
Pandangan mata nya mulai mengabur, ia tak bisa melihat jelas namun ia merasa tubuh nya hampir ambruk.
Richard pun segera menggendong nya dan berlalu pergi meninggalkan Sean yang masih terpaku menatap ke arah gadis yang tengah ketakutan itu.
Setelah melihat Richard pergi membawa gadis nya ia kembali melihat ke arah Danny yang masih tak sadar dengan berlumuran darah.
"Aku sangat ingin membunuh mu, tapi aku masih membutuhkan mu, tapi kau tak boleh punya tangan lagi." ucap nya sembari mulai menghancurkan kedua tangan pria itu menggunakan batu bata.
Ia membuat pria itu cacat seumur hidup dengan kehilangan kedua tangan nya, dan cara yang bisa di lakukan agar terlihat normal nanti nya adalah menggunakan tangan palsu.
Dan tentu nya ia tak berencana membiarkan pria itu hidup hingga memakai tangan palsu, setelah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan ia akan membunuh pria yang akan menjadi ancaman bagi gadis nya.
Ia masih perlu kakak tiri nya guna mencari tau penyebab sebenarnya kematian sang ibu.
"Bereskan masalah disini, dan urus cctv mobil yang ada." perintah nya singkat pada sekertaris Jhon.
...
Richard membawa Ainsley ke mobil nya namun gadis itu semakin tak tenang dan terlihat tak nyaman.
"Panas....
Rasanya tak nyaman..." gumam nya lirih dengan tubuh yang semakin hilang kendali.
"Ainsley? Kau baik-baik saja?" tanya Richard sembari menyentuh pipi gadis itu.
Ainsley tak dapat mengerti namun tubuh nya langsung tergejolak saat di sentuh, Richard kembali menoleh ia mengernyit dan menjalankan mobil nya ke tempat yang cukup sunyi.
"Kau di beri sesuatu?" tanya Richard melihat sembari gadis itu.
Wajah memerah, mata sayu, nafas yang panas, serta terus bergerak gelisah membuka pakaian nya sendiri membuat Richard semakin mengetahui alasan nya.
"A-aku di suntik..." gumam nya lirih dengan suara yang membuat pria itu berhasrat.
Ainsley tak dapat menelaah apa yang terjadi akal nya terasa semakin hilang dan tubuh nya semakin bergerak di luar kendali.
Ia tak sadar apa yang ia lakukan, ia merasa takut dan tubuh nya terus menerus memberikan getaran aneh yang membutuhkan penyelesaian.
"Dengan pria yang terluka tadi?" tanya Richard sekali lagi.
"Mhhm..." jawab gadis itu dengan anggukan.
Richard memundurkan bangku duduk gadis itu dan menukar posisi nya, ia juga menurunkan posisi bangku dan segera memangut bibir gadis itu.
Reaksi nya berbeda...
Batin nya saat merasakan reaksi gadis itu, ia merasakan ada yang lain di campurkan selain afrodisiak dengan konsentrasi penuh namun ia juga masih mencari nya tau nya sembari mulai terhanyut dengan kehangatan tubuh gadis itu.
"Sshh..." desis nya pelan saat ciuman panas itu di lepaskan dan dialihkan ke lengkung leher nya.
Richard yang awal nya hanya menggelitik hingga membuat tubuh gadis itu semakin memanas kini mulai menggigit nya kuat.
__ADS_1
"Ahh..." ringis Ainsley pelan namun ia juga langsung menahan kepala pria itu di leher nya.
Apa dugaan ku benar?
Gumam pria itu dan menjalarkan tangan nya ke dada yang masih di lapisi penghalang dan pakaian yang di kenakan.
Ia mengusap lembut dan membuat gadis itu semakin bergerak tak terkendali lalu mulai mer*mas nya dengan kuat.
Ainsley terkejut sesaat namun ia terlihat baik-baik saja dan tak begitu merasa sakit dengan perlakukan yang teramat kasar tersebut.
Kokain...
Batin pria itu setelah memastikan reaksi dari tubuh gadis cantik itu, walaupun belum di lakukan pemeriksaan secara menyeluruh namun ia sudah bisa mengetahui garis besar nya.
Narkotika golongan satu yang memiliki efek stimulan kuat yang dapat menetralisir rasa sakit.
Aku tak tau sebanyak apa jumlah nya...
Batin pria itu, karna ia tau jika di campur dengan dosis yang cukup tinggi akan dapat menyebabkan kecanduan bagi si pengguna, namun di situasi saat ini nalar nya mulai hilang terganti dengan b*rahi yang menyelimuti nya.
Tapi aku akan lembut kali ini...
Batin nya sembari menyusupkan tangan nya di balik pakaian yang di kenakan gadis itu, berusaha meraih sesuatu yang lembut dan pas di genggaman nya.
"Hmm..." lenguh gadis itu yang sudah tak tau lagi apa yang terjadi bahkan tubuh nya bukan lah seperti milik nya saat ini.
Richard tersenyum ia pun berusaha membuka celana pendek sebatas paha yang dikenakan gadis itu, setelah meloloskan apa yang sedang di kenakan oleh Ainsley ia langsung membalik posisi nya sehingga saat ini gadis itu lah yang berada di atas tubuh dan pangkuan nya.
Ainsley mendesis, aliran darah nya mengalir cepat dan tubuh nya bergerak dengan sendirinya tanpa ia sadari. Ia pun langsung menyambar bibir pria di hadapan nya dan mel*mat nya secara acak dan agresif.
Hah...hah...hah...
Nafas nya tak beraturan dan menatap ke arah pria itu setelah melepaskan ciuman yang menghabiskan nafas nya karna pria di hadapan nya juga membalas tak kalah agresif dengan diri nya.
Ia tak tau siapa pria di depan nya karna berada antara sadar dan tidak bahkan penglihatan nya sama sekali tak mampu mengenali namun tubuh nya sudah berada di luar control pengendalian nya.
"Anak manis, anak ku beri hadiah..." bisik nya dengan menyelipkan jemari nya dan membuat gadis itu langsung berteriak kecil dan tertahan.
"Ter-terlalu cepat..." gumam nya tak jelas saat suara nya bercampur dengan tarikan nafas berat dan des*han yang tak bisa ia hentikan.
Tubuh nya terasa menggila namun sangat menginginkan hal tersebut hingga membuat akal nya tak lagi kembali.
"Uhh!" desis nya panjang dan menjatuhkan kepala nya ke lengkung leher Richard sedangkan jemari pria itu masih berada dalam tubuh nya.
"Kau sudah? Padahal aku belum melakukan apapun?" tanya pria itu sembari mulai mengeluarkan yang sudah sesak sejak awal.
Ia pun kembali mencium dan menggelitik semua bagian sensitif gadis itu lalu mulai melakukan penyatuan nya.
Mobil yang berada di jalan sunyi itu hanya tampak seperti mobil mewah dari luar dengan kaca yang di lapis hitam hingga tak memperlihatkan seperti apa yang terjadi di dalam nya.
Namun getaran dan gerak mobil yang sedari tadi berayun tentu nya akan menimbulkan pikiran negatif tapi itu terjadi jika hanya ada yang melihat di jalanan sunyi tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian.
"Se..sean..." gumam nya dengan isyarat tubuh yang ingin berhenti karna sudah merasa sangat kelelahan.
Ainsley tak tau kenapa ia menyebut nama itu bahkan saat ia tengah tak sadar sama sekali namun alam bawah sadar nya masih belum menghapus pria yang selalu menjadi tempat bergantung nya.
Kau menyebut nama nya? Bahkan setelah berc*nta dengan ku?!
Batin Richard penuh kekesalan, ia pun melihat tajam ke arah gadis itu memperhatikan tubuh yang lunglai karna apa yang baru saja mereka capai berulang kali.
Wajah yang terlihat letih serta lembut membuat nya tak bisa memarahi gadis itu, ia pun memeluk nya sejenak dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Kau bersama ku...
Ingat nama ku bukan nama pria lain..." bisik nya sembari memeluk gadis itu erat.
"Engh?" Ainsley melenguh dan menatap dengan tatapan tak sadar dan bingung pada pria itu setelah mengangkat wajah nya.
"Richard, sekarang sudah tau kan?" ucap nya lagi pada gadis itu, "Selain menyuntik mu apa yang ceng*nguk itu lakukan?" tanya lagi.
Ainsley diam tak merespon, ia hampir memejamkan mata nya karna merasa mengantuk.
"Hey?! Aku tanya!" ucap Richard sembari menggoyangkan tubuh mungil gadis itu yang masih berada dalam pangkuan nya.
"Dia memukul ku...
Juga bilang aku ******..." ucap nya lirih dengan suara hampir tak terdengar.
"Ada lagi?" tanya Richard dengan menarik pipi gemas gadis itu.
Pats!
Ia memukul pelan bok*ng pria itu dengan tenaga lemah nya, "Juga seperti itu..." ucap nya lirih mencontohkan apa yang sedang terjadi.
"Apa yang kau inginkan tentang nya?" tanya Richard lagi dengan tatapan tajam karna merasa jengkel mendengar penuturan gadis itu.
"Aku tak mau melihat nya lagi..." jawab Ainsley lirih dengan sayup dan mulai benar-benar tertidur.
Ia tak ingat apa yang ia katakan dan ia lakukan saat ini, bahkan ia tak tau siapa yang tengah mengelus rambut panjang nya dengan lembut hingga membuat nya semakin mengantuk.
"Kau sangat lembut dan rapuh...
Seperti sifat mu, kenapa bisa ada makhluk selemah ini?" gumam Richard melihat gadis itu yang sudah begitu kelelahan hanya karna melakukan s*x dengan nya.
Richard menelisik wajah gadis itu yang memiliki bekas pukulan di ujung bibir nya, membuat nya tersenyum getir.
"Kalau di ingat aku juga pernah memukul mu, kenapa aku memukul sesuatu yang rapuh? Kenapa mereka memukul mu padahal kau sangat rapuh?" gumam nya lagi menatap wajah tenang itu, ia bingung dengan dirinya dan orang lain yang melakukan hal yang sama.
Baginya ini perasaan asing, perasaan tertarik dengan sesuatu yang lemah dan tertarik itu tak menghancurkan nya, perasaan yang semakin berbeda dari hari ke hari.
Ia pun memeluk gadis itu dan menyimpan tubuh mungil itu dalam dekapan nya, "Kau tak mau melihat nya lagi kan? Kalau begitu aku akan membunuh nya sesuai keinginan mu." ucap nya lagi.
__ADS_1
Mungkin bagi bagi gadis itu 'tak ingin melihat lagi' adalah ucapan yang di maksudkan untuk menghindari namun bagi pria kejam yang membunuh adalah salah satu dari pekerjaan yang ia lakukan tentu memiliki penafsiran yang berbeda dan lebih ekstrem.