Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
First kiss


__ADS_3

Sesekali remaja pria itu menatap nya dan menoleh sembari memakan makanan nya. Jika tatapan nya saling bertemu maka ia akan langsung menunduk ke arah makanan nya.


"Ada apa? Dari tadi lihatin paman terus?" tanya Sean yang menyadari remaja di depan nya terus melirik ke arah nya dan tak berhenti sama sekali.


"Gak ada tuh," jawab Axel ketus dengan kikuk.


"Mau tambah makanan nya?" tanya pria itu mengernyit dan mengangkat satu tangan kanan nya, setelah itu seorang pelayan pun datang ke meja mereka.


"Kau mau pesan apa?" tanya Sean pada Axel yang terkejut melihat pelayan yang datang.


"A-aku gak mau pesan tuh!" ucap Axel terkejut ketika pria di depan nya benar-benar memanggil pelayan.


"Bawakan makanan yang sama saja," ucap Sean pada pelayan tersebut.


Setelah pelayan tersebut pergi, Axel pun langsung melihat ke arah pria di depan nya lagi. "Paman ngapain pesan lagi? Aku udah kenyang kok!" ucap nya protes pada pria itu.


"Yah biar kamu makin cepat besar," jawab Sean enteng dengan tawa kecil nya.


"Paman!" sentak Axel dengan kesal pada pria itu sembari memasang wajah cemberut nya.


Sean hanya tertawa kecil mendengar remaja yang baru pubertas di depan nya sedang marah.


"Jadi kenapa? Hm?" tanya nya sembari menatap remaja yang baru mulai ingin tumbuh dewasa itu.


"Ma...af..." Axel bergumam lirih karna ia begitu kaku dan gengsi untuk mengatakan nya.


"Apa?" tanya Sean mengulang, jangankan mendengar melihat gerak bibir remaja pria itu saja ia tak bisa.


"Ma-maaf..." jawab Axel lagi dengan lirih namun suara nya masih belum mampu sampai ke telinga pria di depan nya.


"Kau bicara apa? Kenapa terus bergumam?" tanya Sean bingung pada remaja itu karna suara kecil itu tak akan mampu sampai ke telinga nya.


"Maaf! Aku bilang maaf!" ucap Axel meninggikan suara nya karna pria itu terus tak mendengar nya.


Sean tersentak karna terkejut remaja di depan nya meminta maaf dengan suara lantang hingga membuat beberapa pelanggan melihat ke arah mereka.


Tak hanya Sean, Axel sendiri juga sama terkejut nya karna suara nya begitu tinggi saat ia begitu gugup untuk meminta maaf pada pria itu.


"I-inti nya aku minta maaf..." sambung nya dengan lirih lagi.


Sean mengernyit, ia tak mengerti kenapa remaja di depan nya bisa meminta maaf untuk kesalahan yang tak ia ingat.


"Kenapa minta maaf? Memang nya kamu buat salah apa?" tanya Sean dengan bingung.


"Ada," jawab Axel dengan ketus.


Sean menyipit melihat remaja itu, "Jangan bilang kamu pernah curi uang paman yah?" tanya pria itu menyelidik sekaligus menggoda remaja pria di depan nya.


Uhuk!


Axel tersentak, kali ia yang terkejut sampai ingin tersedak.


"Ka-kapan?! Uang aku banyak kok!" ucap nya langsung dengan wajah kesal sekaligus cemberut.


Bukan nya menjawab pria di depan nya malah tertawa melihat ekspresi yang bingung sekaligus menyangkal nya.


"Malah ketawa," Axel yang dengan wajah ketus melihat ke arah pria di depan nya.


"Dasar, anak puber!" ledek pria itu yang memang sulit menghadapi emosi yang meledak dan naik turun itu secara bersamaan.


Wajah Axel memerah karna malu atas ledekan pria di depan nya, "Aku udah dewasa kok! Paman itu yang masih puber!" sahut nya tak mau kalah.


"Loh aku? Aku kan sudah lewat masa puber puluhan tahun yang lalu," jawab Sean tertawa mendengar nya.


"Biarin!" ucap Axel sembari makan dengan memasukan semakin banyak makanan yang ada di depan nya.


......................


Sementara itu, wanita yang duduk sembari menyilangkan kaki nya dan menatap pria di depan nya yang menjalankan cabang dari perusahaan yang ia bangun.


"Pelecehan pada karyawan wanita, memotong gaji tanpa alasan lalu menggelapkan dana." ucap nya membaca serentet apa saja keluhan para pekerja di perusahaan cabang itu.


"Karna di sini jauh dari perusahaan utama anda pikir bisa berbuat semau nya?" tanya nya lagi.


"Bu-bukan! Ini hanya kesalahpahaman!" ucap pria yang sudah cukup memliki banyak rambut berwarna putih di kepala nya itu.


Ia ingin mendekat namun pria yang berada di samping wanita itu langsung menghalau nya.


"Bicara dari sana," ucap Liam sembari tak membiarkan pria itu mendekat ke wanita yang tengah duduk dengan membacakan keluhan pekerja di sana.


"Kau akan di pecat secara tidak hormat dan mendapatkan sanksi serta denda yang berlaku apa lagi kau tidak datang di penentuan sidang hukuman mu," ucap Ainsley pada pria itu.


Setelah mendapatkan keluhan dan di proses, direktur perusahaan cabang itu pun di panggil untuk pengadilan eksekutif perusaahan sebelum pihak berwajib datang.


Namun sayang pria yang sudah membuat banyak ulah itu malah menghindar dari hari tersebut membuat dan membuat nya turun tangan.


Duk!


"Sa-saya mohon nyonya! Beri saya satu kesempatan lagi!" ucap nya sembari bersimpuh pada wanita itu.


Ainsley memandang dingin orang seperti itu, jika tidak ingin meminta maaf maka jangan lakukan hal yang bagi nya sangat menjijikkan itu.


"Suruh mereka masuk," ucap Ainsley sembari mengatakan agar para pihak berwajib yang sudah berada di balik pintu untuk segera datang masuk.


"Katakan saja pembelaan mu di pengadilan," ucap Ainsley sembari membuang napas nya dengan panjang.


Pria itu pun menatap dengan penuh kebencian pada Presdir di depan nya ketika tubuh nya mulai di seret oleh pihak berwajib.

__ADS_1


Dasar wanita j*lang!


Batin nya dengan penuh kebencian dan perasaan amarah yang merasa tak adil dengan apa yang ia terima padahal ia memang sudah melakukan perbuatan yang kelewat batas.


......................


Apart Venelue'ca.


Sejak wanita itu baru sampai ke apart mereka putra nya terus seperti anak kucing yang menempel pada induk nya dan tak mau lepas.


"Kenapa? Hari ini manja terus?" tanya wanita itu tertawa kecil pada putra nya.


"Kalau Axel sama Mommy terus kan Mommy gak akan kesepian!" jawab nya dengan penuh percaya diri.


Ainsley hanya tertawa kecil melihat putra nya yang bagi nya sangat menggemaskan itu berbicara.


"Yakin? Biasa nya kalau gini kan lagi ada mau nya," ucap Ainsley tertawa.


Tubuh yang sudah lebih tinggi dan bidang di bandingkan ibu nya itu memeluk dan menggelengkan kepala nya.


"Mau apa? Ganti mobil? Jam tangan? Atau kamu mau black card?" tanya wanita itu pada putra nya.


Richard dulu memang memberikan Balck card pada putra nya yang masih kecil saat ia masih hidup, namun sepeninggalnya Ainsley mengambil nya dan mengganti dengan uang saku yang terbatas walaupun masih di berikan angka yang begitu besar.


Wanita itu masih ingin tetap membatasi putra agar tak kelewat batas dalam mengeluarkan uang.


"Bukan kok!" jawab Axel langsung pada sang ibu.


"Terus? Kamu mau nya apa? Hm?" tanya nya lagi dengan lembut.


"Mau cake buatan Mommy?" jawab remaja itu dengan tanda tanya.


"Cake? Mau Mommy buatin sekarang?" tanya wanita itu sembari memeluk putra nya.


"Mommy kan baru pulang," ucap Axel sembari melepaskan pelukan nya.


"Kalau anak Mommy mau bisa aja Mommy buatin," Ainsley yang tersenyum mendengar nya dan mencubit pipi putra nya.


"Besok aja deh, ini Mommy istirahat aja." ucap nya pada sang ibu.


"Yauda Mommy tidur yah," ucap wanita itu pada putra nya.


Axel pun dengan wajah mengerucutnya melihat sang ibu, "Yah..."


"Mau cake?" tanya Ainsley lagi.


"Engga deh, Mommy tidur aja besok date sama aku!" ucap nya dengan semangat pada sang ibu.


"Kata nya lagi gak mau apa-apa," ucap Ainsley dengan tertawa kecil.


Ia tau jika pergi dengan putra nya pasti remaja pria itu akan membeli banyak barang-barang besar.


"Yauda Mommy jemput waktu pulang les yah? Jangan sering bolos," ucap nya sebelum memasuki kamar nya.


"Okey Mom!" jawab remaja tampan itu dengan semangat.


......................


Internasional High School


Aroma bunga yang masih basah karna guyuran air hujan sejenak tadi, gadis yang duduk sembari memainkan jemari nya karna gugup dengan pria di sebelah nya.


"Ada apa kak?" tanya Emily sembari melihat pria di samping nya.


Jantung nya berdebar karna ia memang sedikit menyukai kakak kelas nya yang aktif di bidang olahraga basket itu.


"Kalian masih pacaran?" tanya Charlie pada gadis itu.


"Pacaran? Aku?" Emily yang bingung pun bertanya kembali.


"Tentu saja, memang nya siapa lagi yang aku maksud?" tanya Charlie lagi.


"Aku pacaran sama siapa?" Emily yang bingung pun hanya bertanya-tanya pada pria itu sembari mengernyit kan dahi nya.


"Axel? Bukan nya kalian pacaran?" tanya Charlie yang bingung mendengar nya.


Karna tempo hari jelas ia dan teman gadis itu bertemu di kantin dan melihat bekas gigitan di leher remaja pria itu dan mulai salah paham akan sesuatu.


"Tidak! Kami cuma teman kok!" ucap Emily segera.


Charlie diam sejenak sembari menatap wajah gadis itu yang terlihat tak berbohong sama sekali.


Setelah mencerna situasi nya ia pun tersenyum lega, "Jadi sekarang kau bukan pacar siapa pun kan?" tanya nya lagi.


"Bukan lah!" jawab Emily dengan segera.


Sementara itu.


Remaja itu sibuk berkeliling sekolah mencari keberadaan teman perempuan nya hingga membuat teman nya yang lain merasa lelah.


"Udah lah, Lily juga udah besar kok! Gak usah di cariin terus..." ucap Mack pada Axel sembari mencari tempat duduk.


"Tapi dia biasa nya kan makan siang sama kita, ini dari jam istirahat dia gak balik-balik telpon juga gak di angkat." jawab Axel sekali lagi.


"Yauda, sana. Cari sendiri Lily mu itu. Aku mau ke kelas," ucap Mack pada teman nya.


"Ck!" Axel berdecak kesal mendengar nya.

__ADS_1


Ia tak lagi mencegah Mack dan mencari sendiri teman perempuan nya itu.


Ke perpustakaan, kantin, seluruh ruangan ekstrakulikuler, lapangan dan ruangan olahraga, atap dan juga beberapa taman sekolah.


"Di mana sih dia?" ucap nya sembari menelpon gadis itu lagi.


Kali ini ia pun mencari ke taman belakang sekolah, mata nya membulat seketika melihat teman nya hampir berciuman dengan pria lain dari salah satu kakak kelas yang aktif di bidang basket itu, dengan cepat ia datang dan.


Tup!


"Eits!" ucap nya yang datang tiba-tiba sembari langsung memblokir bibir pria itu dengan tangan nya.


Carlie langsung membuka mata nya dengan lebar begitu ia merasakan telapak tangan yang mendarat di bibir nya dan bukan bibir lembut gadis itu.


Emily pun juga sama, ia membelalak seketika saat mendengar suara teman nya, "Axel!" dengus nya kesal.


Axel pun melepaskan tangan nya dari bibir kakak kelas nya lalu menarik tangan teman nya.


"Lily kan masih kecil! Gak boleh cium-cium!" ucap Axel segera.


Duk!


Gadis itu langsung memukul kuat punggung teman nya, "Apaan sih?! Aku kan udah besar!" protes Emily dengan raut kesal.


"Ma-masih kecil!" sanggah Axel segera. Ia tak tau kenapa namun ia begitu tak menyukai jika gadis itu akan berciuman dengan pria lain.


"Jangan ikut campur," ucap Charlie membuka suara.


"Kenapa tidak boleh?!" tanya Axel sembari terus menarik tangan gadis itu dan menyembunyikan tubuh kecil itu di balik tubuh nya.


"Memang nya kau siapa nya?" tanya Charlie pada pria itu.


Axel mengernyit, raut wajah nya berubah dan menatap pria itu dengan tajam.


Ia mendekat dan menatap ke arah kakak kelas nya, "Urus saja gadis cheerleading mu itu." ucap nya dengan nada berbisik hingga membuat gadis di belakang nya tak dapat mendengar nya.


Mata Charlie langsung membulat, beberapa waktu lalu mantan kekasih nya dari tim pemandu sorak itu memang hamil namun mereka sudah mengugurkan nya sebelum mengakhiri hubungan mereka.


"Apa maksud mu?!" tanya Charlie yang harus bersikap seperti tak tau apapun karna mungkin remaja itu tengah menggertak nya.


"Kau tau kan? Pokok nya Lily itu masih kecil!" ucap nya sekali lagi dan membawa gadis itu bersama nya.


...


Emily menepis kasar tangan teman nya, ia juga masih gadis remaja yang penuh dengan debaran dan ingin merasakan hal baru namun teman nya senang sekali menggagalkan apa yang ingin ia coba.


"Kenapa sih tadi datang? Memang nya gak bisa lihat situasi!" ucap nya dengan kesal.


Axel melihat gadis itu protes pada nya dan menatap tatapan yang marah dan kesal ke arah nya.


"Kalau aku telat datang kalian pasti udah ciuman kan?!" tanya Axel dengan kesal.


"Memang nya kenapa?!" tanya Emily dengan kesal.


"Gak boleh!" ucap Axel dengan kesal.


"Aku kan juga mau tau rasa nya!" dengus Emily dengan kesal.


"Rasa apa?" tanya Axel mengernyit.


"Aku kan juga penasaran gimana rasa nya dapat ciuman pertama! Aku kan juga mau tau rasa nya ciuman!" ucap nya dengan kesal.


Axel hanya melihat gadis itu yang meluapkan kekesalan nya dan terus menerus memarahi nya.


"Danna, Joa, Samantha! Mereka semua udah pernah! Cuma aku yang belum!" ucap Emily lagi dengan kesal.


"Axel nyebelin! Bikin kesel!" ucap gadis itu yang terus memprotes dengan kesal karna tema nya menggagalkan ciuman pertama nya dengan pria yang ia gemari.


Tak ada jawaban apapun namun pria itu malam mendekat dan menarik tangan serta menahan pinggang ramping gadis itu lalu memegang tengkuk nya.


Humph!


Mata Emily membulat sempurna saat teman nya tiba-tiba melakukan hal yang membuat nya terkejut setengah mati.


Secara refleks ia pun mendorong tubuh teman nya namun tak bisa karna remaja pria itu juga menahan tubuh kecil gadis itu.


Remaja yang juga baru pertama kali melakukan hal baru itu mengambil ciuman pertama teman nya sekaligus juga memberikan ciuman pertama nya.


Ia tak tau bagaimana cara nya berciuman selain hanya mengesap bibir lembut gadis itu sampai Emily membiarkan nya dan tak lagi mendorong nya.


Gadis itu diam dan hanya merasakan esapan lembut di bibir nya hingga membuat nya memejam sejenak.


Axel melepaskan nya secara perlahan setelah ia rasa cukup untuk ciuman pertama mereka, mata yang masing-masing terbuka secara perlahan itu menatap iris di depan nya.


"Lakukan dengan ku, apa pun yang kau mau bilang saja aku bisa lakukan untuk mu," ucap nya lirih setelah melepaskan ciuman nya.


Emily diam sejenak sebelum rona di wajah naik ia pun segera berbalik membelakangi teman nya itu tanpa mengatakan apapun.


Blush!


Rona merah juga naik di wajah remaja pria itu seperti akan segera meledak sebentar lagi.


"Pa-panas yah," ucap Emily dengan terbata pada teman nya sembari mengibaskan tangan kecil nya ke wajah.


"I-iya," jawab Axel dengan canggung dan tak menatap mata gadis itu.


"Kita mau ke kelas sekarang?" tanya Axel pada gadis itu.

__ADS_1


"I-iya kita ke kelas sekarang aja," jawab Emily tak kalah canggung pada teman pria nya itu.


__ADS_2