Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
My posesif husband


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Matahari yang semakin menyebarkan sinar hangat nya ke seluruh ruangan yang tampak mewah itu.


Sedangkan wanita yang berada dalam bungkusan selimut tebal dan dekapan seorang pria itu tampak tak beranjak dan menunggu hingga itu membuka mata nya.


"Kau sudah bangun? Semalam pulang jam berapa?" tanya nya sembari mengelus rahang kekar pria itu dengan senyuman di pagi hari.


Kedipan serta pandangan yang masih mengabur terlihat jelas di wajah datar yang masih mengumpulkan kesadaran nya itu.


"Masih mengantuk yah? Mau tidur lagi?" tanya Ainsley sembari mengelus rahang ataupun rambut pria itu.


Greb!


Ukh!


Ia terkejut sejenak saat pria itu menggenggam erat tangan nya dengan tiba-tiba.


Tanpa sepatah kata pun pria itu bangun dan menyingkirkan tangan kecil istri nya, Ainsley pun ikut bangun dan melihat ke arah pria itu.


Ia langsung mengejar nya dan meraih tangan nya, "Masih marah?" tanya nya lirih.


Richard berhenti sejenak menatap mata wanita itu yang perlahan bangun dan berdiri di hadapan nya, "Kita sudah lama juga yah tidak mandi bersama? Mau mandi bersama pagi ini?"


Sekali lagi Ainsley mencoba menghilangkan suasana yang membuat nya tak bisa bernapas itu.


Richard masih diam menatap wajah wanita yang berusaha tersenyum pada nya, sesekali iris mata nya menoleh pada garis biru di leher putih itu karna ulah nya, namun setiap kali ia ingat jika istrinya masih tak bisa melupakan perasaan masa lalu nya membuat nya merasa marah dan kesal tak berujung.


Bruk!


Ia mendorong tubuh kecil itu ke ranjang, lalu menindih nya dan memegang kedua tangan kecil itu yang di satukan di atas kepala nya.


"Berikan gelang nya," ucap nya dengan satu kalimat karna pikiran nya masih terganggu.


"Berhenti tanya barang begitu!" jawab Ainsley yang mengelak, ia hanya benda itu yang masih tersimpan pada nya dari sekian banyak benda yang dulu di berikan mantan kekasih nya.


"Kau memberikan nya? Bahkan sampai akhir kau tidak memberikan nya kan?" tanya Richard lagi.


"Kalau aku tetap tidak memberikan nya kau akan menceraikan ku?" tanya wanita itu tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan.


Mata Richard membulat sempurna mendengar pertanyaan dan kata-kata yang paling ia benci.


Plak!


Rasa memanas dan merah menjalar di wajah cantik itu, tangan nya yang menyatu di atas kepala nya bergetar sejenak saat rasa perih itu menjalar.


Ia pun kembali menoleh ke arah wajah pria yang tampak sangat marah pada nya.


Tak ada yang bisa ia katakan, ia hanya menutup mata nya dan menarik napas serta mengatur nya lalu kembali membuka nya.


"Sekali lagi kau mengatakan nya, akan ku bu-"


"Maaf, aku salah kali ini, kita baikan?" potong Ainsley dengan lirih sembari memaksa senyum nya.


Richard mengernyit melihat nya, ia tak mau wanita itu meminta maaf pada nya, ia mau istrinya membuang dan memberikan semua barang yang masih tersisa dari pria lain.


"Di mana gelang nya?" tanya nya lagi mengulang.


"Itu hanya gelang! Aku juga tidak menemui nya ataupun bermain di belakang mu kan?" tanya Ainsley yang merasa tak bisa memberikan nya.


Richard tiba-tiba mengubah ekspresi nya menjadi tertawa, "Kalau hanya gelang biasa kenapa tidak mau memberikan nya?" tanya nya lagi dengan tatapan tajam.


"Ainsley? Kau sadar tidak? Berapa kali aku mencoba membunuh mu selama lima tahun ini?" tanya pria itu dengan seringai nya.


Mata nya jernih itu membulat mendengar pertanyaan dari suami nya, "Kenapa?"


"Setiap kali kita keluar dan ada yang melihat mu aku ingin mencungkil bola mata nya lalu membuat mu tertidur selama nya, dengan begitu kau hanya akan menjadi milik ku tapi kalau aku melakukan nya kau tidak akan bisa bicara ataupun mencintai ku, Axel juga akan menanyai mu." jawab pria itu tersenyum.


Ainsley diam melihat nya, jujur saja ia takut namun ia berusaha mengatasi lagi.


"Tapi nyatanya kau tidak melakukan nya kan?" tanya nya lagi yang masih tetap berusaha bersikap tak mendengar apa-apa.


Pria itu menggeleng mendengar pertanyaan tersebut, "Kau ingat setahun yang lalu waktu kau keracunan? Aku yang memberikan racun nya."


Deg!


Iris hijau itu bergetar mendengar nya, setahun yang lalu ia memang keracunan saat meminum teh dan pria itu juga menangkap pelayan yang memberikan nya, ia tak pernah berpikir bagaimana seseorang bisa meracuni nya walau ia berada di dalam mansion.


Hampir sebulan penuh tak sadar dan setelah itu bangun dengan kondisi dan perasaan yang sangat buruk karna masih terdapat sisa racun dalam darah nya.


"Kenapa? Aku sangat menderita waktu meminum nya," tanya Ainsley dengan suara gemetar.


"Kenapa? Karna aku mencintai mu, kau pikir aku punya alasan lain? Ku pikir lebih baik kau tidur saja selama nya dengan begitu kau hanya akan jadi milik ku dan tidak ada pria yang bicara dengan mu lagi," ucap nya lagi.


"Axel terus menangis dan kau juga tidak bisa merespon apapun yang ku katakan atau ku lakukan, jadi aku mencari cara agar membangunkan mu lagi." ucap nya tersenyum dengan mata yang tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.


"Bagaimana kalau aku tidak terbangun waktu itu? Apa kau tidak akan menyesal?" tanya Ainsley dengan suara bergetar.


"Kenapa aku harus memikirkan nya, kau sedang bicara dengan ku saat ini kan?" tanya Richard yang bahkan tak ingin menjawab nya.


"Lalu kau mau mencoba nya lagi?" tanya Ainsley yang semakin merasa takut dengan obsesi suami nya.

__ADS_1


Pria itu menggeleng, "Setelah merasakan nya, ternyata aku jadi frustasi aku tidak membunuh mu lalu menyimpan tubuh mu untuk ku sendiri, aku lebih suka kalau kau hidup."


Kedua tangan kecil dalam genggaman itu terlihat gemetar, Ainsley berusaha menarik napas nya berulang kali dan menatap ke arah suami nya.


"Jangan lakukan lagi, nyawa ku bukan mainan yang punya ganti cadangan." ucap nya yang memberi tau dengan suara yang tercekat di tenggorokan nya.


"Aku hanya frustasi bagaimana membuat mu jadi milik ku." jawab pria itu sembari menelisik ke wajah takut istri nya.


"Aku milik mu, aku sudah jadi milik mu jadi berhenti merasa takut." ucap Ainsley pada suami nya.


"Say you love me, I wanna hear that." ucap nya sekali lagi.


Ainsley diam mendengar nya, ia tau suami nya butuh kalimat penenang dari nya walau ia juga membutuhkan kalimat penenang juga untuk rasa takut nya.


"I love you," ucap nya setelah menarik napas nya dengan dalam.


Richard tersenyum mendengar nya, "Now give me that bracelet."


"Richard..." panggil Ainsley lirih.


Pria itu tak menjawab namun tangan nya yang lain perlahan menyentuh wajah cantik yang terlihat polos pagi ini dengan ujung jari nya.


Ainsley diam tak mengatakan apapun saat pria itu menyentuh wajah nya yang terluka di sudut bibir karna tamparan keras barusan yang kemudian menyentuh leher nya yang memiliki jalur bekas membiru.


Tangan pria itu satu persatu mulai membuka kancing piyama tidur nya.


Ia tak lagi asing dengan pertengkaran yang kemudian berujung pergumulan di ranjang.


Richard perlahan mendekat, mengendus lengkung leher jenjang wanita itu lalu mencium nya.


Mengecup pelan hingga membuat wanita itu merasa geli sedangkan tangan nya membuka piyama tidur yang di kenakan istri nya.


Richard mengangkat wajah nya lagi lalu mengecup bibir merah muda itu yang tidak terpoles lipstick ataupun pewarna bibir lain.


Cukup lama pangutan yang saling menghisap satu sama lain itu, membelit dan membuat napas wanita itu habis.


"Bukan nya sudah ku bilang jangan pakai kalau malam? Menyusahkan kalau harus di bukan lagi," ucap nya saat merasakan wanita itu memakai br*


"Semalam aku tidur dengan Axel, jadi aku pakai." jawab Ainsley saat ibu jari pria itu menyentuh bibir nya yang basah.


Richard tak menjawab namun ia menaikkan dan menyibakkan br* istri nya ke atas hingga membuat sesuatu yang berlapis kulit seputih susu itu menyembul keluar.


Tak menunggu waktu lama pria itu langsung mel*mat nya tangan nya yang memegang kedua tangan kecil istri nya yang ia kukung.


Auch!


"Jangan di gigit," ucap Ainsley saat pria itu tak hanya menghisap namun menggigit gemas puncak nya.


"Ck!" decak nya kesal saat melihat istri nya memakai pakaian d*lam di balik piyama tidur nya.


Ia pun segera menarik nya lalu menciumi nya, Ainsley tak mendorong pria itu, ia tau jika ia mendorong ataupun menolak nya maka tubuh nya lah yang akan lebih sakit nanti nya karna jika suami nya marah maka hubungan nya dalam melakukan hal itu akan menjadi begitu kasar.


Sshh...


Suara desis pelan terdengar lirih dan membuat pria itu kini terbakar oleh hasrat, tubuh yang membuat nya bern*fsu dan bersemangat terus tak bisa menghentikan nya.


"Hah..."


"Sudah berapa lama aku tidak menyentuh mu?" tanya nya dengan suara berat saat tubuh nya menyatu.


"Entah lah, dua Minggu?" jawab Ainsley saat merasakan pria itu mulai bergerak sembari bersikap seperti bayi besar di atas tubuh nya.


Richard tak membalas namun ia merasa seperti sudah dua bulan tak melakukan nya, di Minggu pertama istrinya yang sedang berhalangan membuat nya tak bisa menyatu walaupun memaksa agar wanita itu bisa menghisap nya namun tetap saja hal itu tak bisa membuat nya puas.


Lalu di Minggu kedua ia pun mulai sibuk dan belum sempat menyentuh istri cantik nya lagi.


Ranjang yang berderit dengan kencang, suara serta tubuh yang menyatu membuat hari yang di awali pagi itu membakar.


Richard membalik tubuh wanita itu setelah melihat istri nya mengambil napas dalam dan menghirup oksigen sebanyak mungkin ketika ia melepaskan penyatuan nya.


"Tu-tunggu..." ucap Ainsley lirih sembari berusaha menoleh ke belakang saat melihat suami nya yang ingin datang lagi pada nya.


Ungh!


Bibir nya terkatup saat pria itu kembali menjamah nya, napas nya terasa ingin habis saat ia mulai merasa kelelahan namun langsung terguncang saat bangun.


Richard kembali menarik pinggang ramping itu dan menahan nya, napas nya terasa menggelitik di pundak dan tengkuk yang terlihat basah oleh keringat dan ciuman dari nya.


"Axel pasti marah karna sarapan sendiri," ucap Ainsley terengah-engah.


Tak ada jawaban dari pria itu, "Gelang, berikan gelang mu setelah ini."


Ainsley hanya melihat nya sejenak dan melirik namun ia tak mengatakan jawaban nya akan memberi atau tidak.


"Ini peringatan terakhir, jangan menguji batas sabar ku lagi dari ini." bisik nya saat memeluk tubuh kecil yang polos itu.


...


"Axel, kenapa masih marah? Hm? Main sepeda sama Mommy?" tanya Ainsley sembari mendekat dan memangku putra nya.


"Tadi Axel makan sendili! Mommy Daddy gak tulun makan baleng Axel!" ucap nya marah sembari memanyunkan bibir nya.

__ADS_1


"Eh? Itu Daddy bawa susu coklat sama biskuit, Axel suka kan?" ucap nya sembari mengalihkan pembicaraan.


Mata yang mengernyit kesal itu berbinar saat melihat sang ayah yang membawakan segelas susu hangat dan biskuit yang ia sukai bersama secangkir teh.


"Axel masih malah sama Daddy!" ucap nya yang masih merajuk.


"Axel nanti kalau sering marah berubah jadi kakek sihir loh, keriput terus jelek jadi jahat juga, Mau?" tanya Ainsley sembari memegang putra nya yang merajuk.


Mata kesal itu langsung menatap sayu dan memeluk sang ibu, "Axel gak mau jadi keliput..." ucap nya lirih.


"Udah gak marah lagi sama Daddy sama Mommy?" tanya Ainsley sembari mengusap kepala putra nya.


Axel menggeleng pelan dan mengambil segelas susu coklat yang di bawa oleh ayah nya.


"Daddy? Tadi kenapa gak tulun salapan?" celoteh nya setelah meminum segelas susu yang di bawakan oleh ayah nya.


Richard mendekat ke telinga putra nya walaupun anak kecil itu sedang berada di pangkuan sang ibu.


"Daddy sama Mommy lagi buat adik untuk Axel," bisik nya di telinga pangeran kecil itu.


Mata Axel langsung membulat berbinar mendengar nya, tangan nya langsung mengepal dengan semangat.


"Hole! Axel mau punya ad-"


"Hush! Mommy gak mau buat nya, jadi Daddy buat nya diam-diam," ucap Richard sembari menutup mulut putra nya.


"Kau bilang apa?" tanya Ainsley sembari mengernyit.


Pria itu mendekat ke telinga sang istri, "Aku bilang kalau Mommy nya menyimpan barang pria lain dan mau memberi nya Mommy baru."


Ainsley mengernyit mendengar nya, "Kalau tidak percaya ya sudah."


Jawab Richard sembari mengendikkan bahu nya dengan enteng, sedangkan Axel mulai berpindah ke pangkuan nya.


"Daddy, Daddy!" panggil nya sembari menggoyangkan tangan pria itu.


"Hm? Kenapa?" tanya Richard sembari melihat wajah yang tersenyum cerah itu.


"Mau adik pelempuan satu, telus adik laki-laki nya dua." ucap nya sembari menggunakan jemari nya mengatakan berapa adik yang ia inginkan.


Richard hanya tersenyum sembari mengusap kepala pangeran kecil nya.


"Axel boleh ikutan gak buat adik nya Dad?" tanya nya lagi.


"Gak boleh, kalo Axel ikutan nanti gak jadi adik nya." jawab pria itu yang langsung membuat anak kecil itu lesu.


"Yauda deh, Axel pesen tiga adik yah..." jawab nya sembari mendekat.


Sedangkan Ainsley hanya melirik teh yang di bawa oleh suami nya untuk nya, ia merasa enggan meminum nya saat sudah tau jika suami nya sendiri pernah hampir menghabisi nyawa nya hanya untuk memenuhi rasa hasrat obsesi nya.


"Kenapa tidak minum? Takut?" tanya pria itu dengan smirk nya membuyarkan lamunan dari wanita cantik itu.


Ainsley melihat ke arah pria itu dan menggeleng lalu menarik napas nya dan memaksa senyum nya agar putra nya tak merasa ada yang berbeda, "Tidak."


Richard menampilkan smirk nya, "Kalau begitu minum."


Ainsley membuang napas nya dan mengambil teh yang di bawa suami nya, mata nya menatap takut ke arah teh tersebut namun ia tetap meminum nya.


Pria itu tersenyum ke arah nya saat melihat nya meminum teh.


"Tenang saja, aku tidak akan membuat mu seperti itu lagi." ucap nya pada Ainsley.


"Lalu bahaya lain nya," tanya Ainsley lirih.


"Kalau kau memang mengalami situasi berbahaya di kemudian hari dan aku tidak datang pada mu, kau bisa mencari pria lain saat itu." ucap nya sembari menampilkan senyum nya.


"Kenapa?" tanya nya lolos begitu saja.


"Karna berarti aku sudah mati saat itu," ucap nya tersenyum sembari mendekat dan menyentuh dagu sang istri.


Ainsley diam, ia baru menyadari maksud pria itu, selama pria itu masih hidup maka tak akan ada bahaya yang menyentuh nya kecuali bahaya yang di timbulkan dari suami nya.


Dan jika pria itu tak datang melindungi nya maka berarti pria itu sudah lebih dulu pergi.


"Kau akan melindungi ku? Kalau begitu lindungi aku dari diri mu sendiri," ucap Ainsley lirih.


"Aku akan membuat mu hidup lebih lama dari ku, kau tidak akan meninggalkan ku lebih dulu," ucap nya sembari menatap iris hijau dari istri nya.


"Tapi kau meracuni ku," jawab Ainsley sembari menatap pria itu.


Richard tersenyum melihat nya, "Aku melakukan nya karna mencintai mu kan? Kau tidak mengerti bahasa ku?" tanya pria itu.


"Cinta?" gumam nya lirih sembari menunduk.


"Mommy!"


Panggilan yang membuat wanita itu terlonjak kaget mendengar nya.


"Yes, love?" jawab Ainsley sembari menangkap putra nya.


"Mommy melamun!" ucap nya pada sang ibu.

__ADS_1


"Karna anak Mommy imut, makanya Mommy sampai kehabisan kata." ucap nya tersenyum.


__ADS_2