Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (I love you, more than my life)


__ADS_3

Rumah sakit.


Pria itu terdiam, perasaan gelisah terus mendekati nya sedangkan seseorang yang membuat gadis nya hingga memasuki ruangan operasi itu berdiri di samping nya.


"Who is she? Your girlfriend?" tanya pria itu menatap ke arah Steve.


Steve hanya melirik tajam pria yang bertanya pada nya, ia tak bisa menjawab apapun karna saat ini bukan hal tersebut lah fokus nya.


"Fourteen?" tanya pria itu lagi walau tak di tanggapi.


Steve tetap tak menjawab apapun, ia memilih diam namun terus berharap jika tak ada satupun yang terjadi pada gadis yang ia cintai beserta calon anak-anak nya.


Pria itu tak lagi bertanya apapun, pria yang tak pernah menunjukkan emosi apapun itu kini terlihat cukup panik dan gelisah hanya karna menunggu kelahiran seorang gadis.


Ia pun memilih pergi sesudah nya dan berharap agar kondisi gadis yang akan melahirkan jiwa baru ke dunia itu tak selamat karna tau orang ia benci sangat menyayangi hal itu.


4 Jam kemudian.


Seorang wanita dengan memakai masker dan juga pakaian berwarna biru muda berlengan pendek itu mendekat.


"Wali dari nona Celandine Amaranth?" tanya nya mendekat dan memastikan sekali lagi.


"Saya, apa mereka baik-baik saja?" tanya Steve yang terburu-buru dan tak sabar.


Wanita itu mengangguk kecil, "Kondisi ke empat bayi yang di lahirkan sehat, namun kondisi si ibu perlu lebih di perhatikan karna memiliki beberapa kejadian yang tak bisa terhindarkan." ucap nya pada pria itu.


Sang dokter pun mulai menjelaskan apa saja yang harus di lakukan dan apa yang tidak boleh di lakukan.


"Saya bisa menemui nya?" tanya pria itu lagi.


"Siapa? Anak-anak anda? Karna mereka lahir lebih cepat di bandingkan usia yang seharusnya maka kami melakukan perawatan intensif selama satu sampai dua Minggu di dalam inkubator bayi." ucap nya pada pria itu.


"Hm, saya juga ingin menemui ibu mereka." ucap nya pada sang dokter.


Wanita itu pun mulai menunjukkan jalan nya pada pria yang melangkah dengan mengikuti arah kaki nya.


Langkah pria itu terhenti, hati nya terasa menggelitik dan ingin menyentuh 4 makhluk mungil yang terlihat tertidur itu namun juga terkadang menggeliat.


"Mereka anak ku?" gumam nya lirih yang menyentuh namun masih tak bisa karna terhalang kotak kaca yang melindungi bayi-bayi mungil itu.


Ia tak tau bagaimana rasanya menjadi orang tua namun yang ia tau saat ini ia merasakan sesuatu yang membuat nya bahagia dan perasaan yang bahkan tak bisa ia jelaskan.


Mata nya baru sekali melihat namun begitu terpukau dan terpana pada ke empat makhluk kecil itu. Walaupun baru pertama kali bertemu namun ia bisa merasakan kasih sayang untuk ke empat bayi mungil itu.

__ADS_1


Rasanya berbeda dengan kasih sayang yang ia miliki untuk gadis nya.


"Yang mana yang lahir lebih dulu?" tanya Steve sembari menoleh ke arah sang dokter sejenak.


"Di mulai dari kanan urutan si kakak." jawab sang dokter pada pria yang terlihat begitu terpukau pada anak-anak nya.


Steve tersenyum tanpa sadar melihat nya, setelah puas melihat ke empat bayi mungil itu ia pun beranjak menemui gadis nya dan melihat keadaan nya.


"Celine?" panggil nya lirih pada gadis yang terlihat antara sadar dan tidak.


Gadis itu melihat bayangan sang kakak, ia merasa tenang namun ingat dengan ucapan yang ia dengar membuat nya mengalihkan pandang dan wajah nya ke arah lain.


Bibir nya tak berkomentar karna masih belum bisa berbicara dengan bebas saat masih ada sisa-sisa anastesi yang berada di tubuh nya.


Steve mendekat, ia meraih tangan gadis nya lalu mengecup nya berulang kali, "Kita sekarang punya mereka..." ucap nya lirih pada gadis itu.


"Terimakasih," pria itu merasa senang dan bahagia di saat bersamaan.


Berulang kali mengecupi tangan dan juga dahi gadis nya walau gadis itu sebenarnya sedang marah dan membutuhkan penjelasan namun mulut nya masih terkunci.


...


2 Hari kemudian.


Namun setelah itu ia malah mendiamkan pria yang tengah menjaga nya sepenuh hati.


"Celine? Kamu kenapa? Hm?" tanya Steve dengan lembut sembari menyelipkan rambut panjang gadis itu.


Celine masih diam, ia sudah sampai tahap di mana diri nya punya kekuatan yang terkumpul untuk marah dan juga protes.


"Kakak kenapa tega sih sama Celine?" gumam nya lirih yang tak menatap pria itu.


Namun terdengar dari suara nya yang bergetar saat bicara.


"Tega apa? Kamu gak suka karena lahirin mereka? Kamu belum lihat mereka kan?" tanya Steve yang mengira gadis itu marah karna membuat nya merasakan sakit saat melahirkan.


"Bukan anak kita kak masalah nya! Kenapa kakak selingkuh? Kata nya cuma aku! Tapi kakak punya pacar yang lain kan di kantor? Padahal aku udah pilih kakak, aku mau ngelahirin mereka karna kakak!" tangis gadis itu yang ingat ucapan yang terkahir kali ia dengar.


"Kakak kan tau ka- Ukh!" ia mulai meringis membuat nya tak bisa melanjutkan kata-kata nya.


"Celine? Kamu kenapa?" tanya Steve yang terlihat khawatir dan bahkan lupa sejenak dengan rasa bingung nya.


"Sa...sakit kak..." jawab nya lirih sembari memegang perut nya yang memang masih riskan karna pasca operasi di tambah lagi dengan kondisi nya.

__ADS_1


Steve pun bergegas memanggil dokter, para pria dan wanita yang memakai jas berwarna putih itu pun lantas segera masuk dan memeriksa kondisi gadis cantik itu.


"Sebaiknya kurangi hal yang membuat nona Celine merasa terkejut, sebaik mungkin menjaga tekanan mental untuk nya." ucap sang dokter saat gadis itu sudah tenang.


Setelah semua dokter yang memeriksa pergi, Steve kembali mendekat ia mengusap kening gadis nya yang terlihat tak ingin memandang wajah nya.


"Kamu kenapa? Kakak gak pernah selingkuh dari kamu, punya pacar? Kakak memang punya sekarang malah mau kakak nikahi juga lagi karna dia udah kasih kakak hadiah yang paling indah." ucap nya dengan lembut sembari terus mengusap kening gadis itu.


"Dia cantik?" tanya Celine lirih yang langsung ingat dengan wanita yang pernah hadir di mimpi sang kakak.


"Iya, cantik sekali." ucap nya pada gadis cantik itu.


"Sama aku?" tanya Celine lagi yang kini mulai menangis.


"Orang itu kamu, pacar kakak, gadis yang mau kakak nikahi, gadis yang kasih kakak hadiah yang paling indah paling berharga itu kamu." ucap nya pada gadis itu.


"Kakak gak tau kamu denger dari mana, atau dari siapa tapi apa kamu lebih percaya sama orang yang baru kamu temui dari pada kakak yang setiap hari ketemu kamu? Sayang sama kamu? Kamu pernah lihat kakak senyum untuk perempuan lain selain kamu?" tanya Steve pada gadis itu.


Walaupun ia berbicara dengan tenang dan lembut namun ia tengah merasa kesal di dalam hati nya.


Gadis yang ia cintai menangis bahkan setelah melahirkan anak-anak nya hanya karna informasi yang bahkan tak pernah ia lakukan sama sekali.


Celine tak menjawab ataupun bersuara ia hanya membiarkan sang kakak mengusap kepala nya dengan lembut.


"Kamu tau? Sebelum kakak ketemu sama kamu kakak gak pernah sekalipun mikir apa yang mau kakak lakukan tapi setelah kenal kamu rasanya kakak punya sesuatu yang harus jadi tujuan kakak, dan itu kamu."


"Kamu itu segala nya buat kakak, kalau pun terjadi sesuatu sama kamu kakak lebih milih kakak yang tanggung, kakak gak mau lihat kamu luka ataupun sakit." ucap nya yang terus mengelus rambut gadis nya dengan lembut.


Celine tak menjawab namun hanya mendengarkan sang kakak yang terus saja berbicara pada nya.


"I love you, more than my life..." bisik nya di telinga gadis nya.


Ia bahkan belum memberi tau tentang kondisi bayi-bayi nya yang masih dalam kotak kaca karna lahir lebih cepat.


Namun ia ingin menggendong bayi-bayi mungil itu bersama gadis yang membawa para makhluk mungil tanpa dosa itu ke dunia.


"Celine? Kamu ingat kan? Kalau ada yang nyakitin kamu atau buat kamu sakit, kamu bisa bilang sama kakak..."


"Kakak bakal urus mereka biar hilang dari pandangan kamu," ucap nya lagi sembari perlahan mencium leher gadis itu.


Menghilangkan pandangan sama dengan menghilangkan seseorang di atas bumi agar tak kembali menyakiti gadis nya.


Rasanya ia semakin sayang dan tak ingin sesuatu menyentuh gadis itu.

__ADS_1


Menyentuh milik nya yang paling ia cintai...


__ADS_2