ia tetap tak bicara dan memberikan ekspresi apapun.


"Kau akan kembali malam ini, jadi aku akan membuat kenangan lebih dulu." ucap Richard dan menarik tangan gadis itu.


Ia pun langsung melempar gadis itu ke ranjang dan memangut bibir lembut bewarna merah muda tersebut. Pria itu ingin kembali merasakan tubuh gadis itu seperti sebelum nya.


Tubuh yang membuat nya kehilangan akal dan kendali nya.


Ainsley diam, ia tak menolak ataupun melawan namun ia juga tak menyambut ataupun menyetujui apa yang di lakukan pria itu. Rasa nya bagian dari dalam dirinya telah mati.


Namun ia bahkan tak bisa mengetahui apa yang sudah semakin hilang dalam diri nya sendiri.


Richard mulai hanyut dalam permainan nya ia melihat sekilas ke arah wajah yang tengah meringis menahan sakit di bawah kungkungan nya karna ia memaksa tubuh kecil itu untuk menerima 'kehadiran' nya tanpa persiapan yang cukup.


Setelah beberapa kali mencapai pelepasan nya pria itu pun berguling ke samping tubuh gadis itu dan menatap nya sekilas dengan nafas yang masih diatur.


"Kau menangis?" tanya Richard saat melihat air mata gadis itu yang meleleh.


Ainsley tak mengerti namun air mata nya terus jatuh tanpa bisa ia hentikan, ia juga tak lagi bisa memberikan ataupun menunjukkan ekspresi sedih seperti sebelum nya namun bukan berarti sifat alami dari tangis nya hilang.


Pria itu tersenyum simpul melihat bulir bening yang meleleh dari mata gadis itu. Ia pun bangun dan memakai pakaian nya seperti sedia kala dan keluar meninggalkan gadis itu sendirian di atas ranjang yang empuk tersebut.


...


Setelah makan malam yang bahkan makanan itu seperti sama sekali tak dimakan dan hanya meminum beberapa teguk susu yang di berikan pada nya.


Obat tidur yang tercampur di setiap makanan dan minuman gadis itu membuat nya mulai tidur dan pria itu pun segera memulangkan nya kembali.


......................


Mansion Sean.

__ADS_1


Pria itu sudah mencari dengan sekuat tenaga bahkan tak bisa memikirkan dirinya sendiri semua pikiran nya di penuhi dengan asumsi negatif pada gadis nya.


"Dia dimana?! Ainsley...


Ku mohon..." gumam nya sembari memegang kepala nya yang terasa sakit karna hampir tak tidur dalam satu minggu.


Cepatlah kembali...


Aku tak bisa hidup jika kau tak ada...


Suara monitor laptop berbunyi membuat pria langsung mengandarkan pandangan nya, ia melihat gps kekasih nya yang kembali berbunyi dan menunjukkan lokasi di mana gadis itu berada.


"Dia?" ucap nya sembari melihat salah satu alat pelacak yang ia berikan di jam tangan gadis itu hidup kembali.


Sebelum nya saat berada di mansion Richard semua alat penyadap ataupun pelacak dari luar secara otomatis mati karna sistem keamanan di tempat tersebut, dan akan aktif kembali setelah 2 km menjauh dari mansion pria tersebut.


Sean pun melihat rute yang berjalan menandakan jika gadis nya sedang berada dalam perjalanan.


Ia pun segera bersiap dan menyusul Ainsley dengan membawa beberapa orang kepercayaan nya, karna pergi menjemput sendiri tanpa persiapan apapun adalah hal yang bagi nya ceroboh.


...


Ckitt...


Suara decitan rem mobil yang melengking saat ban tersebut terpaksa di hentikan hingga membuat jejak di aspal hitam tersebut.


Hanya tiga orang?


Batin Sean ketika keluar dari mobil nya dan melihat mobil yang membawa kekasih nya dan ada 3 pria di dalam mobil tersebut.


DOR!!


Tangan nya tanpa getaran ataupun aba-aba langsung menembak tepat di kepala pria yang berada di bangku pengemudi.


Kedua pria yang sebelum nya tak melakukan persiapan apapun terkejut saat kepala rekan nya bolong terkena peluru dan darah yang menyiprat ke kaca mobil.


Mereka pun langsung keluar dan mengeluarkan pistol nya masing, lalu membalas serangan tiba-tiba dari pria yang menatap tajam di depan nya.


DOR! DOR! DOR!


Belum lama mereka turun kaki dan tangan kedua pria itu sudah tertembak dari belakang saat sekertaris Jhon membawa beberapa orang lagi sesuai perintah atasan nya.


Kedua bawahan Richard itu tak menyangka jika mereka akan di serang tiba-tiba seperti ini bahkan tanpa persiapan sama sekali.


Peluru yang menembus tangan dan kaki mereka membuat pertahanan yang runtuh namun tetap membuat kedua pria itu mengambil plan B seperti yang di minta oleh tuan mereka yang sudah memperkirakan jika ada kemungkinan seperti ini.


"Kalau kau mau memesan nya, tak perlu seperti ini, dia salah satu yang terbaik. Kami juga sudah menguji nya." jawab salah satu pria sembari meringis ketika bekas tembakan di kaki nya di pijak.


Deg...


Sean tersentak mendengar ucapan pria tersebut.


Ini tidak seperti yang ku pikir, kan?


Richard membuat skema jika hal yang tak di inginkan terjadi saat gadis itu kembali dan tak mengungkap lebih banyak identitas nya.


Dan hal yang tak di inginkan itu terjadi saat ini, rencana yang ia persiapkan adalah membuat gadis itu seakan terlibat dalam prostitusi dan melindungi identitas nya yang sebenarnya.


DOR!!


Satu tembakan melayang di kepala pria yang menjawab pertanyaan Sean, "Urus mereka." ucap pria itu pada sekertaris nya dan memeriksa ke dalam mobil.


Deg...


Nafas nya hampir terasa terhenti, tangan nya berusaha menggapai tubuh gadis nya yang masih tak sadarkan diri.


Ia menangkup tubuh kecil nya dan melihat beberapa tanda kemerahan dan jejak lain nya di tubuh kekasih nya.


Ia pun langsung menggendong gadis itu dan membawa ke mobil nya, "Apa yang kalian dengar hari ini jangan sampai ada siapapun yang tau!" ucap pria itu dengan tajam pada seluruh bawahan yang pergi bersama nya.


"Tuan, apa perlu saya memanggil dokter?" tanya sekertaris Jhon pada atasan nya.


"Perlu, dokter wanita." ucap Sean dan berlalu ke mobil nya.


...


Mansion Sean.

__ADS_1


Setelah membawa gadis nya kembali dan melakukan pemeriksaan, pria itu menatap ke arah gadis yang terlihat seperti putri tidur yang sangat cantik bak boneka yang tampak tak nyata.


"Dia hanya di beri obat tidur, tak ada luka yang membahayakan sama sekali pada tubuh nona Ainsley." ucap dr. Jade pada pria di depan nya.


"Apa sudah priksa semua nya? Dia benar-benar?" tanya Sean gelisah.


"Tubuh nya sudah di bersihkan lebih dulu jadi tak ada bekas cairan yang tersisa, tapi jika melihat dari bekas ciuman itu adalah kemungkinan yang bisa terjadi." ucap wanita paruh baya tersebut dengan perasaan sedih.


"Berikan dia suntikan KB dan jangan ada yang tau hal ini, kau cukup pintar kan untuk tau konsekuensi nya?" ucap Sean dengan ancaman nya agar tak ada yang tau tentang kondisi gadis nya.


"Baik, tuan." ucap dr. Jade pada pria di depan nya.


Setelah melaksanakan apa yang di minta pria itu dr. Jade pun keluar dan kini Sean hanya menatap ke arah gadis itu.


Marah, kesal dan perasaan yang tak bisa ia katakan terus meluap di hati nya hingga...


"Be..berhenti...


Ja...ja..ngan..." gumam gadis itu lirih dalam tidur nya, air mata nya luruh walaupun ia tengah tertidur pulas.


Deg...


Pria itu tersentak lagi melihat gadis yang menangis dalam tidur nya membuat amarah nya turun.


"Ainsley?" panggil Sean lirih pada gadis itu.


"Se..sean...


Ma...aff..." gumam nya lagi pada dalam tidur nya, air mata nya luruh dengan tubuh yang gemetar.


Dada pria itu berdenyut, entah kenapa rasa kesal dan marah yang ia rasakan bukan untuk gadis nya tapi untuk dirinya sendiri.


Apa dia benar-benar terlibat hal seperti itu?


Perang batin dan tekanan yang di rasakan pria itu membuat nya semakin sesak, jika kekasih nya benar-benar di jual dan di jadikan pel*cur selama beberapa hari ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat gadis itu bangun nantinya.


Ia perlahan mendekat ke ranjang menatap lekat wajah gadis itu. Tangan nya mengusap perlahan kepala gadis nya dengan lembut dan memeluk gadis itu dalam dekapan nya.


"Sstt...


Tidak apa-apa...


Sekarang sudah baik-baik saja..." bisik nya sembari menepuk punggung gadis itu dengan lembut di dalam pelukan nya.


Gadis itu terus menangis dalam tidur nya, ia memang seperti itu sejak Richard juga meniduri dan Richard pun tau jika gadis itu terus menerus bermimpi buruk namun ia tak membangunkan nya dan menikmati wajah tangis gadis itu dalam tidur nya.


"Don't cry babe...


It's okey...


You're not alone, I'm here for you..." bisik pria itu lagi dengan lembut sembari semakin memeluk dan terus menepuk ataupun mengusap punggung gadis nya agar tenang.


Maaf...


Aku tak bisa melindungi mu...


Maaf...


Karna aku terlambat menemukan mu...


Kenapa kau bisa terlibat situasi yang seperti ini? Siapa mereka?! Siapa yang membuat mu seperti ini?!


Aku akan menemukan mereka dan membalas nya...


Bertahanlah...


Saat semua nya sudah selesai aku akan membawa mu, kita akan pergi dan meninggalkan mereka semua...


......................



Ainsley Setya Belen



Sean Justin Xavier

__ADS_1



Richard Zinchanko


__ADS_2