Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Doll?


__ADS_3

"Gak mau! Aku gak mau jadi perempuan!" teriak anak lelaki itu nyaring pada ibu nya.


Plak!


"Menyusahkan!" satu kata yang di ucapkan dengan tajam dan tatapan tak suka pada putra nya.


Anak lelaki itu tak menundukkan pandangan nya, ia benci pada ibunya yang membuat nya terus menerus memakai pakaian anak perempuan yang tak sesuai dengan identitas nya.


"Kalau begitu pakai saja yang ada dan bantu antar minuman nanti," ucap wanita itu dengan dingin.


Ia bahkan tak tau siapa ayah dari putra nya karna pekerjaan nya sebagai wanita penghibur dan bahkan saat ia mencoba mengugurkan kandungan nya anak itu tetap bertahan hingga lahir.


"Menjijikkan!" decak nya saat melihat pemandangan yang tak asing lagi.


Para wanita yang hanya berusaha mendapatkan simpatik dan bersikap menjijikan demi merayu para "Pelanggan" yang datang ke tempat itu.


Apa mereka memang seperti ini?


Batin nya saat ia hanya melihat para wanita yang bersikap tak pantas karna tumbuh di wilayah yang juga tak seharusnya bukan untuk nya.


Mencari perhatian dan menjadi mainan lalu di berikan uang, itulah yang selalu ia lihat dari ibu nya dan wanita di tempat hiburan tersebut.


"Anak sial! Ganti baju mu! Aku menemukan ayah mu!" ucap wanita tersebut tersenyum licik pada putra nya.


Anak itu hanya berwajah datar, bagi nya wanita di depan nya tak lain hanyalah penyihir jahat yang hadir untuk mengusik nya.


...


Ruangan privat dengan seorang pria yang memandang tajam ke arah nya dan pria yang sebelum nya sempat mengambil darah nya terlihat di samping pria itu.


"Dua juta dolar!" ucap wanita tersebut tanpa malu pada pria di depan nya "Aku sudah membesarkan anak mu, dan itu biaya nya." sambung nya lagi.


"Kau tak pernah membesarkan ku, sekarang mau menjual ku?" tanya anak tersebut pada ibu nya.


"Hahaha!!! Baik, akan ku berikan dan tanda tangani ini." ucap pria tersebut setelah melihat anak yang mirip dengan nya.


Setelah menandatangani semua dokumen nya dan melakukan penyerahan uang, wanita yang berparas cantik itu pun memberikan putra nya dan keluar dengan senang.


"Kenapa membeli ku? Dia tak pernah membesarkan ku jadi kenapa membayar nya sebanyak itu?" tanya anak tersebut dengan datar.


"Sekarang dengarkan, aku adalah ayah biologis mu, jadi kau harus mengikuti apa yang aku katakan atau aku akan mencari 'anak ku' yang lain." ucap nya memberikan peringatan pada bocah lelaki di depan nya.


"Kalau begitu cari saja, aku juga tidak butuh orang tua," ucap anak tersebut dengan datar.

__ADS_1


Pria itu tak marah namun tersenyum ia seperti mendapat senjata pembunuh nya yang bisa mewarisi pekerjaan kotor nya.


"Kalau begitu kau mau mati? Kalau kau tak berguna aku akan langsung membunuh mu," ucap nya tanpa ragu pada putra biologis nya.


"Tidak, aku mau hidup lalu membuat wanita itu menderita." jawab nya tanpa ragu dengan keberanian teguh.


"Wanita itu? Ibu mu?" ucap pria itu tertawa melihat putra nya bahkan tak memanggil ibu pada wanita yang sudah melahirkan nya.


"Iya," jawab anak itu singkat.


Sejak kecil ia tak pernah terurus dan di perlakukan lebih buruk dari sampah saat ia mulai beranjak tumbuh ia di jadikan 'anak perempuan' dan sebagai bahan taruhan berjudi ibu nya.


Penyiksaan, pelecehan oleh para predator anak sudah ia lalui hingga membuat amarah dan dendam nya menumpuk di usia muda.


"Siapa nama mu?" tanya pria itu pada anak di depan nya.


"Tidak punya, mereka memanggil ku 'Hey' 'Bocah' dan 'Anak sial' " jawab nya dengan datar.


"Umur?" tanya pria itu lagi.


"10 tahun, aku lihat dari data kelahiran ku." ucap nya setelah berfikir.


"Kau bersekolah?" tanya pria itu lagi.


"Tidak," jawab nya singkat.


Setelah itu ia pun membawa putra nya keluar dari tempat pelac*ran tersebut.


"Apa mereka memang seperti itu?" tanya anak lelaki itu melihat sekilas pada para wanita yang memakai pakaian terbuka di tempat ia tumbuh.


"Apa? Siapa?" tanya pria itu.


"Semua wanita itu, kenapa mereka jahat pada ku?" tanya nya lagi pada pria yang menjadi ayah nya mulai hari ini.


"Entahlah, tapi jadikan mereka mainan mu saja. Mereka di buat untuk jadi mainan orang seperti kita." jawab pria itu enteng.


"Mainan? Wanita itu mainan? Makanya mereka bersikap seperti itu?" gumam nya mencerna kalimat salah tersebut dan mulai menyamaratakan jika semua wanita adalah 'Mainan'.


......................


Mansion Zinchanko.


"Dia masuk rumah sakit? Baru keluar dari sini sudah ke rumah sakit?" tanya Richard mengernyit pada Liam.

__ADS_1


"Benar tuan," jawab pria itu dengan sopan.


"Keluarlah." ucap nya singkat dan mengandah menyandarkan kepala nya.


Liam pun memberikan hormat dan keluar dari ruangan kerja pria itu.


"Rumah sakit..." gumam Richard sembari menutup mata nya perlahan.


Paman! Bunga nya cantik kan? Aku baru lihat disini ternyata ada bunga seperti ini.


Deg...


Mata nya terbuka lagi, saat ia tiba-tiba teringat senyuman cerah gadis itu, "Bodoh, dia memetik bunga beracun." ucap nya yang tersenyum tanpa sadar saat ingat tentang gadis yang selalu memanggil nya paman.


"Alasan kecelakaan...


Apa aku harus melihat nya? Dia sudah mati belum?" gumam nya lagi yang ingin tau kabar dari salah satu 'Mainan' nya.


......................


Rumah Sakit.


Kaki nya melangkah menuju ruangan yang sebelum nya merupakan ruangan gadis yang ia cari.


Tak ada satupun yang menjaga gadis itu ketika kekasih nya pergi ke perusahaan karna urusan mendesak sedangkan orang tua nya sama sekali tak peduli dengan hidup mati putri nya.


Deg...


Ia tersentak begitu membuka pintu tersebut, salah satu bagian dari dada nya terasa sakit namun ia tak mengerti kenapa bisa seperti itu.


Senyuman manis itu tak terlihat dan hanya wajah pucat yang tengah tak sadar itu yang terlihat oleh nya.


"Pucat sekali, kalau tau begini aku tak memulangkan mu..." gumam nya tanpa sadar mengelus wajah cantik tersebut.


Sebelum nya saat mendengar kabar jika gadis itu sakit dan mendapat perawatan Richard tak memikirkan jika ia akan merasakan hal lain.


Namun saat melihat nya secara langsung mulai terbesit sesuatu yang lain di hati nya.


Paman!


Suara ceria yang begitu jernih dan bersih yang selalu ia dengar dan tatapan penuh ketulusan dari gadis itu.


"Kenapa rasa nya tidak nyaman?" ucap nya lirih sembari menyentuh wajah Ainsley.

__ADS_1


Perasaan gelisah dan takut jika pandangan mata dan suara cerah itu tak lagi terdengar oleh nya.


"Padahal kau, kan cuma 'Mainan' kenapa aku merasa seperti ini?" ucap nya lagi sembari memandang wajah gadis pucat gadis yang tengah tak sadar tersebut.


__ADS_2