Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (So cute)


__ADS_3

Apart.


Gadis itu menatap dengan mata nya yang masih mengernyit kesal.


"Celine? Jangan ngambek terus, kamu mau diem gini aja?" tanya Steve sembari membujuk gadis nya yang masih saja merajuk.


"Kan kakak ada yang lain! Sana ke siapa itu nama nya? Oh iya, Ainsley! Kan sampai di bawa mimpi!" ucap Celine yang bercampur dengan kesal.


"Kakak kan gak kenal dia, jangan di ungkit terus..." ucap Steve sembari mengecup gemas pipi gadis itu walaupun di tolak.


"Yauda sini," Celine yang menoleh sembari meminta sesuatu pada sang kakak.


"Apa?" tanya Steve bingung apa yang di minta oleh adik nya.


"Handphone kakak, aku mau lihat." ucap gadis itu tak percaya dan meminta ponsel sang kakak.


Steve lantas mengambilkan nya, memberikan nya pada gadis itu.


"Sandi kakak apa? Ada yang kakak sembunyiin kan?" tanya Celine menatap penuh curiga saat tak bisa membuka sandi ponsel canggih itu dengan tanggal ulang tahun sang kakak.


"Ulang tahun kamu Celine bukan kakak," ucap Steve pada gadis itu.


Celine hanya mengerucut dan cemberut dengan pipi chubby nya yang semakin menggembung.


"Ini siapa kak?" tanya gadis itu dengan mata selidik sembari menunjuk salah satu kontak wanita.


"Temen kerja kakak, karna masih ada hubungan bisnis sama perusahaan kakak simpan nomor nya." ucap Steve menjelaskan.


"Terus kontak si Ainsley itu mana kak?" tanya nya lagi sembari menatap sang kakak.


"Ga ada Celine, kakak aja gak kenal dia..." ucap Steve yang menatap gadis nya sekali lagi.


"Cantik kak?" tanya gadis itu lagi dengan ambigu.


"Siapa?" Steve menatap dengan bingung atas pertanyaan gadis kecil nya yang cantik dan menggemaskan itu.


"Itu loh yang kata nya gak kenal tapi bisa sampai mimpi," jawab Celine pada sang kakak dengan mata melengos ke arah lain.


"Memang gak kenal Celine," ucap Steve yang kembali memeluk gadis itu.


Untung nya hari ini adalah hari libur nya sehingga bisa membujuk satu harian dengan gadis cantik itu.


"Yang kakak suka itu cuma kamu, kakak bener gak kenal dia..." ucap nya lagi pada gadis itu.


Celine kembali diam ia menatap mata sang kakak dan melihat ke arah wajah nya yang terlihat bersungguh-sungguh.


"Kalau sama Celine cantikan mana?" tanya nya lagi yang membutuhkan jawaban yang semakin kuat.


"Cantikan kamu Celine..." ucap Steve sembari mengecup bibir merah muda gadis nya.


"Udah ngambek nya? Udah yah? Hm?" tanya pria itu lagi sembari mengecup leher gadis nya dengan gemas.


"Kakak nyebelin..." jawab gadis itu lirih karna kembali termakan bujuk rayu sang kakak.


"Celine sih gemesin..." ucap Steve yang mengecup leher dan juga bibir gadis itu secara bertubi.


......................


23 Hari kemudian.


Prang!


Gadis itu tersentak, panas nya panggangan yang membuat jemari nya ingin terbakar seketika.


"Susah banget sih buat nya! Apa pesen aja?" gumam nya lirih yang menatap dengan bingung ke arah dapur yang berantakan tersebut.


"Nona? Mau saya bantu lagi?" tanya pelayan yang di pekerjakan di apart mewah itu untuk membersihkan setiap sudut ruangan dan kini tengah membantu majikan nya untuk memasak cake.


"Mixer nya aja udah patah, kalau yang ini gagal juga pesen aja deh!" ucap Celine pada pelayan tersebut.


Semua yang di pegang nya seakan telah di beri kutukan hingga selalu rusak, piring, gelas bahkan mixer pun sampai patah.


Apart tersebut tak kebakaran saja sudah sangat luar biasa dan itu pun terjadi karna masih ada nya yang mengawasi pekerjaan gadis itu.


"Wah..." Celine berbinar menatap panggangan nya yang baru saja di keluarkan namun,


Mata binar nya hilang, ia menatap lesu dengan cake yang lebih mirip arang hitam.


"Tadi kan sudah saya kecilkan kenapa panas nya bisa sebanyak ini?" gumam si pelayan dengan bingung.


"Iya, aku kira tadi belum, jadi aku tambahin lagi..." ucap Celine dengan perasaan bersalah dan menatap pelayan tersebut dengan lesu.


"Tapi kan jadi cantik yah kan? Mirip coklat hihi..." ucap nya tertawa dengan mata yang yang kembali bersemangat.


Pelayan tersebut hanya tertawa canggung, "Pakai yang ini aja deh, nanti kan kalau di tutup sama cream gak kelihatan." ucap nya dengan tawa manis nya yang tak tau rasa nya akan sehancur apa nanti nya.


Pelayan tersebut pun membantu dengan membuat cream yang lebih bagus untuk cake yang sedang di buat nona kecil nya itu.


"Kurang manis," ucap Celine saat mencoba nya.


"Tambahkan gula sedikit demi sedikit no-"


Sur!!!


Serbuk putih yang memiliki rasa manis itu meluncur dengan bebas dan menghabiskan satu bungkus penuh hingga membuat si pelayan terdiam.

__ADS_1


"Biar manis hihi..." ucap nya tertawa dengan wajah yang polos dan bersemangat saat membuat kan cake ulang tahun untuk sang kakak.


Satu jam kemudian.


Satu cake yang terlihat lebih baik walau tak memiliki bentuk dan cream yang berantakan terlihat dengan jelas.


"Kakak pasti suka kan?" tanya nya yang tanpa sadar memakai bahasa kelahiran nya.


Pelayan tersebut pun hanya mengangguk bingung dan tertawa canggung.


...


"Kak?" panggil gadis itu sembari menggoyangkan tubuh sang kakak.


Ia menoleh dan melihat pukul satu dini hari karna dirinya pun yang juga ikut ketiduran hingga telat satu jam.


"Hm?" Steve sulit membuka mata yang seperti di berikan perekat lem kuat karna begitu mengantuk.


"Happy B'day kak..." ucap nya tersenyum.


Pria itu perlahan mulai bangun dari ranjang nya menatap ke arah gadis yang pergi beranjak dan kembali dengan cake yang sudah ia buat tadi siang.


Walaupun masih begitu mengantuk dan ingin kembali tertimpa namun pria itu berusaha bangun dan melihat mata jernih yang menatap nya dengan penuh semangat.


"Celine harap kakak bisa punya umur yang panjang jadi bisa nemenin Celine terus..." ucap gadis itu sembari memberikan cake nya dan duduk di tepi ranjang.


Steve tersenyum, ia meraih kepala gadis itu dan mencium dahi nya dengan cukup lama.


"Thanks, babe..." ucap nya lirih yang mengecup dahi gadis nya.


"Karna itu harapan kamu, berarti itu juga jadi harapan kakak, kakak juga mau sama kamu terus." ucap Steve yang tersenyum melihat gadis nya.


"Karna kakak bilang mau hadiah nya kalau Celine nurut satu hari jadi hari ini Celine bakalan nurutin semua yang kakak bilang." jawab gadis itu tersenyum tanpa curiga sedikit pun.


Steve menatap gemas, gadis nya terus saja melihat nya dengan senyuman cerah.


Humph!


Ia tak tahan, rasanya tubuh nya bergerak dengan sendiri nya ketika mencium bibir gadis nya.


Celine tak mendorong, ia hanya membiarkan bibir merah muda nya yang di lahap habis-habisan oleh sang kakak.


"Kamu gemesin banget? Hm?" tanya pria itu sembari memainkan pipi yang seperti chewy itu.


"Kakak? Ih!" ucap Celine yang mengernyit karna sang kakak terus saja memainkan pipi nya.


Steve tertawa melihat wajah kesal gadis itu, mata nya pun menatap ke arah cake yang tidak terlihat terlalu buruk itu.


"Ini kamu yang buat?" tanya nya sembari menatap cake buatan adik tiri nya itu.


Celine memagguk dengan semangat, "Lihat nih, tangan Celine sampai gosong buat nya, karna gak sengaja kepegang waktu masih panas." jawab gadis itu tertawa kecil dan terlihat mata yang ceria sembari menunjukkan bekas luka bakar di tangan nya.


"Udah Celine obati kok kak, kakak cobain dong cake buatan Celine." ucap nya yang tak begitu peduli dengan luka di tangan nya namun sangat ingin tau respon sang kakak untuk cake nya.


Steve menatap ke arah cake buatan gadis nya, ia pun mengambil garpu yang di sediakan dan mulai mencoba nya.


Uhuk!


Pria itu langsung terbatuk, rasa pahit yang gosong begitu pekat di lidah nya, cream yang begitu manis hingga membuat tenggorokan nya menjadi sakit.


"Gimana kak? Enak kak?" tanya Celine dengan penuh senyuman dan mata yang berharap penuh.


"Enak," jawab Steve yang berusaha tersenyum agar tak membuat sang adik menjadi berkecil hati.


"Kakak suka? Buat kakak deh semua! Tahun depan Celine buatin lagi untuk kakak! Yang lebih banyak!" jawab gadis itu dengan senyuman penuh semangat.


Steve membatu mendengar nya, namun ia tak tega mengatakan tentang rasa yang sebenarnya.


"Tapi kakak lebih suka kamu," jawab Steve pada gadis nya dengan penuh senyuman sembari mengusap puncak kepala gadis nya.


"Celine juga paling suka kakak," jawab gadis itu dengan mata nya yang penuh sinar.


......................


Mall


"Kak? Hadiah ulang tahun kakak nemenin kakak belanja?" tanya gadis itu lirih yang berjalan lebih lambat karena kandungan nya yang semakin besar.


"Sekalian belanja buat anak kita," ucap Steve berdalih karna ada yang ingin ia beli.


Celine memagguk begitu saja atas ucapan sang kakak, sesampainya di salah satu tempat yang menjual barang-barang dan perlengkapan anak kecil gadis itu pun langsung melihat-lihat.


"Kalau punya anak perempuan imut juga yah? Apa lagi mirip kamu." ucap Steve saat melihat ke arah pakaian yang kecil dan menggemaskan untuk anak perempuan itu.


"Tapi kan anak kita laki-laki kak?" tanya gadis itu dengan bingung.


"Makanya nanti malam kita buat," ucap Steve yang asal lepas begitu saja.


"Kakak!" ucap Celine yang langsung memerah dan membuat pria itu hanya tertawa.


"Celine? Kamu di sini bentar yah? Kakak mau lihat yang di sana." ucap nya pada gadis itu.


Celine hanya mengangguk membiarkan sang kakak pergi dari nya dan berjalan ke arah lain.


......................

__ADS_1


Apart.


Gadis itu terdiam, ia melihat sang kakak yang memberikan nya sebuah lingerie berwarna hitam yang tembus pandang.


"Celine pakai ini kak?" tanya nya ragu karna ia ingat dulu setiap kali memakai nya sang kakak hanya akan menyerang nya habis-habisan.


"Katanya kan hari ini mau nurut sama kakak? Hadiah yang kakak mau itu cuma kamu..." ucap nya sembari memegang tangan gadis nya.


Celine bingung sejenak namun karna ia sudah berjanji ia pun menuruti apa yang di minta oleh sang kakak.


"Bentar yah kak," ucap nya lirih dan beranjak walaupun Steve juga ingin melihat gadis itu mengganti pakaian di depan mata nya.


Tak lama kemudian gadis itu pun keluar, ia terlihat tak nyaman karna memakai pakaian yang begitu terbuka sedangkan perut nya tengah hamil besar.


"Cantik, kamu makin cantik sekarang." ucap pria itu tak sadar.


"Apa nya yang cantik kak? Lihat nih perut Celine aja besar terus gak mulus lagi." ucap nya yang menunjukkan guratan yang penuh di perut nya karna tengah hamil.


"Tapi bagi kakak kamu itu cantik, banget malah..." ucap nya sembari mengecupi pipi gadis itu.


"Kakak cium kamu boleh? Tapi bukan bibir aja?" bisik nya yang tak tahan melihat godaan di depan nya.


"Terus apa kak?" tanya gadis itu dengan bingung.


"Kakak mau cium semua nya, kamu gak boleh nolak loh..." ucap Steve sekali lagi yang mengingatkan tentang janji gadis nya.


"Tapi kan pegel kak kalau terus berdiri." ucap Celine yang mengira sang kakak akan menciumi nya saat itu juga.


Steve menunjukkan smirk nya, ia membawa tangan gadis itu ke ranjang dan menidurkan nya.


Humph!


Tak menunggu waktu lama, kedua bibir itu langsung tertaut, tangan yang awal nya hanya mengusap perut berisi buah hati nya itu perlahan mengusap ke arah lain.


Celine tersentak, ia mendorong pelan dada bidang sang kakak, "Kak?" panggil nya lirih dengan wajah memerah.


Jujur saja suasana seperti membuat nya sedikit merasa panas karna ia juga sudah begtu lama tak pernah melakukan nya.


"Hm? Kamu kan kata nya mau nurut sama kakak? Hari ulang tahun kakak kan ini?" tanya Steve lagi.


"Ta..tapi kakak gak akan itu kan? Celine kan lagi hamil kak..." ucap nya lirih dengan was-was.


"Kakak tau, kakak juga gak mungkin bahayin kamu sama anak kita kan?" tanya Steve dengan gemas pada gadis nya.


Celine tak menjawab lagi dan Steve yang mulai kembali mencium leher gadis nya nya dan seperti pura-pura tak senagaja terus menerus mengenai sesuatu yang membuat gadis itu sensitif.


Lingerie itu kini menjadi halangan di ciuman nya yang semakin menurun, tangan nya beranjak membuka,


Sreg!


Kain tipis tembus pandang itu langsung terbelah menjadi dua.


"Kak..." panggil Celine lirih saat tau kebiasaan sang kakak adalah menarik ataupun menyobek pakaian seksi nya ketika hendak berhubungan.


"Gak apa-apa Celine,"


"Sstt, jangan takut, kakak kan gak mungkin nyakitin kamu..." ucap Steve dengan suara yang semakin berat dan menatap sang adik.


"Celine takut kak..." jawab nya lirih namun juga mulai terbuai.


"Kan ada kakak, bakalan lembut kok kakak..." ucap nya lirih yang kembali menciumi tubuh gadis nya semakin rinci tanpa melewatkan satu inci pun.


2 Jam Kemudian.


"Kak udah, ampun kak..." ucap gadis itu dengan suara yang tersengal-sengal menatap sang kakak yang masih begitu semangat dengan diri nya.


"Sekali lagi," jawab Steve yang masih melayang dengan tubuh yang semakin membuat nya gila karna sudah begitu lama tak ia sentuh.


"Ce..Celine gak kuat lagi kak... Ungh..." ucap gadis itu lirih ketika diri nya kembali di terpa oleh ombak besar lagi.


Steve menatap ke arah gadis nya yang sudah terlihat acak-acakan.


"Buka mulut kamu sayang," ucap nya yang segera melepaskan dan ke arah wajah gadis itu.


Belum sempat Celine menurut, vanila hangat yang baru saja keluar dari oven nya itu berserak di wajah mungil nya.


"Kak? Lengket..." ucap nya yang protes namun tak sempat marah lagi karna tak memiliki tenaga.


Steve tersenyum, ia berguling ke samping tubuh gadis nya dan menatap dengan mata penuh puas.


"Kata nya tadi engga itu..." Celine yang sudah bisa mengatur napas nya.


"Kan kamu gak nolak tadi kan? Jadi kakak kira kamu mau juga..." jawab Steve tertawa dan merengkuh tubuh gadis nya yang tengah hamil itu.


"Kak?" panggil Celine lirih.


"Hm?"


"Ini gak apa-apa kan?" tanya nya ragu karna takut apa yang baru saja ia lakukan melukai bayi-bayi nya.


"Gak apa-apa," jawab steve yang memang sudah bertanya dengan dokter apakah ia boleh atau tidak melakukan hubungan yang dalam itu dengan gadis nya yang masih hamil.


Pria itu beranjak mengambil tissu dan mengusap wajah gadis yang membuat nya kembali tergoda.


"Kamu itu imut banget sih? Hm? Sampai buat kakak seperti ini..." ucap nya dengan gemas menatap adik cantik nya yang terlihat menggoda sekaligus menggemaskan.

__ADS_1


"Imut apa nya? Keringetan gini kak," ucap Celine mengelak.


"Olahraga, biar sehat." jawab Steve tertawa pada gadis nya setelah menyeka wajah gadis nya.


__ADS_2