Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Hurts!


__ADS_3

Sekertaris Jhon menatap kesal ke arah tuan nya, "Apa anda harus sampai seperti ini? Dia kan bukan siapa-siapa anda!" ucap nya dengan kesal.


Sean hanya tersenyum tipis, kepala nya terluka dan saat ini sedang di obati, rasa sakit nya menghilang saat bius sudah di berikan pada nya.


"Dia itu siapa-siapa untuk ku," jawab pria itu enteng.


"Dia bahkan bukan putra anda!" ucap sekertaris Jhon yang kesal.


Lama bekerja dengan pria itu membuat hubungan mereka membaik dan bahkan terkadang ia bersikap seperti teman dan bukan nya bawahan pria itu.


"Tapi dia putra Ainsley," jawab nya lagi, "Kau sudah kirim lokasi terakhir?" tanya nya lagi.


"Entahlah, saya tidak tau!" ucap nya berdecak dengan pria itu.


"Kau sedang ingin gaji mu di potong 30 persen?" tanya Sean mengernyit.


Sekertaris Jhon pun membuang napas nya dengan lirih, "Saya sudah mengirim nya." ucap nya lagi.


"Mereka sudah menemukan nya?" tanya Sean lagi dengan nada antusias yang membutuhkan jawaban segera.


"Belum ada kabar tentang itu Presdir," ucap nya lagi.


Setelah pengobatan selesai, Sean pun langsung bangun, beranjak dari duduk nya dan segera bangkit.


"Anda ingin kemana?" tanya nya pada tuan nya yang terlihat ingin bersiap pergi.


"Lakukan pencarian juga! Axel bisa lebih cepat di temukan," ucap nya pada sekertaris nya.


Pria berkacama itu pun terlihat kesal, ia mencegah tangan pria yang menjadi atasan nya dan menahan nya.


"Bukankah Anda bilang sudah melepaskan nona Ainsley?" tanya nya pada Sean.


Sean mengernyit, ia tak mengerti apa hubungan nya dengan mencari Axel dan juga sudah memutuskan hubungan nya dengan ibu anak lelaki menggemaskan itu.


"Apa hubungan nya dengan itu?" tanya nya yang sama sekali tak bisa menemukan jawaban nya.


"Kenapa anda harus kesulitan karna anak orang lain? Dia bahkan bukan darah anda!" jawab sekertaris Jhon.


Kini Sean mengerti mengapa orang lain tak bisa membaca sikap nya yang terus menerus menyayangi anak orang lain yang sama sekali tak ada hubungan darah dengan nya.


"Dengan alasan karna dia anak Ainsley, apa itu sudah cukup memberi mu jawaban?" ucap nya pada sekertaris nya yang seperti sudah lelah untuk meminta nya berhenti.


"Kalau anda seperti ini lebih baik rebut saja nona Ainsley kembali," ucap nya lirih yang tak mengerti sikap pria itu.


"Kalau aku mau seperti itu kenapa aku melepaskan nya dulu?" balas Sean dengan tersenyum pahit.


Sekertaris Jhon pun membuang napas nya dengan lirih, ia tak tau kenapa cinta bisa membuat seseorang pintar menjadi bodoh, logika dan hati yang tidak sejalan membuat seseorang selalu bimbang.


"Lakukan apa yang ku katakan, itu saja sudah cukup tidak perlu yang lain nya." ucap Sean sembari bergegas.


Sekertaris Jhon tak lagi membantah namun saat ia melakukan observasi ketika mencari tuan nya ia menemukan tempat lain.


"Saya tidak tau apa mereka ada di sini, tapi jika mereka lari tanpa menggunakan mobil kemungkinan besar akan berada di tempat ini," ucap sekertaris Jhon mengatakan.


Sean melihat nya, memang bukan jarak yang dekat namun juga bukan jarak yang jauh untuk di tempuh dengan kecepatan lari kaki.


"Kita priksa kesana," ucap nya pada sekertaris nya.


......................


Richard turun dari mobil nya, lokasi terakhir yang di kirimkan membuat radiasi dalam tubuh putra nya semakin dekat.


"Tidak jauh dari sini, keluar dari mobil dan berpencar!" perintah nya pada bawahan yang ia bawa.


"Saya akan melihat dengan mobil," ucap Liam pada tuan nya karna memiliki pancaran sinyal berbeda.


Richard mengangguk, mata nya melihat ke segala arah.


Mobil yang terlihat rusak parah tak jauh dari tempat ia berpijak dan juga dua pria yang tak sadarkan diri atau mungkin sudah mati.


Deg!


Iris mata nya bergetar, rasa nya ia semakin ingin marah begitu melihat tas putra nya yang tak jauh dari tempat tersebut.


Cairan merah kental menodai tas kanak-kanak mahal itu membuat Richard semakin geram.


Ia melihat ke arah jam nya, melacak dari GPS yang tertanam di tubuh putra nya.


Langkah cepat nya menginjak semua rumput dan ranting yang ia lalui, ia tak tau di bawa kemana dan di sembunyikan di tempat seperti apa putra nya saat ini.


Task!


AKH!


Rantai yang mengayun kaki bawahan pria itu hingga tergantung dan juga sembilah pisau tajam yang langsung datang mengenai mata bawahan nya hingga terlepas.


Richard mengernyit, ia melihat salah satu bawahan nya yang tergantung dengan tetesan darah yang bagai sumber air sedangkan bola mata bawahan nya sudah menggelinding tepat di dekat sepatu nya. Kali ini ia berada dalam hutan yang penuh dengan jebakan.


"Hati-hati! Mereka pasang perangkap!" ucap Richard berteriak agar bawahan nya yang berpencar lain dan jauh dari nya mendengar.


"Beri tau untuk membawa heli dan suruh mereka semua tidak bergerak lalu berdiri di tempat!" ucap nya pada salah satu bawahan nya yang berada tak jauh dari nya.


Pria itu mengangguk ia pun langsung meminta untuk di kirimkan tiga helikopter agar dapat mengangkut mereka semua dan meminta yang lain nya untuk tak bergerak dari posisi semula.


Tak lama kemudian suara berisik pun terdengar, daun kering yang terlihat seperti berkibas di atas kepala mereka lalu berhenti.


Tapi tangga pun segera di turunkan, pria itu pun naik dan juga di ikuti dengan bawahan nya yang lain.


"Cari dari atas," ucap Richard pada pengemudi helikopter tersebut.


Perasaan nya saat ini benar-benar tak karuan, ia berulang kali memeriksa sinyal pelacak, tempat itu? Turun!" ucap nya saat melihat bekas bangunan yang terlihat sudah rusak namun besar di tengah hutan tersebut.


Ia pun turun, mengeluarkan senapan nya dan memegang nya dengan erat agar dapat menembak jika seseorang tiba-tiba menyerang nya.


Bentangan kain putih yang seakan di buat untuk projektor membuat pria itu mengernyit.


"Kau menemukan hingga di sini?"


Suara yang terdengar berat dan seakan dari suara rekaman.


Richard mencari arah suara, hingga menemukan satu pengeras suara berukuran kecil tak jauh dari tempat ia berdiri.


Ia pun melihat ke arah bawahan nya dan segara memberikan tanda agar mereka berpencar dan mencari keberadaan putra nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian layar projektor tersebut menampilkan seorang anak lelaki yang masih terlihat darah di hidung nya dan juga memar di dahi nya.


Tangan nya menggantung di udara dengan rantai dan kaki nya sama sekali tak menyentuh lantai, terlihat jelas bahwa anak lelaki itu sedang kesakitan.


Karna hanya tampilan depan, sama sekali tak terlihat punggung anak itu yang terluka dan mengalirkan darah dari balik seragam putih nya yang terlihat kotor itu.


"Daddy..."


"Mommy..."


Suara lirih yang terdengar oleh pria itu membuat jantung nya ingin melompat keluar, ia benar-benar merasa tak sanggup melihat putra nya yang tengah kesakitan seperti itu.


Perasaan menggelitik yang tak bisa ia ungkapkan, sama saat seperti melihat putra nya yang tak sadarkan diri ketika di culik sewaktu masih bayi.


"Apa yang kau mau?" tanya nya yang harus membuat kesepakatan untuk membujuk dalang yang menculik putra nya.


"Kau pikir aku akan percaya rayuan iblis seperti mu?"


Richard berdecak kesal namun tak begitu memperlihatkan nya, suara tersebut menjawab nya tanpa menunjukkan wujud nya.


"Katakan saja si*lan!" ucap nya yang terus mengulur waktu agar membuat dalang yang membawa kacau kelurga nya terpancing.


HAHAHAHA!!!


Tawa gema yang terdengar dari pengeras suara itu membuat Richard semakin geram namun ia harus menahan nya.


"Kau akan berikan kalau aku bicara?"


"Ya, akan ku berikan." jawab Richard menahan rasa kesal nya.


"Tukar saja dengan istri j*lang mu, dia pasti akan senang kalau bisa bermain dengan ku dan juga bawahan ku!"


Jawab suara itu dengan di selingi nada tertawa ketika meminta negosiasi nya.


Rasa geram dan emosi pria itu sudah mencapai ubun-ubun namun ia tak bisa gegabah.


Akh!


Huhuhu...


"Sa-sakit..."


Suara yang kembali memecah konsentrasi nya, pisau tajam yang menyayat kaki kecil berkulit putih susu itu mengalirkan cairan merah kental seperti getah pohon yang ingin di tampung.


Rasa nya ia ingin menghancurkan tempat itu namun,


"Tuan!" panggil salah satu bawahan nya membawa chip nya pernah ia tanam dan sebagai sinyal.


Deg!


Pria itu tersentak begitu melihat nya, jika Chip yang ia tanam berada di tangan nya maka mereka sudah mengambil dari tubuh putra nya.


"Kau itu benar-benar monster yah? Anak sendiri saja di tanam pelacak? Aku sudah mengambil nya, untung saja alat ciptaan terbaru ku membaca chip pelacak walau di tubuh orang lain! Hahaha!"


"Di mana dia?!" tanya nya yang kini mulai kehabisan kesabaran.


"Kau kan bisa lihat yang ada di depan mu,"


Video live yang memperlihatkan putra nya itu pun mulai bergerak ke sisi lain.


"Daddy..."


"Mommy..." panggil Axel di tengah tangis nya.


Untuk anak seusia nya tentu saja selalu menganggap jika orang tua nya adalah Hero yang akan menyelamatkan nya di segala situasi.


"Kau mau tawaran ku? Bawa saja istri mu dan aku akan lepaskan anak mu, karna aku sedang baik aku juga akan mengirim video kami juga nanti,"


Tak ada alasan ia ingin wanita milik pria lain, namun ia ingin mencoba nya dan setelah itu memberikan bangkai anak pria itu.


Richard mengepal, ia tau jika ia bersikap seperti mencintai istri nya maka akan semakin menunjukkan salah satu kelemahan nya lagi.


"Baik, aku akan bawa dia. Berikan lokasi anak ku dulu." jawab nya pada suara tersebut.


"Kau pikir aku bodoh? Bawa dulu jal*ng itu baru aku beri tau putra mu, tapi setelah kau bisa mengalahkan mereka."


DOR!!!


Tak sampai semenit pria itu mengatakan ucapan nya, suara tembakan langsung terdengar.


Bangunan tua yang bisa roboh kapan saja itu kini terdengar hujan peluru yang memenuhi nya.


Richard berlari ke tempat yang aman, melihat di mana sasaran tembakan nya dan mulai menarik pelatuk nya.


Bawahan nya yang lain pun melakukan hal yang sama. Hujan peluru, genangan darah, mayat terlihat jelas di tempat itu.


Pertarungan maut itu pun berlangsung dengan mempertaruhkan setiap napas yang masih berhembus di hidung mereka.


Dari sekian yang ia bawa hanya tersisa lima orang bawahan nya, sedangkan mayat yang mati atau tak sadar itu masih berhamburan di bawah kaki nya.


Mereka kerja sama?


Batin nya yang benar-benar tau jika dalang dari yang menyerang nya tak mungkin satu orang saja.


Di lihat dari segi penculikan dan juga orang yang di kirim untuk membunuh nya juga merupakan sesuatu yang tak bisa hanya di lakukan oleh satu orang saja.


Tangan nya mengalirkan tetasan darah, ia bahkan masih memegang pisau di tangan nya.


"Kita kembali dan cari lagi," ucap nya pada Liam yang kembali dan membantu nya saat ia di serang.


"Baik tuan," ucap nya sembari mengikuti langkah tuan nya.


Namun tak lama kemudian sebuah pesan kembali masuk pada nya.


...


Sementara itu.


Sean melihat ke arah mulut gua yang kecil tak jauh dari tempat ia berada sebelum nya, namun terlihat bisa di masuki oleh seseorang.


"Jika mereka berlari mungkin akan berada di sini, ini tempat yang cocok untuk bersembunyi." ucap sekertaris Jhon.


Ia pun menyuruh tiga bagian kemanan untuk masuk lebih dulu ke tempat yang tak terkena sinar mentari itu.

__ADS_1


DOR!!!


Suara tembakan mengejutkan kedua nya, dan juga para tim keamanan yang lain.


"Mereka di sini!"


Ucap salah satu dari tiga keamanan yang lain dari walkie talkie yang yang mereka bawa.


"Berikan lagi lokasi ini pada nya!" ucap Sean pada sekertaris Jhon dan bergegas masuk di ikuti tim keamanan nya yang lain.


Karna sebelum nya Richard terlalu berfokus pada alat pelacak nya membuat nya lengah dan ketinggalan suatu info kecil yang sangat berguna.


Yaitu tempat paling dekat dan memungkinkan untuk persembunyian pelaku.


Benar saja begitu melewati kegelapan yang buta, terdapat sinar dan ruang yang cukup besar di dalam mulut gua yang kecil tersebut.


Di dalam gua pun sudah di ubah agar memiliki latar dan berbentuk seperti sejauh ruangan.


Deg!


Axel?


Batin pria itu yang langsung ingin cepat mengakhiri namun tak semudah ia bayangkan karna banyak yang menghalau nya.


"Urus mereka!" ucap nya pada tim keamanan terlatih milik nya dan ia pun hanya berfokus untuk mengambil anak kecil yang di rantai tersebut.


DOR!


Bruk!


Satu tembakan di rantai yang menggantung Axel hingga membuat nya terjatuh.


Sean pun langsung menangkap nya dan melihat punggung anak itu yang terus mengeluarkan darah.


"Paman? Huhu..."


"Axel mau Daddy Mommy..." tangis nya lirih sembari tak memiliki tenaga untuk memeluk pria itu.


"Paman bawa Axel ke Daddy Mommy yah..." ucap nya sembari memeluk anak yang tadi nya masih tertawa pada nya namun kini sudah menangis menyedihkan menahan sakit.


"Presdir! Mereka terlalu banyak! Kita harus keluar!" ucap salah satu tim keamanan yang tau berdasarkan jumlah mereka akan kalah dan tinggal sedikit.


"Bagaimana keadaan di luar gua?" tanya Sean sembari menggendong Axel untuk membawa nya keluar.


"Sekertaris Jhon tidak menjawab, mungkin mereka juga ada di luar gua!" jawab tim keamanan tersebut.


Sementara itu yang terjadi di luar gua sungguh di luar dugaan.


Sekertaris Jhon memang sangat terbantu dengan kehadiran Richard yang datang dan membantu nya menghabisi bawahan si penculik namun karna lebih banyak tim keamanan yang masuk ke gua membuat nya hanya tinggal dengan dua orang dari tim keamanan di luar.


Kedua orang dari tim keamanan itu pun kini sudah mati, dan karna itu lah ketika Richard datang dengan bawahan nya ia merasa terbantu.


Ia mengangkat tangan nya ke atas, "Kau anj*ng penjaga si*lan! Padahal kami membantu kalian!" ucap sekertaris Jhon dengan kesal pada Liam.


Setelah menghabisi bawahan si penculik, kini ia yang di todongkan pistol oleh Liam, "Kau juga anj*ng nya kan? Anj*ng yang patuh dengan tuan mu!"


"Aku anj*ng yang berotak sedangkan kau tidak punya otak! Kurasa tuan mu juga tidak punya otak!" jawab sekertaris Jhon pada pria itu dengan kesal.


Liam tak mengatakan apapun kecuali tatapan yang begitu kesal dan geram. Sama seperti sekertaris Jhon yang genre hidup kantoran biasanya berubah menjadi genre thriller saat ia harus hidup seperti di Medan perang.


Sedangkan Richard sudah masuk ke dalam, ia langsung menembaki semua bawahan pria yang menculik putra nya.


Ia pun melihat salah satu wajah yang ia kenal, sebelum nya ia merebut wilayah pria itu dan menjadikan milik nya.


"Katakan siapa lagi yang di belakang mu!" ucap nya sembari menodongkan pistol.


Tak ada jawaban, hanya mata yang terlihat gemetar dari pria berperut buncit tersebut.


Jika ia mengatakan orang yang membantu nya dan juga mengirimkan banyak bawahan pada nya tentu saja ia juga akan di buru.


Richard memilih berbalik dan menyerahkan pria itu pada bawahan nya yang lain.


"Urus dia dengan baik," ucap nya dengan dingin dan hawa mengerikan.


Bawahan nya tentu tau apa maksud nya, siksaan kejam yang menunggu selanjutnya adalah balasan dari menyakiti putra nya dan juga menginginkan istri pria itu.


Deg!


Ia melihat putra nya yang penuh luka tengah berada dalam dekapan pria yang ia benci.


"Pantas saja dia meminta Ainsley, rupanya kau ada di belakang nya juga!" ucap nya dengan tatapan yang semakin berapi.


Sean mengernyitkan dahi nya tak mengerti apa yang di bicarakan oleh pria itu.


"Daddy Axel sudah jemput, Axel tahan yah..." bisik Sean pada Axel yang tak melihat sang ayah yang menjemput nya karna ia masih berada dalam dekapan pria itu.


"Aku tidak tau apa yang kau maksud tapi Axel sed-"


DOR!


Langkah nya terhenti saat ingin memberikan putra pria itu, peluru yang lebih cepat sampai di bandingkan langkah kaki nya.


Sean langsung terjatuh di atas lutut nya, walaupun peluru tersebut tak mengenai dada nya di mana jantung nya berada karna ia menggendong Axel bukan berarti nyawa nya tak bisa melayang.


Ketiga orang yang tersisa dari tim keamanan langsung melindungi dan membentengi diri mereka untuk menjaga tuan nya.


"Paman? Paman kenapa?" tanya Axel lirih dengan mata sayup nya saat seluruh tubuh nya merasakan rasa sakit namun ia merasakan pria itu yang langsung terjatuh setelah suara keras itu terdengar lagi.


"Paman gak apa-apa, Axel di bawa Daddy yah." jawab nya dengan suara yang lebih berat menahan peluru yang bersarang di perut nya.


"Berikan dia," ucap nya yang juga sama-sama mengarahkan pistol pada tiga orang dari tim keamanan pria itu.


"Dasar si*lan! Dari tadi aku juga akan memberikan nya, tapi kau harus membiarkan kami keluar," ucap Sean juga harus membawa sisa tim keamanan nya yang masih hidup.


Tak ada jawaban sama sekali namun saat melihat kilasan dari putra nya yang terluka membuat nya mengiyakan tanpa menjawab.


"Presdir!" ucap sekertaris Jhon tersebut melihat atasan nya yang terluka parah.


Liam ingin menembak sekertaris Jhon yang tiba-tiba berlari menghampiri atasan nya, namun Richard memberikan kode mencegah nya.


"Biarkan mereka, kita kembali." ucap nya sembari menggendong Axel.


Ia pun ingin pergi namun begitu melihat pria itu ia menoleh sekilas, "Aku akan datang lagi membalas mu!" ucap nya dengan kesal.

__ADS_1


Pikiran nya di penuhi dengan pria itu yang berhubungan atas rasa sakit putra nya.


Sean tertawa getir sembari menahan sakit, "Benarkah? Wah! Aku takut..." jawab nya seperti candaan dengan rasa sakit nya.


__ADS_2